Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bertemu Natalie.


__ADS_3

"Itu dia," jawab Asmoro. "Perasaan aku tidak pernah mengangkatnya sebagai manajer HRD. Nanti deh kalau pulang kita tanyakan saja semuanya kepada mereka."


Ceklek.


Pintu terbuka.


Jacob dan Imron masuk ke dalam ruangan itu. Entah mengapa mereka berdua merasakan ada hawa yang tidak enak. Jacob menatap wajah Asmoro sambil menghempaskan bokongnya di samping Ian.


"Ada apa memangnya? Kok tiba-tiba saja aku disuruh ke sini?" tanya Jacob.


Sedangkan Imron membuka kulkas dan mengambil air dingin. Sebelum berbicara Imron meminum air itu sambil berkata lega. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju mansion milik Asmoro, Imron belum juga menerima asupan air ke dalam tubuhnya. Memang Imron suka lupa kalau soal itu. Maka dari itu Imron menghabiskan satu botol air mineral itu sendirian.


"Lu yang bener aja Ron. Habis makan itu selalu minum. Habis makan nggak pernah minum," kesel Asmoro yang selalu saja memperingatkan Imron berkali-kali.


"Maaf aku lupa. Oh ya di depan ada Natalie," celetuk Imron sambil mengalihkan pembicaraan.


"Biarkan saja. Ada Stella dan Adelia di depan. Mereka sedang menyulam pakaian dingin untuk kami," jelas Asmoro.


"Oh ya, mumpung kalian berada di sini. Aku pengen tanya sesuatu tentang kalian," sahut Ian yang membenarkan posisi duduknya.


"Tanya saja. Apakah ini sistem keamanan perusahaannya Kak Asmoro?" tanya Jacob yang sangat penasaran sekali.


"Bukan itu. Kalian tahu nggak? Siapa yang mengangkat pak Kevin menjadi manajer HRD?" tanya Ian.


"Perasaan manajer HRD di perusahaan S&T Company bukan pak Kevin deh. Kalau nggak salah dia bernama Mr. Markus Haryadi. Bukankah pas pengangkatan Markus Haryadi Kalian ada?" tanya Jacob yang menatap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


"Nah ini dia. Sepertinya ada yang tidak beres," jawab Asmoro sambil memandang balik Jacob dan Imron.


"Maksud kamu apa?" tanya Imron yang merasakan ada kejanggalan yang aneh.


"Selama ini banyak karyawan terbaikku dikeluarkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Mereka protes dan mengirim email kepadaku. Tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali," jelas Asmoro.


"Kok kasusnya ini lucu ya? Kakak tinggal kok baru ketahuan ada yang janggal di sini?" tanya Imron yang menahan tawanya.


"Kamu benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Masih banyak yang harus dikerjakan. Tapi kasus kita semakin lama semakin menumpuk. Aku sendiri baru sadar kalau pegawai ku hilang satu persatu," jawab Asmoro.


"Mau tidak mau kakak harus menyelesaikan semuanya ini. Ini sepertinya permainan bawahan Kakak sendiri. Ini cukup aneh. Jika Kakak nggak bisa mengambil alih, mau tidak mau, kakak harus bekerja keras untuk membuang orang-orang seperti itu," saran Jacob kepada Asmoro.


"Kamu benar. Nanti aku akan menghubungi Hatori untuk mencari keberadaan Markus. Aku nggak percaya, Markus masih ada atau tidak," ucap Asmoro yang berterima kasih kepada Jacob yang telah memberikannya saran.


"Sering sekali aku main ke sana. Tapi aku tidak melihat Marcus sama sekali. Maka dari itu aku harus mencari cara agar bisa menemukan Markus," jelas Imron.


"Nggak tahu deh. Kalau masih di markas sih, aku akan menghubunginya. Tapi kalau sudah pulang kampung ke Papua sana. Ya sudahlah. Kita harus merayunya untuk pulang ke Jakarta lagi. Ternyata kita baru sadar telah kehilangan seseorang yang penting sekali," celetuk Imron.


