
“Kamu tahu siapa anggota baru kita?” tanya Asmoro balik.
“Iya,” jawab Stella.
“Anggota baru kita adalah putra putri kita. Kamu akan mengandung anak-anakku dan juga melahirkan mereka,” jelas Asmoro.
Seketika mata Stella membulat sempurna. Ia tidak berpikiran ke sana. Ia pikir anggota barunya adalah orang lain. Ini sungguh aneh sekali baginya.
“Hmmp... maaf aku tidak mengetahui siapa mereka,” ucap Stella yang masih sangat polos.
Asmoro tersenyum lucu mendengar apa yang dikatakan oleh Stella. Ia sangat beruntung mendapatkan Stella. Menurutnya Stella itu sangat lucu dan polos sekali.
“Rasanya aku mendapatkan reward lebih dari kamu itu,” celetuk Asmoro.
“Apa itu?” tanya Stella.
“Kamu itu lucu dan polos,” jawab Asmoro yang membuat Stella yang memerah.
“Apa iya?” tanya Stella.
“Iya itu benar,” jawab Asmoro.
“Bagaiku ini sangat aneh sekali,” ucap Stella.
Setelah tinggal setengah, nasi goreng itu diberikan ke Stella. Ia mendorongnya ke hadapan Stella.
“Makanlah,” suruh Asmoro sambil mengambil ponselnya.
“Kamu enggak habis?” tanya Stella.
“Aku salah membeli porsi. Yang aku beli adalah porsi jumbo. Seharusnya aku memberi porsi kecil,” jawab Asmoro yang sengaja membohongi Stella.”
“Ya... kalau begitu belinya jangan porsi besar,” saran Stella. “Enggak baik kamu membuang makanan. Masih banyak orang yang membutuhkan nasi seperti ini.”
Asmoro menganggukan kepalanya. Lalu ia tersenyum lembut, Baru kali ini ia mendapatkan seorang istri yang mengingatkan sesuatu.
Dulu pas waktu pacaran dengan Bella, Asmoro tidak pernah mendapatkan peringatan seperti ini. Malah Bella sengaja menghambur-hamburkan uangnya. Sering sekali Bella membeli barang yang tidak penting.
Walau sudah kenyang Stella tetap memakannya. Ia teringat masa lalunya ketika tidak memiliki uang sama sekali.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?’ tanya Asmoro.
“Pastinya tidur. Aku tidak tahu apalagi. Soalnya aku jarang sekali melakukan aktivitas malam,” jelas Stella.
“Janganlah kamu tidur,” pinta Stella.
“Kenapa aku tidak boleh tidur?” tanya Stella.
“Seharusnya kamu melakukan praktek pelajaran biologi,” ucap Asmoro yang mengingatkan Stella tentang pelajaran Biologi.
“Ha.. apakah aku harus praktek biologi malam ini?” tanya Stella.
“Ya... kamu harus melakukannya,” jawab Asmoro yang membuat Stella terkejut.
“Jika aku praktek biologi, apa efeknya?” tanya Stella yang memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
“Efeknya adalah nanti kita memiliki seorang anak,” jawab Asmoro dengan jujur.
Uhukkkkk....
Uhukkkkk....
Uhukkkkk....
Stella terbatuk karena jawaban Asmoro. Ia lalu segera meraih air di gelas Asmoro dan meminumnya.
Asmoro terkejut dengan apa yang dirasakan Stella. Ia langsung menaruh ponselnya dan berdiri mendekati Stella sambil bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Stella yang menetralisir keadaan namun wajahnya memerah.
Melihat wajah Stella yang memerah, ia langsung terkejut. Ia jongkok sambil menghadap ke arah Stella. Lalu ia berkata, “Kamu tidak baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja,” ucap Stella yang membuat Asmoro lega. “Aku hanya tersedak nasi goreng karena menjawab pertanyaan kamu itu.”
“Oh... kamu itu... makannya pelan-pelan saja,” ucap Asmoro yang berdiri.
“Apakah kamu sudah kenyang?” tanya Asmoro yang berdiri dan melihat nasi goreng yang banyak.
“Aku sudah kenyang,” jawab Stella. “Lebih baik aku simpan saja. Besok pagi aku hangatkan kembali buat sarapanku.”
“Apa yang kamu yakin?” tanya Asmoro.
“Ya... aku yakin,” jawab Stella yang berdiri sambil membungkus nasi goreng itu kembali.
“Oh... ya... hari minggu kamu ikut aku,” ajak Asmoro.
“Seperti biasa Alexa akan mengadakan pembagian sembako ke beberapa kampung padat penduduk. Setiap ada acara aku selalu ikut,” ucap Asmoro.
“Boleh... aku ingin ikut,” pinta Stella. “Apakah Adelia selalu ikut?”
“Ya... Adelia selalu ikut bersama Ian. Mereka tidak bisa dipisahkan satu sama lain,” jawab Asmoro yang membuat Stella tersenyum.
“Mereka pasangan yang manis sekali,” puji Stella yang membuat Asmoro memiliki tanda tanya.
“Pasangan manis apa? Kamu belum tahu Ian siapa? Jika kamu tahu Ian bagaimana?”
“Bagaimana sebenarnya Ian?” tanya Stella.
“Ian itu bukan pria yang romantis,” jawab Asmoro.
“Sama kaya kakak” celetuk Stella yang bisa menebak Asmoro.
