Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bertemu Dengan Pamannya Asmoro.


__ADS_3

"Ya tiu benar. Aku tidak ingin terkena omelan sama Tuan Yamato," jawab Tetsuya.


Akhirnya setelah mengalah dan tidak akan memanggil Tetsuya sebagai tuan. Ia akan memanggilnya sebuah nama saja. Karena ia harus melindungi Tetsuya dari kakeknya sendiri agar tidak marah.


Sesampainya di mansion, pria masih terlelap tidur. Stella dan lainnya sudah memasuki kamar masing-masing. Mereka membersihkan tubuhnya masing-masing dan berkumpul di ruangan kerja milik Asmoro.


Di sana mereka akhirnya tersenyum bahagia karena masalah sudah selesai. Tinggal satu orang saja yang belum ditaklukan. Stella akan mencari cara agar bisa keluar dari mansion ini. Ia menaruh dokumen-dokumen itu di meja kerja milik Asmoro.


"Kalau kamu ingin membuat rencana jangan di sini. Tuh lihat," tunjuk Adelia ke arah CCTV yang masih terpasang dengan baik di sudut ruangan tersebut.


Stella dan Natalie menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dan berdiskusi di halaman belakang. Mereka tidak ingin diskusi itu hingga diketahui oleh siapapun.


Berhubung Tetsuya berada di situ, mau tidak mau setelah harus membereskan masalah ini dengan cepat. Stella menatap Adelia dan Natalie sambil berkata, "Kita harus menyelesaikan masalah ini hingga senja datang. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut hingga besok. Masalah pamannya Kak Asmoro kita harus menyelesaikannya sekarang juga."


"Jadi kita keluar dari sini terlebih dahulu?" tanya Adelia.


"Mau bagaimana lagi. Kita tidak akan lagi keluar dari mansion ini untuk esok hari dan selanjutnya. Kecuali Kak Asmoro memberikan kelonggaran waktu ketika kita bermain keluar," jawab Stella yang diiringi anggukan dari Natalie.


"Kamu harus tahu Adelia. Papa itu orangnya selalu melindungi orang-orang sekitarnya dengan keamanan berlapis. Jadinya kamu nggak akan bisa keluar dari sana kecuali ada izin khusus. Mau minta izin kepada mereka itu tidak bisa seenaknya. Bakalan Kamu kena sial terus-terusan dan tidak boleh keluar dari sini hingga waktu ditentukan. Yang dikatakan kakakmu itu benar. Kita harus menyelesaikannya hari ini juga dan soal pamannya papa Asmoro harus dibereskan sekarang juga. Mumpung obat tidurnya sampai sore hari. Ini masih siang. Maka dari itu kita harus cepat-cepat pergi ke sana," jelas Natalie yang akhirnya mengajak mereka keluar dari mansion lagi.


Mereka memutuskan untuk keluar dari mansion pada siang ini. Mereka langsung menuju ke kediaman pamannya Asmoro. Sedangkan para pengawal Black Horizon memilih untuk diam. Karena di belakang Stella bukan pengawal abal-abal. Melainkan Klan Kanagawa adalah clan yang cukup mengerikan. Jika menyenggol sedikit saja, maka mereka bisa dihabisi begitu saja.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju rumah pamannya Asmoro, Stella harus memikirkan banyak cara. Agar pamannya Asmoro harus menyerahkan dokumen-dokumen tentang perusahaan Wolf Group cabang Manchester. Jika tidak maka Stell akan mengamuk dan menghancurkan rumah tersebut. Memang sangat kejam sekali buat pria berumur senja itu. Namun apa daya, si Paman tidak seharusnya mengganggu Asmoro. Karena Asmoro sendiri sudah memberikannya kehidupan hingga detik ini.


Mobil yang membawa mereka langsung berhenti. Klan Kanagawa langsung turun dari mobil satunya dan memutari rumah itu. Dengan anggunnya ketiga wanita itu bersama Tatsuya turun dan masuk ke dalam rumah tersebut. Stella hanya bisa menggelengkan kepalanya karena rumah itu sangat kecil dan tidak terawat.


"Kenapa juga pamannya Kak Asmoro tinggal di rumah seperti ini? Apakah ada sebuah informasi tentang pamannya Kak Asmoro?" tanya Stella yang membuat Natalie memberikan ponselnya.


