
“Aku enggak tahu kenapa Martin memilih markas menjadi tempat
meeting. Aku juga belum tanya kenapa?” tanya Gio.
“Apakah ada hubungan dengan ruangan organisasi bawah tanah?”
tanya Lampard balik.
“Mungkin saja,” jawab Gio. “Akhir-akhir ini musuh bisa
bergerak dengan bebas. Cepat atau lambat mereka akan mengetahui di mana
keberadaan kita,” jawab Gio yang melihat Stella yang mencoba rileks. “Bagaimana
kabar Stella?”
“Sangat buruk sekali. Stella gadis yang sangat rapuh dan
ketakutan jika mengingat masalah masa lalunya,” jawab Lampard. “Tadi Stella
cerita kalau dirinya sedang dalam bahaya. Semua orang ingin menyingkirkannya.”
“Aku tahu itu. Sekarang tugas kita adalah melindunginya.
Apakah kamu menikahinya?” tanya Gio.
“Sebenarnya aku ragu akan keputusanku. Menikah adalah bukan
perkara mudah. Jadi selama aku belum merasakan cinta, aku tidak bisa menikah
sama sekali,” jawab Lampard.
“Kenapa kamu menunggu cinta itu datang?” tanya Gio. “Sebenarnya
cinta itu datang dengan sendirinya. Jika kamu merasa cinta itu enggak datang...
itu salah besar. Janganlah kamu meremehkan soal cinta!”
“Aku harus bagaimana?” tanya Lampard.
“Nikmatilah hidup kamu dalam pernikahan. Kelak kamu akan
mendapatkan cinta yang tulus. Percayalah... kamu akan mendapatkan cinta itu
dengan sendirinya,” jawab Gio yang memberikan saran.
“Bagaimana keadaan Stella yang sesungguhnya?” tanya Gio.
“Keadaannya kurang baik. Raka memprediksi Stella akan lumpuh
jika tidak diberikan pengobatan dengan baik,” jawab Lampard.
“Mumpung Martin mengadakan meeting di sini. Kita bisa bahas
Stella beserta nasibnya,” saran Gio.
“Apakah kamu yakin mencampurkan pekerjaan kantor dengan
pekerjaan bawah tanah?” tanya Lampard.
“Iya... aku yakin,” jawab Gio.
“Aku harap kakak tidak mengeluh soal ini,” ujar Lampard yang
tahu kalau Gio tidak suka mencampurkan masalah kantor dengan urusan bawah
tanah.
“Di mana Alexa?” tanya Lampard yang tidak melihat Alexa sama
__ADS_1
sekali.
“Alexa berada di Snowden Groups,” jawab Gio.
“Apakah ke sini?” tanya Lampard.
“Sepertinya ke sini,’’ jawab
Gio yang meraih ponselnya di meja.
Sementara di luar markas,
Ian bersama Leon sedang menikmati es capucino. Mereka sedang mengobrol tentang
masa-masa muda dulu. Terkadang mereka tertawa lucu ketika ada kenangan-kenangan
konyol yang telah tercipta.
Beberapa saat kemudian Ian
dengan mata tajamnya sedang melihat area markas dengan cermat. Ia tidak sengaja
melihat pemandangan sangat mencurigakan. Dirinya memegang baju Leon sambil
berkata, “Ada yang aneh enggak sedari tadi arah jam sembilan?”
“Aku sudah merasakan itu.
Orangnya sedang memakai baju serba hitam. Tubuhnya sangat besar. Memakai topi
yang bertuliskan Exodus,” jawab Leon yang sedang membidik sang lawan.
“Lalu?” tanya Ian.
“Apakah kita tidak
“Enggak usah Maseh,” jawab
Ian yang membuat Leon tergelak tawanya dengan kencang.
Mereka tertawa
terbahak-bahak sambil memberikan kode kepada para pengawalnya. Semakin keras suara tertawanya itu beberapa
pengawalnya langsung mendekatinya. Tanpa hormat mereka langsung berbaur menjadi
satu. Lalu Leon berbisik sambil memberitahukan ada musuh di area ini. Mereka
menganggukkan kepalanya dan bubar berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa.
“Apakah kamu sudah siap?”
tanya Leon.
Ian mengedipkan matanya
sambil tersenyum. Ia memegang punggung belakangnya sambil meraih pistol
berjenis air softgun. Sementara beberapa pengawal itu langsung datang melingkar
dari arah yang tidak bisa ditebak. Sang penyusup itu langsung terkejut dan
mulai berkeringat dingin. Ia tidak menyangka kalau aksinya ketahuan. Mau tidak
mau sang penyusup itu mengambil pistol di belakang punggung.
“Kamu mau bertarung atau
menembak?” tanya Ian dengan dingin.
__ADS_1
“Dua-duanya,” jawab sang
penyusup.
“Cih! Suruh milih salah satu
malah semuanya!” geram Leon dengan mata memandng nyalang.
Beberapa saat kemudian sang penyusup
itu mengambil ponselnya sambil mencari nomor seseorang. Namun ketika mendial,
Ian langsung mengarahkan tembakan itu sambil menatap ponsel tersebut. Dengan
cepat Ian menarik pelatuknya hingga...
Dorrrrrrr!
Sebuah peluru mendarat tepat
berada di ponsel sang penyusup itu. Lalu sang penyusup membuang ponsel itu dan
melihatnya terbakar.
“Sial!” desisnya.
“Kamu enggak bisa lari
kemana-mana! Kamu harus menyerah dengan keadaan kamu yang sudah dikepung oleh
kami! Mau lariun percuma!” seru Ian yang memberikan kode agar segera meringkus
orang tersebut.
Salah satu pengawal itu
segera meringkusnya. Lalu membawanya ke ruangan bawah tanah. Sedangkan Leon dan
Ian sedang menganalisis tentang sang penyusu itu. Kemudian Ian memandamg mobil
sort milik Gio. Ia kemudian tersenyum jahat dan segera meninggalkan Leon
sendirian.
“Ini astinya datang bersama
Kak Gio! Tapi sepertinya kak Gio tidak menyadari apa yang terjadi?” tanya Ian
dalam hati.
Dengan santainya Ian pergi
menuju ke ruangan khusus lalu mengambil ponselnya. Ia langsung mengecek seluruh CCTV yang berada di seluruh
area markas. Ian hanya tersenyum manis dan berkata dalam hati, “Ternyata
datangnya sendirian! Itu enggak asyik sekali. Jika datangnya ramai-ramai
sepertinya sangat mengasyikkan buat aku. Jujur aku sudah lama tidak bertarung
sama siaapun.”
Sesampainya di ruangan Ian
melihat kedua pria paruh prai paruh baya itu sedang asyik dengan ponselnya
masing-masing. Dirinya langsung menghemaskan bokongnya di sofa singel sambil
bertanya, “Apakah kak Gio tidak tahu sesuatu?”
__ADS_1