
Pagi yang cerah di kota Jakarta. Hatori terbangun dari tidurnya. Ia tidak lupa mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta. Karena dirinya masih diberikan hidup untuk hari ini.
Tak lama Hatori mengingat mimpinya itu. Ia bermimpi bertemu Scarlett dewasa. Scarlett menjelma sebagai gadis yang sangat cantik sekali. Hidungnya sangat mancung, rambutnya pirang dan juga tinggi badannya semampai. Bisa dikatakan Scarlett seperti digambarkan dalam lukisan tersebut.
"Apakah ini nyata buat aku? Kalau Scarlett saat ini sudah menjadi dewasa. Rasanya tidak mungkin. Tapi Scarlett sangat cantik sekali ketika aku bertemu dengannya sewaktu dewasa. Sepertinya aku harus pergi ke rumahnya kak Martin. Aku ingin mencari keberadaan Scarlett. tunggu aku Scarlett. Paman Hatori akan datang ke rumahmu," ucap Hatori dengan penuh semangat.
Hatori segera membersihkan tubuhnya sebelum pergi ke rumah Martin. Dengan penuh semangat Hatori membayangkan scarlet sudah dewasa. Rasanya Hatori harus berjuang untuk mendapatkan scarlet. Apakah Hatori akan melamarnya? Entahlah.
Selesai mandi Hatori langsung memakai baju formalnya. Pria berkacamata itu melihat wajahnya di kaca. Ia lalu tersenyum sambil merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Hatori benar-benar jatuh cinta kepada scarlet. Namun apakah kak Martin mau menerimanya sebagai menantunya kelak? Hanya Martin dan Alexalah yang tahu jawabannya.
"Rasanya aku sudah tampan hari ini. Tunggulah aku gadis kecilku. Kamu akan menjadi milikku selamanya," ucap Hatori dalam hati.
Setelah itu Hatori keluar dari kamar. Hatori mendekati Agatha sambil memukul lengan kekar sang ayah. Dengan cepat Agatha menyilangkan kaki kirinya ke kaki kanan Hatori. Tangan kanannya memegang tangan kiri Hatori. Setelah itu....
__ADS_1
Bugh!!!
"Argh!!!!" teriak Hatori dengan kencang hingga membuat Anita dan Yamato keluar.
"Ada apa ini?" tanya Anita sambil menatap wajah sang suaminya sedang tersenyum mengejek Hatori.
"Tuh putramu. Ternyata putramu itu tidak bisa mengimbangi ilmu bela diriku," jawab Agatha yang berlalu pergi meninggalkan mereka.
Anita langsung menarik baju Agatha dan membantingnya ke lantai. Anita sangat marah sekali kepada Agatha. Bisa-bisanya Agatha membanting putranya sendiri. Ia tidak terima kalau Sang putra mendapatkan celaka seperti itu.
Agatha hanya tersenyum dan tidak marah kepada Anita. Agatha berdiri sambil menatap dan memegang Anita. Lalu Agatha memeluknya dan berbisik, "Ternyata kamu sangat pandai sekali memakai ilmu bela dirimu itu. Sepertinya Hatori belajar sama kamu deh."
"Jelas. Jangan sekali-sekali kamu meremehkan seorang perempuan. Amarah perempuan itu melebihi amarahnya seorang. Bisa-bisa ruangan ini akan hancur dengan sendirinya. Setelah kamu membanting putraku. kamu akan mendapatkan hukuman dariku," jawab Anita.
__ADS_1
"Apakah kamu akan menghukumku di atas ranjang?" tanya Agatha sambil memainkan kedua alisnya lalu merayu Anita.
"Oh tentu tidak. Mulai malam ini hingga seminggu... kamu akan tidur di atas sofa di sini," jawab Anita sambil menunjuk sofa itu.
Agatha menelan salivanya dengan susah payah. Jujur ia tidak ingin tidur sendiri. Ia langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bisakah kamu menarik omonganmu?"
"Oh tidak bisa. kamu mencoba menegosiasi tentang hukumanmu itu. Sepertinya aku tidak akan merubah hukumanmu itu. Mulai malam ini kamu akan tidur di sini hingga minggu depan. Apakah kamu mengerti?" tanya Anita sambil melepaskan dirinya dari pelukan Agatha.
"Oh Tuhan salahku apa hari ini. Kenapa istriku tiba-tiba saja menghukumku seperti ini? Aku tidak bisa tidur sendiri. Aku harus mencari cara untuk tidur bersama istriku. Karena dialah yang membuat aku tidur dengan tenang," batin Agatha sedang meringis.
Hatori dan Yamato tertawa kecil sambil menatap Agatha. Mereka sengaja menertawakan Agatha yang sedang menderita. Sedangkan Anita memutuskan untuk pergi ke dapur. Anita sangat marah sekali kepada Agatha. seharusnya Agatha tidak perlu membanting Hatori. Tapi Agatha sudah keterlaluan sekali. maka dari itu Agatha mendapatkan hukuman berat.
"kok kalian tertawa sih melihatku seperti ini?" tanya Agatha yang memelas.
__ADS_1