Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Memergoki Agatha Bersama Anita.


__ADS_3

"Tiga hari lagi kita akan menjadi pasangan suami istri," jawab Asmoro.


"Kamu itu selalu mengada-ngada saja. Bisakah kamu tidak mengatakan seperti itu?" tanya Stella.


"Kalau begitu tunggulah kabar gembira itu," bisik Asmoro hingga membuat setelah menegang.


"Bisa-bisa aku jadi gila deh dekat denganmu," kesal Stella.


"Nggak papa sekali kamu menjadi gila karena aku," ledek Asmoro.


"Aku nggak mau menjadi gila. Aku mau menjadi normal saja. Lebih baik kamu jangan dekat-dekat sama aku. Nanti kalau aku gila takut tertular kepadamu," ujar Stella.


Setelah mendengar perkataan Stella, Asmoro tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa kata-kata Stella menurutnya sangat lucu sekali. Bahkan Asmoro ingin mengajaknya mengobrol habis-habisan.


"Apakah kamu ingin di sini terus?" tanya Asmoro.


"Katanya kamu mengajakku untuk bertemu dengan ibuku?" tanya Stella balik.


"Ikutlah denganku," Asmoro sambil melihat pesan dari Agatha.


"Di mana Adelia?" tanya Stella sekali lagi.


Asmoro mengajak Stella keluar dan mengunci pintu apartemennya itu. Lalu Asmoro menarik tangan Stella menuju ke lift, "Kemungkinan besar Adelia sudah bertemu dengan ibumu. Tinggal kamu yang belum. Aku harap kamu tidak boleh marah sama ibumu."


"Aku tidak marah sama ibuku. Tapi aku marah pada keluarganya John. Suatu hari nanti aku akan datang dan merebut semua milikku. Enak saja mereka merebut milik orang," kesal Stella.


"Bersabarlah. Jangan pernah kamu gegabah melakukannya. Mereka sangat licik sekali. Ditambah lagi dia memang sangat buruk menjadi keluarga baik-baik," sahut Asmoro yang membuat Stella menganggukkan kepalanya.


Asmoro mengajak Stella menuju ke lantai atas. Di sana Agatha bersama Anita tinggal bersama. Stella merasakan jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya bergetar dan air matanya mulai keluar.

__ADS_1


Saat Asmoro tahu, kalau Stella sangat merindukan ibunya. Pria bertubuh kekar itu langsung menarik tubuh mungil Stella. Ia memeluknya dari samping sambil menenangkannya. Asmoro tidak mau kalau Stella bersedih. Asmoro ingin Stella tetap tersenyum bahagia.


Sesampainya di lantai atas, Asmoro menghadap ke arah Stella. Kemudian Asmoro memegang pundak Stella sambil berkata, "Jangan menangis terus. Tetaplah tersenyum untukku. Aku berjanji tidak akan menyakitimu."


"Aku tidak menangis. Aku hanya terharu saja mendapatkan perlakuan yang baik darimu. Jujur selama hidupku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Terima kasih Kak Asmoro," ucap Stella.


"Tentu. Aku bisa menjadi perisai dalam hidupmu. Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan perlindungan berlapis-lapis dariku," jelas Asmoro yang memegang kepala Stella dan mengusap-ngusapnya dengan lembut.


"Terima kasih. Aku sungguh terharu kepadamu. Ayolah kita bertemu dengan ibuku. Setelah itu mintalah restu kepada ibuku untuk bisa membangun rumah tangga dengan baik," sahut Stella sambil memegang tangan Asmoro.


"Sepertinya kamu sudah tidak tahan untuk menikah denganku," ledek Asmoro.


Stella memutar bola matanya dengan malas. Tangan mungilnya langsung mendarat indah di lengan kekar Asmoro. Namun Asmoro tidak merasakan apa-apa. Malah ia tertawa dan menarik tangan Stella menuju ke unit apartemen Agatha.


Sebelum masuk Adelia dan Ian menghentikannya. Adelia mengajak Stella sambil memegang tangannya. dengan terpaksa Asmoro melepaskan pegangan tangannya. Lalu mereka membiarkan kedua gadis itu berjalan terlebih dahulu.


Melihat mereka berjalan, Asmoro mendekati Ian. Lalu Asmoro bertanya, "Apakah kamu sudah bertemu dengan Nyonya Anita?"


"Semoga saja Nyonya Anita mau memberikan Restu untukku. Aku ingin menikahi Stella," ucap Asmoro yang berdoa agar bisa mendapatkan Restu dari ibu mertuanya itu.


