
"Mama Alexa yang mengajariku menulis huruf kanji," jawab Scarlett.
"Paman tinggal dulu ya... mau menyelesaikan tugas dari Tuan Asmoro," pamit Hatori.
Scarlett tidak menjawab namun hanya menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu langsung menggambar. Entah apa yang digambar itu? Scarlett sendiri tidak tahu.
Tangan mungilnya menari indah di atas kertas. Matanya sedang memandang kertas dan otaknya mencoba menuntunnya menuangkan sesuatu di sana.
Lalu Hatori, Hatori sedang sibuk dengan dokumen-dokumen sialannya itu. Bayangkan saja baru masuk beberapa hari Hatori langsung disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Hal ini dikarenakan Asmoro tidak mau tahu soal pekerjaan seluruh divisi perusahaan tersebut. Melalui Hatori dan Ian, seluruh pekerjaan mereka dicek terlebih dahulu. Mereka juga mencocokkan data-data di lapangan.
Bagaimana kedua orang itu? Mereka paham akan sistem yang diciptakan oleh Asmoro. Mereka akan bekerja keras dan membangun perusahaan ini dengan sepenuh hati.
Patty yang sudah bosan di Lex Cafe N' restourant memutuskan membayarkan makanannya. Setelah itu Patty keluar dan meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam perjalanan Patty memegang perutnya sambil menyetir. Ia berusaha akan memancing Stella keluar dari persembunyiannya. Ia memilki ide baru. Yaitu Patty akan membuat selebaran dan ditempelkan ke tempat-tempat terbuka. Istilahnya Stella adalah seorang buronan.
"Aku akan memakai cara baru. Kemungkinan besar cara ini, banyak orang-orang yang mencari keberadaan Stella. Tapi aku harus mengeluarkan uang sekitar dua puluh juta jika ada yang mendapatkannya. Tapi tak apalah... Sepertinya aku harus melakukannya," ucap Patty dalam hati.
Ketika masuk ke dalam gang, mobil Patty sedang dihalangi oleh mobil pemadam kebakaran. Patty sangat kesal lalu menurunkan kaca mobil sambil berteriak, "Woy... Bisa minggir enggak sih?"
Seluruh orang berada di sana tidak memperdulikan teriakan Party. Mereka membiarkan Patty berteriak. Karena warga di sana mencoba membantu untuk memadamkan api yang masih menyala.
Dengan kesalnya, Patty keluar dari mobil sambil menahan amarah. Ia berjalan masuk ke dalam dan melihat rumah mewahnya terbakar. Dirinya sangat terkejut apa yang dilihatnya. Ia teringat akan dokumen-dokumen milik perusahaan Kurumi Company. Lalu ia berteriak histeris. karena seluruh dokumen yang dimilikinya hancur terbakar.
"Tidak.... Dokumenku!" teriak Patty hingga pingsan.
Orang-orang yang melihat Patty membiarkannya saja. Mereka tahu kalau Patty memiliki sifat dan tabiat buruk. Dan pengawal disana juga tidak mau membantunya. Karena sesuai perjanjian hitam di atas putih, John melarang memegang tubuh sang istri sama sang putri. adalah Patty tergeletak di jalanan.
Setelah Patty pingsan, datanglah Tutik. Wanita paruh baya itupun masuk ke dalam gang. Tutik mengerutkan keningnya saat melihat beberapa mobil pemadam kebakaran yang terparkir. Ia belum menyadari kalau rumahnya terbakar. Lalu Tutik masuk dan melihat rumahnya yang masih mengeluarkan api. Wanita paruh baya itupun hanya bisa melotot lalu merasakan jantungnya berdetak kencang. Tutik langsung pingsan sambil memegang jantungnya.
Selang lima menit kemudian, John melihat anak dan istrinya tergeletak di atas tanah. Ia segera mendekat dan mendekatinya sambil berkata, "Bangunlah... bangunlah... Sayang bangun... jangan sampai jantung kamu kumat lagi."
Salah satu pengawal yang melihatnya langsung mendekati John. Pengawal itu langsung menelan salivanya berkali-kali. Kemudian John menatap tajam ke arah pengawal itu sambil berteriak, "Kenapa kamu diam saja! Panggil ambulance cepat!"
Pengawal itu meraih ponselnya dan sambil mendial nomor ambulance. Ia meminta dua unit untuk segera dikirimkan ke lokasi kejadian.
__ADS_1
"Sudah tuan. Mereka akan kesini dengan cepat," ucap pengawal itu sambil ketakutan.