"Kamu baca semuanya gih di sini. Itu orang hidupnya sangat mengenaskan. Hampir setiap hari uang diberikan oleh papa dibuat judi. Hari itu juga pamannya papa selalu kalah dan tidak memiliki uang. Ini sangat mengenaskan. Sudah tua bukannya kembali ke kehidupan awalnya. Ini malah main judi," jawab Natalie.


Tak lama Stella akhirnya membaca semua artikel tentang pamannya Asmoro. Ini memang gila buat Stella. Kenapa juga itu pamannya bisa membuat statement kalau judi membuat hidupnya bahagia.


"Bagaimana kalau kita main judi? Lalu uang itu kita berikan saja kepada pamannya Kak Asmoro?" tanya Adelia.


"Aku nggak akan main judi Adelia. Aku ingin membuatnya sadar. Mana orang itu? Ini sungguh sangat menyebalkan sekali buat aku. Dari mana statement itu bisa menjadi bahagia?" tanya Stella sambil memandang wajah Adelia dan Natalie.


Tidak sampai beberapa menit, seorang pria senja masuk. Pria itu merajuk dengan kata-kata yang tidak enak didengarkan. Untungnya Stella dan Adelia sangat fasih sekali menangkap apa yang dikatakan oleh pria itu. Lalu Stella mendekati pria itu sambil menyapanya, "Kakek."


Sontak saja pria itu terkejut lalu melihat wajah Stella. Pria itu beringsut mundur sambil membuang wajahnya karena ketakutan. Jujur pria itu menganggap Stella adalah polisi. Yang di mana pria itu telah melakukan banyak sekali kejahatan dalam beberapa tahun terakhir.


"Jangan! Jangan menangkapku! Aku bukan penjahat. Aku adalah pria tua yang tidak memiliki apa-apa," seru pria tua itu sambil keluar dari rumah itu.


Dengan cepat tangan Stella menangkapnya. Stella akhirnya menyuruh pria tua itu untuk duduk. Adelia yang baik hati segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.

__ADS_1


"Apakah kakek adalah pamannya Tuan Lampard Wolf?" tanya Stella yang sengaja memakai nama Lampard.


"Lampard Wolf?" pekik pria itu.


Pria itu sangat terkejut dan tidak bisa membayangkan amarah Lampard. Ia telah melakukan banyak kesalahan kepada sang keponakannya itu. Lalu pria itu menunduk dan menangis.


"Ke mana anak nakal itu? Bisa-bisanya dia pergi meninggalkan aku di sini. Aku memang melakukan kesalahan hanya demi menarik perhatiannya. Sudah berapa tahun dia tidak pulang ke sini? Apakah anak nakal itu telah menikah dan memiliki seorang anak? Hingga membuat dirinya lupa dengan aku," tanya pria tua itu bertubi-tubi hingga membuat hati mereka terenyuh.


Adelia keluar dengan membawa teh hangat untuk pria tua itu. Adelia memberikan gelas itu kepada Stella, "Kak Ini tehnya."


"Terima kasih Del," ucap Stella sambil meraih teh itu.


Lalu Adelia memutuskan untuk duduk di samping Natalie. Ia sengaja melihat raut wajah sang pria tua itu bersedih. Kemudian Adelia tersenyum hangat kepada pria tua itu.


"Sebelum ngobrol panjang lebar lebih baik kakek meminum teh hangat itu," minta Stella dengan lembut lalu menyodorkan teh itu.


Pria tua itu akhirnya meminum teh yang diberikan oleh Stella. Tiba-tiba saja hatinya menghangat dan gelas itu kepada Stella. Dengan sabarnya Stella menaruh teh itu di atas meja.


"Nama kakek adalah kakek Albert Wolf bukan ya?" tanya Stella berbasa-basi agar si pria tua itu bahagia.


"Ya Nama saya adalah Albert Wolf. Saya sering dipanggil Al oleh banyak orang," jawab Al nama pria tua itu.

__ADS_1


"Perkenalkan nama saya adalah Stella Kanagawa. Dan gadis berambut panjang itu adalah Adelia saudara kembar saya. Satu lagi namanya Kak Natalie. Dia adalah kakak angkat saya," ucap Stella yang memperkenalkan nama mereka kepada kakek Al.


"Dari mana kalian? Apakah kalian sengaja mencariku untuk menyerahkanku kepolisian?" tanya kakek Al.


__ADS_2