
"Aku enggak bertanya sama mereka. Aku memang diberikan kata-kata seperti itu oleh mereka," jawab Asmoro.
Stella semakin bingung dengan pikiran Asmoro. Ia lalu membungkukkan badannya sambil berkata, "Kamu sudah berhasil membuat aku jatuh ke lubang yang sama."
"Lubang apa?" tanya Asmoro.
"Lubang perasaan yang telah kamu ciptakan sejak awal bertemu," jawab Stella sambil mencium mulut Asmoro.
Ketika dicium, Asmoro mendadak membeku. Ia memang sengaja membekukan dirinya karena menerima ciuman yang sulit diceritakan.
"Kak," panggil Stella.
"Ada apa?" tanya Asmoro.
"Bukankah kakak mau mengirimkan uang kepadaku?" tanya Stella balik.
"Ketimbang aku mengirimkan uang untuk kamu. Lebih baik aku ikut dan melihat beberapa gaun yang sangat cocok buat kamu," jawab Asmoro.
"Oh... baiklah. Aku juga senang kalau kamu ikut. Lagian juga aku harus meminta pendapat kamu untuk menilai gaun yang akan kupakai," ucap Stella.
"Ya sudah. Aku akan bersiap-siap berganti baju," pinta Asmoro yang beranjak berdiri lalu meninggalkan Stella.
"Yups," sahut Stella. "Enggak usah tampan-tampan ya."
"Aku enggak tampan. Tapi aku sudah tua," seru Asmoro yang memang mengatakan sebuah fakta sesungguhnya.
"Aish," kesal Stella sambil mendekati Asmoro dan memeluknya dari belakang.
"Kamu itu. Lagi pengen ya?" tanya Asmoro.
Dengan cepat Stella melepaskan Asmoro. Ia hanya bisa mengelus dada karena ucapan Asmoro yang berbau-bau ranjang.
"Enggak. Aku lagi enggak kepengen sama sekali. Aku ingin gaun yang bagus untuk menghadiri ulang tahun teman kamu yang sangat brengsek sekali," kesal Stella.
"Baiklah. Aku akan pergi ke kamar untuk mengganti baju. Tunggu di depan. Aku tahu merreka sudah menunggu," ucap Asmoro sambil memerintahkan Stella untuk menunggunya di depan.
Sementara yang lainnya sudah menunggu di depan. Para gadis itu memang sengaja berangkat dengan para prianya masing-masing.
"Stella ditahan sama kak Asmoro nich," celetuk Jacob.
"Lama-lama Kak Asmoro menjadi bucin tingkat Dewa. Aku hanya bisa berkata kepada Kak Asmoro. Kalau dunia ini milik mereka berdua," kesal Imron.
__ADS_1
"Kenapa kamu kesal begitu? Bukannya kamu mendukung kisah cinta mereka?" tanya Ian.
"Maksud aku, hampir setiap hari aku melihat Kak Asmoro sedang bermesraan selalu jadi satu kenangan manis," jawab Imron.
"Yay... malah nyanyi nich orang," sahut Jacob.
"Memang bagus sih. Papa Asmoro sudah merubah sikapnya demi menerima Stella untuk menjadi suami yang baik. Aku sempat berpikir, kalau papa tidak akan menikh sama sekali," puji Natalie.
"Jangankan kakak. Kak Alexa sering mengeluh tentang keberadaan istri Kak Asmoro. Hampir setiap hari Kak Alexa memilihnya untuk dijadikan istrinya Kak Asmoro. Ujung-ujungnya Kak Asmoro malah menolaknya mentah-mentah," kata Adelia dengan jujur.
"Kamu benar. Alexa memang sangat baik sekali. Meskipun sudah memiliki keluarga. Namun dirinya sangat peduli terhadap sesamanya," ucap Ian yang membetulkan perkataan Adelia.
Beberapa saat kemudian datang Stella. Ia segera bergabung dengan mereka. Ia menghempaskan bokongnya di samping Dilla.
"Aku kira kamu berangkat bersama," celetuk Stella.
"Kami sengaja berangkat bersama para kekasih. Kamu tahukan kalau aku sendiri meminta pendapat gaun yang sangat cocok sekali," jelas Adelia.
"Apakah setiap wanita selalu meminta pendapat kepada kekasihnya?" tanya Stella.
