
"Ya... Kami memang berencana untuk membuat sistem keamanan seperti itu. Kemungkinan besar Aku ingin memperkenalkannya ke dunia," ujar Imron yang membuat Martin bergidik nyeri
"Sepertinya aku harus memakai ide kamu itu. Aku harap kamu tidak mengajak istriku untuk membuat sistem keamanan seperti itu," ucap Martin yang tidak mau mendengar Alexa ikut-ikutan untuk membuat sistem keamanan gila dari Jacob dan Imron.
"Sebelumnya aku harus meminta maaf kepadamu. Mau tidak mau aku memang mengajak istrimu untuk membuat sistem keamanan seperti itu. Dan perlu kamu tahu yang membuat ide seperti itu adalah istri kamu sendiri. Kami hanya merealisasikan saja. Kalau demi keuntungan perusahaan kami ikhlas melakukannya. Kamu tahu kan kalau istri kamu memiliki otak yang cerdas? Itulah kenapa Kami sangat mengharapkan kerjasama antara istrimu dan kami," jelas Imron dengan panjang lebar yang membuat Martin tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Jujur Martin terkejut sekali mendengar pernyataan Imron. Diam-diam Imron mengajak istrinya untuk ikut dalam sistem keamanan baru yang terbentuk. Entah kenapa semakin ke sini istrinya semakin hebat saja. Ditambah lagi dengan aki usang istri di atas rata-rata.
"Sepertinya aku harus menghentikan ini semuanya. Aku ingin hidup istriku menjadi normal kembali. Yang lebih penting istriku tidak usah ikut-ikutan lagi dalam masalah sistem pengembangan keamanan untuk perusahaan-perusahaan besar. Karena aku takut sang istriku akan menjadi wanita super dan tangguh," ucap Martin dengan lirih.
"Kamu nggak perlu takut seperti itu. Alexa tetaplah Alexa. Alexa tidak bisa dibendung apa yang diinginkannya itu. Tujuan utama Alexa adalah hanya demi kesenangan semata. Bukan tujuan utama uang. Kalau uang sudah sedari dulu Alexa akan bergabung di perusahaan kami. Namun ini berbeda. Alexa akan selamanya menjadi partner kami yang setia. Semakin lama Alexa semakin hebat untuk menjaga sistem keamanan melalui cyber. Cepat atau lambat keamanan ini akan dipakai orang di seluruh dunia. Kamu harus bangga memiliki seorang istri seperti itu. Dan pesanku, jangan pernah mengekang istrimu untuk berkarya," ujar Imron yang memberikan solusi terbaik untuk istrinya Martin.
Manila Filipina.
"Selamat pagi tuan," sapa seorang pria muda di hadapan Lampard.
"Ada berita apa hari ini?" Tanya Lampard.
"Ada berita tentang Liam sudah meninggalkan Manila pada malam hari," jawab pria itu.
"Matilah aku!" geram Lampard yang ketinggalan berita tentang Liam.
__ADS_1
"Sabar... Tuan belum mati sekarang. Tuan masih hidup," ucap pria itu.
"Aish... Mulai lagi deh. Setiap bertemu dengan kamu isinya hanyalah tertawa tertawa dan tertawa terus. bisa nggak sih kamu bicara serius dengan aku? Sama bosmu juga bilang gitu. Pusing kepala saya ini!" gertak Lampard yang membuat pria itu semakin tertawa.
"Bukan begitu tuan. Semakin lama aku semakin ingin tertawa karena tuan. Oh iya tuan... Kapan rencananya menjatuhkan rudal tepat berada di posisi markas Exodus?" tanya pria itu dengan serius.
"Aku tidak berselera lagi untuk menghancurkan markas itu," jawab Lampard dengan kesal.
Brakkkkk!
Ian yang mendengar ketika sang bosnya tidak berselera itu langsung menggebrak pintu yang hampir saja terbelah menjadi dua. Ia langsung menatap tajam sang bosnya itu. Jauh-jauh dari Jakarta menuju Manila. Rencana penghancuran markas musuh ternyata gagal. Ngapain juga membuat acara seperti itu? Harusnya dirinya yang akan menghancurkan sendiri. Namun dengan cepat Ian berkata dengan nada menekan, "Enak saja kamu membatalkan semua rencanamu itu! Kami capek-capek mengikutimu ternyata kamu membatalkannya begitu saja! Di mana hati nuranimu Lampard sialan!"
