
"Stella," panggil Hatori.
"Iya Kak," sahut Stella sambil menatap wajah Hatori.
"Dia adalah Papa kita," ucap Hatori sambil memberitahukan siapa Agatha sebenarnya.
"Apakah itu benar?" tanya Adelia sambil menatap wajah Stella sedang bingung.
"Ya itu benar. Pria itu adalah orang tua kita," jawab Hatori.
Kedua gadis itu menggeleng serempak. Mana ada pria setampan itu adalah papanya. Mereka menatap ke arah Agatha sambil berkata serempak, "Mana ada pria setampan anda adalah Papa saya?"
"Jadi kalian tidak percaya? Kalau aku adalah papamu?" tanya Agatha yang membuat mereka tidak percaya.
"Semuanya salahku sendiri. Kenapa aku memiliki wajah tampan seperti ini? Sehingga kedua putriku tidak mengenaliku?" kesal Agatha dalam hati.
"Anda benar tuan. Kami tidak percaya dengan pernyataan anda. Karena wajah anda sangat tampan sekali. Bahkan Anda mirip sekali dengan Takeru Satoh," jawab Stella.
"Lampard," panggil Agatha.
"Ada apa bro?" tanya Lampard dengan menahan tawa.
"Kedua putriku tidak mengenaliku? Tapi aku mengenalinya. Karena wajah mereka sangat mirip sekali denganku," jawab Agatha dengan kesal.
"Kalau begitu Aku tidak tahu itu. Aku bingung mau jawab apa? Sebaiknya kamu tanyakan saja pada Pak Kusno," ucap Lampard.
"Maaf saya tidak ikut-ikutan soal ini. Jujur aku sendiri bingung dengan pertemuan aneh ini," sahut Pak Kusno.
"Lalu bagaimana ini?" tanya Agatha.
"Lampard, bukannya Raka memiliki sampel darah Stella dan Adelia?" bisik Gio.
"Ah... Bener juga. Kenapa aku tidak terpikirkan soal itu ya?" jawab Lampard.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu melakukan tes DNA saja. Jika kamu sudah melakukannya maka mereka tidak bisa mengelak lagi. Aku yakin kedua putrimu itu terkejut. Saking terkejutnya mereka tidak mengakui kalau kamu adalah ayah kandungnya. Kalau begitu sore ini aku antar ke rumah sakit. Bagaimana menurutmu?" tanya Gio.
"Apakah bisa dipercepat? Aku paling malas kalau lama-lama seperti itu?" tanya Agatha dengan serius.
"Bisa," sahut Martin.
"Ternyata rumah sakit itu sangat canggih sekali," puji Agatha ke Martin.
"Bukan canggih. Tapi rumah sakit itu adalah milikku sendiri. Aku bisa memerintah tes DNA itu cepat dalam waktu satu jam," ujar Martin yang membuat Agatha terkejut.
"Pantas saja. Lah pemiliknya yang ngomong langsung jadi. Kalau nggak jadi besok akan dikeluarkan," keluh Agatha memakai logat Jawa.
Mereka tertawa melihat Agatha terkejut. Memang rumah sakit itu adalah milik Martin pribadi. Martin sengaja mendirikan rumah sakit itu demi menolong orang-orang yang kurang mampu. Bahkan jiwa penolong Martin banyak membuat orang menjadi sembuh.
"Kalau begitu sekarang saja juga boleh. Soalnya aku hari ini free. Itung-itung Aku ingin mengunjungi rumah sakitku," ajak Martin.
"Bolehlah," balas Agatha dengan lesu.
"Jangan lesu begitu. Karena mereka sangat terkejut mendengar pengakuanmu. Kamu tahukan Kalau dirimu itu pergi meninggalkannya semenjak bayi. Jadi wajar saja mereka terkejut. Apalagi dengan Stella yang tidak tahu kamu dan istrimu," hibur Lampard.
"Kalau begitu ayolah kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan meminta Raka untuk mengosongkan waktunya," ucap Martin sambil meraih ponselnya.
Martin menghubungi Raka untuk mengosongkan jadwal beberapa jam ke depan. Martin memintanya untuk menyiapkan alat tes DNA. Akhirnya Raka menyanggupinya dan langsung melaksanakan tugas tersebut.
Setelah itu Martin mengajak Agatha pergi ke rumah sakit. Dalam perjalanan Martin tidak membawa pengawalan ketat. Namun Derek sudah berada di belakang mobil Martin. Diam-diam Derek sengaja mengawal Martin kemanapun pergi.
