
Disclaimer.
Maaf readersku... Berhubung tadi pagi ada masalah sedikit dengan isi babnya. Maka aku ganti yang baru.
Terima kasih telah mengikuti kisah Lampard sang kakek tampan.
Silakan dibaca.
"Baik kak," jawab Stella dengan semangat.
"Jika kamu ke Surabaya bersama Adelia," ucap Alexa yang menggantung.
"Aku ingin mengetahui siapa ibuku?" tanya Stella.
"Nanti aku rundingkan ke kak Martin dulu. Enaknya bagaimana? Bisa nggak kita memakai jalur udara? Kalau kita memakai jalur udara, mau tidak mau wajahmu akan terlihat di bandara. Jika memakai jalur darat, aku kasihan sekali sama anak-anakku yang capek dalam perjalanan ke sana," jelas Alexa.
"Baiklah Kak. Aku tunggu kabar selanjutnya," balas Stella.
"Kalau begitu istirahat. Sudah malam tubuhmu jangan terlalu keras untuk melakukan aktivitas terlebih dahulu. Nanti dimarahin sama para dokter," hibur Alexa.
"Kalau begitu baiklah Kak. Aku akan menurutinya. Selamat malam," pamit Stella.
Stella kembali ke kamar dan melihat Adelia yang sudah tertidur pulas. Kemudian Stella mulai berbaring di samping Adelia. Dalam benaknya Stella sangat rindu dengan sang ibu. Dirinya tidak akan marah sama sekali ke ibunya.
Akhirnya Stella memutuskan untuk memejamkan matanya dan tidur. Sementara di taman belakang, Martin dan Hatori sedang bersantai. Mereka sedang menikmati indahnya malam bertabur bintang. Hatori tidak menyangka kalau dirinya bisa menemukan keluarganya satu persatu.
"Bagaimana kabarmu Hatori?" tanya Martin.
"Kabarku baik-baik saja tuan," jawab Hatori. "Bagaimana kabar Tuan sendiri?"
__ADS_1
"Kabarku juga baik," jawab Martin sambil menyeruput kopi hitamnya. "Apakah kamu bahagia bisa bertemu keluargamu?"
"Sangat bahagia tuan. Aku dulu pernah merasa di dunia ini tidak punya siapa-siapa. Gara-gara kejadian mengirimkan buah ke mansion anda, aku bertemu dengan Adelia. Di sanalah aku merasakan ada sesuatu yang mengikat batinku. Aku ingin bertanya lebih lanjut tapi Adelia keburu dipanggil dengan kekasihnya itu," jawab Hatori sambil tersenyum malu.
"Memang sudah seharusnya kalian dipersatukan kembali. Kalian harus bersatu untuk merebut, apa yang akan menjadi milikmu semuanya. Aku akan mendukung kalian untuk menghancurkan keluarga Tutik," ucap Martin yang geram dengan keluarga Tutik.
"Jujur saja tuan, aku tidak mengenal siapa mereka? Aku hanya mengenal ayahku dan kedua orang tua yang mengasuhku. Selebihnya Aku tidak tahu lagi," Hatori berkata jujur karena tidak tahu apa-apa soal keluarga besarnya itu.
"Tidak apa-apa. Aku tahu papamu belum siap menceritakan semuanya. Karena papamu takut kalian terpukul dan melakukan di luar batas. Jika itu sampai terjadi maka bapakmu tidak bisa berbuat apa-apa," jelas Martin.
"Itu benar. Anak mana yang tidak peduli dengan kehidupan keluarganya. Tiba-tiba saja kami dihadapkan dengan masalah ini. Belum lagi ditambahin dengan masalah baru. Pasti Kami akan marah. Seharusnya Kurumi menjadi hak kami malah direbut orang seenaknya saja.mereka yang menikmati hasil aset Kurumi semuanya. Lalu adikku Stella dibuat menderita. Saking menderitanya adikku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi adikku adalah seorang perempuan yang memiliki hati lemah dan rapuh," papar Hatori.
"Ya kamu benar. Mereka menjadikan Stella sebagai pembantu. Dari jam tiga pagi hingga jam dua belas malam. Seluruh pekerjaan rumah dan cuci baju Stella yang mengerjakan semuanya. Jika ada yang tidak beres maka Stella menjadi sasaran utamanya. Nggak Tutik dan John saja yang menindas adikmu. Ditambah lagi dengan Patty. Patty lebih kejam dan sering menghajarnya hingga tulang rusuknya ada yang retak. Aku masih menyimpan hasil pemeriksaannya itu. Jika Patty macam-macam kemungkinan besar kami bisa melimpahkan bukti itu ke dalam pengadilan. Tapi aku tidak yakin soal itu. Keluarga itu sangat licik sekali dan bisa memutarbalikkan fakta. Bahkan pengacara tergugat sering di suap olehnya. Bisa dipastikan sang penggugat itu kalah kelak. Merekalah yang bisa melenggang dengan bebas. Sementara sang tergugat masuk dalam penjara," ungkap Martin sebuah fakta yang mencenangkan bagi Hatori.
