
"Kamu ingin main apa?" tanya Adelia yang memeluk tubuh mungil Scarlett.
"Bagaimana kalau kita bermain potong buah di ponsel," jawab Scarlett.
"Kalau begitu kamu main sendiri ya. Kakak mau membantu Paman Ian yang sedang banyak pekerjaan," ucap Adelia.
"Aku nggak mau Kak. Aku ingin bermain sama Kakak," pinta Scarlett.
"Tapi Kakak nggak punya kertas origami. Kalau begitu Kakak akan ambilnya terlebih dahulu di minimarket di depan kantor."
"Nggak usah pakai kertas origami nggak apa-apa Kak. Nanti aku mintain kepada Paman Ian beberapa kertas saja. Biar kita berdua bisa main."
"Janganlah. Kertas itu miliknya perusahaan. Kita tidak boleh memakainya sembarangan."
"Tapi Kak. Scarlett ingin sekali bermain origami sama kakak."
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Adelia," panggil Ian.
"Ada apa kak?" tanya Adelia.
"Ternyata Stella ada di sini," jawab Ian.
"Tapi Kakak menyuruhku tetap di sini."
"Maaf. Aku takut nanti Kak Asmoro biasanya jamnya molor. Aku sering janjian sama dia. Ujung-ujungnya Kak Asmoro belum jalan. Makanya aku sudah dari tadi tidak keluar dari ruangan."
Adelia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dirinya bingung dengan perkataan Ian. Jujur saja yang dikatakan Ian benar adanya. Bahwa Asmoro sering sekali telat ketika membuat janji.
"Aku harap kamu paham apa yang aku katakan itu. Jika tidak paham tanyakan saja kepadaku," ucap Ian.
"Kak," panggil Adelia. "Apakah kakak memiliki kertas origami?"
"Buat apa kertas origami?" tanya Ian yang melihat Scarlett diam mematung.
Jujur saja yang terkejut atas kedatangan Scarlett. Dirinya paham kalau Adelia meminta kertas origami. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang untuk membelikan beberapa kertas origami dengan ukuran berbeda-beda.
__ADS_1
"Lebih baik kamu bersihkan saja kertas-kertas itu. Setelah kamu membersihkan. Ajak anak kecil itu bermain," ujar Ian yang mengerti apa yang menjadi mainan Scarlett untuk saat ini.
Ian yang masih memperhatikan scarlet hanya bisa menghembuskan nafasnya. Gadis kecil itu tidak beranjak dari posisinya. Entah kenapa Ian mendekatinya dan jongkok di hadapan Adelia.
"Ini anak kenapa ya? Kok bisa-bisanya diam seperti itu?" tanya Ian yang tangannya sudah mulai mengganggu Scarlett.
Gadis kecil itu hanya diam dan tidak berkutik. Memang Scarlett sering mengerjai Ian habis-habisan. Contohnya saja seperti ini. Biasanya kalau sedang bertemu Scarlett selalu membuat kehebohan terlebih dahulu. Namun dirinya memilih diam seakan menjadi patung sesungguhnya.
"Scar... Tiba-tiba saja kamu kok menjadi patung. Kamu kenapa? Apakah kamu marah sama paman? Kalau kamu marah nanti tidak mendapatkan kue coklat dan es krim lagi," bisik Ian yang membuat Scarlett sadar dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan paman. Berikan kue coklat itu dan es krim. Scar berjanji tidak akan menjadi patung lagi. Jujur saja Aku hanya ingin mengerjai paman. Soalnya aku sangat rindu sekali pada paman," rayu Scarlett.
"Kamu itu sangat pandai sekali merayu paman," sahut Ian.
"Bukan begitu paman. Aku memang sengaja menjadi patung. Karena aku dilarang sama mama tidak boleh ikut pembicaraan orang dewasa," kata Scarlett sambil secara terang-terangan.
"Ya nggak gini caranya. Jika kamu menjadi patung. Terus orang-orang bertanya bagaimana? Paman sangka, Kamu bermain bersama paman Hatori," sahut Ian.
"Aku sangat bosan sekali. Bisa-bisanya aku yang cantik ini. Hanya dibiarkan membisu seperti patung."
"Kenapa kamu nggak berbicara?"
"Kenapa kamu takut?"
"Paman mendekatlah."