Melihat kepergian Martin dan Agatha, Lampard menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Stella dan Adelia tidak mengetahui kalau Agatha papanya sendiri? Mau tidak mau Lampard mendekati mereka.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" tanya Lampard sambil menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.
"Boleh," jawab Stella.
"Apakah kamu tahu kalau pria tadi itu adalah ayahmu sendiri?" tanya Lampard.
__ADS_1
"Aku tidak percaya kalau pria tadi adalah ayahku sendiri. Jujur saja ayahku sangat tampan sekali," jawab Adelia.
"Kenapa kamu tidak percaya? Sedangkan wajah kalian sangat mirip sekali. Apakah kalian tidak pernah bertemu?" tanya Lampard lagi.
"Iya itu benar. Bahkan aku tidak mengenal, siapa ibuku sendiri? Sedari dulu mereka mengatakan kalau Tutik adalah ibuku sendiri. John adalah papaku sendiri," jawab Stella yang membuat Lampard mengangguk paham.
Hatori semakin bingung dengan pernyataan Stella. Entah kenapa Hatori membaca situasi sekarang. Sebenarnya ada apa masalah dengan keluargaku? Sehingga kedua adikku tidak tahu papanya sendiri. Bahkan aku sama Stella tidak tahu siapa ibuku sebenarnya? Inilah pertanyaan bertubi-tubi yang sedang menghantam hatinya.
"Hatori," panggil Lampard.
"Iya tuan," sahut Hatori.
"Kamu pasti bingung dengan masalah ini. Aku tahu kamu bingung siapa ibumu sebenarnya? Begitu juga dengan Stella yang tidak tahu kedua orang tuanya sendiri. Hanya Adelia yang tahu ibunya dan tidak tahu papanya siapa? Kemungkinan besar papamu akan cerita semuanya dari awal hingga sekarang. Kenapa kejadian ini bisa terjadi? Setelah itu aku mohon kamu tidak boleh membenci papamu. Soalnya bapakmu sendiri memiliki rasa bersalah," pinta Lampard.
"Begitu juga dengan Stella dan Adelia. Kamu harus mengetahui Bagaimana keluargamu bisa seperti ini. Nanti papamu sendiri yang akan cerita lebih jelasnya lagi. Tapi aku harap kamu tidak membenci papamu itu. Selama ini papamu mencari kalian. Namun papamu tidak bisa menemukan kalian. Terutama pada Stella," tambah Lampard.
Ketiga saudara itu paham akan perkataan Lampard. Adelia dan Stella hanya butuh bukti tes DNA saja. Mereka tidak mau kalau ada orang yang menyebut-nyebut dirinya orang tuanya sendiri.
Lalu bagaimana dengan Hatori? Begitu juga dengan Hatori. Pria muda itu masih diam dan belum mengerti. Meskipun Lampard sudah memberikan bukti jelas, kenapa ini bisa terjadi?
"Sabarlah... Tunggu hasil tes itu keluar," ucap Lampard sambil beranjak berdiri dan meninggalkan mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Martin mengajak Agatha ke ruangan Raka. Di sana Raka sudah menunggunya. Tak lama Ibra masuk ke dalam dan memberikan sebuah map ke arah Raka.
"Baca itu semua. Aku kemarin mengadopsi salah satu mayat yang ditemukan di jalan xxx," ucap Ibra.
"Memangnya Apa itu?" tanya Raka yang membuka map itu.
"Baca saja dulu. Nanti kamu akan temukan kesimpulannya," jawab Ibra sambil menghempaskan bokongnya di depan Raka.
Akhirnya mereka membaca surat tersebut. Alangkah kagetnya Raka mendapati suatu kenyataan. Bahwa mayat yang dibuang Itu ternyata tubuhnya mengandung racun.
"Apa-apaan ini?" tanya Raka.
__ADS_1
"Aku kemarin mengajak pengawalku mengambil satu mayat yang ada di sana. Lalu aku memeriksa mayat itu bersama beberapa pengawal yang pandai dalam ilmu medis. Sungguh aku terkejut sekali. Orang itu ternyata dibuat bahan percobaan. Mereka sengaja membuat obat dengan dosis tinggi dan memberikannya ke mayat tersebut. Maksudku orang itu masih hidup lalu diberikan obat. Kemungkinan besar mayat itu keracunan dosis tinggi," jelas Ibra yang membuat Raka terkejut.
"Apa itu benar?" tanya Raka.