
“Kamu benar. Kamu nggak seharusnya menjadi orang yang arogan di mata mereka. Banyak sekali kasus orang-orang penting di perusahaan terbawa suasana kantor dengan sikap yang arogan ke rumah dan itu memiliki dampak buruk ke anak-anaknya. Maka pertahankanlah itu. Aku juga ingin menjadi seorang sahabat buat mereka. Meskipun usiaku sudah tua aku tidak menampik soal itu. Aku ingin menjadi kakek yang menyenangkan buat mereka. Aku tidak mau menjadi kakek yang penuh dengan perintah-perintah yang membuat mereka tidak akan nyaman lagi bersamaku”ujar Lampard yang sangat menyayangi mereka.
“Terima kasih Kak yang sudah menyayangi anak-anakku. Aku sangat bersyukur mendapatkan kakak yang baik sepertimu. Aku berharap cepat atau lambat Kakak akan menikah dengan wanita yang tulus mencintai kakak. Seharusnya Kakak sekarang sudah memiliki anak sudah dewasa. Tapi takdir berkata lain, kakak harus mengalami kisah tragis perjalanan cinta kakak. Maafkan aku selama ini yang menjodohkan kakak dengan wanita dengan strata yang sama. Aku baru tahu kalau yang aku jodohkan itu tidak mencintai kakak dengan tulus. Mereka ingin menguasai aset kakak. Sekali lagi aku minta maaf Kak,” jelas Martin dengan penuh penyesalan.
“Kamu nggak perlu menyesal seperti itu. Kamu sudah berusaha mencarikan aku teman Hidup. Aku sangat berterima kasih kepadamu karena kamu sangat perhatian sekali sama aku. Aku paham perasaanmu yang tidak enak kepadaku. Jadi lupakanlah soal itu. Cepat atau lambat aku akan mendapatkannya,” ucap Lampard yang mengerti perasaan Martin.
“Apakah Kak Gio ingin menyatukan Blue Diamond dengan Black Horizon?” tanya Lampard.
“Ya itu masih wacana. Kakak tahukan Exodus sudah masuk ke daerah Asia terutama Tenggara? Jika mereka telah menguasai kawasan sini, kita akan kalah dan tidak bisa menyelamatkan generasi selanjutnya. Aku akan mencari beberapa mafia untuk bekerja sama. Dengan kata lain aku ikut memperkuat pertahanan Black Horizon. Alexa juga terancam nyawanya. Karena dia memiliki skill mumpuni untuk mengusir para mafia obat-obatan terlarang di belahan Eropa dan Amerika. Aku masih memikirkan caranya untuk bekerja sama dengan mereka. Kakak tahukan kalau Liam adalah ketua mafia yang paling sadis di antara lainnya,” jelas Martin.
“Aku baru tahu itu. Aku bingung harus mengatakan apa? Kenapa Exodus ingin sekali mengincar daerah kekuasaan kita. Padahal kita tidak pernah mengusik mereka. Dan aku sebagai ketua sangat berat untuk semua. Di sisi lain aku memiliki kalian dan anak-anak yang lucu. Di sisi lainnya lagi aku melindungi Black Horizon dari mereka. Kita sering bekerja sama dengan para mafia yang berada di Eropa dan Amerika. Mereka sangat senang dengan hasil kerjasama itu. Tapi ada apa dengan Exodus yang ingin mengincar Asia Tenggara?” tanya Lampard.
“Masalahnya ini masih dicari. Jujur Alexa belum sempat memiliki waktu. Karena anak-anakku sangat manja sekali dengan Alexa. Akhir-akhir ini mereka tidak memperbolehkan sang mama untuk keluar rumah. Bahkan kalau Alexa keluar rumah dan memegang seperangkat alat komputernya mereka mengamuk. Mereka tidak mau makan dan keluar kamar,” ucap Martin.
“Alexa adalah ibu yang menyenangkan bagi mereka. Aku jadi teringat masa-masa di mana Alexa memiliki seorang anak. Padahal saat itu Alexa belum siap untuk menjadi seorang ibu. Dengan kehadirannya Sean, Alexa menjadi seorang ibu yang hebat dan tangguh. Aku harap kamu tidak nakal lagi seperti dulu. Karena mereka sangat membutuhkanmu,” pesan Lampard.
“Kak aku sudah tidak nakal lagi. Aku sudah kapok. Jujur karena Alexa aku sudah sadar. Untunglah para pelakor dan mantan pacarku sudah minggat. Sekarang kakak ngapain ke sini?” tanya Martin.
“Aku ingin menemui Alexa,” jawab Lampard yang meninggalkan Martin.
“Alexa berada di kamar Sean,” seru Martin.
Lampard segera meninggalkan Martin menuju ke kamar Sean. Dirinya berharap kedua cucu laki-lakinya itu baik-baik saja. Lampard akan menghabisi mereka yang sudah merebut kebahagiaannya. Terkadang Lampard tidak ingin menjadi manusia kejam seperti ini. Namun apa mau dikata mereka telah berbuat ulah di tempat umum.
Sesampainya di depan kamar Sean, Lampard membuka pintu dan melihat Sean dan Edward diam seribu bahasa. Hati Lampard teriris dengan pisau tajam. Ia segera mendekatinya lalu memeluknya. Seketika anak itu terisak menangis. Mereka tidak mengalami trauma apapun. Mereka ingin Stella kembali lagi ke rumah ini.
“Jangan menangis Lagi. Tersenyumlah buat kakek. Karena senyummu itu membuat kakek kuat,” ucap Lampard.
Kedua kakak beradik itu mendongakan kepalanya dan menatap wajah sang kakek. Mereka tetap saja tidak bisa tersenyum seperti biasanya. Mereka tidak berbicara apapun seolah ingin meminta tolong kepada Lampard. Lampard yang mengerti itu pun menghempaskan bokongnya di ranjang mereka.
