
Adelia langsung berhambur ke dalam pelukan Stella. Ia tidak menyangka kalau Stella adalah saudara kembarnya. Semua orang sudah mengira kalau mereka kembar. Awal-awalnya mereka menolak.
Mereka menangis bersama dalam pelukan itu. Ada rasa bahagia di hari mereka. Akan tetapi mereka masih bertanya-tanya pada takdir. Kenapa dirinya terpisah jauh? Meski terpisah jauh ikatan batin mereka sangat kuat. Ada kalanya salah satu dari mereka sakit kedua saudara itu merasakan hal yang sama.
Di ambang pintu Lampard, Ian, Winda dan Gio merasakan hal yang sama. Rasa sesak di dada membuat mereka diam sesaat. Mereka bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan mereka akan terpisah jauh seperti ini? Mereka yakin kalau Anita sedang mencari keberadaan kedua anaknya.
Mereka meninggalkan tempat itu menuju ke ruangan keluarga. Mereka mendiskusikan sesuatu untuk si kembar. Mereka sepakat kalau sore ini Hatori harus mengetahui ini semuanya. Karena Hatori juga memiliki wajah yang sama.
"Bagaimana menurut kamu kak?" tanya Lampard ke Gio.
"Apakah kamu yakin kalau Hatori adalah saudara kembar?" tanya Gio serius.
"Firasatku mengatakan iya. Karena wajah mereka sangat mirip sekali,'' jawab Lampard.
"Belum tentu. Kamu harus melakukan Tees DNA terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan kalau Hatori adalah saudara kembar," ucap Winda.
"Apakah kakak tadi melihat?" tanya Lampard. "Pas Adelia dan Hatori saling memandang?"
"Tidak," jawab Winda.
"Maksudnya apa?" tanya Gio.
"Ketika saling menatap mereka sepertinya menemukan jiwa yang hilang. Seakan-akan jiwa itu menuai kembali," ungkap Lampard yang paham dengan ilmu kejiwaan.
"Yang dikatakan kak Lampard benar apa adanya. Aku merasa begitu. Wajah mereka sangat mirip sekali. Tidak ada yang membuang sama sekali. Bahkan mereka menyatu dalam satu jiwa meskipun dia raga," tambah Ian.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Gio.
"Lebih baik aku menyatukan mereka. Jika mereka menyatu maka aku akan menyusul Bu Anita untuk tinggal di Jakarta," jawab Lampard.
"Apakah tidak bahaya?" tanya Winda.
Mendengar kata bahaya Lampard mendongakkan wajahnya untuk menatap langit-langit. Apa yang ditanyakan oleh Winda membuat Lampard harus memikirkannya ulang.
Bahaya yang sedang mengancam adalan keselamatan jiwa mereka. Jika mereka di sini semuanya kemungkinan Tutik akan menyerangnya.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Lampard.
"Jujur aku juga berat untuk membuat mereka menyatu. Bukan karena aku tidak ingin menyatukan mereka. Tapi Tutik dan keluarganya sangat berambisi untuk membunuh mereka," jawab Gio.
"Mau tidak mau kita harus mencari Agatha. Cepat atau lambat Agatha harus membawa mereka," saran Ian yang baru saja memiliki ide.
"Apakah kamu yakin berpisah dengan Adelia?' tanya Lampard ke Ian dengan serius.
"Tak yakin Aku harus menghamilinya kalau begitu. Agar separuh jiwaku tetap berada di dalam hidup Adelia," jawab Ian yang memiliki rencana konyol.
"Kalau begitu menikahlah. Jangan biarkan Adelia melupakanmu," usul Lampard yang mendukung kisah cinta sang asistennya.
"Oh... ya... besok aku mau pergi ke Den Haag. Ada beberapa kendala yang harus aku kerjakan. Aku akan memberikan kamu sebuah tugas yaitu mewakili aku dalam pertemuan memperpanjang surat kontrak ekspedisi dalam jangka lima tahun ke depan!" perintah Lampard.
