
Asmoro sedang memutar otaknya agar mereka keluar dari apartemen ini. Ia sangat bingung untuk mengatakan sebenarnya. Ketimbang dirinya tidak tenang bekerja, Asmoro langsung membuka pintu itu dan melihat Agatha yang sudah bersiap-siap pergi ke kantor.
"Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?" tanya Asmoro kepada Agatha.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Agatha balik.
"Aku tidak ingin membiarkan ini di sini. Aku tidak mau mereka mendengarnya," jawab Asmoro yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Baiklah. Tunggu di sini," bales Agatha yang meninggalkan Asmoro untuk berpamitan dengan Anita.
Setelah berpamitan Agatha mendekati Asmoro. Lalu Agatha mengajak Asmoro keluar dari ruangan itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Agatha yang tiba-tiba saja berhenti.
"Aku tidak ingin membiarkan ini di sini. Ayo ikut aku ke tempat Ian. Semoga saja orang itu sudah bangun dari tidurnya," jawab Asmoro.
"Memangnya orang itu mati?" tanya Agatha yang mengerutkan keningnya karena perkataan Asmoro.
"Tidak. Ian kalau tidur seperti mayat hidup. Tidak mendengar apapun ketika aku berteriak," jawab Asmoro.
Mereka memutuskan untuk pergi ke unit apartemen Ian. Sesampainya di sana mereka masuk dan mencium aroma masakan.
"Tumben saja Ian pagi-pagi begini membuat sarapan," sahut Asmoro.
"Memangnya dia tidak pernah memasak sarapan?" tanya Agatha.
"Dia jarang sekali membuat sarapan pada pagi hari. Kemungkinan besar Adelia ada di sini," jawab Asmoro.
"Ada apa sebenarnya? Kok kamu menyuruhku bicara empat mata," tanya Agatha yang sedang bingung dengan kelakuan Asmoro.
"Lebih baik kamu duduk saja terlebih dahulu. Aku tidak enak jika berbicara seperti ini," Asmoro mempersilakan Agatha duduk terlebih dahulu.
Agatha pun duduk dengan posisi tegak. Lalu Asmoro duduk di hadapan Agatha sambil mengatakan, "Sepertinya kamu harus meninggalkan apartemen ini."
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu? Ada apa sebenarnya?" tanya Agatha.
"Ini masalah gawat. Jika kamu masih tinggal di sini. Kemungkinan besar musuh bebuyutanmu akan datang dan meminta Stella untuk menandatangani surat-surat itu," jawab Asmoro.
Jantung Agatha mulai berdetak dengan kencang. Ia teringat akan keluarga itu. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika itu terjadi maka keselamatan sang putra-putrinya terancam dalam bahaya.
"Aku harus bagaimana?" tanya Agatha.
"Jangankan putrimu yang dalam bahaya. Kamu pun juga dalam bahaya. Maafkan aku jika memberitahukan masalah ini. Karena Patty sering datang ke apartemen sini. Demi kekasihnya itu," jawab Asmoro.
Sontak saja Agatha kaget. Bisa-bisanya Asmoro mengingatkan tentang Patty. Lalu Agatha memegang kepalanya sambil mencari ide.
"Jalan satu-satunya kamu tidak usah menjual apartemen itu. Biarkan saja apartemen itu. Kamu harus mencari rumah untuk dihuni," jelas Asmoro.
"Aku ingin mencari rumah yang sederhana sekali. Tidak mencolok dan menyembunyikan seluruh milikku," pinta Agatha.
"Tenanglah... Aku akan mencarikan rumah seperti itu. Kemungkinan besar itu berada di area puncak pegunungan. Aku yakin di daerah sana mereka tidak akan bisa melacakmu," celetuk Asmoro yang tidak memberikan solusi.
"Kenapa kamu tidak memberikan aku solusi dengan baik? Kenapa kamu menyuruhku tinggal di puncak gunung? Jika aku tinggal di sana bagaimana dengan keluargaku? Sementara jalan menuju kantor sangat jauh," sahut Agatha.
"Itu bukan tapi membuatku sangat susah sekali untuk pergi ke kota," kesal Agatha.
