Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Kemana Para Musuh?


__ADS_3

"Apakah itu perlu aku harus mengajak mereka? Apa keuntungannya buat aku? Jelaskan padaku sekarang juga?" tanya Merry.


"Ada untungnya jika mereka bergabung sama kita. Mereka memiliki koneksi kuat di berbagai kalangan. Siapa tahu mereka bisa mengambil alih Exodus dari tangan papamu itu," jelas John yang memberikan keuntungan bila bekerja sama dengan Tutik dan Patty.


"Kalau kita berhasil?" tanya Merry yang penasaran dengan John.


"Setelah berhasil mengambil alih Exodus dari papamu. Aku bisa menyingkirkan mereka dengan hati-hati. Jika kamu ingin membunuhnya, itu terserah kamu," jawab John dengan jujur.


"Ternyata ide kamu sangat licik sekali. Setelah ini jalankan rencana ini jangan sampai Papaku tahu!" titah Merry.


John tersenyum miring karena ide Merry. John akan mendekati mereka lagi dan merayunya bekerja sama. Lalu berapakah John memberikan upah kepada mereka?


"Jika kita mempekerjakan mereka. Berapa yang harus kita bayarkan untuk mereka?" tanya John.


"Tenanglah. Jika mereka berhasil membunuh papaku, aku akan memberikannya sebuah hadiah. Yang di mana hadiah itu tidak pernah mereka lupakan. Kemungkinan besar aku akan memberikan beberapa fasilitas yang ku punya buat mereka. Setelah itu aku memutuskan hubungan kontrak. Aku harap kamu mengerti apa tujuan utamaku sekarang," jawab Merry.


Tiba-tiba saja ponsel Merry berdering. Wanita muda itu melepaskan John lalu masuk ke dalam. Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layarnya itu.


Betapa terkejutnya Merry melihat siapa yang menghubunginya.


"Duh ini pasti ada bencana di markas," gerutu Merry.


John yang penasaran dengan Merry memutuskan untuk masuk ke dalam. Lalu John melihat Merry dan bertanya, "Ada apa kok kamu kaget seperti itu?"


Merry memberikan kode agar John tidak berbicara. Ia segera mengangkat ponselnya dan berbicara kepada seseorang. Di saat orang itu menjelaskan, tubuh Merry sudah bergetar. Ia hampir saja pingsan dan jatuh ke lantai. Setelah selesai menerima telepon, mari membuang nafasnya berkali-kali sambil menatap John.


"Ada apa gadis kecilku?" tanya John yang penasaran.


"Ini masalah gawat. Papa sedang menuju ke sini untuk menggagalkan rencana kita. Aku harus bagaimana saat ini? Apakah aku harus bersembunyi? Atau aku akan meninggalkanmu untuk sementara waktu," jawab Merry yang bingung dengan Liam yang akan datang ke Indonesia.


"Itu mudah. Lebih baik kamu bersembunyi saja di pedesaan untuk sementara waktu. Jika tidak papamu bisa melacak dan mencarimu. Aku yakin papamu membawa banyak pengawal untuk mencarimu," jelas John yang membuat Merry menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Atau juga kita temui saja bersama-sama. Kita bisa menyembunyikan rencana ini dari mereka. Karena aku yakin papamu tidak akan curiga sedikitpun. Bilang saja kamu sedang menimba ilmu di negara ini. Atau juga kamu sedang liburan," tambah John.


Marry menggigiti kuku tangannya sambil berpikir. Lalu ia menemukan sebuah ide. Akhirnya marry membisiki John dan tersenyum manis.

__ADS_1


"Itu sangat bagus. Kamu bisa membuat alasan tentang manusia zombie yang sudah aku buat. Bilang saja kamu tertarik dengan penelitianku ini. Dan ingin belajar lebih dalam soal obat-obatan yang aku buat," jelas John.


Akhirnya Merry menyetujui permintaan John. Memang John sangat lihai sekali menyembunyikan sesuatu dari Liam. Cepat atau lambat mari akan segera melancarkan aksinya.


Sore yang cerah di kota Jakarta. Tiba-tiba saja Asmoro teringat wajah ayu Stella. Lalu Asmoro memutuskan membereskan dokumen-dokumen itu. Kemudian Asmoro mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.


"Hatori," panggil Asmoro.