"Kalau begitu baiklah. Aku juga butuh ekspedisi untuk S&T Company," ucap Lampard.
__ADS_1
"Pakailah Ayashi Group. Aku yakin kamu tidak akan kecewa. aku saranin kamu mengambil jangka waktu lima tahun ke depan. Jika kamu mengambil waktu dua tahun, aku yakin kamu menyesal dari segi pembayarannya," saran Gio ke Lampard.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan melakukannya. Apakah lebih mahal?" tanya Lampard.
"Iya... kamu bilang saja atas nama Gio," jawab Gio dengan serius.
"Kalau baiklah. aku setuju," jawab Lampard. "Kalau begitu aku pamit dulu. Aku titip mereka."
"Beres,' balas Winda.
Hatori yang selesai mengirimkan buah langsung pulang ke rumah. Ia melihat Bu Gita dan Pak Kusno sedang menikmati kopi dan gorengan.
"Aku pulang," ucap Hatori yang duduk di hadapan mereka.
"Bagaimana kabar Nyonya Winda dan Tuan Gio?" tanya Pak Kusno.
"Bapak mengenalnya?' tanya Hatori yang terkejut.
"Tentu saja kami mengenalnya. Tujuan Gio dan nyonya Winda adalah sepasang suami istri yang sangat dermawan. Hati mereka tulus saat memberikan hadiah. Terutama paket sembako pada warga sini," jawab Pak Kusno yang membuat Hatori terkejut.
"Apa benar itu pak?' tanya Hatori.
"Iya. Tuh ibumu sering dapat," jawab Pak Kusno yang membuat Bu Gita malu-malu.
"Oh... pantas saja. Hampir setiap bulan ibu mendapatkan sembako lengkap," jawab Hatori. "Bukannya Tuan Gio adalah papanya Nyonya Alexa?'
"Iya. Mereka adalah keluarga dermawan dan sangat ramah. Mereka tidak jijik saat berkumpul bersama kami. Bahkan jarak antara kami sangat dekat sekali," jawab Bu Gita.
"Apa itu?' tanya Hatori yang mulai serius.
"Apakah aku memiliki saudara kembar?" tanya Hatori yang membuat sepasang suami istri itupun terkejut.
Jujur mereka sangat terkejut apa yang ditanyakan oleh Hatori. Mereka menelan salivanya dengan susah payah. Mereka ingin bercerita tentang saudara kembarnya itu tapi mereka belum diizinkan oleh Agatha.
''Kalau itu lebih baik kamu tanyakan sama papamu itu. Kami bertugas untuk merawatmu dan menjagamu di sini," jawab Pak Kusno yang membuat Hatori yang menganggukan kepalanya.
"Memangnya kamu menemukan apa?" tanya Pak Kusno yang penasaran dengan Hatori.
"Tadi ketika aku mengirimkan buah. Lalu aku menemukan seorang gadis. Namanya Adelia. Wajahnya sangat mirip sekali sama aku. Tidak ada yang membuang sama sekali. Kalau aku adalah versi cowoknya," jawab Hatori yang menjelaskan tentang penemuannya.
Deg!
Jantung mereka berdetak kencang. Mereka saling memandang dan menatap curiga. Mereka bertanya-tanya dalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Hatori adalah nonanya itu?
"Kalau aku memiliki saudara kembar, berarti aku memiliki seorang saudara?' tanya Hatori.
"Entahlah," jawab Pak Kusno yang berusaha menutupi kenyataanya.
"Kamu enggak kerja?' tanya Pak Kusno.
"Aku dipindah ke S&T Company untuk menjadi sekretaris CEO," jawab Hatori yang melihat jam di tangan yang menunjukkan waktu pukul setengah tujuh pagi.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu bersiap-siap sana. Jangan sampai telat untuk bertemu dengan bos kamu," suruh Pak Kusno yang selalu mengingatkan Hatori selalu on time.