“Kenapa kamu bersedih seperti itu? Apakah kamu takut dengan suara pistol itu? Jika kamu takut bilang sama kakek,” ucap Lampard.
“Kami tidak takut dengan suara pistol itu. Karena kami adalah seorang pria kuat. Kakek tahu nggak arti tatapan kami?” tanya Sean.
__ADS_1
“Aku nggak tahu arti tatapan kalian itu. Memangnya ada apa sih? Kok kamu menatap Kakek seperti itu,” jawab Lampard.
“Kakek mau nolongin kami nggak?” tanya Sean.
“Apa itu Sean?” tanya Lampard dengan senyuman yang lembut.
"Aku ingin kakek menyelamatkan Kak Stella. Kakak tahu kan kalau Kakak Stella itu orangnya baik. Aku ingin kak Stella kembali ke rumah ini dan mengajak kami belajar bersama. Apakah permintaanku berat kek?” tanya Sean.
“Apakah kamu melihat kejadian Kak Stella tertembak?” tanya Lampard.
Sean mulai terisak karena ia adalah saksi mata sebenarnya. Lampard pun paham dengan kesediaan Sean. Akhirnya Sean menceritakan bagaimana Stella ditembak. Edward juga sama dengan Sean yaitu saksi kunci selanjutnya.
Lalu Lampard berpikir sejenak, kenapa mereka menjadi saksi mata untuk penembakan itu? Jika kasus ini sampai ke polisi maka kedua cucunya terancam bahaya. Lampard teringat dengan sang penyuruh penembak tadi. Namun Ia belum menemukan informasi sang kepala pembuat tragedi ini.
“Kakek bukan dokter. Kakek juga bukan Tuhan. Kakek hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menyembuhkan orang bahkan menyelamatkan nyawa manusia. Kakek meminta kalian untuk berdoa agar Kakak Stella kalian bisa sembuh. Kakek juga berharap kakak Stella bisa berkumpul di sini lagi,” jelas Lampard.
"Baiklah kalau begitu,” balas mereka serempak.
Mereka pun tersenyum walau itu terpaksa. Mereka ingin melihat sang kakek bahagia. Mereka adalah anak-anak yang hebat dan kuat. Setelah itu mata Lampard mencari sesuatu di kamar itu. Namun Lampard tidak menemukan Alexa sama sekali.
“Di mana mamamu?” tanya Lampard.
“Mama berada di dapur untuk membuat makanan buat kami, " jawab Edward.
“Kalau begitu Kakek mau ke sana ya. kakek rindu pada mamamu,” ucap Lampard.
“Baik kek. Kalau begitu kami ikut ya,” seru mereka serempak.
“Kalau begitu baiklah. Kita akan ke sana sekarang. Ayo turun dari ranjang kita serbu dapur!” ajak Lampard.
“Ayo kek,” seru Sean.
__ADS_1
Hati lapar seketika menghangat kembali. Lampard beruntung kalau anak-anak tidak mengalami trauma. Mereka bisa tersenyum kembali dan bercanda.
Ian yang bersama Imron melihat Lampard dan anak-anak sangat bahagia sekali. Mereka mengikuti ke mana perginya Lampard. Mereka sering mendoakan Lampard agar selalu bahagia.
“Mamamu masak apa Sean?” tanya Ian.
“Tidak tahu. Kami baru saja keluar dari kamar. Memangnya Paman Imron tahu?” tanya Sean yang membuat Imron bingung.
Lampard yang merasakan Imron bingung hanya terkekeh. Entah kenapa kedua asistennya itu sangat aneh sekali ketika mengobrol dengan Sean. Bahkan mereka sering dibuat lucu-lucuan sama Sean. Mengapa Sean sering sekali menggoda Imron itu?
Saat mendekati dapur, mereka mencium aroma masakan yang membuat perut keroncongan. Mereka tidak sabar untuk menikmati makan siang. Ketika Lampard melangkahkan kakinya, Alexa membawa pisau chef yang besar. Dengan tetapan tajam ke arah Lampard, Alexa langsung memberikan peringatan agar tidak masuk ke dalam dapur terlebih dahulu.
“Jangan masuk terlebih dahulu sebelum aku selesai memasak. Pergilah ke taman sebelum kalian menyesal,” seru Alexa agar mereka cepat pergi dari sini.
Sean dan Edward menelan salivanya dengan susah payah. Mereka baru sadar kalau Alexa sedang bertempur dengan peralatan dapurnya. Mereka mengajak ketika pria dewasa keluar dari dapur. Mereka menghembuskan nafasnya dan mengucapkan, “Syukurlah kami Selamat. “
“Kenapa kalian bicara seperti itu?” tanya Lampard yang menoleh ke arah mereka.
“Kakek tahu nggak, kalau mama sedang memasak di dapur tidak boleh diganggu,” jawab Edward.
“Iya, kenapa kalian kok diusir seperti itu?” tanya Lampard yang mencurigai sesuatu.
“Aku sering mengambil wortel yang mau dimasak mama. Wortel itu aku berikan pada kelima kelinciku,” jawab Sean.
Lampard terkejut setengah mati melihat tindakan Sean. Ia tidak menyangka kalau Sean ternyata usil. Itulah kenapa Alexa mengusir semua anggota keluarganya berada di dapur. Sering sekali Alexa kehilangan sayur-sayurannya ketika ingin dimasak. Dan mereka didukung oleh Martin Bagaimana Alexa marah jika mereka membuat ulah seperti itu? Mau marah juga percuma, mereka adalah orang-orang yang sangat lucu sekali. Jadi sekarang Lampard sekarang terkena imbasnya.
__ADS_1