Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Apakah Adelia Tahu?


__ADS_3

"Kak Asmoro sedang berada di kediamannya sendiri. Dia sudah menikah dengan seorang gadis polos yang bernama Stella," jawab Leon yang membuat George terkejut.


"Apakah kamu serius? Jika asmara sudah menikah?" tanya George lagi.


"Aku serius kak. Akulah orang pertama yang memimpin pengawalan ketika pergi ke kantor catatan sipil. di sana mereka Sudah menandatangani kontrak sehidup semati di depan para saksi," jawab Leon.


"Syukurlah kalau begitu. Aku sekarang sudah tenang. Aku tidak akan mungkin menjaganya terus-terusan," ucap George kepada Leon.


"Kenapa Kakak menjaganya? Bukankah Kak Asmoro adalah pria dewasa?" tanya Leon yang berhenti sambil menatap wajah George.


"Apakah kamu akan membiarkan aku di sini?"


"Ya udah deh Ayo kita pulang."


Leon akhirnya mengajak George ke area parkir. Entah kenapa mata George menangkap keberadaan musuh. Setelah melihat keberadaan musuh, George menepuk bahu Leon sambil berkata, "Cepatlah. Jika kita terus-terusan di sini. Nyawa kita terancam."


Leon akhirnya menemukan mobilnya lalu membukakan pintu untuk George. entah kenapa wajahnya yang ceria tiba-tiba saja menjadi pucat. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di bandara. Dengan cepat Leon masuk ke dalam mobil dan menatap wajah George.


"Itu Thomas," ucap Leon sambil menunjuk ke arah pria paruh baya sedang berjalan menuju ke mobil.


"Aku sudah tahu itu. Makanya aku menyuruhmu cepat-cepat masuk," ujar George.


"Berarti Kakak mengenalnya?"


"Aku memang mengenalnya. Dia memang kaki tangan Liam. Dia juga pintar mencari daerah kekuasaan. Yang di mana Thomas sekarang sudah menguasai daerah Eropa. Gara-gara dia Black Horizon ditutup untuk sementara. Aku benar-benar lumpuh di sana Dan tidak bisa ngapa-ngapain."


"Lalu bagaimana dengan lainnya?"


"Para pengawal aku sebar ke perusahaan-perusahaan cabang milik Taurus Corps, Snowden Groups dan LS Groups."


"Memang parah itu orang Kak. Rekam jejaknya sangat mengerikan. Untung saja Kakak sudah menutupnya terlebih dahulu. Jika tidak maka Thomas tidak akan pernah mau di bangkang oleh siapapun. Dia akan berusaha untuk menguasai daerah Asia."


"Selalu saja begitu."

__ADS_1


"Kak Gio dan lainnya sedang berkonsentrasi untuk mencari celah mengusir keberadaan mereka. Begitu juga dengan Alexa bersama kak Martin. mereka berdua juga pusing mendapatkan laporan dari dunia bawah tanah."


"Bener juga Asmoro telah mengubah prinsip Black Horizon untuk saat ini. Jika tidak maka kita habis satu persatu karena mereka."


"Apakah kakak mengetahui tentang manusia tiba-tiba saja berubah menjadi zombie?"


"Semenjak Liam dan Thomas menjelajahi dunia bawah tanah. Mereka ingin membuat manusia berubah menjadi zombie. Setelah manusia itu menjadi zombie. Mereka akan menguasai dunia dan mengendalikannya sedemikian rupa."


"Oh my God... Ternyata mereka licik sekali. Kita harus mencari cara agar mereka tunduk."


"Nggak bisa begitu bro. Kalau kamu mereka ingin tunduk. Kamu harus membuat tiga rencana sekaligus. Kamu nggak bisa langsung bekerja dalam satu rencana saja. Jika rencana a gagal maka ada rencana b."


"Kakak bener juga. Lebih baik aku memilih diam sambil menerima komando dari para petinggi Black Horizon."


"Untuk sekarang ini kamu istirahat saja terlebih dahulu. Bantuin saja cafe Alexa. Kamu kan bisa dan jago promosi. Nanti kamu dapat keuntungan dari Alexa."


"Baiklah Kak."


