Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Makan Bersama.


__ADS_3

Stella menuruti keinginan Asmoro. Ia berdiri sambil mengulurkan tangannya sambil berkata, "Ayolah... berdiri."


Asmoro tersenyum manis sambil memegang tangan Stella sambil menarik tangan Stella. Hingga Stella jatuh ke dalam pelukan Asmoro. Asmoro menatap wajah sang istri dan menciumnya.


"Maafkan aku semalam. Aku harap kamu jangan marah. Mereka telah menjebakku," ucap Asmoro.


"Tidak apa-apa. Bukankah kita menikah tujuannya ke sana?" tanya Stella ke Asmoro.


"Ya... enggak gitu kali. Aku sengaja menikahi kamu demi melindungi kamu. Aku tidak ingin mereka memegangmu sama sekali," jawab Asmoro.


"Berarti kamu tidak mencintaiku?" tanya Stella.


"Aku mencintaimu. Semenjak kamu datang dalam hidupku. Kamu orang yang berhasil membuat hatiku ini meleleh seperti es," jawab Asmoro dengan jujur. "Jujur aku pernah memiliki seorang kekasih. Tapi kekasihku ini sangat brengsek. Dulu aku hanya orang biasa. Aku tidak memiliki apa-apa. Aku dibuang dan ditendang. Dia lebih memilih menjadi seorang istri dari ketua sang pemilik organisasi hitam. Semenjak itulah aku membekukan hatiku. Aku sengaja menutup hatiku."


"Memang enggak enak kalau yang namanya ditendang seperti itu. Aku pun pernah merasakan hal sama," ucap Stella dengan sendu.


"Maksud kamu Harlem?" tanya Asmoro yang mengerutkan keningnya.


"Bukan. Dia adalah teman sekolahku. Pacarku tidak menendangku Tapi kedua orang tuanya yang menendangku," jawab Stella.


"Ini hanya status sosial saja," celetuk Asmoro.


"Bukan. Patty yang membuat hubungan aku dengan kedua orang tuanya hancur," ujar Stella. "Wanita itulah yang membuat hubunganku hancur. Dia yang membuat aku menelan pil pahit selama hidup."


"Enggak puas-puasnya mengganggu kamu!" geram Asmoro.


"Semoga saja mereka sudah tidak muncul di hadapanku," ucap Stella yang berdoa agar tidak muncul masalah baru.

__ADS_1


"Saatnya kamu harus bangkit dari keterpurukan kamu," ucap Asmoro yang membakar semangat Stella.


Stella tersenyum sumringah sambil mengangkat tangan dan mengepalkannya sambil teriak, "Semangat!"


"Iya... kamu harus semangat. jangan pernah bersedih lagi. Jangan pernah menyerah. Aku bersama lainnya akan bersamamu," ucap Asmoro. "Ayo, kita makan!'


Stella berdiri dan menuju ke dapur. Lalu ia sangat terkejut sekali melihat beberapa menu makanan yang tertata di atas meja.


Tak lama Asmoro datang lalu mendekatinya. Ia memegang punggung Stella sambil berkata, "makanlah yang banyak. Kalau bisa habiskan semuanya."


Mata Stella membulat sempurna. Ia tidak menyangka kalau makanan sebanyak ini harus dihabiskan. ia menatap wajah Asmoro, "Aku tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak ini."


"Lebih baik kamu simpan saja. Atau berikan kepada pengawal yang sedang berjaga di beberapa unit area sini," ucap Asmoro yang memberikan sebuah ide agar makanan itu tidak dibuang percuma.


"Ide yang sangat bagus sekali. Apakah makanan ini tidak ada obat perangsang?" tanya Stella.


Sebagai istri yang baik, Stella berusaha untuk melayani sang suami. Ia mengambil porsi makanan untuk Asmoro. Asmoro pun sangat bahagia karena Stella telah melayaninya.


Ketika makan Asmoro sempat panas dingin. Asmoro takut jika sang istri tidak menyukai masakannya itu. Ia memilih diam dan menghabiskan satu porsi makanan tadi.


Baru satu suap saja, Stella memakan makanan itu. Matanya berbinar dan senyumnya merekah. Ia sangat mengagumi makanan tersebut. Kenapa dirinya baru sadar? Bahwa makanan yang di depannya itu adalah makanan favoritnya. Sungguh dirinya tidak menyangka. Karena makanan itu jarang sekali ditemukan.


