
"Tenang saja. Yang membersihkannya adalah para pengawal. Tapi mereka memiliki tanggung jawab besar. Setelah memberantakin seluruh mainannya di apartemenku. Merekalah yang membereskannya sebelum pulang. Jika tidak maka diancam oleh Alexa agar tidak main ke sini."
Ucap Asmoro sambil menatap lembayung senja.
"Ternyata mereka adalah anak-anak yang bertanggung jawab. Rasanya aku ingin memiliki anak seperti mereka."
Sahut Stella yang membuat Asmoro tersenyum manis.
"Kenapa kamu tidak memintanya kepadaku?"
"Memangnya harus minta ya?"
"Iyalah. Bukankah kita itu sudah menjadi pasangan suami istri?"
"Ups aku baru sadar akan hal itu. Kapan-kapan saja ya kita membuatnya."
"Kok kapan-kapan sih? Sekarang saja boleh."
Blush.
Wajah Stella berubah menjadi memerah. Ia tidak marah maupun ngambek. Melainkan Stella dalam mode malu. Bisa-bisanya Stella disuruh mengingat pada malam pertama yang panas itu. Rasanya Stella ingin menggali lubang dan mengubur wajahnya di sana.
"Kakak mah selalu saja begitu. Mengingatkanku pada yang tidak penting seperti itu."
Kesel Stella pada Asmoro lalu membuang wajahnya ke bawah.
"Siapa lagi yang mengingatkanmu. Ya sudah deh kita turun ke bawah. Aku ingin mengecek keberadaan Alexa."
Ajak Asmoro sambil berdiri lalu mengulurkan tangannya itu.
Stella memegang tangan Asmoro dan berdiri. Mereka pergi ke apartemennya. Di dalam perjalanan ke sana, Stella mulai bertanya tentang Alexa.
"Memangnya Kak Alexa jam segini belum pulang ya?"
"Nggak mesti. Setelah membagikan sembako, Alexa keluyuran entah ke mana. Namanya juga usia masih muda. Beda berapa tahun dari kamu. Jadinya jiwa muda selalu berkibar."
"Oh jadi begitu ya Kak. Tapi kalau anak-anak ikut gimana?"
"Mereka akan ikut bersama orang tuanya. Aku dan Ian akan tinggal di apartemen sendirian. Kadang aku berada di apartemennya. Kadang dia berada di apartemenku. Sering sekali kami menghabiskan waktu untuk bermain game online. Kalau beda apartemen ya."
"Jadi kalau kakak sudah menikah bagaimana?"
"Pastinya Ian akan berjalan sama Adelia ke pusat perbelanjaan. Yang di mana mereka akan menghabiskan waktu di sana. Berhubung kamu menjadi korban. Maka dia tidak akan pernah mengajak Adelia berjalan. Ian orang yang sangat protektif sekali terhadap Adelia."
Ting.
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam lift tersebut. Kemudian Asmoro menekan tombol yang berada di samping pintu lift.
"Kamu mau ke mana lagi?"
Tanya Asmoro sambil menatap wajah Stella.
'aku tidak kemana-mana. Kita pulang saja dan mengecek anak-anak."
Jawab Stella yang ingin mengetahui kabar anak-anak.
"Kalau begitu ya sudahlah. Kita akan pulang ke apartemen."
Sementara itu Hatori dan Scarlett masih asik menggambar. Entah sudah berapa kertas yang dihabiskannya itu. Asmoro memang sengaja memberikan kertas kosong yang berada di ruangan kerjanya. Asmoro membiarkan gadis kecil itu menggambar sesuai keinginannya. Bahkan dirinya sangat bangga sekali. Banyak sekali gambar-gambar yang dibuat oleh Scarlett dikumpulkannya satu persatu. Bahkan Scarlett sendiri memiliki tempat lorong kecil. Lorong kecil itu bisa dinamakan sebagai pameran lukisan milik Scarlett.
Bagaimana dengan Hatori? Pria muda itu memiliki hobi yang sama. Hatori senang sekali menggambar. Bedanya ia lebih suka menggambar anime. Bahkan dirinya pernah didaulat untuk menggambar anime di perusahaan manga terbesar negara Jepang.
Hatori sangat bersyukur sekali. Karena hasil coret-coretnya itu, mendapatkan apresiasi dari seluruh orang. Bahkan ia bisa dikatakan sebagai komikus yang cukup terkenal.
Akan tetapi Hatori sendiri jarang memakai nama aslinya. Ia lebih suka memakai nama orang lain. Hatori memang sengaja untuk menutup identitasnya. Karena ia tidak mau hidupnya dibuat konsumsi publik.
