
Memang benar apa yang dikatakan oleh pegawai di sana titik tidak ada yang membuat keonaran sound system disuruh dimatikan. Begitu juga dengan lampu-lampu yang gemerlapan dimatikan juga titik semua orang-orang disuruh menyingkir terlebih dahulu para pegawai itu pun tidak melihat siapa yang datang. Mungkin mereka berpikir, yang datang adalah makhluk tak kasat mata. Ketimbang rumpi yang tidak jelas mereka memutuskan untuk kembali bekerja.
Lampard dan Martin sudah tiba di ruangan Imron. Untung saja tidak ada wanita penghibur malam yang menggoda mereka. Jika ada yang menggoda mereka, maka Lampard bisa mengobrak-abrik klub tersebut. Memang, Lampard sangat unik sekali. Seumur hidup ia tidak pernah menginjakkan kakinya di klub malam.
Jika ada pertemuan bersama klien di klub malam, Lampard meminta Ian untuk membatalkannya. Ia lebih memilih bertemu di restoran atau di kantor. Banyak yang bilang Lampard adalah seorang CEO yang sangat membosankan. Tapi mau bagaimana lagi mereka harus menghormati keinginan Lampard. Jika mereka bersikeras mau tak mau Lampard memutuskan hubungan kerja itu secara langsung. Meskipun mereka memiliki suatu keuntungan yang sangat besar bagi perusahaannya, Lampard tidak memperdulikan itu. Lalu bagaimana dengan Gio atau Martin? Mereka tidak jadi masalah karena perusahaan S&T Company sudah berada di tangan Lampard.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Mata Lampard menangkap Gio yang sedang duduk dengan elegan. Ia mengerutkan keningnya karena sebenarnya misi ini tidak mengajak Gio sama sekali.
“Kakak,” pekik Lampard.
“Ada apa? Kok Sepertinya kamu kaget? Memangnya ada apa?” tanya Gio bertubi-tubi.
“Nggak ada apa-apa. Tumben Kakak ada di sini. Bukannya kakak malam-malam ada di rumah?” tanya Lampard yang menghempaskan bokongnya di sofa.
“Aku baru saja ketemu klien dari Jerman. Dia ingin berinvestasi di Taurus Corps. Tapi aku sedang mempertimbangkan enaknya gimana? Aku akan ngomong sama Alexa terlebih dahulu,” jawab Gio yang mengambil majalah dan membacanya.
“Siapakah orangnya?” tanya Lampard yang penasaran.
“Dia seorang perempuan teman kecilnya Alexa. Namanya Nita anaknya Burhan,” jawab Gio.
“Nita Angelica maksudnya? Dia pernah mengirim email ke aku untuk disambungkan ke Alexa. Kita pernah berinteraksi dan mengobrol tentang restoran. Jujur dia mengajakku tapi aku nolak. Aku bilang ke dia kalau soal restoran jangan mengajakku. Karena aku bukan ahli dalam bidang makanan,” ucap Lampard dengan serius hingga membuat dua orang menepuk jidatnya bersama-sama.
Jujur mereka kaget dengan alasan Lampard. Bisa-bisanya rapat ngomong tidak ahli dalam bidang makanan. Nyatanya, perusahaan yang dipegangnya menjadi besar dan mulai melanglang buana. Terus makanan yang dibuatnya adalah ide dari otaknya. Mereka hanya bisa merutuki kebodohan Lampard.
“Kamu itu brengsek ya,” kesal Martin duduk di sofa single.
“Maksud kamu apa? Aku mengatakan sebenarnya kok. Aku pernah bilang, kalau aku tidak pandai dalam bidang kuliner. Aku pernah mencoba membuat video tentang mereview makanan seperti Koko Carlos itu. Tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya lebih cenderung menghabiskan makanan itu. Ketimbang me-review makanan, lebih baik aku istirahat,” jelas Lampard membuat mereka semakin geram.
__ADS_1
“Lalu, Kenapa kamu membuat biskuit sehat dengan enak?” tanya Gio yang menggelengkan kepalanya.
“Itu lain lagi bro,” jawab Lampard yang tidak mau memberikan alasannya.
“Terserahlah apa katamu. Memiliki adik sepertimu itu sama seperti makhluk tak kasat mata. Kebanyakan misteriusnya ketimbang terbukanya,” keluh Gio. “Dan kamu ngapain di sini? Bukannya kamu sedang di kamar berpelukan sama guling? Atau kamu bosan dengan kamarmu itu?”
“Aku ada misi terselubung,” jawab Lampard. “Sejujurnya misi ini karena anak kembar itu.”
“Maksud kamu?” tanya Gio lagi.
