Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Ketakutan Stella.


__ADS_3

Jacob hanya menepuk jidatnya saja. Ia tersenyum membayangkan jika Asmoro memiliki banyak anak. sungguh di luar prediksinya, Asmoro akan kerepotan sekali mengurus mereka.


"Kamu itu ada-ada saja," puji Jacob.


"Hehehe... pastinya," celetuk Natalie.


"Setelah ini aku bersama Imron akan pergi ke kantornya Kak Asmoro. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak kamu. Berhubung disini ada Adelia dan Dilla sendirian disini. Jadi aku tidak mengajakmu," ucap Jacob.


"Semuanya tidak menjadi masalah buat aku. Karena aku berencana ingin membuat kue lapis bersama mereka," ujar Natalie yang tidak keberatan sama sekali.


"Apa itu kue lapis?" tanya Jacob yang mengerutkan keningnya.


"Kue yang warnanya warna-warni. Aku sangat menyukai sekali. Aku ingin sekali membuat kue lapis pelangi," jawab Natalie.


"Baiklah. Kalau itu mau kamu," sahut Jacob. "Apakah kamu akan membuat banyak?"


"Ya... banyak sekali. Rencana kue itu akan aku bawa ke Kakek Al saat berkunjung kesana," jawab Natalie.


"Baiklah," balas Jacob.


Setelah itu Jacob segera meninggalkan Natalie. Namun sebelum pergi meninggalkannya, Jacob segera mencium mulut Natalie.


"Hehehe... aku pergi dulu ya," pamit Jacob.


Natalie menatap kepergian Jacob. Matanya berbinar seakan menggendong seorang anak dari Asmoro. Jujur ia berharap kalau Stella cepat-cepat hamil.


"Ngapain kakak ketawa-ketiwi begitu?" tanya Adelia yang baru saja dari kamar.


"Aku baru saja membayangkan kalau papa angkatku memiliki banyak anak," jawab Natalie.


"Sepertinya aku juga ingin meminta ke kak Stella untuk memiliki banyak anak," celetuk Adelia.


"Ayo kita rayu. Agar Mama Stella mendapatkan banyak anak," seru Natalie dengan lucu.


Memang seperti anak bocah saja, mereka sangat menginginkan banyak anak dari Asmoro. Betapa bahagianya mereka jika Asmoro bisa memiliki banyak anak. Mereka sangat serempak mendoakan pasangan itu memiliki banyak anak.


Di dalam mobil, Stella masih saja merajuk. Ia tidak setuju kalau Asmoro memiliki banyak anak. Ia tidak ingin berbicara satu katapun dengan Asmoro.


"Jadwal hari ini?' tanya Asmoro.

__ADS_1


"Meninjau semua proyek pembangunan di berbagai perusahaan. Sepertinya kita harus pergi meninggalkan Negara Indonesia untuk beberapa bulan ke depan," jawab Ian.


"Memangnya berapa banyak yang harus ditinjau?" tanya Asmoro.


"Banyak sekali. Kira-kira kurang lebih tujuh puluh lima bangunan yang akan kita tinjau di berbagai negara Eropa dan Amerika," jawab Ian.


"Hemmp... berikan saja data-data perusahaan yang sudah dibangun, sedang berjalan dan akan dibangun!" tegas Asmoro yang memberikan sebuah perintah.


"Baiklah," ucap Ian. "Aku akan menyuruh William, Leon dan juga Lauri mengumpulkan semua data-data tersebut."


"Tunggu selesainya gerhana bulan pull," ujar Asmoro.


Ian paham apa yang dimaksud oleh Asmoro. Sejujurnya pekerjaan ini tidak terlalu terburu-buru. Karena Asmoro sendiri sudah menyerahkan ke beberapa orang kepercayaannya. Selain itu juga Asmoro memantau keadaannya dari Jakarta.


Mendengar Asmoro yang akan melanglang buana, Stella menjadi sedih. Ia tidak ingin kehilangan Asmoro. Ia tahu kalau sang suami akan pergi dalam jangka waktu yang cukup lama. Hatinya menjadi gelisah.


"Apakah kamu akan pergi meninggalkan aku dalam jangka waktu yang sangat lama?" tanya Stella yang mulai merasakan dadanya sesak.


"Ngapain juga pergi meninggalkan kamu pergi? Aku mengajak kamu berbulan madu. Tapi pekerjaan aku menumpuk sebegitu banyaknya. Jadi aku berinisiatif mengajakmu mengunjungi negara-negara Eropa maupun Amerika. Tapi enggak sekarang," jawab Asmoro segera mendekati Stella.


