Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Rencana Penghancuran Markas.


__ADS_3

Asmoro mengambil jaketnya dan langsung meluncur ke bandara. Sedangkan Ian masih berada di apartemennya. Meskipun berada di apartemen, Ian mendapatkan tugas untuk menghubungi Gio. Ian menceritakan kalau markas mau diledakkan. Gio pun menyetujuinya dan menambahkan dana untuk pembangunan markas baru lagi.


Lalu Ian kembali lagi ke apartemen Agatha. Di sana Agatha sedang berbincang-bincang dengan Pak Kusno dan Bu Gita. Agatha juga meminta maaf sebab mereka dibiarkan saja.


Mereka pun tidak marah. Tapi hatinya bersorak kegirangan. Bagaimana tidak? Mereka akhirnya bertemu dengan Anita. Sedangkan Ian di sana duduk berhadapan dengan Hatori. Mereka sedang mengobrol tentang pekerjaan. Sementara Adelia, Stella dan Anita mengobrol mesra sambil menyiapkan makan malam. Mereka bersyukur sekali bisa berkumpul seperti dulu lagi.


Ada perasaan bersalah di dalam hati Anita. Anita tidak bisa merawat Stella dan Hatori. Maka dari itu Anita memutuskan untuk mendekati Stella dan Hatori.


"Mulai saat ini kamu tinggal di sini saja ya Stella," pinta Anita.


"Kalau itu permintaan mama. Aku akan mengabulkannya. Karena aku tidak mau berpisah lagi dengan kalian," sahut Stella.


"Begitu juga dengan kamu Adel," pinta Anita lagi.


"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku ma. Kemungkinan besar aku akan tinggal di rumah Nyonya Alexa. Karena si kembar sangat menginginkanku kembali ke sana," ucap Adelia.


"Sekalian belajar ngurus anak ya Del?" celetuk Stella.


Wajah Adelia tiba-tiba saja memerah. Stella mengatakan itu karena Adelia akan menikah. Adelia tersenyum bahagia sambil menganggukkan kepalanya.


"Yang merencanakan pernikahan adalah Adelia. Tiba-tiba saja Tuan Asmoro memintamu untuk menikah. Ternyata dua anak gadis mama sudah laku semuanya. Tinggal Hatori saja yang belum," ucap Anita.


"Aku belum tahu siapa kekasih Kak Hatori. Setiap aku tanya lewat pesan katanya belum ada yang nyangkut. Begitulah Kak Hatori yang penuh dengan misterius," ujar Adelia.


"Sebenarnya Kak Hatori tampan. Tapi Kak Hatori sengaja tidak berpacaran. Sebab Kak Hatori lebih mementingkan masa depannya. Meskipun nanti Kak Hatori memegang Kurumi. Kak Hatori akan fokus pada pekerjaannya itu. Saat ini Kak Asmoro sedang menggembleng Kak Hatori," jelas Stella.

__ADS_1


"Apakah kamu mau menerima Kak Asmoro?" tanya Adelia.


"Jika Papa sudah mengizinkan aku untuk menikah dengan Kak Asmoro Kenapa tidak? Lagian juga Kak Asmoro adalah pria baik," jawab Stella.


"Kamu benar. Tapi kok wajahnya sangat mirip sekali sama Tuan Lampard. Yang di mana Kak Asmoro sendiri orang yang sangat hangat. Beda dengan Tuan Lampard. Kalau Tuan Lampard memiliki sifat dingin dan tidak pernah berbicara kepada siapapun. Kecuali sama orang yang dikenalnya," jelas Adelia.


Stella tahu kalau Asmoro adalah Lampard. Ia tidak mungkin cerita ke siapapun. Karena Asmoro memperingatkan agar tidak cerita banyak tentang dirinya.


"Entahlah," ujar Stella. "Apakah Tuan Asmoro ada di depan?"


"Yang ke sini hanyalah kak Ian saja. Aku nggak tahu ke mana Kak Asmoro,' jawab Adelia.


Setelah melakukan evakuasi, Raka dan Ibra memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Di dalam perjalanan Raka menghubungi Asmoro markas telah sepi.


