
"Ya itu sangat bahaya sekali," jawab Raka. "Sebab kamu tahu kalau hati tersakiti akan berubah menjadi jiwa yang tidak bisa ditebak."
"Aku tahu itu," sahut Stella yang pernah merasakan sakit hati sesungguhnya.
"Sekarang aku sudah sembuh dan melupakan masa laluku. Aku harus membangun masa depan dengan indah bersamamu."
"Apakah kamu tidak takut menikahi kakek-kakek?" tanya Ibra yang memancing Stella.
"Aku tidak takut. Aku seperti dinikahi papaku saja," awan Stella yang tersenyum manis sambil memandang wajah Asmoro.
"Apa kamu serius?" tanya Asmoro. "Berarti kamu menganggapku sebagai seorang papa?"
"Iya," jawab Stella yang membuat Asmoro meringis.
"Wah… nggak tulus nich cintanya," celetuk Raka.
"Ya… nggak gitu kali Pak Dokter Raka," sahut Stella. "Ada keuntungan besar aku menikahi Kakek Asmoro. Yaitu aku mendapatkan perlindungan yang ekstra. Disisi lain aku bisa mengenal sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh pria lain. Dan aku berharap cintaku akan tumbuh selamanya."
Raka mengacungkan jempolnya. Ia tersenyum melihat ketulusan Stella yang mengatakan seperti itu. Karena jarang ada wanita yang tulus saling mencintai Asmoro dengan apa adanya.
"Aku juga mencintainya. Dia gadis yang menggemaskan," jawab Asmoro dengan jujur.
"Bagaimana malam pertama kalian saat itu?" tanya Ibra yang memandang wajah Asmoro yang ceria.
"Wah… sepertinya kamu sudah memecahkan rekor," celetuk Raka.
"Ma-maksudnya apa?" tanya Asmoro yang bingung.
"Kamu sudah membuka segel dari Stella kan?" tanya Raka yang mulai meledek Asmoro.
"Maksudnya apa ya?" tanya Stella yang mengerutkan keningnya.
"Masak kamu enggak tahu sih. Malam pertama yang membara di atas ranjang," jawab Ibra yang meledek sang ketua mafia.
__ADS_1
Blush.
Wajah Stella memerah merona. Ia teringat malam pertama itu. Ia tidak menyangka kalau kedua dokter itu memancingnya. Jujur saja ia ingin bersembunyi dari mereka agar menetralisir keadaan.
"Oh.. memang sudah aku buka segelnya," ucap Asmoro dengan jujur.
"Aku memang sengaja membuat malam kalian panas membara," celetuk Ibra yang tersenyum menakutkan yang membuat Asmoro paham apa yang dilakukannya.
Asmoro segera menarik tubuh mungil Stella. Ia membisiki sambil sesuatu ketika malam panas itu. Ia juga memberitahukan tentang nasi goreng l*kn*t itu. Stella tertawa dan mengumpati orang tersebut. Namun yang diumpati malah tersenyum manis.
"Kenapa kalian tersenyum manis?" tanya Stella yang memandang wajah Raka yang penuh tanda tanya.
"Kami memang melakukannya. Kalian tahukan tentang nasi goreng l*n*t itu?" tanya Ibra dengan jujur.
"Nasi goreng membawa petaka. Kami memang memakannya. Setelah itu tubuh kami merasa panas," jawab Asmoro yang membuat Raka dan Ibra tertawa. "Dari mana kamu tahu tentang nasi goreng l*n*t itu?"
Tatapan Asmoro mulai mencurigakan. Ia mulai menebak siapa yang menjadi tersangka utama dalam kasus malam pertama. Ia mulai mengepalkan tangannya dan ingin menghajarnya satu persatu.
"Oh… jadi kalian yang membuat nasi goreng l*kn*t itu ya?" tanya Asmoro dengan serius.
"Waduh gawat ini Jo," ucap Raka sambil menyenggol tangan Ibra.
"Memang gawat bro. Lu seenaknya buka-buka rahasia segala. Akhirnya kita yang kena," sahut Ibra yang tidak terima dengan kejujuran Raka.
Di saat mereka bertengkar, Asmoro tertawa seperti iblis. Asmoro mulai menatap wajah mereka yang bingung. Mereka memang terjebak dalam pembicaraannya sendiri. Kenapa mereka bisa melakukan hal Spanyol itu di hadapan sang ketua mafia nya sendiri? Mereka juga tidak tahu. Ada setan apa menyuruh mereka jujur seperti itu?
Asmoro yang melihatnya semakin membuat mereka ketakutan. Kedua dokter itu sudah mulai berkeringat dingin. Mereka saling memandang dan memberikan kode. Agar mereka segera kabur dari sana dan tidak mau membahas masalah itu.
"Ayo kabur Jo," ucap Ibra dalam hati sambil memandang wajah Raka.
Asmoro yang paham dengan kelakuan mereka berdua hanya bisa menatapnya dengan tajam. Ia seakan menyuruh mereka tetap berada di hadapannya. Namun mereka memutuskan untuk kabur dari hadapan Asmoro.
Melihat keduanya kabur, Stella hanya tertawa. Bisa-bisanya kedua dokter itu bertingkah konyol seperti ini. Lalu wajah Stella memandang wajah Asmoro.
__ADS_1
"Ternyata mereka berdua ya yang melakukan semalam?" tanya Stella yang mendapat anggukan dari Asmoro.
