
“Ya kamu
bisa memintanya kepada aku,” jawab Asmoro yang mengerti isi hati Stella.
“Apakah
itu penting?” tanya Stella.
“Aku kan
suami kamu,” jawab Asmoro sambil tersenyum manis.
“Aku
tidak mau meminta mobil seperti itu. Aku ingin meminta mobil biasa,” celetuk
Stella.
Beberapa
saat kemudian Asmoro tersenyum manis. Ia akan menolak permintaan Stella. Ia
akan memakai mobil yang tiba-tiba saja menjadikannya sebagai mobil favorit. Tentu
saja Asmoro sangat menjadi bahagia. Apalagi mobil yang ditunjuk Stella adalah
mobil kesayangannya. Pria yang terlohat awet muda itu sengaja mengambil
ponselnya. Ia segera menghubungi pengawalnya untuk memberikan sebuah kunci
dengan seri mobil tersebut. Setelah menghubungi pengawalnya, Asmoro segera
mendekat.
“Appakah
kamu enggak mau memiliki mobil mewah? Aku akan memberikan secara gratis tanpa
dipungut biaya,” rayu Asmoro sambil memeluk Stella dan menciumnya.
Stella
sangat menikmati pelukan Asmoro dengan lembut. Ia seakan merasakan dirinya sedang
mabuk kepayang. Entah kenapa ia tidak mau lepas dari pelukan hangat tersebut.
“Kamu
semakin pandai membuat aku melayang jauh?” tanya Stella sambil tersenyum manis.
“Jika
aku tidak pandai, maka kamu akan berpaling dari aku. Setiap wanita pasti akan
meminta sentuhan lembut dari suaminya. Jika kau tidak bisa menaklukan kamu, aku
akan menyesal dan yang telah membuatmu pergi,” jawab Asmoro.
Stella
hanya bisa manggut-manggut saja. Ia paham apa yang dikatakan oleh Asmoro. Lalu Stella akhirnya sadar, jika dirinya berada di
tempat yang seharusnya tidak akan memadu kasih.
“Kakak,”
pekik Stella sembari mendorong Asmoro. “Bisakah kita enggak begini?”
“Kita
akan begini hingga kunci mobil datang,” jawab Asmoro yang sengaja menahan
Stella.
“Hmmmp...
inikan tempat umum. Ngapain juga kita begini? Kalau dilihat orang bagaimana?”
tanya Stella.
“Ini
adalah tempat privat atas nama Lampard Wolf Snowden,” jawab Asmoro. “Jadi sang
pemilik bisa memberikan secara cuma-Cuma untuk melakukan apapun yang aku suka,”
jawab Asmoro sambil tersenyum manis.
“Terarah
kamu saja. Aku hanya menurut apa katamu. Kamu itu susah dibilangin,” kesal
Stella.
“Kamu
tahukan siapa sang pemilik apartemen ini? Dia yang sengaja memberikan aku
kebebasan untuk memiliki lahan parkir disini. Bahkan aku menanamkan modal
sebesar tiga puluh lima persen. Jadi aku berhak bisa memiliki lahan parkir yang
sebenar ini dan menampung beberapa mobil mewahku. Dan ini adalah mobil mewahku.
Tapi aku jarang memakainya. Jika sedang naik gunung mobil yang kamu tunjuk tadi
__ADS_1
aku pakai. Karena kekuatannya melebihi mobil biasa,” jelas Asmoro.
“Tapi
aku tidak bisa memilikinya. Mobil ini sangat mahal sekali,” ucap Asmoro dengan
jujur.
“Nggak
mahal sama sekali kok. Aku hanya memodifikasinya menjadi mewah. Aku adalah
seorang arsitek di bangunan besar. Lalu aku mempraktekan ilmuku untuk
memodifikasi mobil tersebut. Jadinya berhasil seperti ini,” ujar Asmoro. “Kalau
kamu ambil saja. Mobil SUV memiliki kekuatan seperti mobil sport. Kalau enggak
mau aku lepaskan ke orang lain.”
“Kenapa
kamu jual?” tanya Stella.
“Aku
bosan,” jawab Asmoro.
“Enak
ya... jadi sultan... memiliki mobil lalu dimodifikasi. Setelah itu dijual
dengan harga yang mahal,” ucap Stella yamg baru mengetahui sifat asli Asmoro.
“Ya
begitu dech. Namanya juga bosan sama benda. Tapi aku tidak bosan sama kamu.
Karena kamu adalah seorang wanita yang telah aku cari selama ini,” bisik
Asmoro.
