Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Bertemu Dengan Rinda.


__ADS_3

“Sepertinya sih tidak. Beberapa bulan yang lalu temanku mengatakan seperti itu,” jawab Raka sambil merasakan hangatnya matahari pagi. “Bukannya kamu tahu masalah itu? Masalah di mana banyak pihak yang menginginkan Stella muncul.


“Apakah dia ikut sampai sekarang?” tanya Jacob.


“Aku bilang setiap ada rapat besar maupun kecil dia selalu ikut. Dia ingin mencari perhatian dan mengatakan kalau aku adalah CEO baru,” jawab Raka.


“Satu kata buat keluarganya Stella yaitu lucu. Setiap hari selalu membuat masalah sama orang-orang di sekitarnya,” ejek Jacob sambil melihat jam di tangan.


“Bukannya kamu ada meeting?” tanya Raka.


Mendengar kata meeting, Jacob segera berlari ke dalam. Di sana Jacob langsung mengambil kunci mobil dan meninggalkan markas. Sungguh sial pagi ini buat Jacob. Pagi-pagi Raka sudah mengingatkan tentang rapat penting di perusahaannya. Mau tidak mau Jacob harus menghadirinya.


S&T COMPANY.


“Apa jadwalku hari ini?” tanya Lampard.


“Meeting bersama Martin snowden jam sembilan. Jam satu pergi ke pabrik Bekasi untuk meninjau biskuit renyah. Jam empat meeting bersama distributor bahan makanan,” jawab Ian.


“Oke kalau begitu. Oh ya... Aku minta beberapa makanan sehat dikirim ke markas!” perintah Lampard.


“Bukannya di sana kita sudah memiliki pelayan?” tanya Ian.


“Berikan biskuit itu untuk Stella. Aku ingin gizinya terpenuhi,” jawab Lampard.


“Baiklah... Akan aku bungkus kan makanan yang mengandung gizi cukup,” ucap Ian.


“Apakah kamu sudah memberikan aku informasi tentang Patty?” tanya Lampard lagi.


“Sudah. Aku belum sempat mencetaknya. Tapi aku sudah mengirimkannya lewat email,” ujar Ian.


“Apakah kamu tidak mengeluh ketika aku menyuruhmu mencari informasi tersebut?” tanya Lampard yang curiga.


“Jika anda memintanya Aku tidak akan mengeluh. Akan tetapi hatiku mulai Didik melihatnya,” jawab Ian.


“Sudah aku duga. Kamu sama Jacob sama-sama tidak menyukainya. Seharusnya kamu menyukai Patty. Karena dia wanita yang seksi sekali.”


“Aku tidak memilih seksinya. Aku hanya memilih kebaikan hatinya. Pagi ini Kakak terlihat murung tidak ceria sama sekali?”

__ADS_1


“Tadi aku sempat mengobrol sama Stella. Dia ingin membayar semua kebutuhan selamat dirawat?”


“Lalu Kakak jawab apa?”


“Sebenarnya buat dia gratis. Tapi kenapa bilangnya bayar? yang lebih padanya lagi setelah bercerita tentang hidupnya yang bisa dikatakan hidupnya tertindas.”


“Bolehkah aku cuci sebenarnya?”


“Ada apa memangnya?”


“selama ini setelah merasakan kepedulian yang mendalam. Kesedihannya dibalurkan oleh keceriaan. Beban hidupnya semakin berat ketika ditolak menjadi seorang model. Orang tuanya membatalkan surat perjanjian itu. Kemudian menggantinya anak kedua mereka. Siapa lagi kalau bukan Patty?


“Kenapa harus Patty?”


“Sekarang kita analisis. Pertanyaan kamu kenapa harus Patty? Karena Stella akan dijadikan pelayan di rumahnya.”


“Kemudian menindasnya?”


“Pastinya.”


“Bahkan Stella bercerita kalau dirinya tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya. Lalu aku berpikir, Apakah John itu pria kejam yang pernah aku temui? Atau janin itu adalah seorang iblis menjelma sebagai manusia?”


“Bukan teka-teki melainkan dirinya tidak bisa berbicara sebebas sekarang. Kalau dia bicara pasti sapu melayang atau tangan yang melayang. Kamu tahu kan akhirnya bagaimana?”


“Ya tahulah... Apa yang kamu lakukan setelah ini?”


“Aku nggak bisa memprediksi Stella beberapa hari ke depan. Cepat atau lambat mereka akan tahu keberadaan Stella. Apakah kamu memiliki ide?”


