Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Stella dan Adelia Ternyata Saudara Kembar.


__ADS_3

“Tidak juga. Aku hanya ingin melihat saja,” jawab Martin. “Ada apa kak?”


“Ian mendapat masalah,” jawab Lampard sambil menghembuskan nafasnya.


“Masalah apa? Sebenarnya Ian tidak pernah membuat masalah?” tanya Martin dengan serius.


“Tadi pas waktu sedang di pusat perbelanjaan, Adelia mendapatkan serangan dari seorang wanita. Wanita itu menyebut-nyebut nama Stella yang berkaitan dengan mafia. Aku nggak tahu harus bilang apa sama Adelia? Sungguh ini kenyataan menyakitkan buat Adelia sendiri,” jawab Lampard yang membuat Martin terkejut.


Martin menaruh pulpennya dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Tangannya memegang meja lalu matanya melihat Lampard.


“Kalau mereka bersaudara gimana?” tanya Martin.


“Kemungkinan besar mereka sedang mendapat bahaya. John Smith beserta anak istrinya akan memburu mereka berdua,” jawab Lampard.


“Kamu benar. Memang masalah ini awal mula dari Stella. Lalu, merembet ke Adelia dan Hatori. Aku rasa mereka tidak tahu kalau Agatha memiliki tiga anak kembar,” jawab Martin.


“Aku setuju denganmu. Feeling aku ya begini... Agatha sengaja memisahkan mereka agar semuanya selamat. Jika mereka disatukan maka John akan membunuhnya sekaligus,” ucap Lampard.


“Pemikiran kita satu. Bahkan Alexa pun mengakui soal itu. Entah kenapa kok ini rasanya janggal ya? Bisa-bisanya mereka merebut Kurumi Company yang jelas-jelas bukan hak miliknya. Semalam Alexa mencari tahu tentang ahli waris Kurumi sebenarnya. Dan kakak tahu, Agatha sudah menuliskan perusahaan dan aset milik Kurumi atas nama Stella. Sepertinya kasus ini mengorbankan Stella. Bisa jadi Adelia dan Hatori terkena getahnya. Karena mereka tidak tahu apa-apa,” tambah Martin yang menganalisis keadaan.


“Bisa jadi,” jawab Lampard. “Berat sekali nasibnya. Stella harus menanggung ini semuanya.”


“Ditambah lagi dengan putrinya John yang ingin melenyapkan Stella dari bumi ini. Sepertinya putrinya John sangat berambisi ingin mendapatkan Kurumi,” ujar Lampard.


“Ah... Si Patty maksud kamu?” tanya Martin.


“Iya. Kak Winda mengenalnya. Kata Kak Winda dilihatnya ramah. Beda dengan Alexa, Alexa menilai kalau Patty adalah wanita arogan dan sangat ambisius sekali. Bahkan dia sangat senang sekali menghancurkan temannya ketika berada di atasnya. Patty tidak mau ada yang mengungguli. Jika salah satu temannya yang berhasil mencapai puncak karirnya maka dirinya tidak segan-segan menghancurkan dengan cara menjualnya ke pria hidung belang. Atau dia memilih membunuhnya. Dan kasusnya itu tidak sampai ke polisi,” jelas Martin.


“Apakah itu benar? Wanita secantik itu adalah seorang iblis yang menjelma sebagai bidadari,” ungkap Lampard dengan kesal.

__ADS_1


“Iya... Aku serius. Tapi membuat aku lucu adalah para fans yang masih percaya dengan ramah-tamanya. Dan itu hanya sebuah kedok untuk menutup sakit di dalam dirinya. Apakah kalau pernah dengar kalau Alexa ingin bekerja sama dengannya?” tanya Martin dengan serius.


“Ya aku sudah mendengarnya. Alexa yang membatalkan kerjasamanya tanpa harus membayar pinalti. Sepertinya Alexa sangat cerdik juga tidak bisa diremehkan,” puji Lampard dengan serius.


“Aku yang mengajarinya. Aku sengaja membuat perjanjian tentang ambassador perusahaanku dan perusahaan Alexa. Aku sudah menerapkan satu poin penting dalam perjanjian itu. Jika modelku terlibat kasus dan masih aku kontrak, maka aku bisa membatalkan secara sepihak tanpa harus membayar pinalti sepeserpun. Aku nggak langsung menjudge si model itu terlebih dahulu. Aku meminta Alexa agar mengecek kasus itu terlebih dahulu. Kalau dia mulai duluan, aku bisa membatalkan secara langsung. Nggak etis buatku jika produkku di bawah naungan orang yang bersangkutan dengan hukum. Aku nggak mau keseret dengan kasusnya si model itu. Apalagi yang lagi ngetren sekarang adalah kasus tentang pelakor,” terang Martin dengan serius.


“Pelakor selalu di depan,” kesal Lampard. “Kenapa aku nggak jadi pebinor ya?”


Brakkkk!


Martin mengambil asbak di meja lalu dilemparkan ke arah Lampard. Dirinya sangat kesal kepada si Kakak angkatnya itu. Bisa-bisanya dia mengatakan ingin menjadi pebinor. Rasanya dunia ini sangat aneh.


“Kenapa kamu sensi?” tanya Lampard yang menangkap asbak itu.


“Aku sangat kesal sama kakakku. Bukannya ngasih contoh malah mengobarkan kejelekan. Untung saja tidak ada anak-anak,” jawab Martin.