“Jangan
pernah kamu mengakui kalau diri kamu belajar dari seorang anak untuk merayuku?”
tanya Stella yang mulai kesal terhadap Asmoro.
“Ya...
itu benar. Aku memang tidak pandai merayu kamu. Jadi aku harus banyak-banyak
belajar dari mereka,” jawab Asmoro.
Beberapa
itu mendekati Asmoro lalu membungkukkan badannya.
“Selamat
pagi bos,” sapa Doni nama pengawal itu.
“Memangnya
kamu kira hari ini masih pagi?” tanya Asmoro yang tiba-tiba saja bingung.
“Maaf
bos. Saya keseringan berada di dalam gedung ini. Jadinya saya tidak bisa
membedakan mana pagi, siang, sore dan malam,” jawab Doni dengan jujur.
“Ya
sudah kalau begitu,” ucap Asmoro yang menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Mana
kuncinya?”
“Bukannya
mobil bos sudah dipasang alat canggih di mobil masing-masing?” tanya Doni
balik.
“Lalu?”
tanya Asmoro yang mengerutkan keningnya.
“Setiap
mobil bisa dikendalikan melalui ponsel bos sendiri,” jawab Doni yang sambil
menunduk dan memberikan kunci tersebut.
Asmoro
hanya bisa menepuk jidatnya. Ia benar-benar malu di depan sang istri. Karena
Asmoro lupa akan hal itu. Seperti biasanya ia jarang sekali memanggil bahkan
tidak pernah memanggil pengawalnya untuk membawakan kunci. Ia langsung membuka
kunci mobil itu hanya memakai aplikasi yang sudah dibuat sama Jacob.
“Sialan
__ADS_1
lu! Kenapa sih kalau ngomong enggak bisik-bisik sih? Aku malu tahu!” kesal
Asmoro.
Mata
Doni membulat sempurna mendengar pernyataan dari Asmoro. Bagaimana bisa sang
bos memiliki malu? Padahal dirinya sendiri tidak pernah sama sekali melihat
sang bos malu seumur hidupnya.
“Itu
siapa bos cantik banget seperti bidadari?” tanya Doni yang sangat penasaran sekali.
“Dia
istriku!” seru Asmoro yang semakin kesal terhadap Doni.
Mendengar
kata istri, Doni langsung beringsut mundur. Ia tidak pernah menyangka kalau
sang bos sudah memiliki seorang istri. Ketibang memiliki masalah besar sama bos
besarnya itu, Doni memilih langkah seribu dan meninggalkan tempat itu dengan
cepat.
“Sangat
menyeramkan sekali!” ucap Doni dalam hati.
Melihat
kepergian Doni, Asmoro hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Namun
dirinya sangat terhibur sekali mendengar sang pengawal tidak terlalu sungkan
dan takut sama dirinya. Ia sudah menganggap para pengawal yang berada di
kepemimpinannya sudah dianggap sebagai saudara.
“Maafkan
aku. Ternyata aku pelupa,” celetuk Asmoro.
“Kamu bukan
lupa. Tapi kamu memang benar-benar panik dan tidak mengetahui akan aplikasi
itu,” jawab Stella.
“Untung
saja aku tidak lupa sama kamu,” ujar Asmoro yang membuka pintu mobilnya dengan
memakai aplikasi.
“Kalau
lupa?” tanya Stella yang sengaja memancing Asmoro.
“Ya
enggak bakalan lupa. Kamu adalah segala bagiku,” jawab Asmoro dengan jujur.
“Ya...
kamu memnag jago merayu,” puji Stella yang senang melihat Asmoro berubah
drastis.
Ketika
berhasil membuka pintu mobil, Asmoro sengaja mendekati Stella. Ia menggenggam
tangan sang istri kemudian mengajaknya masuk. Selesai masuk ke dalam Stella
duduk dengan elegan. Dengan sigap Asmoro menarik seat belt nya dan memakaikannya
ke tubuh Stella.
“Terima
kasih,” ucap Stella yang mengulas senyumnya.
“Sama-sama,”
balas Asmoro.
Asmoro
menutup pintu mobil itu dan segera memutarinya. Ia segera masuk dan menyalakan
mobil itu dan melesat meninggalkan basemant tersebut.
Di
restoran mewah Agatha, Anita, Yamato dan Hatori sudah datang terlebih dahulu.
Mereka memnag sengaja tidak masuk ke dalam dan melihat area yang berada di
sekitarnya. Jujur mereka sangat kagum tentang restoran tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana
kalau aku membuka restoran seperti ini di Tokyo?” tanya Agatha.