"Yang bener saja? Kok bisa ya kasusnya seperti itu? Ternyata mereka licik sekali!" decak Hatori dengan geram.
"Bukannya belum berani," sahut Alexa yang baru saja datang membawa snack. "Kami masih mencari kelemahannya terlebih dahulu. Jika tidak kami yang akan menjadi bulan-bulanannya mereka. Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang terkena gulung tikar. Gara-gara menyenggol mereka."
"Jika kita menyenggol berarti?" tanya Hatori.
"Bisa dipastikan hancur. Tapi sedikit sih. Makanya sebelum beraksi kita harus mengumpulkan bukti-bukti dan kelemahan mereka. Jika semuanya ada di tangan kita. Bisa dipastikan Kita menyerangnya secara besar-besaran," jawab Alexa yang menjelaskan rencana selanjutnya.
"Terbaik deh istriku ini," puji Martin di depan Hatori.
"Sepertinya aku minder jika berdekatan dengan kalian," ujar hattori yang merasa minder jika berdekatan dengan orang-orang pintar.
"Jangan minder begitu. Justru kamu akan mendapatkan ilmu baru lagi sampai taktik baru untuk menyerang musuh. Ditambah lagi kamu bisa menguasai ilmu bisnis secara langsung tanpa harus pergi ke dosenmu itu," jelas Martin yang mengetahui Hatori tidak pernah lulus kuliah.
"Jadi, anda tahu jika aku tidak pernah lulus kuliah?" tanya Hatori sambil terkekeh.
__ADS_1
"Potongan kaki kamu mah udah jelas gak pernah lulus kuliah. Kamu paling males bila bertemu dengan dosen killer? Iya kan aku aja deh. Ketimbang kamu kuliah mending langsung praktek saja. Soalnya aku lihat kamu tidak minat untuk belajar. Namun kamu paling jago untuk praktek," ujar Alexa yang membuka kartu Hatori.
"Aish... Jangan buka kartu ya kak di depannya papa. Nanti aku bisa digantung di atas Monas sana," Hatori meminta agar Alexa tidak membuka kartunya di depan Agatha.
"Memangnya kenapa? Meskipun kamu nggak ngomong. Papamu tahu sendiri kok," Alexa tersenyum nyalang dan menakuti Hatori.
"Bagaimana papa tahu? Kan Papa berada di Jepang untuk menjadi TKI. Katanya Papa uang yang didapatkan hanya cukup untuk makan dan kuliahku saja," Hatori menjelaskan keadaan keuangannya.
Mereka berdua terkejut atas penjelasan Hatori. Bagaimana bisa Agatha membohongi anaknya itu. Lebih baik mereka tidak akan membuka identitas Agatha sebenarnya. Mereka berharap hattori bisa menjadi pria bertanggung jawab.
Manila Filipina.
Ian, Jacob dan Lampard sudah sampai di hotel. Mereka sedang membicarakan sesuatu untuk langkah selanjutnya. Jacob yang sedang mendapatkan tempat rahasia Exodus langsung memberikan ke Lampard.
"Ini kak petanya," ucap Jacob sambil memberikan map itu ke Lampard.
"Berada di mana ini?" tanya Lampard sambil meraih map itu.
"Berada di hutan belantara. Yang di mana orang tidak dapat menjangkaunya. Begitu juga dengan aparat kepolisian. Mereka juga tidak dapat menjangkaunya. Jadi bisa dipastikan mereka memiliki tempat tersembunyi," jawab Jacob yang membuat Lampard terkejut.
"Amazing sekali ternyata. Mereka memiliki cara yang licik untuk menyembunyikan sesuatu dari dunia ini," kesal Lampard.
"Ada tambahan satu lagi Kak," potong Jacob.
"Apa itu?" tanya Lampard.
"Tempat itu adalah tempat persembunyian sang ketua. Ditambah lagi mereka memiliki ladang ganja sebesar tujuh hektar yang berada di markas tersebut," jawab Jacob yang membuat mereka terkejut.
"Benarkah itu?" tanya Ian.
__ADS_1