Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Tinggal Menunggu Waktu.


__ADS_3

"Bukan itu maksudku," jawab Asmoro dengan wajah sendu.


Melihat wajah sang suami yang sendu itu, Stella mendekati Asmoro sambil bertanya, "Maksud kamu apa? Jelaskanlah."


"Rasanya aku ingin menghubungi Ibra untuk membuatkan aku nasi goreng laknat itu," kesal Asmoro yang membuat Stella bertanya-tanya.


"Aku bingung sama kamu. Kenapa kamu membuat tanda tanya? Bukankah kamu bisa menceritakan apa yang terjadi pada malam itu?" tanya Stella.


Asmoro memeluk tubuh mungil Stella sambil berbisik, "Mari kita lakukan malam yang kemarin menjadi malam yang membara."


Wajah Stella langsung memerah dan menjauhi Asmoro. Ia memutuskan pergi ke kamar terlebih dahulu. Ia akhirnya memilih untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Asmoro, Asmoro sedang kebingungan. Ia duduk di sofa singlenya sambil bergumam, "Ada apa dengan istriku itu? Aku kan ngomongnya bener. Memangnya tidak boleh ya seorang suami meminta hak lebih?"


Asmoro hanya bisa duduk termenung. Ia sangat bingung mengutarakan perasaannya ketika melakukan malam membara itu. Ketimbang merenung, Asmoro masuk ke kamar sambil berkata, "Lebih baik aku tidur saja."


Asmoro kecewa? Sebenarnya Asmoro tidak kecewa sama sekali. Dirinya salah untuk mengatakan sejujurnya. Seharusnya ia mengatakan kalau aku ingin mengulang dengan cara mempraktekkannya.


Beberapa saat kemudian Stella keluar dan melihat Asmoro sudah berbaring. Wanita itu segera duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan kekar sang suami. Ia tersenyum membungkukkan badannya sambil...


Cup.


Ciuman perdana Stella mengagetkan Asmoro. Prius yang sudah berumur senja terbangun dan menatap wajah Stella sambil tersenyum, "Aku kira kamu sedang memasak."


"Aku tidak memasak," ucap Stella yang mencoba berdiri.


"Apakah kamu sibuk?' tanya Asmoro.


"Aku tidak sibuk sama sekali," jawab Stella.


"Memangnya ada apa?" tanya Stella sambil memandang wajah Asmoro.


"Besok kamu mau kemana?" tanya Asmoro sambil berbasa-basi.


"Aku ingin pergi ke bawah. Sekalian aku membeli bahan-bahan makanam. Masa enggak ada bahan-bahan makanan apapun sih?" tanya Stella yang cukup kesal kepada Asmoro.


"Apakah kamu ingin memasak?' tanya Asmoro melihat Stella yang sepertinya semakin menggemaskan buat Stella.

__ADS_1


"Iya. Istri yang baik itu menyiapkan sarapan buat suaminya, membuatkan kopi, menyiapkan air hangat, menyiapkan perlengkapan untuk kerja," jelas Stella yang membuat Asmoro tersenyum manis.


Dengan sekuat tenaga, tangan Asmoro menarik tangan Stella hingga jatuh ke dalam pelukannya. Mata keduanya saling beradu Dan tersenyum. Asmoro yang biasanya tidak romantis sekarang menjadi romantis.


"Aku ingin memakai baju," pinta Stella yang mencoba memberontak untuk melepaskan dirinya.


"Nggak usah pakai baju. Tidurlah di sampingku," ucap Asmoro.


"Ajaran dari mana itu?" tanya Stella yang memutar bola matanya dengan malas.


"Dari aku lah. Ngapain juga pakai baju kalau sudah malam?" tanya Asmoro balik.


"Lama-lama kamu omes," jawab Stella yang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Asmoro.


"Biarin. Salah sendiri kamu sudah menebarkan yang tidak baik untuk otakku ini," ujar Asmoro yang menahan tawanya.


"Apakah kamu lapar?" tanya Stella.


"Aku nggak lapar. Tapi aku ingin memakanmu," jawab Asmoro.


"Ya udah. Kamu diam aja jangan banyak bergerak," jawab Asmoro yang mulai membalikkan tubuhnya di atas tubuh Stella.


"Lalu kamu ngapain memakai gaya seperti itu?" Tanya Stella.


"Udah diam saja. Kamu akan menikmatinya hingga pagi," jawab Asmoro.


