
Dooooommmmmmmm!
Sebuah rudal kecil buatannya meluncur mulus tepat berada di atas markas lalu meledak.
Dengan cepat Asmoro langsung naik ke atas dan melesat pergi. Ia hampir saja oleng. Karena asap hitam pekat sudah membumbung tinggi ke atas. Jika saja Imron tidak menyuruhnya pergi. Kemungkinan besar pesawat Asmoro jatuh ke bawah.
"Syukurlah," ucap Imron.
"Ada apa?' tanya Ian.
"Untung saja Kak Asmoro pesawatnya enggak oleng. Kamu tahukan asap hitam pekat langsung membumbung tinggi," jawab Imron sambil menunjuk asap hitam pekat itu.
"Bukankah CCTV disana hancur?" tanya Ian sambil mengerutkan keningnya.
"Aku memakai drone yang bisa menahan panas lebih dari lima ribu derajat," jawab Imron. "Untung saja Jacob mau memproduksi drone dengan segala kelebihan seperti itu."
"Drone yang kecil dan imut? Bisa dikendalikan memakai jarak jauh?" tanya Ian yang mulai curiga.
"Iya," jawab Imron. "Drone itu sengaja aku ciptakan untuk memantau aktifitas musuh dari jarak jauh," jawab Imron.
"Sial!" kesal Ian.
"Drone itu sedang happening banget di bidang militer. Drone itu sengaja aku produksi dengan sangat terbatas. Banyak negara-negara yang membeli drone itu," ucap Imron.
"Ah... keren," puji Ian yang menyunggingkan senyumnya.
"Semenjak aku ditarik sebagai asisten Jacob. Aku semakin gila bisa menciptakan barang-barang aneh seperti ini," beber Imron yang menyukai hal aneh.
"Sedari dulu kamu memang aneh," kesal Ian.
"Aku tidak terfokus pada dokumen-dokumen sialan itu," kesal Imron yang sangat membenci melihat tumpukan dokumen yang tertumpuk tapi di depannya.
"Ya aku mengakui itu," sahut Ian yang malas.
"Tapi kamu jangan bersedih. Kamu adalah seorang anggota yang memiliki cara yang unik untuk membuat strategi perang," puji Imron yang mengakui kemampuan Ian yang suka sekali membuat strategi perang.
"Bagaimana kal;aku kita gabungkan antara strategi dan teknologi?" tanya Ian.
"Itu ide bagus. Melalui teknologi yang aku ciptakan bisa digabungkan dengan strategi perang. Kemungkinan besar akan berhasil," jawab Imron.
"Sepertinya ide yang sangat bagus," puji Ian.
__ADS_1
"Kita harus membicarakan strategi ini ke Kak Gio. Kita enggak bisa membiarkan rencana ini hilang begitu saja," ujar Imron yang memiliki ide.
"Kamu tahu mereka menyerang markas secara brutal?' tanya Ian.
"Mereka sudah gila menciptakan obat. Entah bahan apa yang dicampurkan itu? Hingga Kak Raka dan Kak Ibra masih bingung bahan utamanya?" tanya Imron balik.
"Apakah kita harus menyelidikinya?" tanya Ian balik.
Imron menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Itu tidak perlu. Kita tunggu saja kabar dari Kak Ibra."
Mereka terdiam sambil menatap langit-langit. Entah sampai kapan masalah ini berakhir? Mereka berharap masalah ini akan selesai pada waktu yang tepat.
Pagi yang cerah di kota Jakarta. Asmoro terbangun dari tidurnya. Ia melihat kamarnya sambil menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia tidak menyangka kalau aksi malam tadi sangat menegangkan. Ia masih mengingat apa yang terjadi pada waktu itu.
"Oh Tuhan... kenapa mereka menyerang markas besar?" tanya Asmoro. "Bisa enggak aku hidup tenang?"
Tiba-tiba saja Kuncoro muncul dari balik pintu. Pria yang mirip dengannya langsung masuk ke dalam sambil memasang wajah tengil.
Asmoro mengusap wajahnya berkali-kali. Ia mulai membuka bajunya dan melemparkan bajunya itu dan berdiri.
"Selamat pagi bro," sapa Kuncoro.
Sontak saja Asmoro terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia hampir saja terjatuh tersungkur. Jujur ia sangat kesal sama Kuncoro. Dengan cepat Asmoro langsung menyerang Kuncoro. Namun dirinya tidak berhasil. Ia mencoba menyerangnya berkali-kali. Akan tetapi Asmoro belum bisa memegang tubuh Kuncoro.
