
"Jika kamu tahu siapa papamu sebenarnya? Maka kamu akan merasakan jantungmu berhenti. Karena selama ini papamu menyembunyikan sesuatu ke kamu," batin Lampard yang membuat dirinya menghela nafasnya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Hatori dengan kosong.
"Nggak gimana-gimana. Cepat atau lambat nyawa kalian sedang terancam. Jalan satu-satunya kamu harus bergabung dengan kedua adikmu itu. Aku tahu itu sangat berat sekali. Tapi mau bagaimana lagi Kamu harus melakukannya," jawab Lampard yang memberikan solusi terbaik buat Hatori.
"Kalau begitu aku ingin menemui mereka. Aku ingin memastikan Bagaimana kabar kedua adikku itu," pinta Hatori kepada Lampard.
"Bolehkah aku minta sesuatu kepadamu?" tanya Lampard.
"Boleh," jawab Hatori dengan sungguh-sungguh.
"Setelah kamu mengetahui ini. Aku memintamu untuk diam. Karena masalah besar ini berkaitan dengan aku. Aku ingin kamu saling bekerja sama agar masalah ini tertutup dengan rapat. Aku nggak mau kamu gembar-gembor masalah ini ke publik. Jika kamu mengatakan itu, aku tidak bisa membantumu lagi. Sebagai gantinya nyawamu akan menjadi taruhannya. Begitu juga dengan kedua adikmu dan mamamu," jelas Lampard.
"Kenapa aku harus merahasiakan ini?" tanya Hatori.
"Suatu pertanyaan bagus buatku. Jika kamu mengatakan jati dirimu di depan umum. Satu persatu keluarga Tutik akan mencarimu. Di situlah mereka akan memburumu dan kedua adikmu. Mereka akan membinasakan keturunan papamu. Itu semua terserah kamu. Semuanya berada di tanganmu. Jika kamu tidak yang bisa diajak kerjasama. Maka Aku pastikan seluruh anggotaku mundur pelan-pelan," jelas Lampard lagi.
Yang dikatakan Lampard benar apa adanya. Pria paruh baya itu memberikan peringatan agar Hatori tidak mengatakan apapun tentang perusahaan itu.
"Aku setuju," balas Hatori.
"Kalau gitu tanda tangani surat itu. Aku akan membantumu. Begitu juga dengan kamu, kamu juga akan membantuku. Keuntungan di sini adalah kamu bisa meminta perlindungan dariku. Keuntunganku adalah ingin menghancurkan John Smith. Karena John terlibat dalam kasus penyelundupan obat-obatan terlarang di Asia. Aku harap kamu paham soal itu," terang Lampard.
"Oke aku setuju. Obat-obatan terlarang? Ya Tuhan... Bencana apa lagi ini? Seluruh pemuda kampungku sedang memakai obat-obatan itu. Hampir tiap malam mereka mengkonsumsi obat tersebut. Aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkannya," ucap Hatori dengan jujur dan panik.
"Apakah kamu memakainya?" tanya Lampard.
"Tidak. Aku tidak memakai obat itu. Aku sangat kasihan sekali kepada papaku. Karena papaku siang dan malam selalu bekerja. Aku tidak mau mengecewakannya," jawab Hatori yang membuat Lampard salut kepadanya.
"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai kamu memakai obat itu. Maka kamu bisa merusak otak dan jantungmu dalam waktu beberapa detik. Aku tahu kamu adalah pria cerdas yang memiliki kemampuan tidak semua mereka memilikinya. Contohnya kamu bisa menjadi seorang pembisnis hebat. Menguasai lima bahasa ditambah dengan keahlianmu memilih buah. Aku tidak perlu lagi mencari ahli buah terkenal. Sekarang Aku berani membayarmu dengan mahal. Karena skill kamu yang mumpuni," imbuh Lampard.
__ADS_1
"Terserah Tuan. Yang penting aku bisa makan. Karena papaku sangat tegas sekali mengirim uang dua bulan sekali," kesal Hatori yang membuat Lampard tertawa dalam hati.
Yang dikatakan Hatori itu benar apa adanya. Namun Lampard hanya bisa terdiam. Bisa-bisanya Agatha sang CEO membuat statement anak laki-lakinya itu dibuat menderita.
"Jika kamu ingin bertemu mereka. Aku akan mengabulkannya sekarang," ucap Lampard. "Sebelumnya kamu harus tanda tangani surat itu dulu."
Pria muda itu segera meraih pulpen yang berada di depannya. Ia langsung menandatanganinya dan memberikan map itu kepada Lampard. Setelah itu Hatori menagih janji kepada Lampard agar bisa bertemu dengan kedua adiknya. Lampard segera berdiri, "Kalau begitu ayolah."