"Siapa lagi kalau bukan mereka.mereka memang gawat dan otaknya kadang-kadang setengah ons. Tapi kalau soal kedokteran mereka sangat jago dan ahli semuanya. Raka adalah spesialis dokter bedah. Meskipun usianya masih muda namun namanya sudah terkenal di dunia. Ibra dia adalah spesialis dokter penyakit dalam. Dia adalah seorang profesor gila. Ditambah lagi otaknya di atas rata-rata. Selain itu juga Ibra pernah kuliah mengambil jurusan psikolog. Memang sudah dari dulu dia sangat tertarik dengan psikolog. Tapi ujung-ujungnya dia mengambil jurusan spesialis penyakit dalam. Ketika kamu sakit merekalah yang mengobatimu sampai sembuh. Itulah kenapa aku memang sengaja mempertahankannya. Ditambah lagi Rinda. Rinda juga adalah seorang dokter. Yang di mana dia dokter obgyn. Dia juga anak buahku. Meskipun wajahnya cantik kamu harus mengetahuinya dia adalah seorang sniper yang handal di dunia mafia. Kamu harus memiliki skill memegang senjata yang epic. Cepat atau lambat aku akan mempelajari mu untuk memegang senjata," beber Asmoro yang sengaja membuat Stella paham dengan pekerjaan dunia bawah tanah.
"Okelah. Aku akan siap mengambil resikonya," jelas Stella.
"Kamu nggak perlu mengucapkan mengambil resiko. Papamu dan kakekmu memiliki organisasi bawah tanah. Di darahmu mengalir darah mereka. Mau tidak mau kamu dan kedua saudaramu itu akan terjun ke bawah. Kalau nggak kalian bertiga akan menjadi bulan-bulanan dan incaran banyak anggota mafia. Cepat atau lambat kalian harus memiliki skill. Di mana skill itu akan melindungimu dari incaran mereka," tambah Asmoro yang membuat Stella paham akan kejamnya dunia.
"Aku paham semuanya. Aku juga tidak akan menyerah begitu saja," ungkap Stella. "Apakah kakek akan menghukum mereka?"
"Aku tidak akan menghukumnya. Biarkanlah saja. Mereka tidak melakukan kesalahan yang fatal buat kita. Ada baiknya mereka melakukan itu. Agar aku menjadi pria sejati. Yang kemana seumur hidupku belum pernah menyentuh seorang wanita," tutur Asmoro dengan lembut.
Sontak saja Stella terkejut. Bagaimana bisa di usianya dikatakan sudah paruh baya itu ternyata belum pernah menyentuh seorang perempuan? Ini sangat aneh sekali Bagi dirinya. Bahkan keanehannya bisa membuat Stella bertanya-tanya.
"Kamu sangat aneh sekali. Bagaimana bisa pria yang sudah berusia paruh baya tidak merasakan apapun dalam tubuhnya ketika melihat seorang wanita," ucap Stella.
"Aku mengisinya dengan kerja, kerja dan kerja. Oleh sebab itu aku melupakan manusia yang berjenis kelamin perempuan. Bukan berarti aku gay. Aku bukan gay sama sekali. Aku adalah pria normal," sahut Asmoro.
Jujur di saat setelah membayangkan dirinya berganti posisi dengan Asmoro, perasaannya juga sama. Dirinya memang merasakan sakit hati yang sangat parah. Stella menatap mata Asmoro yang penuh dengan kabut. Yang di mana kabut itu telah membuatnya menjadi kosong. Oleh karena itu dirinya melepaskan singa kecil itu dan memeluk pria bertubuh kekar itu.
Di apartemen mewah, seorang pria paruh baya telah menghancurkan ruangan kerjanya. Bagaimana tidak dirinya mendengar kabar berita kalau kedua suruhannya tertangkap? Dengan wajah geramnya dan tangannya mengepal lalu memukul meja hingga berdarah. John masih saja tersulut dengan amarah.
Merry yang baru saja datang dari pusat perbelanjaan terkejut. Wanita berambut keriting itu tidak sengaja masuk ke dalam ruangan kerja. Matanya membelalak sempurna dan melihat John yang masih marah. Lalu Merry mendekatinya sambil bertanya, "Ada apa sayang?"
"Kedua orangku tertangkap oleh Black Horizon. Yang di mana mereka aku tugaskan untuk memasukkan cairan biru ke bahan makanannya itu," jawab John yang menundukkan wajahnya.
"Kamu serius melakukannya? Kamu bisa terkena tuntutan jika mereka mengetahui soal itu," kesal Merry yang melihat John sangat bodoh sekali.
"Aku nggak bodoh. Tapi aku sengaja menghancurkan perusahaan itu. Karena perusahaan itu telah menghancurkan Kurumi Company," sahut John yang membuat Merry menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu maksudnya John? Kenapa kamu nggak ngomong sama aku terlebih dahulu? Seharusnya kamu ngomong enaknya bagaimana. Malah kamu sendiri yang terjebak dalam masalah itu," kata Merry yang di mana dirinya menggelengkan kepalanya.
"Menunggu kamu memang susah dan lama. Kamu harus tahu satu hal. Bahwa aku tidak ingin bisnisku banyak yang menyayanginya. Seperti produk-produk yang lalu-lalu sekarang sudah diklaim oleh mereka," kesal John.
__ADS_1
"Aku memiliki satu ide yang di mana membuat kamu bisa bahagia. Yang di mana ide itu akan membuat perusahaanmu dan obat-obatan terlarangmu bisa jalan bersama," ujar Merry yang mendekati John dan meraih tangan kekarnya itu.
"Apa itu?" tanya John Yang penasaran dengan ide Merry itu.