Di sudut lain, Aldo yang melihat rumah Patty terbakar langsung tersenyum smirk. Ia sangat puas sekali dengan pekerjaan para pengawalnya.
Jujur Aldo sakit hati ketika diremehkan sama Patty. Ia sudah berjanji akan menjadi pasangan hidupnya. Namun Patty menolaknya. Karena Aldo dibilang orang miskin.
Aldo memang orang yang sangat sederhana. Ia tidak pernah mengejek siapapun. Bahkan dirinya sangat ramah sekali dengan orang sekitarnya. Bisa dikatakan dirinya memiliki julukan si baik hati.
Setelah itu Aldo pergi dan merasa puas atas kejadian tadi. Ia tidak takut akan ancaman John. Ia sendiri sudah tahu, siapa John sebenarnya? Hanya menjetikkan satu jarinya, nasib John sudah berada di atas tanduk.
Bagaimana dengan tanggapan Liam? Liam lepas tangan jika Aldo sudah berkuasa. Liam akan membiarkan Aldo memimpin dengan baik. Ia tahu kalau sang keponakannya memiliki jiwa muda yang membara.
Kantor S&T Company.
Scarlett yang selesai menggambar langsung tersenyum bahagia. ia memang sengaja menggambar taman yang dipenuhi bunga sakura. Ia tidak sengaja menggambar Hatori yang sedang menggendong dirinya.
Memang Scarlett memiliki kejeniusan tiada Tara. Ia sering belajar menggambar dengan bentuk aneh dan pemandangan. Contohnya sekarang ini, gadis kecil itu menggambar pohon sakura dengan sangat indah sekali. Tak lupa juga dirinya menulis aku cinta kamu dengan tulisan kanji.
"Paman," panggil Hatori.
"Aku sudah selesai menggambar. Aku ingin memberikan gambar ini buat paman," jawab Scarlett yang turun dari sofa dengan pelan.
"Tetap di situ. Biar paman bantu kamu turun!" perintah Hatori beranjak berdiri sambil mendekati Scarlett.
Kemudian Hatori mendekati Scarlett dan membantunya turun. Gadis kecil pun masih membawa kertas tersebut dan diberikan ke Hatori.
"Ini untuk paman," ucap Scarlett.
Hatori membungkukkan badannya sambil menerima kertas itu sambil mengucapkan, "Terima kasih Scar."
"Sama-sama paman Hatori," balas Scarlett. "Sekarang Scar... mau pergi ke mana."
"Oke... paman antarkan," sahut Hatori.
"Tidak perlu paman. Aku sudah mengenal lantai ini," ujar Scarlett.
__ADS_1
"Baiklah," balas Hatori.
Scarlett akhirnya keluar. dari ruangan Hatori. Dengan langkah kecilnya Scarlett menyusuri ruangan demi ruangan. Ia sangat menghapal sekali ruangan sang kakek dan juga pamannya Ian.
Ketika pintu ruangan Ian terbuka, Scarlett memutuskan masuk ke dalam. Ia melihat Adelia yang masih sibuk dengan ponselnya. Gadis kecil itu berteriak memanggil Adelia.
"Kak Adel," seru Scarlett.
Merasa namanya terpanggil Adelia menatap wajah Scarlett. Ia tersenyum manis sambil merentangkan kedua tangannya, "Kemarilah sayangku."
Scarlett berlari menuju Adelia dan berhambur ke dalam pelukan Adelia. Ia mengusap-usapkan kepalanya sambil berkata, "Scar... sangat rindu sekali sama kakak. Kapan Kakak kembali?"
"Kemungkinan Minggu depan kakak kembali menjadi pengasuh kalian," jawab Adelia.
"Scar tunggu ya... tapi kakak juga harus kembali bersama kak Stella," pinta Scarlett.
"Nanti akan dibicarakan bersama-sama," ucap Adelia. "Jadi kakak mohon bersabarlah."
"Baik kak," ucap Adelia.
"Kakak ngapain disini?" tanya Scarlett yang melepaskan Adelia.
"Kakak di sini menunggu kamu," jawab Adelia tersenyum manis yang melihat gadis berambut pirang itu.
"Terima kasih kakak. Kakak sudah mau menungguku," ucap Scarlett.
"Kangen ya sama kakak?' tanya Adelia.
"Iya kak," jawab Scarlett. "Kakak nggak pulang-pulang sih ke mansion?"
"Maaf. Kakak masih sibuk di mansion Opa Gio," jawab Adelia tersenyum manis.
"Ayo kak... kita main," ajak Scarlett.
"Main apa?" tanya Adelia.
__ADS_1