"Lalu, apakah aku akan ikut dengan kamu?" tanya Stella.


"Hmmp... kalian sangat cocok sekali," puji Ian sambil tersenyum namun tangannya berkirim pesan kepada seseorang.


"Pastinya," jelas Stella.


Jakarta Indonesia.


Seorang wanita yang baru saja bangun dari tidurnya terkejut. Ia baru saja bermimpi menjadi ratu di sebuah istana. Namun halnya ia bangun terjatuh dan tidur di bawah lantai.


"Ah," teriak wanita itu.


"Hey... dasar anak malas! Bisa-bisanya tidur terus! Apakah kamu enggak tahu kalau beras habis! Ha!" teriak Tutik sambil menggedor pintu kamar.


Wanita itu bernama Patty. Dirinya sekarang sial bertubi-tubi. Banyak skandal yang dilakukannya sekarang bocor di berbagai macam media. Sehingga Patty tidak bisa mendapatkan job lagi.


Selain itu juga, ada beberapa orang wanita muncul ke permukaan. Beberapa wanita tersebut sengaja mengkonfirmasi kalau dirinya adalah korban dari Patty. Kata mereka, para suami pergi meninggalkan mereka hanya demi membela Patty.


Patty sudah tidak memiliki uang lagi. Ia juga tidak memiliki apapun yang akan dijual. Ditambah lagi, semalam Liam sudah tidak mau mengajaknya bekerja sama. Karena tahu masa lalu Tutik.

__ADS_1


Jujur Liam sangat tercengang mengetahui kalau Tutik pernah menghancurkan Agatha. Wajahnya langsung pucat dan keringat dingin langsung mengucur deras.


Liam teringat akan ancaman Agatha beberapa tahun yang lalu. Ancaman itu sengaja dilontarkan melalui email. Jika saja dirinya bertemu dengannya lagi, maka Agatha akan mengejarnya.


Liam mengetahui kalau Agatha memang seorang ketua Klan Kanagawa Internasional. Ia juga sudah tahu jejak rekamnya kekejaman Agatha. Mau tidak mau dirinya mundur dan memutuskan semua kerjasama tersebut.


Tutik selalu saja berteriak kencang. Ia sangat marah sekali kepada putrinya itu. Ia lalu mendobrak pintu itu dan melihat Patty yang masih bermalas-malasan di atas ranjang.


"Kamu tahu kalau Liam sengaja memutuskan kontrak kerjasama dengan kita!" seru Tutik.


"Ya... aku sudah mengetahuinya," celetuk Patty yang malas membahas semua masalah ini.


Tidak sengaja Tutik melihat wajahnya Patty yang malas. Dirinya tidak menyukai akan hal itu. Karena Patty adalah seorang pemalas.


"Bangun!" tegas Tutik.


Terpaksa Patty bangun dan menguap sambil membenarkan posisi duduknya dan menyandarkan punggungnya di tembok.


"Mana uang lima milyar yang diberikan sama Pak Kevin?" tanya Tutik yang menghempaskan bokongnya di tepi ranjang. Ia sengaja memaksa Patty untuk mengeluarkan uang demi kebutuhan hidup.


Patty semakin jengkel sama Tutik. Bisa-bisanya Tutik meminta uang kepada dirinya. Sedangkan uang itu sudah diambil oleh Agatha.


"Mama gila kali ya! Minta uang ke aku!" sergah Patty.


"Mama belum gila! Bukannya kamu sudah mendapatkan uang itu dari Pak Kevin?' tanya Tutik. "Bukannya kamu sudah berjanji memberikan uang dua milyar ke mama?"


"Apakah mama enggak tahu kalau aku mendapatkan kesialan bertubi-tubi!" sentak Patty yang merasa tidak suka dengan Tutik sering memintanya uang setiap hari.


"Memangnya kenapa?" tanya Tutik yang menyipitkan matanya sambil menatap wajah Patty.


"Mama tahu kalau Agatha bukan oang sembarangan," jawab Patty yang masih merangkai kata-kata dengan baik.


"Ceritakan pada mama! Apa yang telah terjadi saat ini," tanya Tutik yang aslinya membenci nama Agatha terucap dari mulut Patty.


"Pokoknya Agatha bukan pria lemah. Titik enggak pakai koma!" tegas Patty.


'


Tutik semakin tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Ia tidak mengetahui apa yang telah terjadi beberapa belakangan ini. Ia mencondongkan tubuhnya sambil bertanya dengan nada meninggi, "CERITAKAN PADA MAMA! APA YANG SEBENARNYA TERJADI SAAT INI!"

__ADS_1


__ADS_2