“Iya... aku memang bukan cowok romantis,” ucap Asmoro yang jujur kepada Stella. “Memangnya kamu bisa menebak cowok romantis?”
“Ya... aku sengaja bisa menebak. Tapi aku sangat menyukai tipe pria yang tidak romantis sama sekali,” ucap Stella.
“Kenapa kamu tidak menyukai tipe romantis?” tanya Asmoro.
“Karena aku sudah masuk ke dalam perangkap pria romantis. Apalagi yang paling parah aku dijebak sama dia. Dia telah bekerja sama dengan Patty untuk menjebakku,” jawab Stella dengan jujur.
Asmoro menganggukan kepalanya. Ia paham apa yang dikatakan oleh Stella. Asmoro tahu siapa pria itu? Meskipun Stella tidak menyebutkan namanya.
__ADS_1
“Ayo kita tidur,” ajak Stella.
Tiba-tiba saja tubuhnya Asmoro berubah menjadi panas dingin. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia memilih kabur ke kamar sambil membuka pintunya. Lalu Asmoro menghempaskan bokongnya sambil menahan hasratnya.
“Argh... nasi goreng lucknut!!!” teriak Asmoro dengan kencang.
Teriakan Asmoro hingga terdengar hingga ke dapur. Stella langsung pergi meninggalkan dapur untuk menuju ke kamar. Ia juga merasakan tubuhnya mulai aneh. Ia masuk ke dalam dan mencoba untuk menahan hasratnya.
“Ada apa dengan tubuhku ini? Kenapa tubuhku rasanya aneh? Seperti ingin... ah... itu tidak mungkin. Aku harus berendam di air es,” ucap Stella yang paham dengan jebakan lucknut seperti itu.
Ya... memang benar. Stella mengetahui tentang jebakan seperti itu. Ia sering diperingatkan oleh teman-temannya. Agar ia tidak mudah percaya dengan pemberian dari seseorang yang belum dikenalnya.
Lalu, bagaimana dengan Asmoro? Asmoro sekuat tenaga menahan hasratnya untuk tidak melakukannya. Ia berusaha tetap tenang. Akan tetapi ular sakti dibalik celananya ingin keluar untuk mencari sarangnya.
“Argh.... awas saja yang sudah berani menjebakku!” geram Asmoro dalam hati.
“Kak,” panggil Stella yang mulai kelihatan sayu.
“Ada apa?” tanya Asmoro yang suaranya mulai seram.
“Aku kepanasan kak. Aku ingin mendinginkan tubuhku,” ucap Stella. “Tolongin aku.”
Meski Asmoro mengetahui kalau Stella memakan nasi goreng itu, Ia mulai berpikir kalau obat yang diberikan ke dalam nasi goreng itu berdosis tinggi. Ia langsung menggeram dalam hati.
Sementara Stella mulai membuka bajunya satu persatu. Ia sudah tidak kuat lagi menahan hawa panas yang sudah dirasakan itu.
Melihat Stella membuka baju, di ular sakti itu memaksa keluar. Hingga Asmoro langsung bangun dan mendekati Stella dan melemparkannya ke ranjang.
Asmoro membuka kemejanya dan membuangnya ke sembarang arah. Ia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Ia tidak boleh melewatkan momen yang menurutnya indah seperti ini.
Setelah membuka bajunya, Asmoro membuka celana panjangnya dan juga boxernya. Di sinilah Asmoro tidak memakai sehelai benang. Dirinya langsung menjamah Stella habis-habisan.
Di tempat lain, tepatnya berada di apartemen Ian, Raka dan Ibra sedang menikmati bir. Mereka bercerita tentang masa lalu mereka. Menurutnya masa lalu yang paling konyol adalah saat praktek operasi bedah. Mereka tertawa terbahak-bahak. Memang momen itu sangat lucu dan kocak.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Ian masuk ke dalam lalu melihat kedua dokter itu yang sedang tertawa. Lalu Ian mengerutkan keningnya sambil merasakan ada keanehan.
“Kalian kenapa?” tanya Ian menghempaskan bokongnya di sofa panjang.
“Kita sedang bernostalgia mengingat awal-awal pas praktek tentang membedah mayat,” jawab Raka.
Sempat Ian bingung dengan apa yang didengarkan itu. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh merdeka. Lalu Ian bertanya, “Tumben kalian di sini?”
“Ah... iya,” jawab Raka yang menaruh botol birnya dan melihat Ibra. “Apakah nasi gorengnya sudah sampai ke tangan kak Asmoro?”
“Tadi waktu baca pesan dari Willi sudah diterima sama Stella. Semoga saja nasi goreng itu dimakan,” jawab Ibra yang berharap Asmoro memakan nasi goreng itu.
“Sepertinya aku mencium bau yang tidak sedap seperti ini?” tanya Ian.
Mereka tertawa terbahak-bahak ketika Ian bertanya. Lalu Ibra memerintah Raka dengan bercanda, “Lebih baik kamu kirimkan seratus ribu dolar. Biar si asisten kak Asmoro tutup mulut.”
“Siap bang Ibra,” sahut Raka sambil meraih ponselnya Ibra dan menstransfer uang seratus ribu dolar ke rekening Ian.
__ADS_1
Ian bingung apa yang baru saja dilakukan oleh kedua dokter gila itu. Ian menatap tajam ke arah Raka dan Ibra sambil bertanya, “Ada apa ini? Kalian memberikan uang sebesar seratus ribu dolar? Wah... sepertinya aku mencium ada yang tidak beres di sini.”