
Sesampainya di rumah Alexa, Hatori langsung masuk ke dalam dan melihat Scarlett bermain dengan riang gembira. Ia tersenyum dan melihat gadis kecil itu. Kemudian Hatori mendekati Scarlett lalu menyapanya, "pagi Scarlett."
"Pagi," sapa Scarlett balik sambil melihat wajah Hatori. "Paman Ninja Hatori."
Hatori akhirnya duduk di lantai sambil tersenyum, "Kamu sudah makan belum?"
"Sudah," jawab Scarlett sambil tersenyum manis. "Memangnya kenapa paman?"
"Tidak apa-apa. Ya udah... Aku mau berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal... Ikuti apa kata Mama," pesan Hatori kepada Scarlett.
Sebelum berdiri Martin dan Alexa keluar. Pasangan suami istri itu sangat terkejut atas kehadiran Hatori. Mereka mulai mendekati Hatori sambil menyambutnya dengan hangat.
"Kamu ke sini Kok nggak ngomong-ngomong sih?" tanya Alexa dengan ramah.
"Ah iya.... Maaf... Hari ini aku ditugaskan untuk pergi ke pabrik. Soalnya banyak buah-buahan yang akan datang ke pabrik. Aku harus mengetes uji kelayakan buah itu. Berhubung pabrik dan rumah ini arahnya sama. Aku sengaja mampir ke sini," jawab Hatori sambil mencari alasan yang tepat.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Hatori itu sudah sangat tepat. Karena Hatori sendiri memiliki tugas khusus untuk mengecek buah-buahan. Berhubungan seminggu ke depan dirinya ke pabrik. Maka kali ini ia akan mampir ke rumah ini demi melihat Scarlett.
"Paman Hatori mencari alasan saja ma. Beliau ke sini demi melihatku bermain terlebih dahulu," celetuk Scarlett dengan jujur yang membuat Hatori terkejut.
"Apa itu benar?" tanya Martin.
"Iya itu benar. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada orangnya," jawab Scarlett dengan jujur.
Hatori hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lupa kalau dirinya berhadapan dengan anak kecil. Dengan terpaksa Hatori jujur dan meminta maaf. Lalu Martin pun mengajak Hatori ke tempat lain.
Hatori hanya menganggukkan kepalanya. Lalu dirinya mengikuti Martin ke tempat tersebut. Sesampainya di sana Martin menatap mata Hatori. Entah kenapa Martin merasakan ada sesuatu yang lain pada diri Hatori.
"Beberapa hari yang lalu aku sudah curiga denganmu. Aku sebagai ayah Scarlett ingin bertanya sesuatu kepadamu," ucap Martin yang tiba-tiba saja mengeluarkan sikap tegasnya itu.
"Baiklah," sahut Hatori.
__ADS_1
"Jujurlah kepadaku. Apakah kamu sangat menyukai Scarlett?" Tanya Martin yang sudah mengetahui Hatori menyukai Scarlett sedari dulu.
Seketika Hatori terdiam dan tidak bisa berbicara. Jujur ia benar-benar sangat menyukai gadis kecil itu. Ia berjanji akan menunggu scarlet hingga dewasa. Ia tidak akan menikah sama sekali dengan siapapun.
"Iya Tuan Martin," jawab Hatori dengan jujur.
"Dia masih kecil. Belum bisa mengerti apa artinya cinta dan kasih sayang. Kalau kamu mau menunggunya hingga dewasa. Tunggulah. Aku juga sangat menyukaimu. Karena kamu adalah pria yang suka memperjuangkan apapun itu. Aku merestuimu. Jika kamu berjodoh dengan putriku. Maka kamu akan bertemu dengannya hingga dewasa kelak," pesan Martin sambil menepuk bahu Hatori sebanyak dua kali.
"Maafkan tuan. Jika saya lancang terlalu berkata jujur dengan perasaanku ini," jelas Hatori.
"Nggak jadi masalah. Lebih baik kamu jujur ketimbang menutupinya. Aku lebih menyukai orang jujur dari awal," ucap Martin.
"Kalau aku salah hukumlah," pinta Hatori dengan hati legowo.
"Siapa yang akan mengganggumu? Hanya karena menyukai putriku. kenapa aku harus melakukannya? Aku sendiri tidak jadi masalah tentang hal itu," jelas Martin. "Di luar sana... Banyak sekali yang ingin menjadikan Scarlett sebagai menantunya. Yah bisa dikatakan, mereka berambisi untuk mendekati keluarga kami. Mereka ingin melakukan kerjasama dan mengambil keuntungan lebih. Jika aku memberikan Scarlett kepada mereka. Bisa saja aku dijebak oleh mereka. Aku tidak mau itu."
__ADS_1
"Apakah bisa Aku mengatakan kalau itu adalah pernikahan politik perusahaan?" tanya Hatori yang menyimpulkan tentang pernikahan politik perusahaan.