Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Dua Saudara Kembar Yang Kompak.


__ADS_3

"Memang gila itu Kak Asmoro. Bisa-bisanya memiliki kamar seperti ini. Aku kagum sekaligus terkejut. Jujur kamar ini bisa dipakai untuk bermain bola," jelas Adelia.


"Kamu benar. Aku sendiri juga bingung dengan keadaan kamar ini. Lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini. Aku merasa capek karena kebanyakan tidur seperti ini," ucap Stella.


"Memangnya Kakak di dalam pesawat tidur?" tanya Adelia.


"Iya. Kak Asmoro yang menyuruhku tidur terus-terusan. Tentu saja aku tidak menolaknya. Karena aku sendiri akan kehilangan jam tidurku pada waktu malam. Kamu tahu kan apa maksudku?" tanya Stella.


"Ya kamu benar. Aku sendiri juga akan merasakan hal itu. Karena kita harus sedia waktu yang banyak untuk memproduksi keturunan. Apalagi kak Ian sendiri tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Aku rasa ingin mengabulkan semua cita-citanya," jawab Adelia.

__ADS_1


"Apakah kamu merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan kedua orang tuanya Kak Ian?" tanya Stella.


Mereka akhirnya keluar dan mulai berkeliling di mansion mewah ini. Adelia baru sadar jika Stella sedang menyinggung kedua orang tua sang kekasih. Ia juga merasakan hal yang sama.


"Kamu ngomong gitu hatiku jadi pedih. Jujur saja akhir-akhir ini Aku merasa kok ada yang aneh dengan Kak Ian. Aku ingin bertanya kepadanya, tapi sengaja aku menyimpan pertanyaan itu," jawab Adelia sambil melihat ornamen-ornamen di dinding.


"Kamu benar. Kok feelingkuh rasanya aneh. Maafkan aku juga terlalu ikut campur denganmu. Aku sebenarnya juga tidak ingin ikut campur dalam masalahmu," ucap Stella.


"Aku memiliki feeling begini. Kalau orang tua Kak Ian meninggalnya itu secara tragis. Aku nggak tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Jika kamu bertanya tentang itu, kekasihmu tidak akan pernah jujur dan memilih untuk diam. Aku percaya kalau ada seseorang yang sengaja menghancurkan keluarganya Kak Ian," jawab Stella.

__ADS_1


"Kok feeling kita sama ya kak? Aku sendiri juga begitu. Aku sudah merasakannya beberapa bulan yang lalu. Saat kita belum bertemu, aku pernah diajak sama Kak Ian berkunjung ke makam ibu bapaknya. Perasaanku sih sepertinya sangat aneh. Tapi aku nggak pernah berbicara kepada Kak Ian," ucap Adelia.


"Apakah kamu pernah diajak oleh kak Ian ke rumahnya?" tanya Stella.


"Setelah menghadiri pemakaman itu. Dia tidak pernah mengajakku ke sana. Aku tidak tahu kenapa. Apakah ada kenangan buruk di rumah itu? Tapi aku nggak tanya soal itu," tanya Adelia balik.


"Mending gak usah tanya sama sekali. Aku tahu kepedihannya dia. Kalau kamu bertanya malah menambah kepedihannya. Kita seharusnya nggak usah menambah rasa sakit itu. Siapa tahu nanti kita bisa memecahkan kasus ini bersama-sama. Aku yakin masalahnya Kak Ian akan cepat terbuka. Apalagi kak Asmoro sangat hebat orangnya," jawab Stella sambil menghisap lengan Adelia.


"Iya Kak. Makasih ya yang sudah menghiburku kali ini," sahut Adelia.

__ADS_1


"Nggak kali ini saja. Aku berharap kalau kita sudah menikah. Kita akan menjadi tetangga. Kita nggak usah jauh-jauh untuk berkunjung dari satu ke tempat lainnya. Kalau ada acara apa-apa. Kita nggak perlu lagi untuk kontek-kontekan," ujar Stella. "Ayo kita berkeliling."


Mereka akhirnya mengelilingi mansion ini. Mata mereka disuguhi oleh barang-barang mewah. Ditambah dengan barang-barang antik yang dimiliki oleh Asmoro menambah kesan cantik tempat tersebut. Jujur saja mereka sangat menyukai tempat ini. Kalau ditempati satu keluarga saja, sepertinya ruangan lantai satu hingga lantai empat, kamarnya banyak yang kosong. Bahkan mansion itu bisa ditempati oleh enam keluarga sekaligus. Mulai dari generasi awal hingga beberapa generasi selanjutnya. Tapi apakah Asmoro mau menyuruh keluarga Stella untuk tinggal di sana? Jika berada di Manchester. Entahlah. Hanya Asmoro yang tahu jawabannya.


__ADS_2