“Kamu kok di sini?” tanya Martin yang menganga tidak percaya.


“Aku kan sudah bilang sama papa. Kalau aku pengen baca buku di kantor papa. Masak papa nggak sadar sih? Apakah papa sudah tua hingga melupakan ucapan Sean tadi?” tanya Sean yang mengintimidasi Martin.


Kedua pria dewasa itu hanya bisa menepuk bidatnya secara bersamaan. Mereka tidak sadar mengatakan kalau sang kakek ingin menjadi pebinor. Semoga Sean tidak mendengar apapun yang sedang dibicarakan oleh mereka.


“Jadi kakek ingin menjadi pebinor ya?” ledek Sean.


Lampard membulatkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau Sean benar-benar mendengarnya, “Enggak kok Sean. Tapi nggak jadi apa-apa. Kakak ingin jadi seperti papamu itu.”


“Ya... Udah nggak apa-apa kek... Jadi pebinor. Asal kakek mendapatkan nenek yang cantik,” ucap Sean yang mendukung keinginan sang kakak.


Kedua pria itu langsung menatap Sean dengan tajam. Namun Sean memilih untuk berdiri dan meninggalkan mereka sebelum mendapat ceramah seperti rumus persegi panjang. Sebelum pergi pria kecil itu mengucapkan perpisahan kepada mereka dengan wajah tengil. Setelah itu Sean kabur dari ruangan kerjanya Martin.

__ADS_1


“Astaga Martin! Ternyata anakmu mirip sama kamu! Ingin tahu urusan orang dewasa saja,” keluh Lampard dengan wajah yang sulit diartikan.


“Entah harus bagaimana ungkapkan kata-kataku. Kalau begini rasanya kita tidak bisa membicarakan semua urusan di mansion. Lebih baik kita bicarakan di kantor atau restoran dapatnya berada di private room. Semakin lama anak-anakku mendapatkan kata-kata yang tidak pantas disebutkan untuk anak seusianya. Dan itu karena ulah kita masing-masing,” kata martin yang menggelengkan kepalanya dan tidak percaya dengan apa yang dirasakannya sekarang.


“Kamu benar,” ucap Lampard dengan jujur.


“Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Lampard yang memiliki perasaan peka terhadap Martin.


“Oh iya aku ingat. Pas aku mengantarkan Adelia dan lainnya ke rumah sakit. Lalu aku meminta Raka untuk tes DNA antara Stella dan Adelia. Dan kamu tahu ternyata tes DNA itu hasilnya positif sembilan puluh persen. Adelia dan Stella adalah saudara kembar. Kita benar-benar dalam masalah besar. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Martin.


“Dua kata yang kamu pernah lemparkan kepadaku. Mempertahankan atau melepaskannya. Itu dua kata yang sangat sulit untukku,” ungkap Lampard yang tidak bisa memilih.


“Kamu benar. Mereka dalam masalah besar belum lagi saudara kembar satunya yang masih berkeliaran di Jakarta. Kalau sampai mereka ditemukan oleh John maka keturunan Agatha akan habis. Sekarang menjadi pertanyaan adalah, Apakah Agatha masih hidup atau sudah meninggal? Itulah yang membuat aku penasaran. Jika masih hidup maka aku akan mengirimkannya ke Agatha langsung. Jika sudah meninggal maka aku tidak akan bisa melepaskan mereka,” jelas Martin dengan serius.


“Kenapa kamu ingin mempertahankannya? Sementara mereka akan mengancam keluargamu sendiri?” tanya Lampard dengan serius.


“Kamu aku mempertahankannya? Karena masih berkaitan dengan dunia bawah tanah,” jawab Martin dengan bijak.


Seketika Lampard ingat akan hal itu. Kenapa dirinya sangat egois sekali ingin melepaskan Stella begitu saja? Kalau sampai ini terjadi maka Exodus menghancurkan kehidupan mereka. Hatinya Lampard tak akan teriris bagai pisau. Jika Lampard berada di posisi Agatha maka tidak akan bisa hidup dengan tenang. Seketika Lampard melihat Martin dengan wajah yang murung. Lalu Lampard segera meminta maaf kepada Martin saat ini juga.


“Maafkan aku jika ada salah,” ucap Lampard.


“Maksudnya?” tanya Martin yang tidak paham.


“Jujur.... Jika Stella sembuh Aku melepaskannya dan membiarkan hidup dengan bebas. Aku memang tidak ingin berurusan dengan ini semuanya. Setelah mendapatkan pencerahan darimu, maka aku akan mempertahankannya dan melindunginya seperti anak sendiri,” jawab Lampard yang membuat Martin tersenyum bahagia.


“Kamu nggak salah. Memang... Setiap manusia pasti memiliki rasa egois dan tidak mau mempertahankan apapun yang tidak penting dalam hidupnya. Sekarang ini kita dalam posisi yang sulit. Aku memiliki anak perempuan. Jika anakku perempuan itu posisinya seperti Stella, maka hidupku tidak akan tenang dan tidak bisa menikmati hidup dengan normal. Perasaan bersalah akan menghantuiku sampai ajal menjemputku,” ungkap Martin dengan kesedihan. “Ditambah lagi anak-anakku yang sangat menyukai Stella dan Adelia.”


“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Lampard.

__ADS_1


__ADS_2