Terpaksa Ian mendekati scarlet sambil bertanya, "Ada apa sih?"
"Akan aku bisikin sesuatu," jawab Scarlett.
"Kamu mau membisiki apa?" tanya Iyan yang sangat penasaran.
"Paman Hatori sangat tampan ya," jawab Scarlett sambil berbisik agar Adelia tidak mendengarnya.
Jederrrrrrr.
Bagai petir di siang bolong dengan cuaca yang sangat terik sekali. Ian nama panggilan pria itu sangat terkejut sekali dengan pernyataan dari Scarlett. Gadis kecil itu secara terang-terangan memuji ketampanan Hatori. Ia menutup wajahnya lalu mengusap-ngusap dengan tangannya. Jujur Baru kali ini Scarlett memuji ketampanan pria dewasa.
Adelia yang tidak sengaja mendengarnya langsung dia mematung. Kenapa gadis kecil yang berada di pangkuannya itu memuji sang kakak? Dirinya semakin bingung dengan tingkah Scarlett yang sangat lucu dan membingungkan itu.
__ADS_1
"Apakah kamu memuji ketampanan Paman Hatori?" Tanya Adelia.
"Iya Kak. Paman Hatori sangat mirip sekali dengan Lee Min Ho ketika berada di Boys Before Flowers," jawab scarlet yang membuat Adelia menggarukkan kepalanya.
Kedua orang dewasa itu sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Mereka saling memandang satu sama lain. Satu kata buat mereka adalah bingung.
"Kamu tahu Lee Min Ho dari mana? Bukankah mamamu tidak pernah melihat drakor Korea?" tanya Ian.
"Paman jangan ngomong siapa-siapa ya! Jika Paman ngomong sama mama atau papa Scar nanti dimarahin. Aku melihat drama Korea dari para pengawal yang sedang berjaga," jawab karet yang membuat mereka terdiam.
"Sayang... Lebih baik kamu nggak usah nonton itu lagi ya. Kamu cocoknya lihat Tom and Jerry atau Upin Ipin. Kalau kamu lihat itu nanti mama dan papamu marah. Kalau Papa marah Paman tidak akan menolongmu," pesan Ian.
Scarlet menggelengkan kepalanya karena tidak mau melihat film Tom and Jerry maupun Upin Ipin. Iya lebih menyukai film drama Korea, "Tenang saja paman. Aku sudah memiliki kartu As papa. Jika aku dimarahi papa, nanti aku akan memberitahukan Mama kalau Papa itu juga menggoda perempuan di luar."
Waduh.
Satu kata itu langsung berada di dalam otaknya. Ternyata oh ternyata gadis kecil itu memiliki sifat licik dari gen ibunya. Ia sudah tidak sanggup lagi mengikuti alur Scarlett. Mau tidak mau pria itu memilih untuk diam.
"Kalau begitu Paman kembali lagi bekerja. Sebentar lagi kertas origami mu akan datang ke sini. Kamu bisa main bersama Kak Adelia," pesan Ian lalu berdiri meninggalkan mereka.
Sementara di ruangan sebelah, Stella langsung ditarik oleh Edward dan Sean. Kedua pria kecil itu sangat menyukai Stella dan berharap menjadi keluarganya.
"Kak Stella," panggil Edward.
"Ada apa?" tanya Stella.
"Apakah kakak memiliki seorang kekasih?" tanya Edward.
"Kakak belum memiliki seorang kekasih," jawab Stella dengan jujur. "Memangnya kalian mau apa? Jangan-jangan kalian mau daftar jadi kekasih kakak?"
Mata Sean membulat sempurna. Dirinya tidak menyangka mendapat tawaran menjadi kekasih wanita dewasa. Pria kecil itu langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak mau Kak. Aku masih kecil tidak boleh berpacaran sama mama dan papa."
"Begitu juga dengan aku Kak. Aku juga tidak boleh berpacaran sama mama dan papa," sahut Edward.
"Apakah kamu mengerti dengan kata-kata seorang kekasih?" tanya Stella yang penasaran dengan kedua pria kecil itu.
"Ya tahulah Kak. Aku sering memergoki Papa membawa bunga untuk kekasihnya itu," jawab Edward.
"Memangnya siapa kekasihnya itu?" tanya Stella yang penasaran dengan jawaban Edward.
__ADS_1