Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bayangan Misterius.


__ADS_3

"Ya... aku akan membantu kamu. Sekalian belajar tentang bisnis. Siapa tahu aku bisa membuat perusahaan," jawab Adelia yang membuat Ian yang tersenyum manis.


"Kalau begitu baiklah," balas Ian.


Di rumah sakit John sudah mulai gelisah dengan keadaan Tutik dan Patty. Kedua wanita berbeda generasi itupun masih pingsan. Sampai saat ini dokter yang menangani keadaan mereka masih belum keluar.


"Bagaimana kabar mereka? Sedari tadi dokter belum keluar?" tanya Harlem yang baru saja datang.


John menatap tajam wajah Harlem. Ia sangat geram kepada Harlem. Ia mulai marah kepada Harlem karena tidak ada yang menjaga rumah mewahnya itu.


"Kemana saja kamu?" tanya John dengan nada tegasnya.


"Aku sudah bilang. Beberapa hari aku sedang berada di markas,. Aku memang sangat sibuk untuk membuat virus," jawab Harlem yang tidak tahu apa-apa tentang kebakaran itu.


"Aku sangka kamu berada di rumah," kesal John.


"Semenjak aku bertengkar sama Patty, aku sudah malas ke rumah," jawab Harem yang membuat John terkejut.


"Kenapa kamu bertengkar dengan Patty?" tanya John. "Memangnya kamu ada masalah?"


"Aku tidak ada masalah," jawab Harlem. "Dia selalu memojokkan aku. Sering sekali Patty memintaku untuk mencari keberadaan Stella. Tapi aku sudah menyebarkan para pengawal sampai sekarang nggak ketemu."


"Kebiasaan itu anak! Dia terlalu ambisi menduduki jabatan sebagai CEO Kurumi Company!" geram John sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tujuan utamanya seperti itu," kesal Harlem.


"Aku sendiri sudah berjanji dengan Liam untuk segera menemukan Stella. Tapi kapan aku bisa menemukan anak sialan itu!" geram John lagi.


"Sepertinya kita harus memeriksa bandara, terminal atau pelabuhan untuk melacak keberadaannya," saran Harlem.


"Kenapa harus tiga tempat itu? Memangnya dia memiliki uang untuk kabur? Setahuku dia tidak memiliki uang sama sekali," ujar John yang tahu tentang ekonomi Stella.


"Stella kan kerja sama Farrel. Kita bisa menghubunginya dan mencari keberadaan anak sialan itu," usul Harlem.


"Kamu benar. Kok aku baru sadar kalau Stella bekerja di sana," kesal John.


"Kemungkinan besar setelah terjadi penembakan itu, Stella kembali bekerja. Kita tahukan kalau Stella tidak memiliki uang sama sekali. Apalagi Patty sering mendatanginya dan memintanya uang," usul Harlem.


"Rasanya itu benar. Aku akan menunggu Patty sadar untuk mencari keberadaan Stella," ujar John sambil menghirup nafasnya dengan lega.


Tak lama seorang wanita yang memakai jas putih keluar dari ruangan Instalasi Gawat Darurat. Wanita itu segera mendekat dan bertanya, "Apakah kalian berdua adalah keluarga dari Nyonya Patty dan Nyonya Tutik?"


"Iya dok," jawab John dengan cepat. "Bagaimana keadaan istri dan putri kami?"


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Lena," ucap Kena nama dokter itu.


"Bagaimana dengan keadaan istri dan ;putri saya dok?" tanya John yang semakin panik.


"Mereka baik-baik saja. Mereka hanya pingsan saja. Penyebabnya adalah hanya syok karena ada satu hal yang membuat mereka terkejut dengan suatu peristiwa yang sedang terjadi," jawab Dr. Lena.


Teringat akan kejadian tadi, John melihat mereka berdua pingsan melihat rumahnya terbakar. John langsung menghela nafasnya secara kasar. Ia menatap wajah sang dokter sambil mengucapkan, "Terima kasih."


"Sama-sama tuan," balas Dr. Lena. "Sementara untuk kamar yang ditempati oleh mereka sudah dipersiapkan oleh suster."

__ADS_1


"Baik dok," ucap John.


"Kalau ada apa-apa bisa panggil saya," ucap Dr. Lena dengan ramah.


"Baik dok," sahut John.


"Kalau begitu saya pamit lebih dulu," pamit Dr. Lena yang segera meninggalkan John dan Harlem.


Setelah mengetahui keadaan anak dan istrinya, John mengaku lega. Ia tidak menyangka kalau mereka sangat terkejut atas kehilangan rumah mewahnya itu. Sekaligus dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Kurumi semuanya sudah hangus terbakar.


"Harlem," panggil John.


"Iya tuan," sahut Harlem yang sedang asyik bersama ponselnya.


"Persiapkan lima puluh pengawal untuk menyerang markas Black Horizon! Aku yakin mereka yang telah membakar rumahku!"


"Siap tuan," balas Harlem.


Lalu Harlem menjauhi John. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Ia meminta kepala pengawal untuk mempersiapkan lima puluh pengawal. Setelah menghubungi pengawal, Harlem langsung mendekati John sambil bertanya, "Terus, rencana apa selanjutnya apa?"


"Dimana rumah Farrel?" tanya John.


"Apakah Tuan John akan kesana?" tanya Harlem.


"Iya... aku akan kesana. Aku akan mencari keberadaan Stella. Dia harus mempertanggung jawabkan semua kesalahannya," jawab John dengan nada menekan.