Jujur saja masalah ini sangat rumit sekali. Mereka baru sadar kalau manajer HRD sebenarnya tidak pernah menampakan dirinya. Asmoro yang merasa memiliki seseorang penting buat perusahaannya sadar telah hilang. Karena selama ini Asmoro tidak memperhatikan para pegawainya maupun bawahannya. Ini sangat sulit sekali bagi Asmoro. Sebab Markus sendiri sudah memiliki kecakapan yang sangat keren di bidang psikologi.


"Jika aku memecat Kevin, Lalu bagaimana dengan manajer HRD yang sedang kosong itu?" tanya Asmoro yang sedang bingung dengan manajer HRD itu.


"Kan ada Yudi, Roland dan juga Denis. Bukankah tiga orang itu lulus dengan nilai terbaik di jalur psikologi. Kakak bisa mengangkatnya salah satu dari mereka. Karena mereka sendiri memiliki bakat khusus yang tidak dibuat-buat dari dalam dirinya," jelas Ian.


"Ini sungguh sangat rumit sekali. Ya sudah. Menunggu Papa mertua menghubungiku dan meminta surat pemecatan untuk Kevin," ucap Asmoro yang sudah memilih salah satu dari mereka untuk duduk di kursi manajer HRD hanya sementara saja.

__ADS_1


"Iya Kakak benar. Kakak nggak boleh gegabah melakukannya. Dia sama Patty memiliki jiwa psikopat sangat parah sekali. Aku sendiri nggak tahu kenapa mereka memiliki jiwa itu. Mudah-mudahan tidak akan terjadi kerusuhan setelah ini," ucap Jacob dengan ketulusan hatinya.


"Oh ya... Mumpung kalian di sini, Aku ingin kamu menyelidiki siapa Kevin sebenarnya? Kok aku merasa curiga ada yang aneh?" tanya Asmoro.


"Ya nggak apa-apa. Masalah ini akan terselesaikan dalam waktu beberapa menit kemudian. Aku akan mengambil laptopku di dalam mobil dan bekerja hari ini juga," jelas Imron.


Mereka akhirnya kembali bekerja dan menganalisis keadaan perusahaan tersebut. Entah kenapa Asmoro ketiban sial karena kedua perusahaan itu menjadi oleng semuanya. Tidak terbayangkan jika kedua perusahaan itu sama-sama memiliki masalah yang sama. Perasaan Asmoro sudah memperketat keluar masuknya orang di dalam perusahaannya itu. Tapi kenapa malah terkena sial bertubi-tubi seperti ini.


Adelia dan Stella menghentikan belajar menyulamnya. Tidak lama Natalie datang dengan membawa kue coklat. Gadis bertubuh ramping itu menaruh kue coklat tersebut di hadapan mereka.


Saudara kembar itu tidak menyangka kalau Natalie yang datang. Dengan cepat mereka melemparkan benang sulam itu ke arah pengawal. Mereka berlari menuju ke Natalie dan memeluknya secara serempak.


"Kak Natalie," panggil mereka dengan serempak.


Natalie tersenyum bahagia melihat mereka yang sehat. Natalie merasakan kebahagiaan yang tidak pernah terduga selama ini. Mereka memeluknya seperti saudara sendiri. Hingga Natalie tidak sadar kalau dirinya mengeluarkan air mata. Baru kali ini, ada yang menganggapnya sebagai saudara. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah apapun.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Natalie sambil melepaskan mereka berdua dan menghapus air matanya itu.


"Kabar Kami baik-baik saja. Kami tidak pernah membuat mereka susah," jawab Adelia sambil tersenyum manis.


Salah satu pengawal mereka menggerutu dan memamerkan benang sulam beserta jarumnya. Lalu pengawal itu berkata, "Susah sih nggak. Tapi kenapa Nyonya Stella dan Nona Adelia melemparkan kami seperti ini? Sungguh, kami tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini. Kami hanya bisa memegang senjata dan juga pedang."


Seketika mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka kalau pengawal itu sangat lucu sekali. Adelia mengambil benang sulam itu beserta jarumnya dari tangan pengawal tersebut. Belum pergi Adelia mengatakan terima kasih.


Pengawal itu kembali dan berkumpul kepada mereka. Hingga akhirnya mereka mengobrol sampai sore hari.

__ADS_1


"Stella," panggil Natalie.


"Ada apa kak?" tanya Stella.


__ADS_2