
"Iya itu benar," jawab Adelia.
"Bisakah kamu ke sini?" tanya Stella yang melambaikan tangannya ke arah Hatori.
Tanpa banyak bicara Hatori mendekati Adelia dan Stella. Lalu pria muda itu menarik kursinya.
"Namanya siapa?" tanya Stella.
"Kamu jangan tertawa mendengar namanya. Karena nama itu seperti judul anime dari Jepang," jawab Adelia.
"Apakah itu benar?" tanya Stella yang penasaran.
"Itu benar. Namanya adalah... Biar saja dia yang menjawabnya," jawab Adelia yang tidak mau memberitahukan nama pria itu.
Hatori menghempaskan bokongnya di hadapan mereka. Pria itu menatap intens wajah Adelia dan Stella. Jujur Hatori sangat terkejut sekali melihat mereka sangat mirip sekali.
"Astaga?" pekik Hatori.
"Ada apa?" tanya Stella.
"Wajah kita sangat mirip sekali. Bagai pinang dibelah tiga," jawab Hatori.
"Bukan tiga tapi dua," ucap Stella sambil tersenyum manis.
"Kita kan bertiga bukan berdua," ujar Hatori sambil menunjuk Adelia. "Apakah kamu tidak mengakui di sini ada Adelia?"
"Ah... Iya... Kamu benar. Kenapa aku melupakan adikku ini?" ucap Stella sambil melihat Adelia agak kecewa.
"Kamu nggak nanya siapa namaku?" tanya Hatori dengan penuh percaya diri.
"Aku lupa," sahut Adelia.
"Aku nggak nanya kamu. Aku nanya gadis satu ini yang sedang berbaring di ranjang," kesal Hatori.
"Jangan begitu. Nanti kalau kalian berantem aku yang repot," Stella menatap wajah Adelia dan Hatori sedang ngambek. "Siapa namamu?"
"Namaku Hatori Yosef Kanagawa. Semua orang memanggilku dengan nama Hatori. Kamu boleh memanggilku Hatori atau Yosef. Terserah kalian," jawab Hatori.
Kedua gadis itu terkejut mendengar nama belakangnya Kanagawa. Mereka saling memandang dan bingung. Kenapa nama belakangnya sama semua?
Setelah mengenalkan namanya Hatori menggaruk kepalanya tidak gatal. Lampard dan Gio hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Mereka baru mengetahui kalau nama belakangnya sama persis. Akhirnya Lampard memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Dia adalah Hatori Kanagawa. Dia adalah saudara kembar kalian. Jadi jika kalian terkejut bisa dimaklumi. Karena kalian terpisah semenjak bayi," jelas Lampard yang membuat Adelia dan Stella menganggukkan kepalanya.
Kedua gadis itu menatap wajah Hatori sambil mengulas senyum. Mereka langsung merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu Hatori bergegas berhamburan dan memeluk mereka secara bersamaan.
__ADS_1
Meskipun tanpa tes DNA, Hatori yakin kalau Adelia dan Stella adalah saudaranya. Di sisi lain hatinya sangat membuncah bahagia.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Hatori yang melepaskan pelukan mereka.
"Tidak," jawab Lampard yang memandang wajah Hatori. "Kamu tinggal bersama siapa?"
"Aku tinggal bersama Bu Gita sama Pak Kusno. Mereka adalah keluarga angkatku. Mereka yang merawatku sejak kecil," jawab Hatori.
"Apakah kedua orang tua angkatnya berbahaya?" tanya Lampard dalam hati.
"Bolehkah aku bertemu dengan mereka?" tanya Lampard yang ingin memastikan mereka bahaya atau tidak.
"Boleh saja. Siang-siang begini mereka berada di rumah," jawab Hatori.
"Kalau begitu, hubungi mereka suruh ke sini. Aku ingin ngomong sesuatu," perintah Lampard.
"Sebentar, aku hubungi terlebih dahulu," ucap Hatori.
"Aku tunggu," balas Lampard yang meninggalkan mereka sedang berbincang.
Melihat kepergian Lampard, Hatori bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya? Sepertinya Tuan Lampard sangat serius kali. Lalu Hatori mengambil ponselnya di saku jasnya. Dirinya mencari nomor ponsel milik Pak Kusno. Setelah menemukan Hatori menghubungi pak Kusno langsung.
Di kediaman Pak Kusno, ada seorang pria paruh baya sedang menikmati teh hangat. Pria itu mendengar ponsel Pak Kusno yang berada di depannya berbunyi.
"Tumben Hatori jam segini telepon," ucap pak Kusno dalam hati.
Kemudian Pak Kusno mengangkat telepon itu lalu menyapa, "Halo. Ada apa?"
"Pak, bapak ada waktu nggak?" tanya Hatori.
"Setiap hari bapak menganggur," jawab Pak Kusno. "Ada apa ya?"
"Bos baruku ingin bertemu dengan bapak," jawab Hatori. "Apakah bapak bisa ke sini?"
"Bisa," jawab Pak Kusno yang tidak memiliki kecurigaan apapun.
"Kalau begitu aku tunggu Pak," balas Hatori.
Sambungan terputus.
Pak Kusno menggaruk kepalanya tanda tidak gatal. Pria paruh baya itu pun bingung dengan keadaan di sini. Jujur Pak Kusno ingin sekali menolaknya. Namun apa daya sekali diperintah Hatori dirinya harus datang.
