Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Apes Sekali Nasibmu.


__ADS_3

Iya memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia melihat Adelia masih terbaring. Dirinya mendekati sang kekasih sambil memegang tangannya.


“Del, bangunnya,” suruh Ian.


Merasa namanya terpanggil, Adelia segera membuka matanya. Ia melihat wajah Ian yang sangat khawatir. Lalu Adelia bertanya, “Aku berada di mana?”


“Kamu masih berada di bumi,” jawab Ian.


Plaaaaaakkkk!


Tangan mungil Adelia memukul lengan besar Ian. Ia begitu kesal dengan sang kekasih yang seenaknya ngomong. Memang dirinya masih berada di bumi tempat berpijak. Namun Adelia bertanya-tanya dalam hati, kenapa dirinya berada di rumah sakit?


“Aku mesti nanya sama kamu jawabnya aneh. Aku ingin tanya kenapa aku berada di rumah sakit?” tanya Adelia.


“Apakah kamu lupa kalau habis diserang oleh orang?” tanya Ian.


Gadis itu mencoba untuk bangun dan merasakan kepalanya pusing. Ia memegang kepalanya sambil mengingat kejadian lalu. Kemudian Adelia menghembuskan nafasnya lalu bertanya, “Kenapa aku diserang? Lalu, kenapa wanita itu menyebut Stella? Kok aku bingung ya. Apa yang dimaksud dengan Stella yang dibawa oleh Tuan Lampard?”


Ian yang tahu duduk permasalahannya memilih untuk bungkam sementara waktu. Ia tidak berani cerita karena takut Adelia histeris. Pria itu akan berdiskusi dengan Lampard. Dalam hatinya, bagaimana caranya dirinya bisa menceritakan masalah ini ke Adelia.


“Maafkan aku, aku nggak bisa cerita terlebih dahulu karena belum menemui titik terang. Kami akan membantumu untuk bertemu dengan bapak kandungmu. Jangan khawatir masalah wanita gila itu. Aku akan melaporkannya ke polisi. Biar dia merasakan hidup di dalam penjara karena ulahnya,” batin Ian.


“Maaf, Aku tidak tahu. Aku harap kamu nggak kapok keluar bersamaku,” ucap Ian yang meminta maaf kepada Adelia.


“Tak apa. Tapi aku terkejut loh, pas waktu belanja aku diserang habis-habisan sama wanita itu. Aku nggak tahu kenapa dia manggil-manggil nama Stella. Apakah aku mirip dengan Stella?” tanya Adelia yang bingung.


“Nggak usah dipikir. Istirahatlah dulu sore nanti aku akan mengantarkanmu ke Tuan Gio,” perintah yang dengan nada lembut.


“Kenapa aku dikirim ke sana? Apakah aku memiliki kesalahan? Apakah Nyonya Alexa marah padaku?” tanya Adelia.


“Kamu tahu nggak. Kalau Nona mudamu itu melihat banyak perban di wajahmu. Nona mudamu akan menangis dan tidak mau makan berhari-hari. Nona mudamu itu memiliki perasaan lembut. Dia gampang menangis melihat orang-orang di sekelilingnya sakit,” jawab Ian yang membuat Adelia lupa akan hal itu.


“Maaf, aku lupa,” ucap Adelia.


“Kalau begitu beristirahatlah. Aku menunggumu bangun. Setelah bangun, aku antarkan kamu ke mansion Tuan Gio. Di sana kamu akan tinggal beberapa hari untuk penyembuhan lukamu. Jika sudah selesai Aku menjemputmu dan mengembalikanmu ke Nyonya Alexa,” ujar Ian yang asik melihat wajah Adelia.


“Baiklah kalau begitu. Aku mengantuk sekali. Hei... jangan kamu memandangku seperti itu!” seru Adelia yang memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


“Memangnya nggak boleh memandangi wajah kekasihnya sendiri? Jika aku memandang wajah wanita lain pasti kamu ngambek. Tapi, kamu lucu juga kalau ngambek. Aku pengen menciummu sampai puas,” kata Ian yang melihat wajah Adelia yang cemberut hingga membuat dirinya tertawa.

__ADS_1


Di ambang pintu Lampard melihat sang asisten sangat ceria. Dirinya baru tahu kalau partnernya itu bisa tertawa. Hatinya sangat membuncah dan membatin, “Semoga Agatha mau menerimamu menjadi menantunya.”


Di saat tertawa mata Ian menengok di ambang pintu. Ia merasa kalau si bosnya itu sangat membutuhkannya.


“Aku tinggal dulu ya,” pamit Ian.


“Baiklah,” balas Adelia.


Ian segera berdiri dan mendekati Lampard. Setelah itu mereka keluar dari kamar. Kemudian mereka berkumpul di tempat tunggu.


“Ada apa?” tanya Ian.


“Nanti sore Adelia sudah bisa pulang. Aku tunggu di apartemen jam tujuh!” perintah Lampard.


“Sepertinya ada tugas dadakan?” tanya Ian mulai curiga.


“Ya... Kita diskusikan masalah ini di apartemenku,” jawab Lampard.


“Baiklah,” balas Ian.


Setelah melihat keadaan Adelia, Lampard dan Martin meninggalkan rumah sakit. Mereka sudah tenang lalu memutuskan untuk menitipkan Adelia ke Gio. Mereka akan memutar otaknya agar Adelia dan Stella selamat dari kejaran John. Sebelum pergi dari sana, Lampard meminta beberapa orang untuk memantau kedatangan orang-orang misterius.