Hatori sangat bersyukur sekali bisa menyembunyikan identitasnya. Kalau tidak ia akan kelabakan dan tidak bisa menutupnya lagi. Sebab dirinya akan berhubungan dengan banyak orang dan pebisnis dari dalam maupun luar.
Sekarang ini Hatori sedang menggambar sosok Scarlett. Ia ingin menerbitkan komik yang berjudul gadis kecil tangguh. Ia sendiri sudah memiliki konsep untuk menerbitkannya. Tapi dirinya harus meminta izin kepada Alexa. Karena Scarlett lah yang menjadi inspirasinya sekarang.
Yang jadi pertanyaannya adalah Apakah Alexa mau mengijinkan Hatori untuk menerbitkan komik itu? Inilah yang sekarang membuat dirinya menjadi gundah gulana. Hatori banyak berdoa agar Alexa mengizinkannya.
Tanya Scarlett dengan nada imutnya.
"Aku masih belum selesai menggambar. Bahkan aku akan sering menggambar untuk saat ini. Tapi besoknya aku harus bekerja. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Tanya Hatori yang sengaja meminta pendapat kepada Scarlett.
"Sepertinya Kak Hatori harus beristirahat. Kak Hatori harus sehat agar bisa meneruskan gambar itu."
"Ah... Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan memilih istirahat. Karena aku harus sehat untuk melanjutkan gambar ini."
Tiba-tiba saja Scarlett sangat penasaran sekali. Gadis kecil itu menaruh pensilnya dan juga kertasnya di lantai. Kemudian gadis kecil itu berdiri dan mendekati Hatori.
Jujur dirinya sangat terkejut sekali melihat dirinya yang berada di gambar itu. Ia membuka mulutnya dengan mata berbinar.
"Paman. Apakah itu aku?"
Tanya Scarlett yang tidak percaya dengan gambarnya Hatori.
"Ya Ini kamu. Kamu sangat cantik sekali memakai baju kerajaan."
Jawab Hatori sambil tersenyum manis lalu dilihat oleh Adelia.
__ADS_1
Adelia yang sangat penasaran sekali dengan senyuman sang kakak segera mendekatinya. Iya menatap wajah Hatori lalu bertanya, "Kenapa Abang tersenyum seperti itu?"
"Kak Adelia."
Teriak Scarlett dengan penuh kebahagiaan.
"Iya ada apa sayang?"
Tanya Adelia sambil berlutut dan menyamakan tinggi badannya dengan Scarlett.
"Coba lihat Kakak. Paman Hatori menggambar tentang diriku."
Jawab Scarlett yang berteriak kegirangan.
Hatori pun tersenyum sambil memberikan kertas tersebut Kak Adelia. Adelia segera menerimanya dan melihatnya. Ternyata memang benar, Adelia mengetahui kalau itu Scarlett. Ia memandang wajah Hatori sambil bertanya, "Bagaimana Kakak menggambar Scarlett seperti ini?"
"Aku memang memiliki skill untuk menggambar anime. Aku sudah lama tidak menggambar lagi. Karena kesibukanku sebagai tukang buah dan sekarang ini menjadi sekretarisnya Kak Asmoro. Jadinya semua gambarku terbengkalai."
Jawab Hatori dengan jujur.
Adelia duduk di lantai sambil menarik tubuh mungil Scarlett. Adelia tahu kalau gadis kecil itu sangat mengantuk. Akhirnya Adelia memangkunya dan membiarkan Scarlett tertidur.
"Kak Adelia."
Panggil Scarlett dengan lirih.
"Iya ada apa?"
Tanya Adelia.
"Aku mengantuk sekali. Biarkanlah aku tidur sebentar saja."
Jawab Scarlett dengan lancar.
Mendengar ucapan Scarlett, Kakak adik itu pun tertawa terkikik. Bagaimana tidak ketika dirinya mengantuk? Malahan ia berkata jujur lalu memejamkan matanya.
Entah kenapa Hatori merasakan jantungnya berdegup ketika melihat Scarlett tertidur. Ia sangat terpesona sekali kepada Scarlett.
"Nggak dipindah ke ranjang atau sofa?"
Tanya Hatori.
"Tidak perlu. Tidur begini katanya sangat nyaman sekali. Kalau sudah dipindah Dia jarang sekali untuk melanjutkan tidur. Biarkanlah seperti ini."
Jawab Adelia yang sengaja mengelus-ngelus pucuk rambutnya Scarlett.
"Memang sangat unik ya gadis kecil ini?"
__ADS_1
Tanya Hatori sambil mengembangkan senyumnya.