"Baiklah kalau begitu," balas Hatori yang berdiri menuju ke kamar.
Pria muda itu mengambil baju casualnya sambil menguap. Ia mengganti bajunya dan mengingat wajah Adelia.
Sambil berganti pakaian, Hatori merasakan ada yang janggal. Saat bertanya tentang Adelia, orang tua angkatnya seakan menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya ada apa ini? Kok dirinya sedang dipermainkan takdir.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasakan ada yang janggal sama mereka? Sepertinya mereka merahasiakan sesuatu? Apakah aku harus mencari jawabannya semua ini?" tanya Hatori dalam hati.
Selesai berganti baju Hatori menuju ke dapur. Di sana ia menemukan nasi goreng spesial buatan Bu Gita. Ia menghempaskan bokongnya dan menikmati nasi goreng tersebut.
Sedangkan Pak Kusno dan Bu Gita larut dalam perasaan masing-masing. Entah kenapa dirinya merasakan penasaran dengan gadis yang bernama Adelia? Jika Adelia adalah anak tuannya, bisa dipastikan mereka bisa menyatu.
"Bu," panggil Hatori.
"Iya, ada apa?' tanya Bu Gita yang melihat Hatori yang sangat tampan ketika memakai baju casual.
"Aku mau berangkat Bu," jawab Hatori yang membuat mereka menganggukan kepalanya.
"Hati-hati di jalan," balas Pak Kusno.
Hatori segera melangkahkan kakinya menuju ke luar. Tak lama Bu Gita berteriak sambil bertanya, "Apakah kamu sudah sarapan?"
"Aku sudah sarapan. Nasi gorengnya bernilai delapan dari sepuluh nilai yang aku berikan buat ibu," celetuk Harri yang mengacungkan jempolnya.
"Dasar anak kuliner. Hampir setiap hari selalu saja membuat konten makanan yang sekarang sedang happening banget," teriak Pak Kusno yang disambut gelak tawa dari Hatori.
"Aku berangkat!" pamit Hatori yang menghilang dari pandangan mata mereka.
Kemudian Pak Kusno mulai memandang wajah istrinya sambil bertanya, "Apakah yang dimaksud oleh Hatori adalah Adelia Kanagawa?"
"Aku enggak tahu pak," jawab Bu Gita. "Kalau Adelia yang dimaksud oleh Hatori adalah saudara kembarnya itu? Berarti nona Adelia?"
"Bisa jadi," jawab Bu Gita.
"Kita harus mencari informasinya itu," saran Pak Kusno.
"Kalaupun mencarinya, kita harus ke mansion Tuan Gio," ujar Bu Gita.
"Kita memang disuruh sama Tuan Atasi untuk mencari keberadaan nona Adelia," sahut Pak Kusno.
"Tapi kita enggak bisa leluasa masuk ke dalam mansion itu. Bapak tahukan kalau di mansion itu memiliki banyak penjaga. Orang yang masuk ke sana harus memiliki tujuan penting. Jika tidak kita akan berada di depan pintu gerbang sampai bertemu dengan Tuan Gio atau nyonya Winda," jelas Bu Gita yang mengerti dengan penjagaan ketat di mansion mewah.
"Lalu?" tanya Pak Kusno. "Apakah sebaiknya kita menyuruh Hatori menyelidikinya?"
"Jangan pak. Aku rasa Hatori sudah curiga dengan Adelia. Cepat atau lambat Hatori akan mencari keberadaannya," jawab Bu Gita.
"Kalau sampai itu terjadi? Bisa dipastikan Hatori mengamuk," jelas Pak Kusno.
"Ya... jelaslah. Selama ini Tuan Agatha menyembunyikan masalah ini dengan rapat," ujar Bu Gita. "Tapi?"
__ADS_1