Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Mau Pergi Kok Susah Banget.


__ADS_3

"Sini aku jelaskan apa maksudnya Asmoro itu kepadamu," jawab Adelia sambil memegang tangan Stella dan menatap lembut sang kakak.


"Apa yang akan kamu jelaskan kepadaku?" tanya Stella.


"Begini Asmoro itu minta kamu berpakaian yang sopan. Kalau kamu keluar dari sini terus memakai gaun yang seksi itu bisa dipastikan para pria pria menatapmu dengan liar. Aku dulu pernah mengalami seperti itu. Kalau nggak salah waktu itu sedang pergi ke pusat perbelanjaan memakai baju seperti itu. Di sana banyak pria yang menatapku sangat liar. Bahkan salah satu dari mereka mendekatiku dan meminta nomor ponselku. Aku tidak memberikannya. Orang satunya lagi memintaku untuk ikut dengannya. Tapi sebelum ikut dengannya Orang itu berkata, berapa tarif yang kau inginkan? Itulah kenapa Asmoro tidak mau melihatmu dilecehkan seperti itu," ucap Adelia secara blak-blakan karena dirinya sendiri telah mengalami hal seperti itu.


"Oh jadi itu yang dimaksud oleh Asmoro. Aku ingin mengganti pakaianku. Aku tidak mau memakai pakaian seperti ini lagi. Lalu bagaimana membeli pakaian lain kalau aku tidak memiliki uang?" tanya Stella sambil menunduk kecewa.


"Nanti aku pinjamkan uang dari ibu. Kita bisa membelinya di pasar tradisional saja. Sebab baju yang kita beli itu bisa sangat murah," jawab Adelia sambil melihat Stella tersenyum.


"Memangnya kamu tahu ukuranku apa?" tanya Stella.


"Ukuran pakaianmu itu sama dengan aku. Kita memiliki tubuh mungil seperti ini. Tapi sayangnya kamu lumayan tinggi. Aku sangat kecil seperti ini. Rasanya aku ingin menangis saja karena bentuk tubuhku yang tidak tinggi-tinggi amat," jawab Adelia.


"Jangan bersedih seperti itu. Aku sama kamu tingginya aja hampir sama. Jadi kamu nggak boleh bersedih seperti itu," jelas Stella yang menghibur sang adik agar tidak sedih.


"Kalau begitu aku pinjamkan saja rok panjang dan baju lengan panjang. Sebentar ya akan aku ambilkan terlebih dahulu," ucap Adelia sambil membuka lemari satunya lagi.


"Kalau begitu terima kasih," balas Stella.


"Jangan mengucapkan terima kasih. Kamu tahu kan kalau kita ini satu saudara. Tapi kasihan sama Kak Hatori. Kak Hatori tidak bisa memakai pakaian kita," sahut Adelia yang membuat Stella tertawa.


Saat tertawa Winda melihat keakraban saudara kembar itu. Lalu Linda tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Adelia. Jujur dirinya sangat terhibur sekali akan hadirnya dua gadis cantik itu. Akhirnya Winda masuk dan menyapa mereka berdua.


"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" tanya Winda.

__ADS_1


"Silakan nyonya," jawab Stella.


"Lain kali jangan panggil aku nyonya. Aku bukan nyonyamu. Panggil saja Kakak atau Ibu juga nggak papa. Lebih baik Kakak saja deh biar aku bertambah mudah," ucap Winda yang mengakrabkan diri kepada si kembar.


"Baiklah Kak. Tapi apakah Kak Alexa tidak marah jika aku memanggil kakak?" tanya Adelia yang baru saja menemukan baju untuk sang kakak.


"Tak apa. Alexa tidak akan keberatan sedikitpun. Kalian mau ke mana Kok tiba-tiba saja membongkar lemari?" tanya Winda.


"Kak Stella diajak Asmoro ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Asmoro ingin tahu bagaimana perkembangan sakitnya Kak Stella ini," jawab Adelia.


"Kamu nggak ikut?" tanya Winda yang menghambatkan bokongnya di tepi ranjang.


"Sementara ini aku tidak boleh ikut bersama. Asmoro sama Kak Ian sangat takut jika Patty dan keluarganya mengetahui kalau kami kembar. Bisa jadi mereka akan menculik kami dan membunuhnya," jawab Adelia sambil menjelaskan kenapa dirinya tidak ikut.