"Baik Tuan," balas Harlem.


"Sebelum pergi aku akan menemui anak istriku terlebih dahulu," pinta John.


Selesai berdiskusi Alexa, Martin dan Asmoro melakukan perjanjian. Perjanjian itu berisikan produk baru yang akan segera meluncur beberapa bulan kemudian. Mereka akan memproduksi makanan biskuit rasa varian buah.


"Rasanya aku sudah sabar memproduksi makanan kering itu," ucap Alexa.


"Ide kamu bagus juga," puji Asmoro.


"Iya papa,'' ujar Alexa yang baru sadar kalau papa angkatnya berubah menjadi sangat muda sekali.


"Ternyata kalau dilihat lebih dekat lagi papa angkatmu itu seperti Masatoshi Ono," celetuk Martin.


"Dia adalah vokalis favoritku," sahut Asmoro yang mengakui kalau dirinya sangat mengidolakan Masatoshi Ono.


"Ya sudah deh kami pulang pa. Aku sangat lelah sekali," pamit Alexa.


"Apakah kamu kerepotan mengurus mereka?" tanya Asmoro.


"Iya... aku sangat kerepotan sekali. Sepertinya ku harus membawa Adelia [pulang ke rumah," jawab Alexa.


"Lebih baik kita bicarakan sama kedua orang tuanya terlebih dahulu. Aku ingin bekerja sama untuk melindungi mereka," ujar Asmoro.


"Lebih baik saranku, Adelia tetap berada di mansion Snowden. Di sana Adelia mendapatkan ilmu dari kami soal bisnis," saran dari Martin.


"Kamu benar. Tapi aku harus mendiskusikan hal ini ke Agatha. Aku enggak bisa mengambil keputusan. Karena Agatha adalah bukan orang sembarangan," ucap Asmoro.

__ADS_1


"Oke. Aku setuju," balas Martin.


"Kalau begitu kami tunggu jawabannya," ujar Alexa yang membuat Asmoro mengangguk.


Mereka akhirnya memutuskan keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan anak-anaknya. Asmoro cukup senang ketika bertemu dengan anak angkatnya itu.


Tiba-tiba saja ada sebuah bayangan yang tepat berdiri di depan Asmoro. Lalu Asmoro mencoba menangkap bayangan itu. Namun Asmoro tidak bisa menangkapnya.


Kemudian Asmoro membiarkan bayangan itu hingga berubah menjadi nyata. Ia terkejut akan perubahan bayangan itu yang menjadi manusia.


"Siapakah kamu?" tanya Asmoro.


"Aku adalah kembaranmu," jawab bayangan itu yang dapat menjawab pertanyaan dari Asmoro.


Saking terkejutnya Asmoro sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memutuskan untuk kabur dari ruangan itu karena ketakutan. Dirinya yakin kalau manusia jelmaan itu adalah hantu.


Memang sih di ruangan Asmoro itu sering terjadi penampakan. Itu kata office boy disana. Mereka memang sering menemukan hal-hal yang ganjil di ruangan itu. Namun Asmoro saat itu tidak pernah menanggapinya dan membiarkan sebagai angin lalu.


Asmoro yang sudah sampai ruangan Ian mengaku lega. Ia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar bertemu dengan hantu. ia bersumpah tidak mau bertemu dengan hantu.


Sambil mengatur nafasnya tersengal-sengal Asmoro bertanya, "Apakah kamu siap pulang?"


"Kakak lagi tanya siapa?" tanya Ian yang bingung.


"Aku tanya Stella," jawab Asmoro.


"Aku sudah siap," ucap Stella.


"Kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Asmoro.


Stella menganggukan kepalanya sambil mendekati Asmoro. Sebelum melangkahkan kakinya Asmoro memegang tangan Stella sambil meminta tolong, "Tolong aku."


"Tolong kenapa?" tanya Stella.


"Antarkan aku ke ruangan kerjaku. Aku ingin mengambil jasaku dan juga laptopku. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku nanti malam," pinta Asmoro yang membuat Stella mengerutkan keningnya.


"Ayo deh," ajak Stella yang tersenyum manis.


Ketika Stella tersenyum manis, Asmoro merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia tidak menyangka kalau Stella bisa tersenyum manis seperti itu. Jujur saja Asmoro melihat senyuman itu baru sekali seumur hidupnya.


"Stella," panggil Asmoro.


"Iya," sahut Stella. "Ada apa?"


"Jangan tersenyum manis seperti itu ya," pinta Asmoro.


"Kenapa aku tidak boleh tersenyum manis seperti itu?" tanya Stella.


"Karena kamu adalah senyuman itu adalah milikku. Jika kamu tersenyum manis seperti itu kepada setiap pria. Aku pastikan kamu akan mendapatkan hukuman dariku," jawab Asmoro yang memperingatkan Stella agar tidak boleh mengeluarkan senyuman manisnya ke setiap orang.


"Ah... rasanya aku sangat senang sekali jika ada seseorang yang memperhatikanku seperti ini," ucap Stella secara blak-blakan.


"Benarkah itu?" tanya Asmoro yang mulai merasakan benih-benih cinta di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya... itu benar. Aku merasakan bahagia ketika ada yang memperhatikanku," jawab Stella secara blak-blakan.


"Ayo kita ke ruanganku!" ajak Asmoro.


__ADS_2