Sesampainya di apartemen, Leon menghubungi Ian untuk stand by. Sementara itu Ian baru saja langsung menuju ke apartemen Agatha. Tiba-tiba saja dirinya sangat merindukan Adelia. Ketika jari kekarnya ingin menekan bel, ponsel Ian berdering. Ia segera mengangkatnya sambil menekan bel. Setelah menerima panggilan telepon itu, Adelia membukakan pintu dan melihat Ian yang sedang berbicara dengan seseorang.


Beberapa saat kemudian Ian mematikan ponselnya dan melihat Adelia. Lalu Ian merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Peluklah aku malam ini."


Adelia berlari dan memeluk Ian. Tanpa sengaja Yamato berdeham dengan keras. Sorot matanya tajam melirik ke arah Ian. Dengan tegasnya Yamato berkata, "Hai anak muda... Berani-beraninya kau menyentuh cucuku sebelum menikah!"


Ian langsung menelan salivanya dengan susah payah. Ia akhirnya melepaskan Adelia sambil tersenyum malu. Kemudian iya menyahut, "Maafkan aku kek. Cucunya Kakek sangat cantik sekali."


"Oh begitu ya? Pulang sana! Nggak boleh bertamu lama-lama di sini!" usir Yamato sambil memegang tangan cucunya dan masuk ke dalam rumah.


Bugh.


Yamato menutup pintunya dengan kencang. Untung saja Ian tidak memiliki penyakit jantung. Jika memilikinya, maka hari itu juga akan mendapatkan serangan jantung mendadak. Dengan wajah sendu ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


Ketika kakinya melangkah, dari arah berlawanan, datanglah Willi bersama Rinto. Kedua pria itu langsung mendekati Ian sambil memamerkan satu botol Vodka besar. Ian hanya menggelengkan kepalanya lalu mengajaknya pergi ke unit apartemennya.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Ian tersenyum melihat kedua juniornya yang sedang minum. Ia menghambatkan bokongnya lalu menatap wajah Willi.


"Ada berita apa?" tanya Ian.


"Apakah rindu pernah menyampaikan jika musuh mulai memecah dirinya?" tanya Willi balik.


"Sudah. Sepertinya yang baru akan menjadi lebih bahaya," jawab Ian.


"Apa yang dikatakan oleh kak Asmoro itu benar. Jangan sampai yang baru ini membuat suatu koalisi besar. Jika tidak maka manusia akan terancam hidupnya," jawab Willi.


"Apa yang harus kita lakukan untuk saat ini?" tanya Rinto.


"Kita nggak bisa bergerak kecuali menunggu keputusan dari para atasan. Sepertinya kita akan menjalankan dengan damai. Kalau sedikit saja salah, maka mau tidak mau semuanya menjadi hancur berantakan," jawab Ian.


"Bukannya kamu adalah salah satu para petinggi di black Horizon?" tanya Willi.


"Meskipun aku para petinggi di black Horizon. Aku belum berhak untuk memutuskan apapun itu. Kecuali darurat. Ini bukan darurat namanya. Mereka masih santuy dan menghadapinya dengan hati gembira," jawab Ian yang tidak mau mengambil resiko apapun.


"Memang benar apa yang kamu katakan. Nggak semudah membayangkan untuk melakukan rencana besar dengan sendirinya," sahut Rinto.


"Kak Gio dan Kak Asmoro masih tenang saja untuk menghadapi semua ini. Belum ada rencana besar untuk menghadapi mereka," celetuk Willi.


"Sekarang kamu nikmati saja hidupmu terlebih dahulu. Jangan sampai kamu sia-siakan kesempatan ini," ucap Ian dengan jujur.


"Bukan itu maksudku. Kita enggak bisa tenang untuk melakukan apapun. Mereka bisa saja menyerang dari segala arah mata angin," sahut Rinto.


"Kalau begitu ya sudahlah. Lebih baik kita minum terlebih dahulu. Aku sudah lama tidak minum Vodka asal Spanyol ini," ucap Ian sambil menebak dari mana Vodka itu berasal.


"Wah Kakak hebat ternyata. Kakak bisa menebak dari mana Vodka ini berasal?" puji Willi.


Ian memegang koran itu dan melemparkannya ke Willi. Ia memang rajanya dari segala raja untuk mengenal Vodka.


"Kalau kamu minum ini, Apakah Adelia tahu?" tanya Willi.

__ADS_1


__ADS_2