"Sebenarnya juga mereka melarang kalian keluar bersamaan. Berita di televisi dan internet seakan menggiring opini terhadap Stella. Jadi mau tidak mau kalian harus mengalah satu sama lain," jawab Winda.


"Apakah berita kemarin itu sangat parah sekali hingga Kak Stella menjadi bahan gunjingan masyarakat di negara ini?" tanya Adelia yang tiba-tiba saja syok mendengarnya.


"Itu benar. Untung saja kalian tidak memiliki sosial media. Jika kalian memiliki sosial media, maka siap-siap saja air mata kalian keluar deras," jawab Winda.


"Aku tidak memiliki sosial media apapun. Setelah terjadi penusukan itu, semua tasku dan kartu tanda pengenalku hilang seketika. Makanya itu aku sudah tidak lagi bermain sosial media," jelas Stella.


"Aku pun sama. Kalian tidak mengizinkan aku bermain sosial media. Malahan Kak Ian menyuruhku untuk menjaga privasi. Agar hidupku selamat dari hal-hal yang tidak diinginkan. Makanya aku jarang sekali bermain sosial media," tambah Adelia dengan jujur.


"Baguslah. Pokoknya intinya kalian tidak boleh mendengar kata-kata menyakitkan itu. Hiduplah normal seperti tidak ada apa-apa. Aku ingin kalian bisa menikmati hidup tanpa harus ada beban dari omongan mereka," pesan Winda.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu. Kak Gio sudah menungguku untuk berangkat kerja," pamit Winda dan berdiri lalu meninggalkan mereka.


Ketika Winda mendengar berita dari sosial media, hatinya sangat mirip sekali. Stella tidak bersalah malah menjadi amukan orang-orang yang membela kejahatan Patty. Untung saja Winda mengetahuinya dan tetap membela Stella.


Baru saja mendapat pengakuan Jujur dari Stella, hati Winda lega. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana Stella mengetahui berita tersebut?


Bagaimana dengan kedua orang tuanya itu? Mereka juga sedih atas kasus yang menimpa Stella. Untung saja mereka mengetahui keberadaan Sang Putri berada di tempat yang aman. Satu kata yaitu sakit. Sakit di dalam hatinya bertambah menjadi parah. Belum sembuh luka dari bertahun-tahun yang lalu, luka itu menjadi lebar. Inilah dirinya tidak mau jika harus berhubungan dengan keluarga gila itu.


"Kenapa lagi dengan Putri kita?" tanya Anita yang tidak rela jika mereka mengusik Stella.


"Entahlah. Kemarin aku masih komunikasi keadaannya baik-baik saja. Aku juga tidak paham apa yang sebenarnya terjadi," jawab Agatha sambil menahan sesak di dada.


"Mereka akan berusaha menghancurkan keluarga kita. Jujur aku sendiri sudah muak sama mereka. Cepat atau lambat Kurumi akan aku hancurkan sendiri. Aku tidak peduli itu. Aset yang aku simpan di Swiss sudah berganti namaku. Bukan milik Kurumi lagi," tambah Agatha.


"Apakah kamu serius akan menghancurkan Kurumi?" tanya Anita.


"Ya aku harus menghancurkannya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan itu," jawab Agatha.


"Ya itu benar. Tapi aku tidak bisa menghancurkannya begitu saja. Aku harus berkoordinasi dengan Lampard. Dialah yang memiliki kekuasaan di sini. Kemungkinan besar Lampard yang melakukannya," ucap Agatha dengan jujur.


"Susah juga ternyata," sahut Anita.


"Aku tidak memiliki kekuasaan di sini lagi. Bisa dikatakan aku adalah seorang pengunjung yang di mana sedang mengunjungi seseorang," udara Agatha sambil tersenyum menatap Anita.


"Kenapa kita nggak dari dulu seperti ini? Merawat anak-anak kita bersama dan melihat perkembangannya. Jujur aku sebagai wanita hatiku hancur melihat rumah tanggaku porak-poranda karena keluargaku sendiri. Sedari dulu aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Bahkan aku disuruh mengalah dari Tutik," tanya Anita yang mulai menahan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2