
"Begini ceritanya," jawab mang Dicky.
Flashback on.
Malam itu Stella pulang dari pekerjaannya. Gadis itu masuk ke dalam rumah dan melihat Patty dan Harlem membawa botol minuman. Lalu Harlem mendekati Stella sambil membawa botol yang masih berisikan minuman.
"Dari mana saja kamu seharian ini? Aku telepon kamu tidak mengangkat sama sekali. Kan aku sudah bilang. Kalau aku sedang telepon kamu harus mengangkatnya!" bentak Harlem.
"Aku sudah bilang lewat pesan singkat. Kalau aku sedang sibuk. Masalahnya pekerjaanku sangat banyak sekali," jelas Stella.
Harlem yang tidak terima dengan penjelasan Stella langsung menamparnya. Pria itu menarik rambut Stella dengan kuat. Kemudian Patty memukulnya dari belakang. Tanpa banyak bicara mereka menganiaya Stella hingga membenturkan tubuh mungil itu ke sofa. Hingga Stella jatuh dan berteriak untuk meminta pertolongan warga setempat.
Ketika warga setempat melewati rumah kontrakan Stella. Mereka melihat mobil mewah dan tidak berani menolongnya. Mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Mereka tahu yang mendatangi Stella adalah keluarganya. Harlem sering sekali mengancam warga tersebut agar tidak menolongnya. Jika menolongnya kemungkinan besar Harlem akan membunuh mereka dan keluarganya. Maka dari itu setiap ada penyiksaan terhadap Stella, mereka memutuskan langsung pergi.
Patty sempat memecahkan botol minuman kosong dan memukul kepala Stella. Kemudian Patty menendang perut Stella sambil tertawa terbahak-bahak. Dengan keadaan Stella yang tidak berdaya. Mereka masih saja menyiksanya. Hingga Stella menutup matanya dan tidak bersuara sama sekali.
"Mampus lo!" bentak Patty yang melanjutkan tertawanya seperti iblis.
Setelah tidak bersuara mereka meninggalkan kontrakan itu. Di saat semuanya sepi, mang Dicky bersama sang istri langsung masuk ke dalam. Mang Dicky melihat Stella sudah seperti orang mati. Dengan cepat istri mang Dicky meraih tubuh mungil itu dan membangunkannya. Sebelum bangun istri mang Dicky memeriksanya terlebih dahulu. Sekali dua kali Stella tidak menunjukkan nafas kehidupannya. Istri mang Dicky sangat ketakutan dan meminta doa kepada Tuhan. Agar Stella bisa hidup kembali.
Beberapa saat kemudian Stella membuka mata. Senyum khasnya terpancar dari bibirnya yang mungil itu. Istrinya mang Dicky sangat lega sekali melihat Stella yang masih hidup. Namun di kepalanya Stella darah mengucur sangat deras. Mereka membawa Stella ke klinik terdekat untuk diobati.
Flashback off.
Asmoro dan Ian sangat marah sekali mendengar cerita itu. Mereka mengutuk atas tindakan Harlem dan Patty. Jujur saja mereka tidak menyangka kalau kedua orang itu sangat kejam sekali.
__ADS_1
"Maaf Mas. Saya tidak bisa menolongnya. Karena mereka sudah mengancam saya terlebih dahulu. Saya sangat takut sekali Jika berhubungan dengan mereka. Apalagi mereka mengancam akan menghabisi keluarga kita. Seluruh masyarakat di sini juga tidak berani lapor ke polisi. Sekalinya lapor mereka membawa pengawal dan menghajarnya rame-rame hingga meninggal dunia," ucap mang Dicky dengan jujur.
"Terima kasih mang. Mang Dicky sudah nggak usah memikirkan Stella lagi. Itu rumahnya siapa mang?" tanya Asmoro.
"Rumahnya saya mas. Setelah Stella keluar dari sini. Aku ingin menjual rumah itu. Kami masyarakat sudah tidak sanggup lagi menghadapi orang-orang seperti itu. Mau tidak mau saya dan sekeluarga akan menjual rumah itu," jawab mang Dicky.
"Bukankah jarak pabrik ke sini sangat dekat sekali?" tanya Asmoro ke Ian.
"Mohon maaf Mas. Maksudnya pabrik mana ya? Soalnya di sini banyak pabrik," tanya mang Dicky.
