
“Mau menengok istrikulah,” jawab Kuncoro lalu menghilang dari pandangan.
“Dibilang setan bukan setan. Dibilang Kodam juga bukan. Dibilang apa ya ini orang? Jika kepepet malah muncul dengan tiba-tiba. Ya sudah kalau begitu, kita cabut saja dari sini. Sepertinya aku malam ini sangat lelah sekali,” keluh Asmoro.
“Apakah kakak percaya dengan apa yang diomongkan sama Kuncoro tadi? Kalau aku tidak percaya sama sekali,” tanya Ian sambil menyalakan mobil dan meninggalkan area pabrik tersebut.
“Apakah kamu mau kalau melakukan penyelidikan ini?” tanya Asmoro yang mulai membetulkan cara duduknya itu.
“Ngeri-ngeri sedap bos. Jujur sedari dulu aku memang ingin menyelidiki kasus itu. Setelah dipikir-pikir banyak informasi yang mengatakan, kalau ada orang yang mengetahui pembuangan mayat itu. Para pengawal John akan mengejarnya dan membunuh orang tersebut. Maka dari itu aku mengurungkan niatku,” jawab Ian yang berkonsentrasi membawa mobil.
“Yang dikatakan Kuncoro itu benar. Kamu nggak boleh main-main dengan perkataan Kuncoro. Meskipun kelihatannya slengean, tapi Kuncoro memberitahukan bahaya di depannya terlebih dahulu. Yah kalau begitu jangan dulu diselidiki. Cepat atau lambat kita akan mencari sumur itu. Kita akan membakarnya dan menutupnya hingga seluruh keturunan si nenek penyihir itu tidak akan lahir ke dunia ini kalau menurut analisisku si nenek itu pasti memiliki keturunan hingga generasi berikutnya. Maka kemungkinan besar mereka tidak akan memiliki kekuatan seperti itu lagi. Bisa dipastikan mereka bisa menjadi manusia normal,” jelas Asmoro.
“Jujur, kisah kita itu seperti cerita anime. Yang di mana cerita itu menggambarkan sosok untuk menyelamatkan dunia. Aku nggak habis pikir kenapa ini bisa terjadi? Apakah aku harus lari dari kenyataan? Karena aku sendiri bukan seorang anime. Aku adalah seorang pria biasa yang sanggup mengerjakan tugas-tugas kantor,” keluh Ian yang membuat Asmoro tertawa.
“Jangankan kamu. Aku sendiri sebagai ketua mafia bisa-bisanya mendapatkan tugas seperti ini. Memang semuanya ini berasal dari Exodus. Jika saja mereka tidak membuat ulah. Kemungkinan besar aku tidak akan seperti ini. Aku pengen hidup normal tanpa embel-embel seperti ini,” sahut Asmoro.
“Kamu tidak boleh mengeluh seperti itu. Kamu adalah kamu yang ditugaskan untuk menyelamatkan bumi ini. Jika kamu tidak sanggup, Bagaimana bumi ini akan seperti saat ini. Aku datang kemari hanya untuk memperingatkan kalian agar tidak mengeluh terus-terusan. Jujur selama ini kamu semuanya memang sudah ditakdirkan untuk menjaga bumi ini. Dan kalian tidak boleh mengelak dari tugas ini!” tegas Kuncoro yang tiba-tiba saja hadir dengan suara dingin.
“Sekarang aku tanya? Kenapa kami harus mengemban tugas itu? Sementara kami adalah orang biasa. Yang di mana orang biasa ingin hidup normal,” tanya Asmoro sekali lagi.
“Setelah kalian menghancurkan mereka. Kami akan memberitahukan siapa diri kalian semuanya. Untuk saat ini kalian tidak akan pernah tahu apa pun soal ini. Jadi mulai saat ini kalian tidak boleh mengeluh tentang keadaan apa pun. Jika kalian mengeluh, aku akan datang terus-terusan untuk memperingatkan kalian semuanya tentang misi ini! Camkan itu semuanya,” ucap Kuncoro yang tiba-tiba saja menghilang lagi.
Dengan terpaksa mereka tidak mengucapkan apa-apa lagi. Baginya hal itu menjadi hal yang tabu untuk membicarakan ulang. Lalu, Apakah Asmoro tahu jika Gio memiliki hal yang sama? Satu kata buat Asmoro entah dan tidak mempedulikannya.
__ADS_1
Di apartemen mewah, Stella bersama Adelia sedang duduk berhadapan. Saat itu Stella sedang mengobrol dengan Adelia. Tak lama Hatori datang membawa snack untuk mereka. Hatoripun menaruh snack itu.
“Stella,” panggil Hatori sambil menghempaskan bokongnya di sofa singlenya.
“Iya Kak,” jawab Stella.
“Habis gini Kamu tinggal di mana?” tanya Hatori.