"Ya sudah deh. Itu terserah kamu. Aku hanya pasrah saja mengikutimu," ucap Stella dengan pasrah.


Kemudian Asmoro mengajak Stella mengulang malam pertamanya itu. Asmoro langsung mengajar sang istri habis-habisan saat itu. Malam ini menurut Asmoro malam yang paling indah. Meskipun tanpa obat perangsang, Asmoro belajar membuat sang istri bahagia.


Di tempat lain, Liam sedang duduk sendiri di ruangan kerjanya. Tak lama datang seorang pengawal yang memakai baju serba hitam. Pengawal itu membungkukkan badannya sambil menyapa, "Selamat malam Tuan."


"Ada berita apa?" tanya Liam.


"Ada berita tentang Putri anda sendiri. Saya telah menurunkan mata-mata untuk Putri anda. Putri anda ingin membuat kelompok Exodus baru. Yang di mana nona Merry akan memecah menjadi dua," jawab sang pengawal itu.

__ADS_1


"Oh bagus ya," sarkas Liam. "Jadi begini Putri Yang aku besarkan sekarang menjadi kurang ajar. Buntuti dia!"


"Baik Tuan," balas sang pengawal itu. "Saya undur diri dulu tuan."


"Pergilah," usir Liam.


Akhirnya pengawal itu pergi meninggalkan Liam. Jujur saja pengawal itu sangat ketakutan sekali ketika melaporkan situasi saat ini. Ia berkedip ngeri dan ingin sekali pergi dari sana ketika berhadapan dengan Liam.


Melihat pengawalnya pergi, Liam langsung memandang langit-langit. Ia sedang membuat rencana selanjutnya. Ia tidak akan pernah mau membagi kelompok mafianya kepada putrinya itu.


Tiba-tiba saja Liam teringat pada Tutik dan Patty. Liam tersenyum licik dan ingin mengajak kerjasama mereka. Liam yakin kalau mereka bisa diandalkan. Apalagi jika Liam memberinya banyak uang. Maka mereka akan mau bekerja sama.


"Merry dan Bella. Dahulu kalian sangat penting buat aku. Sekarang kalian tidak penting. Kalian mencoba berkhianat untuk membelah organisasiku ini. Cepat atau lambat kalian akan mati di tanganku. Jangan harap kalian akan hidup dengan tenang dan bahagia. Setelah kalian mendapatkan apa yang tercapai. Aku sebagai Liam tidak akan pernah membuat orang-orang berkhianat kepadaku bahagia. Camkan itu!" geram Liam sambil mengancam anak istrinya itu.


Itulah sumpah Liam untuk saat ini. Liam tidak akan rela jika anak istrinya bahagia. Sedari dulu Liam tahu kalau istrinya memiliki otak Yang licik. Maka dari itu dirinya akan membalaskan dendamnya satu persatu.


Bandara Soetta.


Seorang pria paruh baya baru saja turun dari jet pribadinya. Pria itu segera berjalan menuju ke jalur VVIP. Langkahnya elegan, gayanya juga sangat stylish sekali. Rambutnya yang hitam legam itu menandakan, kalau ia bukan pria sembarangan.


Setelah keluar dari jalur VVIP, tidak sengaja melihat Leon yang sedang menunggunya. Pria paruh baya itu pun segera mendekat dan menepuk bahu Leon.


Plak.


Leon yang sedang membaca pesan itu terkejut. Ia tidak menyangka kalau orang yang ditunggunya sudah berada di hadapannya. Kemudian Leon menatap wajah pria itu sambil memanggilnya, "Kak George."


Pria itu memang bernama George. Yang di mana dirinya ditugaskan untuk memegang Black Horizon pusat. Namun untuk saat ini Black Horizon pusat sedang ditutup. Bisa dikatakan Black Horizon dinyatakan mati. Sampai kapan George tidak akan membukanya. Ia akan menunggu perintah dari Gio maupun Asmoro.


"Ngapain kamu melamun?" tanya George.


"Aku tidak melamun," jawab Leon sambil meringis. "Gimana kabar Kakak sekarang?"


"Kabarku baik-baik saja," jawab George.


"Sebelum kakak bercerita banyak sekali. Lebih baik kita langsung cabut dari sini. Aku tahu Kakak nggak bisa cerita banyak di sini," ajak Leon supaya tidak membicarakan hal-hal bersifat pribadi di bandara.

__ADS_1


"Di mana Asmoro?" tanya George.


__ADS_2