“Kamu tahu kalau Adelia itu pacarnya Ian. Pagi tadi dia jalan sama Ian di pusat perbelanjaan milik Martin. Baru saja datang Adelia sudah ada yang mengikuti. Sebelum mereka berkeliling Ian mengajak ke toko Winda. Di sinilah Adelia diserang oleh Patty Smith. Wanita itu menganiaya Adelia sampai terluka. Tanpa sadar wanita itu mengatakan kalau Adelia adalah Stella. Jika ini dibiarkan terus-menerus maka kedua gadis itu dalam masalah besar Adelia yang tidak tahu apa-apa terkena getahnya. Sepertinya juga Stella tidak tahu apa-apa soal aset Kurumi,” jawab Lampard yang membuat Gio terkejut.
“Okelah. Masalah semakin luber seperti air. Ternyata dugaanku benar. Jika Adelia dibiarkan keluar dari mansion maka mereka bisa melacaknya dan menculiknya. Bahkan mereka akan menjualnya ke Meksiko. Di mana Alexa?” tanya Gio.
“Alexa bersama anak-anak,” jawab Martin.
“Kenapa kamu tidak mengajaknya?” tanya Gio yang tidak tahu Adelia di mamsionnya.
“Ya udah deh kalau gitu nggak masalah. Sekarang kita harus menjaga dua anak itu. Kita nggak boleh lengah sedikitpun karena ini ancaman besar buat semuanya. Baru saja aku mendapat kabar dari Ibra bahwa episode sedang membuat ulang sama gangster Cina sana. Aku sudah tidak tahu lagi Bagaimana ceritanya ini,” jelas Gio.
“Bener-bener deh tuh Exodus. Kemungkinan besar dia akan membangun pabrik di sana,” kesal Lampard.
“Aku punya usul kepada kalian, bagaimana Stella dan Adelia diajarkan ilmu bela diri. Selain itu juga mereka harus memiliki keterampilan minimal menembak memakai airsoft gun. Jika tidak, mereka tidak bisa menyelamatkan nyawanya ketika musuh mengejarnya. Bagaimana usulanku?” tanya Gio.
“Sebuah ide yang bagus. Sepertinya Alexa yang akan mengajarkan mereka atau juga Leon dan lainnya Alexa juga sudah lama tidak turun ke lapangan,” jawab Martin langsung menyetujui usulan Gio.
“Ah... Iya.. kamu benar. Beberapa bulan ini Alexa jarang ke klub menembak. Martin, segera buat jadwal untuk Alexa. Cepat atau lambat Alexa juga ikut turun ke dalam masalah ini!” perintah Gio.
“Baiklah, aku setuju itu,” balas Martin.
Imron yang berada di lantai tiga sedang mengecek persiapan acara dadakan yang disebut dengan strip. Imron sangat konsisten dalam pembuatan acara dadakan tersebut. Sedangkan Jacob mengecek segala kesiapan CCTV yang berada di sana. Setelah selesai mereka keluar untuk pergi ke sebuah ruangan. Leon, Willy dan Rinto mempersiapkan segala macam makanan dan minuman di tempat itu. Akan tetapi mereka sengaja memasukkan obat di dalam gelas masing-masing. Mereka memang disuruh oleh Lampard untuk melakukannya.
__ADS_1
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Jacob.
“Sudah, tinggal menghubungi Patty,” jawab Imron.
“Tenang saja. Nggak usah dihubungi. Aku sudah menaruh beberapa orang untuk memantau kedatangan Patty,” ucap Jacob.
“Natalie nggak ikut?” tanya Imron.
“Dia di markas lagi pengen ketemu Stella. Aku berharap Stella sadar,” sahut Jacob.
Markas Black Horizon.
“Stella,” panggil Natalie dengan lembut.
Stella yang masih sesenggukan langsung membuka matanya. Ia masih merasa takut untuk tinggal di tempat ini. Telinganya menangkap suara lembut dari seorang perempuan yang dikenalnya. Kemudian Stella melihat Natalie sambil menghapus airmatanya.
“Nona Natalie,” sapa Stella.
“Janganlah menangis terus-terusan,” ucap Natalie dengan lembut. “Apakah kamu nggak capek menangis terus-terusan seperti ini? Sampai-sampai Kak Raka menunggumu untuk diperiksa.”
“Aku takut Kak. Apakah aku sudah dijual ke Meksiko?” tanya Stella yang masih ketakutan.
“Kalau sudah dijual, kenapa?” tanya Natalie.
“Aku masih pengen hidup kak. Impianku cuman satu yaitu nikah dengan Lee Min ho,” jawab Stella dengan asal agar terlepas dari jeratan mafia.
Sontak saja Nathalie terkejut mendengar pengakuan Stella. Entah kenapa Natalie memegang perutnya seakan ingin meledakkan tawanya di ruangan itu. Namun dirinya menahan agar tidak tertawa.
“Apakah kamu serius ingin menikahi Lee Min Ho?” tanya Natalie.
“Iya kak.. ketimbang aku dijual ke Meksiko,” jawab Stella yang masih tidur miring. “Kak, apakah aku sudah dijual ke Meksiko?”
__ADS_1