Mata Tutik langsung membola sempurna ketika mendengar nama Stella disebut. Ia tersenyum iblis sambil berkata, “Jika kamu menemukan Stella, berarti hidup kita sangat beruntung sekali. Aku ingin cepat-cepat memindahkan seluruh aset Kurumi menjadi milik kita. Memangnya di mana Stella?”


“Aku menemukannya di pusat perbelanjaan. Tapi gadis sialan itu sangat beruntung sekali. Dia itu lagi jalan sama cowok kaya. Aku ingin sekali merebut cowok itu dari tangan Stella. Rasanya aku ingin memiliki cowok itu,” ucap Patty yang membuat Tuti semakin semangat untuk mendapatkan Stella.


“Kalau begitu carilah sampai ketemu. Rebutlah apa yang dia punya. Jangan pernah menyisakan apapun. Biar gadis sialan itu jatuh miskin dan cepat mati. Aku sudah tidak sabar menjadi seorang wanita konglomerat yang disegani banyak orang. Setiap orang lewat mereka menunduk dan menghormatiku,” ujar Tutik yang tertawa.


“Sebentar ma... Aku ingin menyebarkan anak buahku ke seluruh penjuru Jakarta. Semakin banyak orang disebar maka semakin cepat kita mendapatkannya. Aku tidak sabar menyiksanya dan membuatnya menderita,” ungkap Patty.


“Kalau begitu lakukanlah. Jika danamu kurang maka Mama akan memberikannya!” perintah Tutik.


Kedua wanita beda generasi itu pun langsung semangat. Titik terang menemukan Stella sudah semakin nyata. Namun, apakah Patty tahu kalau yang diserang itu bukan Stella melainkan Adelia kembarannya. Sedangkan Lampard dan lainnya berharap mereka tidak menemukannya.


Di apartemen mewah lempar duduk dengan santai sambil menikmati kopi. Sementara itu Martin sedang mengecek beberapa saham di ponselnya. Iya mengangkat kepalanya sambil bertanya, “Ngapain aku disuruh ke sini? Dari tadi aku hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Aku juga memperhatikanmu seperti patung.”


“Sebentar lagi. Jacob, Ian, Imron dan Leon segera ke sini. Mereka sudah berada di area parkir,” jawab Lampard.


Jujur Martin memiliki sifat tidak mau menunggu. Dirinya lebih baik meluangkan waktunya untuk melakukan hal yang lain. Seperti istirahat atau berkumpul dengan keluarganya. Ia sangat kesal sama kakak angkatnya itu.

__ADS_1


“Aku memiliki rencana untuk menjebak Patty,” ucap Lampard.


“Apakah kamu serius ingin menjabat wanita itu?” tanya Martin.


“Iya aku serius. Sudah lama aku tidak berbuat jahil,” jawab Lampard.


“Kenapa kamu ingin menjebaknya? Padahal dia tidak meninggal kita,” Tanjung Martin yang merupakan asal muasal kejadian Stella dan Adelia teraniaya.


“Bukannya kamu tahu, siapa yang menyebabkan saudara kembar itu masuk rumah sakit? Kamu tahu aku nggak tega melihat mereka disiksa dengan konyol seperti itu. Memangnya dia pikir hidup di dunia ini seperti ratu.”


Martin menghembuskan nafasnya sambil tersenyum, “Maaf, aku lupa akan hal itu. Bagaimana caranya kamu menjebak wanita itu?”


“Sepertinya kita akan membagi tugas dan menjalankannya dengan baik.


“Tunggu mereka datang,” ucap Lampard.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Keempat pria itu pun masuk ke dalam dan melihat Martin dan Lampard sedang bersantai. Mereka akhirnya mendekati Lampard dan duduk melingkar. Keempat pria itu bertanya-tanya, kenapa dirinya dikumpulkan seperti ini? Ketika ingin bicara lambat mempersilakan mereka untuk membuat kopi masing-masing. Mereka bubar terlebih dahulu untuk membuat kopi setelah itu kembali ke posisi masing-masing.


“Ok, tujuan aku kumpulkan di sini ingin meminta tolong. Aku ingin membuat misi untuk menjebak Patty dan memberitahukan ke seluruh fansnya melihat siapa dia sebenarnya. Jujur semalam aku melihat banyak artikel mengenai dia yang bersikap manis di depan fansnya. Tapi semuanya itu hanya topeng belaka. Mereka mengira kalau sang idola itu memiliki sifat yang baik,” jawab Lampard.


“Oh... kasarannya Kakak pengen menghancurkan karir Patty sekaligus,” ucap Leon yang paham dengan sang bosnya itu.


“Iya... Aku memang ingin menghancurkannya sekaligus. Jujur aku sudah muak melihat topengnya di depan umum. Nyatanya sifat ramahnya itu hanya kedok semata. Aku ingin tahu reaksi fans garis kerasnya melihat sang idola memiliki sifat kejam dan tidak manusiawi,” ujar Lampard.


“Tiba-tiba saja sifat iblisku muncul,” celetuk Martin yang tersenyum menakutkan.


“Aku harap kamu nggak pulang malam ini,” ungkap Lampard yang berharap Martin tidak pulang ke rumah.


“Aku berharap istri kecilku itu tidak marah dan menggantungku di gedung Snowden,” ucap Martin.


“Apes sekali nasibmu,” sahut Jacob sambil tertawa.


“Kamu meledekku ya?” tanya Martin.


 

__ADS_1


 


__ADS_2