"Ada apa?" tanya pria paruh baya itu sambil menaruh cangkir di atas meja.
"Maaf tuan. Aku disuruh tuan muda datang ke rumah bos barunya. Saya bingung karena di sini ada Tuan. Ini bagaimana ya tuan," tanya Pak Kusno.
__ADS_1
"Ketimbang kamu bingung, lebih baik aku ikut. Aku sudah lama tidak ketemu bocah tengil itu. Ingin rasanya mengajak bocah tengil itu ke Jepang," jawab pria paruh baya itu.
"Lalu bagaimana dengan Nona Stella dan Nona Adelia?" tanya Pak Kusno lagi. "Yang sampai saat ini belum ditemukan sama sekali jejaknya."
"Kalau sudah tidak bisa ditemukan, Ya sudahlah. Aku menyerah pada keadaan. Aku memang salah saat itu. Kenapa mereka aku pecah satu persatu. Seharusnya aku membawanya ke Tokyo. Kedua Anak perempuanku sangat menderita sekali. Aku takut Tutik dan John menghabisi mereka," ucap pria itu dengan perasaan sedih.
"Tenang saja tuan. Aku jamin mereka tidak akan pergi dan meninggalkan dunia ini. Aku yakin mereka sedang mencarimu," hibur Pak Kusno. "Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Aku akan menyuruh para pengawal untuk beristirahat. Aku tidak mau membawa pengawal itu ke rumah bosnya Hatori yang baru. Jujur aku tidak mau membuat keributan di manapun."
"Sebelum Anda pergi tuan, ada kalanya Anda berganti pakaian terlebih dahulu. Aku takut hattori akan curiga terhadap penampilan tuan yang keren itu," sahut Pak Kusno yang mengingatkan akan penampilan pria paruh baya itu.
Mau tidak mau pria itu berganti pakaian dengan baju santai. Saking santainya pria itu hanya memakai kaos oblong dengan celana jeans. Dengan penuh percaya dirinya pria itu mendekati Pak Kusno.
"Mari Tuan kita berangkat. Kita naik taksi online saja," ajak Pak Kusno.
Kembali lagi ke Mansion Gio.
"Apakah aku terlalu cepat untuk berkoordinasi tentang penyelamatan ketiga saudara kembar itu?" tanya Lampard kepada Gio dan Martin.
"Menurutku tidak. Karena kalau kita mengulur waktu mereka juga dengan bahaya besar. Tutik dan John akan memburu Stella. Itu hal utama yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Jika tahu semakin hari kita bisa menyekat ruang gerak mereka. Itulah tujuan utamaku. Kalau tidak begitu bisa jadi mereka menyerang. Memang kalau dipikir kasus ini sangat rumit sekali. Rumitnya kita masuk ke dalam pusaran keluarga Kanagawa. Tapi tujuan utama kita adalah untuk menghancurkan Exodus," jawab Gio sambil memberikan ide buat Lampard.
"Kak Gio itu benar. Kita terpaksa harus masuk ke dalam masalah keluarga Kanagawa. Jika tidak kita tidak bisa menghancurkan mereka. Kamu tahu kan kekuatan mereka kayak apa? Kalau kita tidak menyerangnya dari dalam, Aku pastikan kita kalah telak. Itu dalam otakku akhir-akhir ini. Alexa juga berkata seperti itu. Jika Alexa tidak memiliki anak. Maka dirinya juga ikut-ikutan turun ke Medan Ini. Bisa jadi dirinya menjadi mata-mata yang aku utus masuk ke dalam sarang buaya," jelas Martin.
"Kalau begitu kita bersiap dan membuat rencana selanjutnya. Syukur-syukur Pak Kusno membantu kita masuk ke dalam masalah Hatori sebenarnya," tambah Gio.
"Baiklah aku setuju pendapat kalian," balas Lampard yang sudah mantap dengan keputusannya itu.
Beberapa saat kemudian ada seorang pengawal mengetuk pintu ruangan kerja Gio. Lalu Gio berteriak menyuruhnya masuk ke dalam.
Pengawal itu pun membuka pintu sambil menghadap Gio. Ia membungkukkan badannya sambil memberitahu sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Gio.
"Tuan maaf mengganggu. Di bawah ada kedatangan tamu yang bernama Pak Kusno," jawab pengawal itu.
"Suruh dia ke sini! Kalau bisa kamu antarkan ke sini!" Perintah Gio yang mendapat anggukan dari pengawal tersebut.
Pengawal itu mengundurkan diri untuk menjemput kedua tamu di bawah. Melihat kepergian sang pengawalnya Gio memegang pulpen lalu memikirkan sesuatu.
"Di mana Kak Nano ya? Katanya ke sini?" tanya Lampard.
"Nano sedang meninjau lokasi untuk membuat pabrik baru perusahaannya itu. Kemungkinan besar dia akan membuka pabrik baru," jawab Gio.
Sembari menunggu kedatangan mereka, Gio menyuruh pelayan untuk menyiapkan teh hangat sebanyak tujuh orang. Gio yakin pak Kusno akan membawa seseorang ke sini.
"Kenapa Kakak meminta tujuh gelas teh? Sementara kita hanya empat orang saja?" tanya Martin.
__ADS_1