"Rudal apaan itu? Jangan-jangan kamu membuat rudal yang aneh lagi. Rasanya aku ingin menangis saja memiliki bos gila seperti ini. Jujur saja semenjak aku menjadi anak buahmu, aku tiba-tiba saja menjadi gila. Semoga saja aku tidak menjadi depresi seperti yang lainnya," keluh Ian yang membuat Lampard tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kamu harus mencoba gaya baruku ini. Kamu harus banyak-banyak olahraga dan angkat beban. Itu bisa mengurangi resiko agar tidak depresi semakin lama. Karena depresi itu bisa membunuhmu secara perlahan," saran Lampard yang menyesatkan.
"Oh jadi itu ya bro... Saran yang menyesatkan itu. Ya udah deh akan aku coba setelah ini. Semoga saja aku bisa melakukannya dengan penuh perasaan," Ian melangkahkan kakinya dan mengomel sepanjang perjalanan menuju ke tempat Jacob.
"Terus bagaimana lagi?" tanya pria itu.
"Baiklah. Akan aku lakukan. Karena aku juga ingin mencoba rudal baruku yang telah tercipta. Aku ingin mengetes Bagaimana kehebatannya," jawab Lampard dengan semangat.
__ADS_1
"Bisa dipastikan rudal itu ledakannya sangat dahsyat sekali melebihi daya ledak bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Aku sudah lama tidak mendengar ledakan bom yang anda buat tuan," puji pria itu yang semakin semangat sekali untuk membuat Lampard jadi melakukan pengeboman.
"Kalau begitu siapkanlah pesawatku. Aku harap malam ini tidak akan ada lagi markas Exodus di Manila. Kamu siapkan seluruh pasukan untuk kulempar ke Jakarta semuanya. Aku memang butuh kalian," pinta Lampard.
"Baik Tuan. Bagaimana jika Master Fu tahu?" tanya pria itu.
"Sekarang aku tanya sama kamu. Apakah kamu ingin mati konyol menghadapi mereka?" Tanya Lampard serius.
"Bener juga sih tuan. Kami akan melakukan evakuasi sekarang juga. Cepat atau lambat mereka akan menyerang seperti angin dalam kegelapan. Mereka memakai obat-obatan terlarang agar mampu membuat seluruh organ tubuh menjadi kuat. Ini yang saya tidak mampu. Sekali pukul bukannya mati. Malah semakin kebal saja. Ditambah lagi dengan tembakan demi tembakan yang telah kami hujani. Ternyata tidak mempan juga. Kami bingung harus bagaimana. Ingin rasanya menghancurkan Namun kami tidak sanggup. Karena jumlah mereka semakin banyak saja," pria itu berkata jujur dengan situasi yang ada saat ini.
"Raka masih memeriksa obat itu. Terutama pada kandungan yang dipakainya. Raka sebagai ilmuwan somplak masih bingung dengan bahan yang dipakainya itu. Apakah mereka mengambil bunga teratai yang berada di pegunungan Alpen sana? Atau juga mengambil tumbuhan yang berada di Gunung Bromo sana. Aku juga nggak tahu. Karena aku bukan ilmuwan. Aku adalah pencipta bom dan rudal," kata Lampard yang menjelaskan barang apa saja dipakai.
"Itu benar tuan. Yang saya takutkan adalah mereka mengambil dari hutan Amazon sana," timpal pria itu.
"Kenapa kamu takut seperti itu? Bukankah itu bagus?" tanya Lampard dengan serius.
"Takut sih enggak. Mereka akan menjadi incaran para penghuni di sana. Terutama pada ular anaconda itu. Bukankah di sana ada tumbuhan yang aneh dalam pembuatan obat-obatan," jelas pria itu yang membuat Lampard tersenyum manis.
"Kamu nggak usah mikirin soal itu. Karena mereka memiliki sejumlah nyawa dalam tubuhnya. Kurang lebih tujuh belas nyawa," tambah Lampard yang menebak-nebak saja.
"Apakah itu benar tuan?" tanya pria itu.
__ADS_1