"Aku yakin kalau mereka merestuimu. Oh ya... Ibra bersama Raka sudah berjaga di markas. Kemungkinan besar Leon mengajak Farrel menuju ke markas. Malam ini akan ada acara penyerangan dari Exodus," ujar Ian yang mendapatkan informasi dari Leon.


"Kenapa ada penyerangan secara mendadak? Kok bisa-bisanya Mereka ingin menyerang markas Black Horizon?" tanya Asmoro.


"Siang tadi ada pembakaran rumah milik John. John menuduh kalau pihak kita yang membakar rumah itu. Yang aku dengar dokumen yang berhubungan dengan Kurumi hangus terbakar. Semoga saja Agatha tahu soal ini," jawab Ian.


"Sebegitukah bencinya kepada Black Horizon? Mereka belum tahu siapa kita sebenarnya! Aku nggak akan mau menjadi kambing hitam mereka. Jika itu terjadi kemungkinan besar seluruh mafia yang bekerja sama dengannya menyerang Black Horizon. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup di sini lebih lama lagi. Kalau bisa aku akan menyerang Black Horizon di Meksiko sana," kesal Asmoro.


"Kamu menyerang ke sana ya habis. Kamu nggak tahu bagaimana bengisnya seluruh kartel obat-obatan terlarang di sana?" kesal Ian terhadap Asmoro.

__ADS_1


"Bukankah Alexa pernah ke sana bersama Martin? Kita bisa bertanya sama mereka. Aku yakin mereka akan mendapatkan solusi yang benar," jawab Asmoro.


"Tidak semudah itu. Alexa harus bekerja sama dengan Pablo. Pablo juga harus berhati-hati terhadap mereka. Sekali langkah saja Pablo bersama geng mafianya habis gak tersisa. Setahuku saran Pablo sangat berguna sekali," ucap Ian.


"Maksud kamu?" tanya Asmoro yang mulai berjalan ke arah unit apartemen milik Agatha dengan diikuti Ian.


"Kalau kamu ingin menghabisi Exodus. Kamu langsung ke akarnya saja. Nggak usah yang namanya menyerang cabangnya. Soalnya perputaran aset itu berada di tangan Liam. Jika kamu menghabisinya, cabang-cabang yang berada di dunia ini akan ambruk dengan sendirinya," jelas Ian.


"Bagaimana aku harus menghabisinya? Sedangkan aku sendiri saja sangat susah untuk menemuinya," kesal Asmoro yang segera pergi meninggalkan Ian.


Yang dikatakan Asmoro benar. Tidak semudah yang dikatakan oleh Pablo. Dirinya harus mencari cara agar bisa menghabisi pusatnya terlebih dahulu. Sekali langkah saja Liam akan menghancurkan mereka.


Adelia dan Stella sudah sampai di depan apartemen milik Agatha. Jantung Stella semakin berdetak dengan kencang. Dirinya tidak bisa menahan rasa bahagianya bertemu dengan sang ibu.


Dengan sabar Adelia membuka pintu itu sambil memegang tangan sang kakak. Adelia menyuruh sang kakak masuk terlebih dahulu. Lalu Stella melihat apartemen itu masih kosong. Dirinya sangat bingung dan mencari keberadaan orang tuanya itu.


"Mereka berada di dapur. Ibu sedang memasak makanan favoritmu," ucap Adelia.


"Memangnya Ibu tahu apa makanan favoritku?" tanya Stella.


"Aku sudah bilang kepada ibu tentang makanan favorit kamu sama Kak Hatori," jawab Adelia dengan lembut.


"Terima kasih ya sudah memberikan informasi kepada ibu. Kamu memang adalah adik terbaikku," balas Stella.


"Sama-sama Kak. Seharusnya ibu mengetahui makanan apa yang kakak makan? Jika aku ibu sudah tahu. Ibu akan memasaknya supaya kita bisa makan bersama. Ibu sangat ingin sekali makan di meja makan bersama anak-anaknya dan suaminya," ucap Adelia.


"Sekarang keinginannya sudah tercapai. Aku berharap Ibu tidak akan pergi lagi. Biarkanlah aku yang merawat ibu dengan baik," sahut Stella.


"Nggak kamu aja yang merawatnya. Aku juga ingin ikut merawatnya. Kita sama-sama akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua," hibur Adelia.

__ADS_1


"Di manakah Kak Hatori berada? Bukankah Kak Hatori akan ke sini? Tapi kok lama sekali ya?" tanya Stella bertubi-tubi.


__ADS_2