"Dasar setan Lo!" maki Asmoro yang geram terhadap Kuncoro.
"Percuma kamu memakiku. Karena kamu sendiri harus belajar tingkatan demi tingkatan untuk mencapai semuanya," ucap Kuncoro.
"Aku enggak butuh ceramah kamu sekarang! Kenapa kamu muncul pagi-pagi begini!" bentak Asmoro.
"Aku enggak muncul pagi-pagi seperti ini. Aku muncul ketika mendapatkan tugas dari Dadang ketua," ejek Kuncoro.
"Lama-lama kamu menjadi orang nyeselin ya?" tanya Asmoro yang kesal terhadap Kuncoro.
"Tenang saja bro. Aku orangnya enggak nyeselin. Perlu kamu ingat. Aku kesini ingin menyampaikan sesuatu," jawab Kuncoro.
"Menyampaikan apa! Ha!" kesal Asmoro yang mulai emosi.
"Jangan emosi seperti itu. Sayangi jantung kamu. Agar kamu bisa menikahi Stella," ujar Kuncoro yang tersenyum manis.
"Kata siapa aku menikah dengan Stella?" tanya Asmoro yang pura-pura lupa.
__ADS_1
"Berita dari sumur tua itu. Kamu itu sudah bertemu dengan jodoh kamu. Kamu enggak pernah mengerti akan hal itu," jawab Kuncoro.
"Sialan lu! Lu salah menyampaikan pesan buat gue!" geram Asmoro.
"Enggak usah geram gitu," hibur Kuncoro sambil meledek Asmoro.
"Lu yang bikin gue geram! Seharusnya lu salah ngomong sama gue," kesal Asmoro yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Salah bagaimana?" tanya Kuncoro.
"Harusnya kamu ngomong begini Berita dari langit mengatakan kalau jodohmu sudah ketemu," jawab Sasmito yang malas mengajarkan tata bahasa ke Kuncoro.
"Suka-suka gue," jawab Kuncoro yang memakai bahasa gaul.
Mata Asmoro membulat sempurna. Bagaimana bisa Kuncoro menghancurkan tata bahasa seperti itu? Ingin rasanya Asmoro ingin melemparkannya ke sumur tua.
"Aku enggak ngomongin itu. Aku hanya ngomongin sesuatu," jawab Kuncoro.
"Bicaralah!" perintah Asmoro yang malas.
"Kamu tahu enggak malam tadi?" tanya Kuncoro yang mendekati Asmoro lalu menghempaskan bokongnya di hadapan Asmoro.
"Semalam aku menyerang markas dan menghancurkannya," jawab Asmoro. "Lalu?"
"Kamu enggak tahu sebelumnya?" tanya Kuncoro balik.
"Yang aku tahu informasi dari asistenku. Sebelum terjadi penyerangan, manusia yang berbondong-bondong ke markas adalah manusia normal. Lalu tiba-tiba saja mereka berubah menjadi zombie yang kehausan darah," jawab Asmoro.
"Nah itu dia," seru Kuncoro.
"Maksud kamu apaan sih? Kok kamu heboh gitu?" tanya Asmoro.
"Mereka terkontaminasi cairan kimia dari bangsaku. Cairan itu sengaja didapatkan dari hutan belantara di negara inisial J. Yang dimana hutan itu tidak pernah dijamah oleh siapapun. Tapi mereka sengaja masuk ke dalam hutan itu demi mendapatkan sesuatu. Sesuatu itu adalah cairan kimia dari sumur tua letaknya di tengah-tengah hutan itu," jawab Kuncoro yang menjelaskan apa yang terjadi semalam.
"Apakah sumur itu bisa berpindah-pindah?' tanya Asmoro.
"Tidak. Sumur itu tidak bisa berpindah-pindah kemana-mana," jawab Kuncoro.
"Kalau sumur itu enggak bisa berpindah kemana-mana. Kenapa sumur yang aku minum berpindah-pindah?" tanya Asmoro yang mengerutkan keningnya.
"Itu lain ceritanya. Di dunia ini ada dua sumur tua yang dikeramatkan dan tidak boleh tersentuh oleh bangsa manusia. Aslinya dua sumur itu berkaitan satu sama lain. Yang satu memiliki air kebaikan. Yang satu memiliki air kejahatan," jelas Kuncoro yang duduk seperti CEO di kantor.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya?' tanya Asmoro.