“Yang pastinya Stella akan tinggal bersama suaminya,” jawab Anita yang datang membawa buah-buahan sudah dikupas dan menaruhnya di atas meja.
“Baru bertemu kita sudah terpisah lagi,” keluh Hatori yang sangat sedih sekali karena ditinggal Stella.
“Mau bagaimana lagi. Semuanya sudah suratan takdir. Kita tidak bisa mengelak satu sama lain. Stella juga harus ikut bersama sang suami. Begitu juga dengan Adelia. Sebelum kita berkumpul, Tuan Ian sudah meminta Adelia ke Mama. Mama sangat mempercayai Tuan Ian menjaga Adelia sepenuhnya. Janganlah kamu menyesal seperti itu. Habis gini kita tidak akan terpisah lagi seperti dulu. Kita harus berpegangan tangan untuk menyatukan Kurumi seperti dulu,” jelas Anita yang duduk di samping Adelia.
“Baik Pa,” jawab mereka serempak.
Beberapa saat kemudian Asmoro dan Ian masuk ke dalam apartemen milik Agatha. Asmoro membawa beberapa paper bag yang berisikan benang rajut dan jarumnya. Kemudian Asmoro memberikan benang rajut itu ke arah Stella, “Ini pesanan kamu.”
“Apa itu!” tanya Anita yang melihat ke arah paper bag itu.
“Oh ini... Benang rajut. Setelah pulang dari kantor catatan sipil, Stella meminta benang rajut. Kemungkinan besar Stella akan belajar merajut benang untuk dijadikan pakaian hangat,” jawab Asmoro yang membuat mereka terkejut.
“Apakah itu benar?” tanya Agatha yang menatap ke arah Stella.
__ADS_1
“Ya itu benar. Stella sangat menginginkan benang itu untuk dijadikan pakaian,” jawab Asmoro lagi.
“itu benar pa. Hari ini aku ingin sekali belajar merajut. Aku ingin membuat pakaian rajut untuk Kak Asmoro. Sepertinya Kak Asmoro sangat tampan sekali jika memakai baju rajut dari aku,” jelas Stella sambil menunduk dan takut melihat Agatha.
Melihat sang Putri ketakutan seperti itu, Agatha hanya tersenyum simpul. Kemudian Agatha mendekati Stella sambil berkata, “Kamu jangan takut seperti itu. Kamu itu memang seorang perempuan. Yang di mana perempuan itu suka sekali merajut baju. Jadi wajarlah Jika kamu ingin merajut pakaian.”
“Itu benar Kak. Kalau kakak bisa merajut pakaian. Siapa tahu nanti kakak bisa membuat pakaian dengan hasil benang rajut itu. Lalu menjualnya ke toko online di negara ini maupun di luar negeri. Harganya nggak kaleng-kaleng Kak. Biasanya sangat mahal daripada baju biasa. Ditambah kakak memiliki kualitas yang sangat bagus sekali. Kakak bisa mendapatkan pundi-pundi uang tanpa harus bersusah payah mencari uang. Kakak tinggal duduk dan merajut lalu terima telepon dan terima pesanan,” saran Adelia yang membuat mereka menganggukkan kepalanya.
“Sepertinya aku sangat setuju sekali. Kalau begitu biarkan Asmoro yang mencari benang untuk membeli benang rajut yang banyak. Rasanya aku ingin belajar fashion,” sahut Stella yang menyetujui keinginan Adelia.
“Itu terserah kalian. Yang penting kalian ada kegiatan dan tidak menganggur. Siapa tahu nanti akan ada perusahaan besar mendukung karya kamu. Dan Adelia belajarlah merajut benang itu. Kamu bisa mendapatkan pundi-pundi uang dari hasil rajutanmu,” ucap Agatha yang membenarkan ide Adelia.
Asmoro dan Ian tersenyum mendengar pernyataan Agatha. Mereka menyetujui ide Adelia itu. Suatu hari nanti mereka bisa membuat pabrik benang rajut. Yang di mana mereka tidak susah payah untuk merajut pakaian.
“Tuan Agatha,” panggil Asmoro.
“Ada apa?” tanya Agatha.
“Bisakah aku mengajak Stella pulang ke rumah?” tanya Asmoro yang meminta izin untuk membawa pulang Stella.
“Apakah kamu serius ingin membawanya pulang?” tanya Agatha balik.
“Ya... Aku serius. Aku ingin membawanya pulang dan membahagiakan Stella,” jawab Asmoro dengan hati yang mantap.
__ADS_1
“Bawalah pulang. Aku minta satu permintaan dari kamu. Janganlah kamu membuat putriku menderita lagi. Jika sampai menderita dan meneteskan air mata. Aku akan mengambilnya darimu. Camkan itu Asmoro Hadikusumo Wijaya!” perintah Agatha.