“Aku belum memiliki ide sama sekali. Aku sedang mempersiapkan bahan meeting bersama Martin.”


“Kalau begitu pergilah.”


“Siap.”


Akhirnya Ian memutuskan untuk keluar dari ruangan Lampard. Saat berdiskusi Ian merasakan sesuatu pada Lampard. Bukan sang kakak saja, dirinya juga merasakan sesuatu pada Stella. Menurut Ian Sheila dan Adelia dalam bahaya besar.


Sedangkan Lampard melihat tumpukan berkas ada di hadapannya. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Setelah itu tangannya mulai memegang kepala dan menarik rambutnya untuk menghilangkan rasa pusing.

__ADS_1


Kemungkinan Lampard sedang terkena kesedihan mendalam. Kata demi kata yang keluar dari mulut Stella membuat hatinya berdenyut hebat. Lampard menilai kalau Stella hidupnya sangat tertekan sekali. Ia harus melakukan sesuatu agar masalah ini cepat selesai.


“Apakah dengan cara solusi menikah bisa membantu Stella? Jujur Stella harus mendapatkan pengakuan? Jika dirinya tidak melakukannya, maka keluarga besarnya itu akan menginjak-injaknya kembali. Atau juga meminjam nama dari Snowden. Kemungkinan nama marga Snowden sangat ditakuti oleh pembisnis-pembisnis lainnya. Tapi aku harus meminta izin kepada Mama. Jika tidak Stella yang akan dituntut,” ucap Lampard dalam hati.


Stella yang terbangun dari tidurnya merasakan tubuhnya sangat pegal sekali. Iya masih belum boleh bergerak karena lukanya masih parah. Terpaksa Stella diam lagi seperti ini.


Selang beberapa menit kemudian Raka datang bersama Rinda. Lalu Raka melihat Stella yang masih miring.


“Kenapa pasienmu seperti ini?” tanya Rinda.


“Korban penembakan di hari Minggu. Gadis ini terkena peluru sebanyak dua kali. Yang pertama bersarang di dadanya tepat berada di area jantung. Yang satunya lagi terkena di bawah. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana Stella mampu bertahan sampai sekarang?”


“namanya Stella?” tanya Rinda.


“Ya... Gadis ini bernama Stella. Dia adalah korban kecelakaan orang tuanya sendiri. Demi aset perusahaan besar gadis ini disingkirkan bahkan ingin dibunuh. Yang lebih parahnya lagi gadis ini dijual ke mafia obat-obatan terlarang. Coba deh bayangkan kalau seandainya Stella bener-bener dijual ke sana,” jawab Raka.


“Sangat miris sekali. Bisa-bisanya keluarganya menjual ke kartel mafia Mexico,” ujar Rinda.


“Stella,” panggil Raka.


Stella yang sedang melamun akhirnya tersadar. Iya bingung harus berbuat apa? Kemudian setelah menengok dan melihat Raka dan Rinda.


“Maaf,” ucap Stella dengan lemah.


“Tidak apa-apa. Jangan sering-sering melamun. Karena melamun itu bisa membunuh ayam di belakang rumah ini,” ujar Rinda.


“Kakak?” pekik Stella.


“Ada apa?” tanya Rinda.


“Sepertinya saya pernah mengenal anda,” jawab Stella.


“Jangan memakai bahasa formal. Pakailah bahasa sehari-hari kita. Di mana ya kita ketemu?” tanya Rinda.


“Aku lupa,” jawab Stella.


Rinda memutuskan untuk mengajak bicara bersama Stella. Ia memutuskan untuk menghibur Stella agar tidak bersedih lagi. Entah kenapa gadis cantik itu pun tertawa kecil. Jujur Rinda ke sini tujuannya adalah latihan karate bersama putrinya. Namun ia melupakan hal itu. Untung saja Sang Putri bersama para pengawalnya di tempat bermain.

__ADS_1


Bagaimana dengan tanggapan Stella? Baru kali ini Stella bisa tertawa dan tersenyum. Iya akhirnya mampu meluapkan perasaannya dan berbicara dengan lantang. Berkat Rinda, Stella berbicara dengan normal.


Raka yang masih berada di ruangan itu terkadang menimpalinya. Mereka tertawa bersama-sama. Mungkin inilah yang namanya pendekatan penuh dengan kasih sayang. Karena kemungkinan besar Stella tidak dapat merasakan orang-orang di sekelilingnya menyayanginya. Hal itu tercetak jelas dari wajahnya. Ada raut kesedihan yang mendalam terbaca oleh Rinda.


__ADS_2