Mengapa Ian tidak ikut bersamanya? Ian tidak begitu pandai dalam penyerangan melalui udara. Setiap misi penghancuran melalui udara, Asmoro meminta Ian agar tetap di tempat. Meskipun begitu Ian selalu memantau keadaan CCTV di daerah yang mau dihancurkan. Itulah kenapa Ian tidak pernah di sampingnya. Jika soal bisnis, Ian langsung cepat tanggap. Itulah kelemahan dan kelebihan Ian menjadi asisten Asmoro.


Di Mansion Banderas.


Giovanni sedang memantau keadaan markas. Dengan berat hati pria paruh baya itu harus merelakan markasnya hancur. Dengan segala pertimbangan Gio sudah mengambil positif dan negatifnya. Namun selama ini Gio tidak pernah ke markas. Akan tetapi ia sering mendengar kalau musuh diam-diam mengintai.


"Ada apa?" tanya Winda yang membawa teh hijau.


"Markas utama akan dihancurkan malam ini," jawab Gio yang seakan tidak rela harus kehilangan markasnya itu.


"Kenapa dihancurkan?" tanya Winda.

__ADS_1


"Karena para musuh sudah mengetahui markas tersebut. Di sana Banyak kenangannya. Gara-gara Alexa, Blue Diamond dan Black Horizon bersatu dan menjadi partner yang indah," jawab Gio.


"Kalau itu yang terbaik Kenapa nggak? Memang muncul sekarang lebih cerdik daripada musuh dahulu. Apalagi kita sudah berhubungan dengan Exodus. Bener-bener tuh geng sialan mafia," kesal Winda.


"Kamu salah menyebutnya. Seharusnya geng mafia Exodus sialan!" geram Gio. "Kirim pesan buat Asmoro! Setelah dia meledakkan markas. Asmoro harus ke sini."


"Memangnya Asmoro yang meledakkan markas kita?" tanya Winda.


"Itu benar. Sedari dulu Asmoro maupun Lampard sangat hobi meledakkan markas musuh maupun milik kita dengan memakai rudal kecil tapi mematikan," jelas Gio sambil tersenyum.


Winda hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya ia membanggakan Asmoro yang suka meledakkan markas melalui udara. Ingin rasanya marah tapi percuma. Dengan cepat Winda mengirimkan pesan agar Asmoro segera ke sini.


Selesai memperhitungkan jarak antara bandara dan markas, Asmoro langsung berangkat. Namun ia sekarang sendiri saja. Asmoro memang sengaja tidak memanggil Evan. Sebab malam ini Evan harus pergi ke Singapura untuk membantu Blue Diamond.


Sebelum terbang ke udara, Asmoro mendapatkan pesan dari Ian beserta video. Ia langsung membuka pesan itu dan membacanya. Setelah membaca, dirinya tidak lupa membuka video tersebut. Alangkah terkejutnya Asmoro melihat para pengawal Exodus berubah menjadi zombie. Ia mengerutkan keningnya lalu berkata, "Sialan mereka. Bisa-bisanya orang-orang itu dijadikan sebagai zombie. Bagaimana jika mereka di program untuk menghancurkan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini?"


Asmoro tidak habis pikir dengan John. Apakah ini ada kaitanya dengan obat yang diciptakan oleh John? Apakah obat itu ada tingkatannya? Apakah bahan-bahan yang dibuat racikan obat itu? Semua pertanyaan sedang bercokol di otak Asmoro. Jika itu berkaitan dengan obat yang diproduksi oleh Exodus, dirinya akan melakukan penyelidikan lebih dalam lagi.


Selama ini Asmoro sudah melakukan penyelidikan obat itu. Namun bahan-bahan yang dipakai belum bisa ditemukan. Inilah yang menjadi kendala penyelidikan terhenti selama dua minggu ini.


Tanpa pikir panjang Asmoro akan pergi ke markas. Lalu ia segera terbang ke udara. Dengan bantuan Imron, Asmoro mengikuti panduan dari Imron. Meskipun jarak sangat dekat, Asmoro harus berhati-hati. Ia tidak mau rumah warga sipil ikut terkena imbasnya. Setelah itu Asmoro mulai mendekati markas.


Ian dan Imron sangat kompak sekali memberikan aba-aba. Ian tugasnya memantau keadaan sekitar markas. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau yang dihadapinya adalah zombie.


Imron mengarahkan pesawat itu harus tepat berada di atas markas. Untung saja Imron menghafal letak markas tersebut. Setelah melihat pesawat itu tepat berada di atas markas, Imron langsung meminta Asmoro untuk mengeksekusi markas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2