Melihat sang istri matanya berbinar, Asmoro sangat bahagia sekali.Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. Tak lama Asmoro mengeluarkan suaranya lalu bertanya, "Apakah makanan itu tidak enak?"


"Sangat enak sekali. Aku teringat kepada Bibi Nima. Sebelum Bibi Nima dipecat, Bibi sering sekali membuat masakan seperti ini. Dan itu hampir setiap hari. Tapi aku tidak pernah bosan sama sekali. Setelah dipecat Aku tidak pernah memakan makanan seperti ini lagi," jawab Stella dengan wajah sendu.


"Kalau kamu suka nanti aku masakin setiap hari," Asmoro menawarkan menjadi koki Stella.

__ADS_1


"Apakah kamu membuatnya?" tanya Stella sambil mengunyah makanannya.


"Ya. Aku teringat akan masa kecilku. Ibuku pernah membuat masakan itu. Hampir setiap hari Minggu kami berkumpul dan memakan menu masakan itu. Lalu aku bertanya pada ibu. Bahan-bahan apa saja yang dibuat untuk membuat sup krim jagung yang sangat lezat sekali. Ibuku memberitahukan bahan dan caranya memasak sup krim jagung," jawab Asmoro yang menjelaskan bagaimana dirinya memasak sup krim jagung itu.


"Sepertinya aku kalah sama kamu.aku harus membuat makanan yang enak lebih dari kamu. Agar kamu tidak memaksakanku makanan setiap hari. Tugasmu adalah hanya pergi ke kantor dan mengurusi urusan kantor. Biarkanlah aku yang mengurus rumah dan sarapan makan siang maupun makan malammu. Karena aku sudah resmi menjadi bagian dari hidupmu," pinta Stella.


"Kamu benar. Tapi pihak pria juga harus melakukan hal yang sama. Aku sebagai pria tidak akan pernah egois dengan pekerjaan rumah. Biarkanlah aku Yang akan mencari uang untukmu," ujar Asmoro.


Begitulah percakapan antara pasangan suami istri yang baru saja menikah. Mereka sangat bahagia. Jujur Asmoro yang dulu pria dingin seperti batu es. Sekarang sudah mencair. Ia akan berusaha menjadi seorang suami yang baik buat Stella.


Lalu bagaimana dengan Stella? Wanita berparas ayu itu berharap bisa menjadi istri yang baik. Selain itu juga ia akan menuruti ucapan sang suami. Ia tidak ingin membangkang apa yang telah diperintahkan oleh Asmoro.


Selesai makan Stella membersihkan meja terlebih dahulu. Lalu Asmoro mengambil ponselnya dan menghubungi Alexa. Namun Asmoro segera mematikannya. Ia memandang wajah sang istri sambil bertanya, "Apakah aku harus jujur Jika kita sudah menikah?"


"Kamu harus jujur kepada mereka. mereka adalah keluargamu meskipun tidak ada hubungan darah sama sekali. Aku yakin mereka tidak akan marah ke kamu. Jika mereka marah, akulah orang yang patut disalahkan dalam pernikahan ini," jawab Stella.


"Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu nggak perlu menyalahkan dirimu. Kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Katakan pada hatimu. Kalau kamu nggak salah dalam pernikahan ini," jelas Asmoro.


"Ya tetap salah. lagian kamu nggak ngomong sama siapa-siapa jika menikah mendadak seperti ini. Harusnya kamu ngomong sama mereka. Minta izin sekalian minta restu," tambah Stella.


"Apakah itu harus? Ini adalah privasiku. Aku tidak akan pernah ingin mengumbar hubungan kita," ucap Asmoro.


"Lalu bagaimana dengan Kak Alexa? Bagaimana dengan Tuan Gio dan nyonya Winda? Apakah mereka tahu jika kamu menikah diam-diam seperti ini? Harusnya kamu memberitahukan bahwa dirimu sudah menikah," sahut Stella yang masih mencuci piring.


"Bukannya aku tidak ingin memberitahukan kepada mereka. Kak Gio dan kak Winda sudah tahu kalau aku menikah. Alexa dan Martin saja yang belum. Begitu juga dengan ketiga cucuku yang sengaja ingin menjodohkan kita berdua," kata Asmoro.


"Apakah itu benar?" tanya Stella yang baru tahu kejahilan si kembar.

__ADS_1


__ADS_2