"Okelah kalau begitu. Aku akan mencari kamu sebuah hunian di area kantor saja. Di sana kamu bisa hidup bahagia bersama anak dan istrimu. Aku akan meminta Leon untuk memberikan pengawalan ketat. Dan izinkanlah aku berkunjung ke rumahmu setiap hari," pinta Asmoro.
"Kalau kamu ingin mengambil Stella. Maka ambilah. Aku sudah tidak berhak lagi mengurusi hidup Stella," ucap Agatha yang melepaskan Stella dengan ikhlas.
"Bukan maksudku seperti itu. Aku masih mencari celah agar bisa melindungi kalian. Cepat atau lambat mereka akan menyerang kita," sahut Asmoro.
"Rencana kamu apa?" tanya Agatha.
"Untuk sementara waktu aku tidak bisa membawa Stella ke mana-mana. Dia akan tinggal bersama kalian untuk sementara waktu. Jika semuanya reda, aku akan mengajaknya hidup bersama," jawab Asmoro yang mendapatkan anggukan dari Agatha.
"Terserah kamu. Pokoknya kamu tidak boleh membahayakan putriku itu!" perintah Agatha.
__ADS_1
Mansion Nathalie.
"Selamat pagi ma dan pa," sapa Natalie.
"Selamat pagi sayang," sahut Niwa yang sedang membawa piring yang berisikan roti bakar.
"Rencana kamu hari ini apa?" tanya Nano.
"Rencana hari ini adalah mengajak kerjasama papa Asmoro dalam bidang logistik. Aku ingin meluncurkan sebuah kue yang tidak bisa membuat badan orang melar," jawab Natalie sambil menghempaskan bokongnya di hadapan Nano.
"Anggap saja itu kue untuk diet. Aku sangat setuju sekali. Jika kamu membuat kue itu. Apalagi para model mama ingin memakan makanan yang banyak tapi tidak bisa membuat badan gemuk," jelas Niwa.
"Memangnya kamu bekerja sama dengan siapa? Kok memiliki rencana membuat kue seperti itu," tanya Nano yang melipat korannya.
"Aku bekerja sama dengan kak Ibra dan kak Raka. Banyak wanita mengeluh yang badannya tidak bisa menjadi kurus. Mereka selalu curhat dan berkata, bagaimana sih menurunkan berat badan yang sehat tanpa harus memakai obat-obatan? Nah pas malam itu kami tidak sengaja melakukan obrolan itu. Dengan senang hati kami mendiskusikan hal ini," jawab Natalie dengan jujur.
"Sepertinya ide kamu sangat bagus sekali. Kenapa kamu tidak mencobanya?" Tanya Niwa lagi.
"Makanya itu aku ingin ke sana nanti siang. Pembangunan gedung sudah mulai jadi. Aku nggak tahu kapan bisa menempatinya. Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku," jawab Natalie yang sedikit kecewa dengan gedungnya itu.
"Tidak apa-apa. Papa tidak pernah memaksamu untuk bekerja terlalu keras. Tapi perlu diingat kamu harus bertanggung jawab apa yang telah dilakukan. Jangan sampai pekerjaanmu menimbulkan kerugian besar di mana-mana. Kalau bisa kamu tanyakan saja pada Tama. Pria itu dengan senang hati bisa membantumu," jelas Nano.
"Siap pa," sahut Natalie.
"Kapan masalah ini akan berakhir?" tanya Niwa.
"Belum ada titik cerah sama sekali. Musuh belum begitu banyak bergerak untuk daerah sini. Tapi daerah Eropa sudah semakin parah. Liam sudah menerjunkan banyak anggota untuk menghabisi para mafia yang berada di sana. Setiap menemukan kepala mafia maupun anggotanya pasti dihabisi," jawab Nano sambil menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mereka semakin parah saja. Kalau begitu kita tunggu saja waktunya untuk menghajar mereka," sahut Natalie.
"Tidak semudah itu sayangku. Kalau semuanya mudah pasti dari dulu. Kita sudah melawannya tanpa harus meminta bantuan ke siapapun," ujar Nano yang menghentikan pemikiran putrinya itu.
"Ternyata cukup sulit juga," celetuk Niwa.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?membiarkan orang-orang tidak berdosa mati dengan konyol seperti itu?" tanya Natalie.