Kedua pria berbeda generasi itu langsung pergi dari sana. Di belakang mereka ada beberapa orang yang memakai baju serba hitam. Ketika ingin menoleh Lampard menyuruhnya untuk tidak melakukannya. Karena yang di belakang itu para anggota Black Horizon yang dipimpin oleh William.
Mansion Alexa.
Sean, Edward dan Scarlett sedang duduk di dalam pendopo. Mereka sedang melihat satu sama lain. Beberapa saat kemudian datang Rara. Gadis kecil itu mendekati Edward sambil memukulnya.
Plakkkkkk.
Jujur saja Edward terkejut melihat Rara. Bola matanya memutar malas dan tidak menanggapinya. Dengan kesal Rara duduk di samping Scarlett.
"Scar... Ada apa dengan kakakmu itu?" tanya Rara.
"Yang berada di samping pengawal itu," jawab Rara dengan malas.
"Oh, kak Edward hari ini kalah telak dari papa. Seharusnya Papa mengalah kepada anak kecil. Ini tidak sama sekali. Hingga membuat Kak Edward marah," jelas Rara.
"Oh begitu ya... Ternyata oh ternyata.. Kak Ed benar-benar marah," celetuk Rara.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan adikku itu," tunjuk Sean ke arah Edward.
"Memangnya aku marah apa? Aku sedang membuat rencana untuk menggagalkan Papa berbuat curang," kesal Edward.
"Papa nggak berbuat curang. Papa memang bisa permainan itu. Kamunya saja nggak bisa main. Apakah kamu paham?" tanya Sean sambil meledek Edward.
__ADS_1
"Makasih kalau begitu. Memang kakakku tidak memiliki akhlak sekalipun. Katanya mau membela aku. Ternyata oh ternyata kakak malah membela papa. Iya sih... Secara gitu loh.... Papa sudah menyuap Kakak dengan sebatang coklat. Aku harus melakukan hal yang curang," keluh Edward yang berusaha memiliki otak licik untuk menghancurkan Sang papa dalam permainan.
Rara dan Scarlett tertawa terbahak-bahak. Jangankan mereka, empat orang yang berjaga di sana juga tertawa. Bagaimana tidak anak dan bapak sama-sama liciknya ketika bermain. Yang kecil memiliki kelicikan tingkat tinggi. Yang besar memiliki kelicikan tingkat dewa. Mau tidak mau mereka bertarung habis-habisan demi mendapatkan poin besar.
"Sudahlah," protes Martin. "Kalau kalah kalah saja. Nggak usah marah-marah begitu."
"Papa kalau main curang," kesal Edward.
"Aku tidak curang. Kamunya saja yang nggak bisa," ejek Martin.
"Kalian ini," seru Alexa. "Bisa-bisanya kalian tidak mau mengalah. Kalau begitu ayo main sama mama!"
kedua pria berbeda generasi itu pun langsung menggelengkan kepalanya. Mereka tidak sanggup melawan Alexa. Jika mereka kalah Alexa akan bermain drama dan meminta apapun. Sementara Scarlett bersama Rara tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyangka kalau sang mama Alexa sangat pandai sekali bermain game.
"Rasain tuh," ejek Scarlett.
"Kamu itu ya... Kadang-kadang ada manisnya, kadang-kadang juga ada pahitnya. Bisa nggak sih kamu membantuku memenangkan permainan itu?" tanya Edward malas.
"Tidak bisa Ferguso. Lebih baik aku bermain masak-masakan. Aku kan perempuan bukan laki-laki seperti kakak," ledek Scarlett yang membuat para pengawal tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kalian harus ikut bermain," seru Sean.
Alexa hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya mereka mencari sekutu untuk melawan dirinya. Bagaimana jika Alexa mengajak para nenek dan kakek untuk bermain? Bisa dipastikan mereka kalah total. Apalagi ditambah dengan Jacob dan Imron.
"Kalian ini, kalau sudah kalah ya kalah saja. Jangan mencari sekutu untuk melawan mama. Yang kalian tunjuk adalah murid Mama semuanya. Mama yakin kalian akan kalah semuanya. Karena mama memiliki squad lebih besar lagi," jelas Alexa.
"Siapakah mereka mama?" tanya Martin.
"This is a secret. Aku tidak akan mengatakan pada kalian. Hari sudah sore, sekarang kalian masuklah," jelas Alexa.
"Aku masih ingin bermain Ma," kesal Edward.
__ADS_1
"Sudahlah. Hari sudah malam. Sekarang kalian masuk!" tegas Alexa.
"Ma, kapan kak Stella dan Kak Adelia balik lagi ke sini?" tanya Sean yang rindu pada kedua saudara kembar itu.