
Yamada langsung melaksanakan tugas dari Yamato. Dengan cepat Yamada menyuruh para pengawalnya membawakan hadiah itu ke dalam mobil. Sementara Yamato menyusul mereka sambil tersenyum pria berkebangsaan Jepang itu sangat bahagia sekali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ketiga cucunya dan menantunya itu. Ia tidak sabar menunggu momen pertemuan itu.
Apartemen Snowden.
Stella yang selesai membersihkan apartemen bingung menatap wajah Asmoro. Stella memegang bajunya sambil meremasnya lalu berkata, “Abang aku lapar.”
“Ternyata kamu bisa lapar juga ya?” tanya Asmoro.
“Ya iyalah Bang. Coba bayangkan saja. Setelah bersih-bersih apartemen ini. Aku menjadi lapar. Apa masih ada nasi goreng yang semalam?” tanya Stella yang mengingatkan Asmoro pada nasi goreng laknat itu.
“Maaf neng. Aku sudah membuang nasi goreng itu. Gara-gara nasi goreng itu kita berakhir di ranjang seperti semalam,” jawab Asmoro dengan malu-malu.
“Kenapa aku bodoh sekali ya? Hampir saja aku tidak ingat dengan nasi goreng itu,” kesal Stella.
__ADS_1
“Kamu nggak bodoh seperti itu sayangku. Perasaanku di nasi goreng itu ada obat perangsangnya dengan dosis tinggi. Sekarang aku baru ingat, siapa yang memberikan obat itu ke dalam nasi goreng itu,” ucap Asmoro.
“Memangnya itu siapa bang?” tanya Stella.
“Siapa lagi kalau bukan dokter gila itu. Itu orang memang benar-benar sangat jahil sekali. Gara-gara mereka, aku tidak bisa masuk kerja. Mereka harus bertanggung jawab atas kehilangan jam kerja,” ujar Asmoro yang akan menghukum mereka dengan sangat parah sekali.
“Apa yang kakak lakukan?” tanya Stella.
“Sepertinya... Kita nggak perlu menghukum dokter itu. Yang namanya sudah menikah nggak ada yang salah. Cepat atau lambat kita akan melakukan seperti itu,” ucap Stella.
“Tapi kamu belum siap. Kalau belum siap namanya juga pemerk*s*an,” celetuk Asmoro.
“Apakah aku harus melaporkan kejadian ini ke polisi?” tanya Stella sambil tersenyum manis.
__ADS_1
“Kalau dilaporkan ke polisi itu sangat aneh sekali. Kita sudah resmi menjadi suami istri. Mereka hanya tertawa dan menolak laporan itu. Lalu mereka akan mendukung kegiatan kita sampai memiliki seorang bayi yang lucu. Bukan seorang melainkan banyak bayi yang lucu,” jawab Asmoro yang tidak keberatan sama sekali.
“Semalam aku makan nasi goreng sedikit. Tapi kenapa tubuhku sangat panas sekali? Apakah mereka memakai obat itu dengan dosis tinggi?” tanya Stella yang menghempaskan bokongnya di sofa.
“Bisa jadi. Sepertinya kamu mengenal obat-obatan itu?” tanya Asmoro yang mulai curiga.
Stella merasakan Asmoro yang curiga. Bisa-bisanya Asmoro membuat Stella menjadi sangat aneh sekali. Kemudian Stella menjawab, “Aku tahu obat-obatan seperti itu. Aku tidak sengaja menemukan obat-obatan itu di kamar Patty. Aku memeriksanya dan mencari tahu di apotek. Di apotek sana Aku memiliki seorang teman yang bertugas sebagai peracik obat. Lalu aku bertanya dan dia menjelaskan fungsinya obat itu. Aku sangat terkejut sekali. Jika selama ini Patty memakai obat-obatan itu untuk memancing lawan mainnya. Aku tidak menyangka kalau gadis itu sangat nakal sekali di luar sana,” jelas Stella yang membuat asmara terkejut.
“Aku tahu itu. Memang obat-obatan itu sangat jahat sekali. Di setiap pertemuan bisnisman, banyak sekali yang menjebak lawan satu dengan lainnya. Hingga sang lawan membuat skandal. Banyak sekali orang-orang baik dijadikan sebagai kejahilan mereka. Untung saja aku memiliki para pengawal yang hebat. Mereka sangat peka terhadap orang-orang seperti itu. Mereka juga pandai berkamuflase dan membaur di dalam acara pesta tersebut. Aku nggak sampai terjebak oleh orang-orang seperti itu,” sambung Asmoro.
“Itulah kenapa aku paham dengan obat-obatan seperti itu. Jangan kamu mengira kalau aku adalah cewek nakal,” kata Stella.
“Tidak. Aku tidak menuduhmu sebagai perempuan nakal. Kamu adalah gadis baik-baik. Yang di mana selalu dijebak oleh keluarganya sendiri. Tapi itu tidak akan pernah terjadi,” sahut Asmoro yang mengetahui fakta sebenarnya tentang Stella. “Ayo kita makan terlebih dahulu! Setelah itu kita ke lantai bawah!” ajak Asmoro.
__ADS_1