
Asmoro dan Stella memutuskan untuk pergi ke pesta tersebut. Entah kenapa Asmoro merasakan kalau Stella sangat bahagia sekali ketika menuju ke acara tersebut. Ia memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun. Sedangkan Stella sedang menyiapkan kata-kata mutiara yang sangat bagus buat Bella.
"Sepertinya kamu sangat bahagia sekali?" tanya Asmoro yang masih fokus dalam membawa mobil.
"Ya... aku memang sangat bahagia sekali. Bahkan kebahagiaanku melebihi segalanya," jawab Stella sambil tersenyum devil.
Asmoro tidak paham apa yang dikatakan oleh Stella. Ia malah bingung dengan sendirinya. Ia mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Di dalam perjalanan menuju ke sebuah hotel mewah, Stella memilih untuk diam. Asmoro masih penasaran sekali dengan sang istri. Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah firasat.Yang dimana firasat itu mengatakan kalau ada sebuah bencana yang sangat dasyat sekali.
Sedangkan Natalie, Dilla dan Adelia memang sengaja memilih untuk diam di sepanjang perjalanan. Jika mereka berbicara, para pria yang berada di sampingnya akan menaruh curiga. Kalau itu terjadi, maka para pria itu pun tidak akan mengajaknya ke pesta.
Sesampainya di hotel, Ian dan Adelia sudah sampai terlebih dahulu. Ia memang sengaja berangkat terlebih dahulu. Karena Ian sendiri ditugaskan untuk menjadi penunjuk jalan.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Ian sambil membungkukkan badannya lau membukakan seat belt yang dipakai Adelia.
"Ya... aku siap. Aku akan menunggu momen-momen dimana sang mantan pacar akan bertemu dengan sang istri sahnya Kak Asmoro," jawab Adelia.
"Jadi?" pekik Ian.
"Ya... aku memang ingin melihat pertemuan antara mereka. Aku yakin akan hal ini menjadi asyik sekali," jawab Adelia.
"Waktunya kita turun. Aku juga ingin melihat mereka bertemu," ajak Ian yang membuka pintunya.
Ian segera turun dari mobil lalu menutup pintunya. Ia sengaja berputar dan membukakan pintu buat Adelia. Setelah membuka pintu, Ian mengulurkan tangannya.
"Pegang tanganku. Aku ingin kamu merasakan sensasi menjadi wanita terhormat," ucap Ian yang sengaja menjunjung tinggi.
"Oh.. baiklah," ucap Adelia.
Mau tidak mau Adelia menuruti keinginan Ian. Ia langsung menggenggam tangan Ian dan berdiri di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Asmoro sudah sampai. Di belakang Asmoro ada mobil Jacob dan Imron. Mereka sengaja memarkirkan mobilnya di tempat yang sama.
Mereka akhirnya masuk ke dalam dan membawa undangan masing-masing. Meskipun ulang tahunnya terbuka untuk umum sekali pun.
Mereka berjalan menuju ke ballroom hotel. Asmoro, Ian, Jacob dan Imron tidak mengetahuinya. Kalau Stella sedang berkomunikasi dengan Tetsuya melalui pesan.
__ADS_1
Ketika ingin masuk ke dalam, Stella melihat banyak sekali orang-orang memakai baju hitam. Bukannya takut, Stella malah mengejek mereka.
Sungguh berani nyali Stella malam ini. Ia memang menantang orang-orang yang tidak ada guna sama sekali. Ia sudah menemukan waktu yang tepat untuk menghabisi mereka.
"Jaga sikap kamu!" perintah Asmoro yang tidak sengaja melihat Stella sedang menantang mereka.
"Hehehe... seharusnya kamu yang harus menjaga hatimu," ucap Stella yang menyuruh Asmoro.
"Kenapa aku harus menjaga hatiku? Bukankah kamu sudah membawa hatiku pergi dan menyimpannya di dalaam hatimu?" tanya Asmoro yang berbicara dengan sebuah fakta.
"Iya ya... berarti kamu tidak memiliki hati ya?" tanya Stella yang bingung sambil tersenyum lucu melihat kelakuan Asmoro.