"Pabrik pembuatan kue kering yang bernama S&T Company. Pasti mamang tahu kalau di warung-warung menjual roti kering yang bermerek Cinta Indonesia," jawab Asmoro.
"Iya saya tahu itu. Produknya sangat sehat dan membuat anak-anak menyukainya," ucap mang Dicky.
"Nah itu mang produk kami yang sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri ini," jelas Asmoro.
"Itu benar. Nanti asistenku akan mengurus rumah itu. Aku mau beli rumah itu untuk tempat penginapan anak-anak pabrik ketika jauh dari rumah," jawab Asmoro yang disambut mang Dicky senyuman indah.
"Jadi Mas akan membeli rumah itu?" tanya mang Dicky.
"Iya itu benar. Kalau begitu Mas inilah," petunjuk Asmoro ke Ian. "Yang akan membeli rumah itu beserta tanahnya."
"Alhamdulillah… baru mau memasang iklan di depan sana sudah ada yang mau beli. Terima kasih Mas atas kebaikan mas-mas ini," balas mang Dicky dengan bahagia.
Sementara Stella membereskan pakaiannya yang masih layak pakai. Di sela membereskan pakaiannya, Stella melihat barang-barangnya sangat berantakan sekali. Ia merasa curiga dengan laci yang terbuka. Kemudian Stella melihat laci itu yang isinya berantakan sekali.
__ADS_1
Melihat sang kakak serius, Adelia mendekatinya lalu bertanya, "Ada apa kak?"
"Mereka mengacak-ngacak seluruh barang-barangku di sini. Kemungkinan besar mereka sedang mencari dokumen-dokumen penting. Tapi aku tidak membawa dokumen-dokumen tersebut dari rumah sana ke sini. Menurutku ini sangat lucu sekali. Bukankah mereka yang menyimpan dokumen itu dengan rapi sehingga tidak ada orang yang mau mengambilnya?" tanya Stella yang membuat Adelia berdecak kesal.
"Maksudnya?" tanya Adelia.
"Mereka menganggapku mengambil dokumen-dokumen penting di ruang kerjanya John. Aku sendiri tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Mereka memang sangat pandai memutar balikan fakta," jawab Stella sambil tersenyum kemenangan.
"Syukurlah. Aku pikir kakak telah kehilangan dokumen-dokumen penting, jika Kakak sampai kehilangan dokumen-dokumen itu. Kemungkinan besar Kakak akan rugi," ucap Adelia.
"Sebenarnya aku memiliki dokumen penting. Tapi dokumen itu masih dipegang oleh seseorang. Sampai sekarang aku belum sempat mengambilnya. Jika aku mengambilnya. Aku harus pergi ke sekolah terlebih dahulu," ujar Stella.
"Maksud kakak apaan?" tanya Adelia yang melanjutkan melipat baju Stella dengan diikuti dengan Stella.
"Maksudnya ijazah aku masih tertahan di sekolah. Aku memang sengaja menyimpannya di sana. Aku nggak mau jika ijazah itu berada di tanganku. Lalu mereka merebutnya dan mengganti namaku menjadi nama Patty," jawab Stella.
Mendengar jawaban Stella, hati Adelia menjadi sakit sekali. Mereka benar-benar sangat keji sekali. Bisa-bisanya mereka merebut apa yang dimiliki Stella untuk putrinya itu.
"Sungguh aku tidak rela. Mereka seenaknya saja membuat kamu menderita seperti ini," kesel Adelia yang tangannya masih melipat pakaian.
"Percuma… kalau kita melawannya. Kita harus memiliki kekuatan penuh untuk melawan mereka. Mereka memang gila jabatan atau apapun itu namanya. Aku sudah menyerahkannya kepada sang pencipta," hibur Stella.
"Kalau kakak sabar begini. Bisa-bisa mereka menindas Kakak seenaknya saja. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia," jelas Adelia yang membuat Stella menganggukkan kepalanya.
"Kalau sekarang kamu nggak Bisa membalasnya Del. Kamu harus memiliki kekuatan penuh dan jabatan tinggi di perusahaan terkenal. Jika kamu memiliki itu semuanya, mereka akan tunduk kepadamu. Kamu bisa menyiksanya kembali dengan sangat kejam sekali," saron Asmoro yang masuk ke dalam rumah kontrakan Stella.
__ADS_1
"Maaf," ucap Stella.
"Maaf kenapa?" tanya Asmoro.