"Hmmp... enggak juga. Kalau aku sih, ada acara pergi bersama kekasih. Aku lebih baik bertanya ke Kak Jacob. Nah, kalau aku pergi tidak bersama kekasihku. Aku memang sengaja memilih gaun sendiri. Kalau di telepon selalu saja sibuk dengan perkembang biakkan virus dengan nama yang mengenaskan," jawab Natalie.
"Ajarkan aku meretas!" seru Stella yang ingin tahu tentang dunia teknologi.
"Sepertinya kamu tidak perlu belajar hacker," seru Asmoro sambil memakai hoddie.
Melihat Asmoro memakai hoddie, Stella mengucek matanya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau sang suami seperti anak muda jaman sekarang.
"Hmmp... papa sekarang sangat tampan sekali," puji Natalie.
"Kamu orang yang ke sekian memujiku hari ini," sahut Asmoro yang mendekati Stella.
"Orang pertama siapa yang memuji papa," tanya Natalie.
"Itu mama kamu,'' jawab Asmoro sambil menunjuk Stella.
"Darimana kamu memujiku? Aku hanya bilang ganteng kok," tanya Stella sambil menutup wajahnya karena malu.
"Mama," pekik Natalie.
"Bangun tidur kamu bilang aku ganteng. Padahal saat itu aku belum mandi sama sekali," ucap Asmoro.
__ADS_1
"Mama kalau bilang mesti malu sama ke papa. Sepertinya aku aakan mendaftarkan diri untuk menjadi anak kalian," celetuk Natalie.
"Kamu kan sudah menjadi anakku. Kenapa kamu harus daftar lagi?" tanya Asmoro.
"Keburu siang. Ayo kita pergi ke butik," ajak Stella yang sengaja menghentikan mereka berdebat.
Mereka akhirnya berdiri dan mulia berjalan ke garasi. Di sana mereka memilih satu mobil yang akan dipakainya seharian.
Asmoro menjatuhkan mobil sport yang sedang happening banget. Bahkan ia memiliki dua unit sekaligus. Rencana mobil itu mau diberikan ke Stella. Berhubung Stella belum menyetir. Jadi Asmoro memutuskan untuk menyimpannya kembali.
"Bolehkah aku memiliki sebuah mobil sport?" tanya Stella yang ingin memiliki mobil sport.
Asmoro langsung menarik tangan Stella. Ia mengajaknya ke sebuah tempat. Ia menunjukkan sebuah mobil sport keluaran terbaru (author enggak akan menyebutkan nama mereknya takut kena sensor).
Setelah itu mereka berhenti di depan mobil yang sedang terparkir dengan elegan. Asmoro memegang tangan Stella untuk mendekati mobil.
"Aku kemarin baru saja membeli dua mobil couple yang sedang happening banget," ucap Asmoro yang sengaja menunjuk mobil baru.
"Hmmp... sangat cantik sekali," puji Stella. "Bisakah aku membawanya ke Indonesia?"
"Apa yang kamu minta semuanya bisa. Nanti biar Ian yang mengurusnya," jawab Asmoro yang benar-benar ingin membahagiakan Stella.
"Terima kasih," balas Stella.
Asmoro tersenyum sambil merangkul Stella. Asmoro mengajak Stella untuk membuka pintu mobil dan menyuruhnya duduk disini.
Sedangkan mereka melihat Asmoro yang sangat baik sekali kepada Stella. Jujur mereka diam membeku melihat perlakuan Asmoro terhadap Stella. Mereka benar-benar menjadi saksi hidup Asmoro sang pemilik jiwa iblis. Mereka terus saja menyaksikan gerak-gerik Asmoro.
"Apakah dia Papa angkatku? Yang dulu beliau suka menghabisi banyak musuhnya dengan tangannya sendiri. Kenapa sekarang beliau menjadi lembut begini?" tanya Natalie yang benar-benar tidak mengerti.
"Dia adalah papamu sendiri. Papamu memang sudah berubah," jawab Jacob.
"Syukurlah," puji Ian.
"Apakah kita akan disini melihat kemesraan mereka?" tanya Imron yang kesal terhadap Asmoro dan Stella.
"Sepertinya dunia ini memang milik mereka berdua," jawab Dilla yang terkekeh melihat Imron yang kesal.
Mereka akhirnya bubar dan meninggalkan Stella dan Asmoro. Lalu mereka akhirnya masuk kedalam mobil masing-masing.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Asmoro yang sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1