
“Memangnya markas sudah jadi ya?” tanya Ian yang bingung karena markas belum jadi.
“Enggak usah bingung. Kalau belum jadi ya sudahlah. Gantung saja di pohon. Taruh kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Tunggu sampai aku datang bersama istriku,” jelas Asmoro yang memberikan sebuah solusi cara mengikat tawanan dengan benar.
Stella tersenyum manis mendengar apa yang dikatakan oleh Asmoro. Ia segera tersenyum sambil mendekati kedua pria itu. Entah kenapa Asmoro terbakar api cemburu dan menatap kedua pria itu sambil berkata, “Jangan kamu dekati kedua pria itu! Jika kamu tidak ingin merasakan tubuhku terkurung di dalam kamar seminggu!”
Stella hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana tidak dirinya sudah mendapatkan ancaman lalu dikurung di kamar beberapa hari.
“Jika begitu kamu enggak boleh menyentuhku selama beberapa hari hingga hukumanku belum selesai,” ucap Stella yang mendapatkan persetujuan dari Ian dan Rinto.
Asmoro langsung berwajah pucat dan terdiam. Ia hanya bisa menghela nafasnya dan menyetujui permintaan Stella, “Baiklah kalau begitu. Kalau begini aku menyerah.”
Kedua asisten Asmoro hanya menahan tawanya. Mereka tidak menyangka kalau Asmoro si kakek tua takut pada ancaman istrinya. Dengan begitu Asmoro bisa dikatakan kalau telak dari Stella.
__ADS_1
“Kamu pasti suruhan John Smith?” tanya Stella dengan serius dan menatap tajam ke salah satu pria itu.
Kedua pria itu hanya terdiam dan menelan salivanya dengan susah payah. Mereka langsung menunduk dan hanya bisa menatap lantai. Jika mengaku jujur keluarga mereka akan dihabisi oleh John.
Satu pesan dengan nada tegas mereka ingat. Pesan itu keluar begitu saja dari mulut John. Pesan itu sungguh mengerikan sekali. Namun disisi lain mereka harus menjaga keluarganya.
“Bawa saja sana! Mereka tidak akan mengeluarkan suaranya,” kesal Asmoro yang melambaikan ke arah Rinto agar membawanya ke hutan.
Rinto menganggukan kepalanya dan menghubungi kepala pengawalnya agar mereka kesini. Saat mereka menunggu kedatangan kepala pengawalnya, Stella memberitahukan sesuatu. Stella akhirnya mendekati Asmoro sambil berbisik, “Di kantong celana ada botol yang berukuran dua puluh lima mili sebanyak lima. Mereka sengaja membawanya untuk dimasukkan ke dalam bahan makanan kita.”
“Aku tidak pernah bohong. Aku hanya memberitahukan kamu saja,” jelas Stella yang membuat Asmoro menganggukan kepalanya.
Sesuai petunjuk dari Stella, Asmoro segera mendekati mereka. Tangan kekarnya mencoba merogoh kantong ke salah satu pria tadi.
__ADS_1
“Ah... salah,” seru Stella yang membuat Asmoro terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Asmoro.
“Bagian kiri maksudnya,” jawab Stella yang menunjukkan tangannya ke arah kantong bagian kiri.
Asmoro mulai mengeluarkan tangannya dan beralih ke kantong kiri celana tersebut. Dengan sudah payah akhirnya Asmoro menemukan barang apa yang dimaksud oleh Stella.
Stella yang melihatnya hanya bisa tersenyum manis. Hanya memakai insting saja Stella bisa menemukan obat itu. Memang Stella benar-benar jelmaan dari Ratu Noe yang bisa dikatakan bar-bar itu.
“Ya... aku paham. Terima kasih sayangku. Aku akan meminta Ibra dan Raka untuk memeriksanya kembali,” ucap Asmoro.
Glek.
__ADS_1
Pria yang baru saja digeledah hanya bisa pasrah. Mereka bingung apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah mereka harus mengambil jurus langkah kaki seribu?
“Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku sudah tertangkap sama sang pemilik S&T. Apakah aku harus kabur dari sini?” tanya salah satu dari mereka.