"Itukan gara-gara kau," bisik Asmoro.
"Hehehe,' ucap Stella sebari mengulas senyumnya yang manis.
Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya mendekatinya. Pria itu sungguh menyeramkan sekali. Namun Stella tidak takut dengan pria itu.
"Halo Lampard Wolf!" sapa pria itu dengan nada ketusnya.
Jujur pria itu melihat wajah Stella. Ia sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Ia malah tertarik dengan Stella.
Stella yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tersenyum mengejek sambil berkata, "Kamu ingin mata kamu hilang ya."
"Jika berani lakukanlah. Aku jatuh cinta sama kamu," ucap pria itu.
"Oh... dasar tukang obral janji," ejek Stella.
"Aku enggak tukang obral janji. Aku hanya diam dan memandang wajah kamu yang ayu itu," puji pria itu.
"Cih, memandang saja. Enak saja kamu bilang memandang wajah aku! Berani bayar berapa kamu?" tanya Stella yang memang sangat pandai bersilat lidah.
"Kamu sangat menarik nona manis," puji pria itu lagi.
"Aku tidak menarik. Tubuhku juga gendut dan jelek. Hanya satu pria yang sudah menerimaku, Dia bernama Tuan Wolf," ujar Stella.
"Jadi pria ini? Pria ini memang tidak menyukai wanita. Aku akan memberitahukan kamu satu hal. Kalau pria itu adalah g*y," ungkap pria itu sambil mengejek Asmoro.
__ADS_1
"Oh... tapi kenapa dia tidak menyukai kamu?" tanya Stella dengan santai.
"Aku sangat tampan sekali dibandingkan dengan pria itu,' jawab pria itu.
"Kamu memang sangat tampan sekali. Tapi aku harus melihat kamu dari Menara Eiffel," ucap Stella yang membuat orang tersebut menjadi bingung.
Jangankan pria itu, Asmoro saja semakin bingung dengan kelakuan Stella. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menunjukkan sikap yang membingungkan. Tanpa disadari oleh Stella, hatinya bersorak kegirangan. Ia memuji habis-habisan dan menggenggam tangan Stella.
"Apakah Joe Malti temannya Tuan Lampard?" tanya Stella.
"Ya... aku bernama Joe Malti. Aku memang sangat tampan sekali. Bahkan banyak sekali wanita mengatakan dengan jujur kalau aku sangat tampan sekali bagaikan seorang model elemen," jawab Joe Malti nama pria itu.
"Oh... tapi mataku rusak ketika melihat wajah kamu," ejek Stella dengan jujur.
"Karena aku tampan kan?' tanya Joe dengan penuh percaya diri.
"Oh... tidak. Kamu sangat buruk sekali. Terima kasih telah mengundang aku kesini," jawab Stella dengan penuh ancaman.
"Nikmati pestanya," bisik Joe lalu pergi meninggalkan mereka.
"Tunggu!" seru Stella.
"Ada apa?" tanya Joe sambil menoleh ke arah Stella.
"Salam buat Bella Knock kekasih kamu yang paling jelek itu. Kalau dia memiliki nyali besar. Maka dia sangat cocok sekali menjadi kekasih kamu itu," jawab Stella yang sedari tadi mencari keberadaan Bella.
Asmoro hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ia baru sadar kalau Stella mengetahui masa lalu Asmoro. Ia tidak jadi pergi dan mendekati Stella.
"Jadi kamu tahu masa lalu pria tidak ada gun ini?" tanya Joe sambil mengejek asmoro.
"Bukankah kamu tidak berguna sama sekali buat keluargamu itu? Nyatanya kamu sendiri adalah seorang benalu yang tidak bisa membangun perusahaan sendiri," jawab Stella yang sembari mengejek Joe.
"Jaga ucapan kamu nona!" bentak Joe yang tidak menyukai Stella mengejeknya.
"Kenyatannya begitu kok? Lalu aku harus apa? Berbicara hal yang tidak wajar ke publik! Joe Malti... adalah perusak keluarga,' ujar Stella.
"Apakah itu benar?" tanya Asmoro yang baru mengetahui Joe.
__ADS_1