Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Sang Penyusup


__ADS_3

“Aku enggak tahu kenapa Martin memilih markas menjadi tempat


meeting. Aku juga belum tanya kenapa?” tanya Gio.


“Apakah ada hubungan dengan ruangan organisasi bawah tanah?”


tanya Lampard balik.


“Mungkin saja,” jawab Gio. “Akhir-akhir ini musuh bisa


bergerak dengan bebas. Cepat atau lambat mereka akan mengetahui di mana


keberadaan kita,” jawab Gio yang melihat Stella yang mencoba rileks. “Bagaimana


kabar Stella?”


“Sangat buruk sekali. Stella gadis yang sangat rapuh dan


ketakutan jika mengingat masalah masa lalunya,” jawab Lampard. “Tadi Stella


cerita kalau dirinya sedang dalam bahaya. Semua orang ingin menyingkirkannya.”


“Aku tahu itu. Sekarang tugas kita adalah melindunginya.


Apakah kamu menikahinya?” tanya Gio.


“Sebenarnya aku ragu akan keputusanku. Menikah adalah bukan


perkara mudah. Jadi selama aku belum merasakan cinta, aku tidak bisa menikah


sama sekali,” jawab Lampard.


“Kenapa kamu menunggu cinta itu datang?” tanya Gio. “Sebenarnya


cinta itu datang dengan sendirinya. Jika kamu merasa cinta itu enggak datang...


itu salah besar. Janganlah kamu meremehkan soal cinta!”


“Aku harus bagaimana?” tanya Lampard.


“Nikmatilah hidup kamu dalam pernikahan. Kelak kamu akan


mendapatkan cinta yang tulus. Percayalah... kamu akan mendapatkan cinta itu


dengan sendirinya,” jawab Gio yang memberikan saran.


“Bagaimana keadaan Stella yang sesungguhnya?” tanya Gio.


“Keadaannya kurang baik. Raka memprediksi Stella akan lumpuh


jika tidak diberikan pengobatan dengan baik,” jawab Lampard.


“Mumpung Martin mengadakan meeting di sini. Kita bisa bahas


Stella beserta nasibnya,” saran Gio.


“Apakah kamu yakin mencampurkan pekerjaan kantor dengan


pekerjaan bawah tanah?” tanya Lampard.


“Iya... aku yakin,” jawab Gio.


“Aku harap kakak tidak mengeluh soal ini,” ujar Lampard yang


tahu kalau Gio tidak suka mencampurkan masalah kantor dengan urusan bawah


tanah.


“Di mana Alexa?” tanya Lampard yang tidak melihat Alexa sama

__ADS_1


sekali.


“Alexa berada di Snowden Groups,” jawab Gio.


“Apakah ke sini?” tanya Lampard.


“Sepertinya ke sini,’’ jawab


Gio yang meraih ponselnya di meja.


Sementara di luar markas,


Ian bersama Leon sedang menikmati es capucino. Mereka sedang mengobrol tentang


masa-masa muda dulu. Terkadang mereka tertawa lucu ketika ada kenangan-kenangan


konyol yang telah tercipta.


Beberapa saat kemudian Ian


dengan mata tajamnya sedang melihat area markas dengan cermat. Ia tidak sengaja


melihat pemandangan sangat mencurigakan. Dirinya memegang baju Leon sambil


berkata, “Ada yang aneh enggak sedari tadi arah jam sembilan?”


“Aku sudah merasakan itu.


Orangnya sedang memakai baju serba hitam. Tubuhnya sangat besar. Memakai topi


yang bertuliskan Exodus,” jawab Leon yang sedang membidik sang lawan.


“Lalu?” tanya Ian.


“Apakah kita tidak


“Enggak usah Maseh,” jawab


Ian yang membuat Leon tergelak tawanya dengan kencang.


Mereka tertawa


terbahak-bahak sambil memberikan kode kepada para pengawalnya.  Semakin keras suara tertawanya itu beberapa


pengawalnya langsung mendekatinya. Tanpa hormat mereka langsung berbaur menjadi


satu. Lalu Leon berbisik sambil memberitahukan ada musuh di area ini. Mereka


menganggukkan kepalanya dan bubar berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa.


“Apakah kamu sudah siap?”


tanya Leon.


Ian mengedipkan matanya


sambil tersenyum. Ia memegang punggung belakangnya sambil meraih pistol


berjenis air softgun. Sementara beberapa pengawal itu langsung datang melingkar


dari arah yang tidak bisa ditebak. Sang penyusup itu langsung terkejut dan


mulai berkeringat dingin. Ia tidak menyangka kalau aksinya ketahuan. Mau tidak


mau sang penyusup itu mengambil pistol di belakang punggung.


“Kamu mau bertarung atau


menembak?” tanya Ian dengan dingin.

__ADS_1


“Dua-duanya,” jawab sang


penyusup.


“Cih! Suruh milih salah satu


malah semuanya!” geram Leon dengan mata memandng nyalang.


Beberapa saat kemudian sang penyusup


itu mengambil ponselnya sambil mencari nomor seseorang. Namun ketika mendial,


Ian langsung mengarahkan tembakan itu sambil menatap ponsel tersebut. Dengan


cepat Ian menarik pelatuknya hingga...


Dorrrrrrr!


Sebuah peluru mendarat tepat


berada di ponsel sang penyusup itu. Lalu sang penyusup membuang ponsel itu dan


melihatnya terbakar.


“Sial!” desisnya.


“Kamu enggak bisa lari


kemana-mana! Kamu harus menyerah dengan keadaan kamu yang sudah dikepung oleh


kami! Mau lariun percuma!” seru Ian yang memberikan kode agar segera meringkus


orang tersebut.


Salah satu pengawal itu


segera meringkusnya. Lalu membawanya ke ruangan bawah tanah. Sedangkan Leon dan


Ian sedang menganalisis tentang sang penyusu itu. Kemudian Ian memandamg mobil


sort milik Gio. Ia kemudian tersenyum jahat dan segera meninggalkan Leon


sendirian.


“Ini astinya datang bersama


Kak Gio! Tapi sepertinya kak Gio tidak menyadari apa yang terjadi?” tanya Ian


dalam hati.


Dengan santainya Ian pergi


menuju ke ruangan khusus lalu mengambil ponselnya. Ia langsung  mengecek seluruh CCTV yang berada di seluruh


area markas. Ian hanya tersenyum manis dan berkata dalam hati, “Ternyata


datangnya sendirian! Itu enggak asyik sekali. Jika datangnya ramai-ramai


sepertinya sangat mengasyikkan buat aku. Jujur aku sudah lama tidak bertarung


sama siaapun.”


Sesampainya di ruangan Ian


melihat kedua pria paruh prai paruh baya itu sedang asyik dengan ponselnya


masing-masing. Dirinya langsung menghemaskan bokongnya di sofa singel sambil


bertanya, “Apakah kak Gio tidak tahu sesuatu?”

__ADS_1


__ADS_2