
"Ya itu benar. Aku mendapatkan informasi ini dari Papa mertuaku dan juga Leon. Jujur dia memang sangat berani melakukan dan melancarkan aksi untuk menghancurkan kebahagiaan orang," jawab Asmoro.
"Apa yang akan Kakak lakukan setelah ini?" tanya Ian yang ingin membantu Hatori.
"Apakah kamu ingin menyelamatkan Hatori?"
"Sebenarnya sih iya. Aku ingin menyelamatkannya dari mereka. Berhubung kita masih di sini. Kita tidak akan bisa melakukannya."
"Kamu nggak perlu melakukannya. Papa Agatha telah mengetahui rencana Patty. Begitu juga dengan Yudi dan Andi. Kita biarkan saja apa yang mereka lakukan. Mereka tidak tahu siapa yang akan dihadapinya sekarang ini. Oh ya soal Liam. Liam juga musuh bebuyutan dari Agatha. Bisa dikatakan dia juga tidak akan bisa lepas dari Agatha," sambung Asmoro.
"Memang gila itu orang. Lalu bagaimana dengan John dan Merry? Kedua orang itu masih saja sangat santai melakukan serangannya," tanya Ian.
"Biarkan saja. Tunggu mereka bergerak saja. Atau enggak kita menunggu gerhana bulan sempurna datang dalam waktu dekat ini. Jika mereka belum bergerak sama sekali. Dan Kuncoro memberikan tiket untuk menutupnya. Aku yakin Merry tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kalau pun bisa tenaganya sudah tidak ada," jawab Asmoro.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Bella? Sepertinya Bella mendukung anaknya itu. Ya kemungkinan besar jika Bella melihatmu. Bella akan merengek untuk meminta kembali kepadamu. Lalu setelah kamu ngapain jika Bella kembali ke dalam pelukan hangatmu itu?" tanya Ian yang membuat Asmoro ingin melemparkan sang asisten ke gunung yang sedang erupsi itu.
"Kamu belum tahu istri kecilku itu berasal dari mana? Sebentar lagi istri kecilku akan berubah menjadi wanita tangguh. Bahkan istri kecilku itu akan membuat dunia menjadi ramai membicarakannya. Sekalinya Bella mendekat. Bella akan merasakan sesuatu yang tidak bisa ditebak. Dan kamu jangan pernah lupakan. Kalau Stella itu adalah titisan dari Klan Kanagawa," ungkap Asmoro sambil memperingatkan Ian agar tidak melupakan Nyonya besarnya.
Ian tersenyum sambil mengingat kejadian yang lalu. Ia hanya bisa terdiam dan duduk dengan enak. Beberapa saat kemudian, ponsel yang dimilikinya berdering hebat. Ia langsung menatap nama yang tertera di layarnya itu. Ia menatap ke arah Asmoro sambil berkata, "Kakak sedang dicari sama Scarlett."
"Oh my god aku melupakan gadis kecilku itu. Beberapa hari semenjak kedatanganku ke Manchester. Aku tidak pernah menghubunginya sama sekali. Rasanya aku tidak sanggup menerima telepon itu. Karena telepon itu mengandung hal-hal yang membuat aku pusing dengan bahasa anak-anak," ucap Asmoro dengan jujur yang ingin menghindari Scarlett.
"Lebih baik kamu katakan kalau aku sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan kalau mereka berbicara di ponsel. Aku sangat menderita sekali. Karena penderitaanku tak akan habis. Mereka memakai bahasa bayi yang tidak aku mengerti kecuali Sean," perintah Asmoro.
Mau tidak mau Ian memandang ponselnya berdering berkali-kali. Ia sedang mencari kata-kata yang tepat agar tiga kurcaci itu tidak mengobrol pada Asmoro. Dengan terpaksa ia memutuskan untuk keluar dari ruangan kerja itu. Ia sengaja mencari keberadaan Adelia. Karena hanya Adelia saja yang pandai mengobrol sama mereka.
"Aku yakin Adelia bisa berbicara dengan mereka. Jujur aku sendiri juga tidak tahu apa yang dikatakan oleh mereka ketika ditelepon. Mau nggak mau Adelia harus memindahkan kode-kode dari mereka," batin Ian sambil melihat Stella dan Adelia sedang mengobrol di taman belakang.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Ian memutuskan untuk menyerahkan ponsel itu. Adelia langsung meraihnya dan menatap wajah Ian. Dengan begitu Ian tersenyum lucu dan meninggalkan mereka.
"Akhirnya aku bebas tanpa harus ada semprotan dari ketiga kurcaci kecil-kecil begitu kalimatnya sangat mengerikan sekali. Bahkan mereka tidak segan-segan berbicara seperti orang dewasa," batin Ian.
Selesai mendapatkan ponsel dari Ian, Adelia mengerutkan keningnya. Ia sendiri bingung, Kenapa ponsel milik sang kekasih berada di tangannya? Ketika ingin bertanya, Ian sudah pergi terlebih dahulu. Akhirnya Adelia mengurungkan niatnya dan tidak bertanya apapun.
"Kenapa ponselnya Kak Ian ada di tanganmu?" tanya Stella.
"Aku sendiri tidak tahu. Lagian juga dia tidak memberikan alasan apapun," jawab Adelia.
"Sepertinya kita harus bersatu deh. Kita sekarang nggak bisa diam-diaman seperti ini. Kamu tahu kan musuh keluarga kita sebenarnya siapa? Jika kita tinggal diam maka mereka bisa membunuh kita," tanya Stella yang menjelaskan isi hatinya agar Adelia mengetahuinya.
"Apa maksud kakak sebenarnya?" tanya Adelia yang tidak paham apapun.
__ADS_1