"Iya tuan," sahut Hatori.


"Jangan panggil aku Tuan. Kita sekarang sudah satu keluarga. Kamu adalah kakak iparku sekarang. Maka dari itu kamu bisa memanggilku nama saja. Oh ya... Kalau kamu mau pulang pulang saja. Aku tidak akan membayar lemburanmu beberapa hari kedepan," pesan Asmoro sambil memakai jasnya.


"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Hatori yang sengaja tidak memanggil namanya.


"Aku ingin mencari benang sulam untuk diberikan kepada adikmu itu," jawab Asmoro.


Sontak saja Hatori terkejut. Tiba-tiba saja dirinya mengingat, kalau sang adik tidak bisa menyulam. Jangankan menyulam, memegang jarum dan benang Stella langsung memasang wajah jeleknya itu.


"Perasaan Stella pernah bercerita kepadaku. Kalau dirinya tidak bisa menyulam sedikitpun. Tapi kenapa tiba-tiba saja Stella ingin menyulam?" tanya Hatori.


"Aku tidak tahu itu. Aku juga pernah membaca artikel tentang dirinya. Memang dirinya tidak bisa menyulam apalagi menjahit pakai tangan. Tapi ini sangat aneh sekali. Kemungkinan besar Stella akan mempelajari teknik menyulam dari Bang Yusuf," jawab Asmoro yang membuat Hatori menganggukkan kepalanya.


"Ya kamu benar. Seenggaknya kamu keluar dari sini sudah memiliki banyak ilmu. Aku berharap kamu sudah pandai menguasai bisnis dan manajemen," jelas Asmoro.


"Kenapa Papa tidak memberikan sebagian Kurumi ke Stella maupun Adelia?" tanya Hatori sekali lagi.


"Karena kami sudah menjamin hidup adik-adikmu. Meskipun Ian seorang asisten. Seluruh aset dimilikinya bisa menyamai beberapa CEO ternama. Karena Ian adalah seorang pria pekerja keras. Kamu jangan khawatir soal kehidupan Adelia maupun Stella. Sekarang yang kamu pikirkan adalah hidupmu sendiri. Kamu harus mencari pasangan hidup dan bisa merawatmu dengan tulus tanpa embel-embel kepalsuan yang nyata," jawab Asmoro yang menjelaskan sekaligus memberikan sebuah pesan. Agar Hatori tidak salah memilih pasangan hidup.


"Baiklah," balas Hatori yang penuh haru.


Hatori sangat beruntung sekali menemukan Asmoro. Jujur dirinya sangat mengagumi atas tindak-tanduk sang adik iparnya itu. Meski namanya berubah, Lampard tetaplah Asmoro yang rendah hati ketika memimpin perusahaan.


Asmoro melangkahkan kakinya meninggalkan Hatori. Sebelum dirinya pergi, Asmoro masuk ke dalam ruangan Ian. Asmoro melihat Ian masih sangat sibuk sekali. Lalu Asmoro bertanya, "Apakah pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sedikit lagi," jawab Ian yang tidak melihat Asmoro.

__ADS_1


"Hentikanlah pekerjaanmu itu! Kamu harus ikut aku ke pabrik benang rajut!" perintah Asmoro.


"Buat apa kita pergi ke pabrik benang rajut?" tanya Ian yang penasaran sekali dengan Asmoro.


"Stella meminta benang rajut untuk merajut pakaian. Aku ingin membelikannya sebagai tanda kasih sayangku untuknya," jawab Asmoro yang membuat Ian mengangkat kepalanya.


"Kamu benar-benar sudah jatuh cinta sama Stella," ucap Ian.


"Biarkanlah cinta ini berkibar apa adanya. Aku tidak akan membendung rasa Ini. Karena aku sudah ditakdirkan untuk bersamanya," jelas Asmoro.


"Bagaimana kalau besok saja?" tanya Ian.


"Tidak bisa. Kita harus ke sana. Aku sudah berjanji bahwa hari ini akan membelikan benang itu. Stella ingin sekali merajut bajuku," jawab Asmoro yang menolak rencana Ian.


"Masuk akal sih. Ya sudah kita ke sana. Bukankah pabrik benang itu berada di depan pabrik perusahaan kita?" tanya Ian yang membereskan pekerjaannya itu.


"Ya itu benar. Aku sudah menghubungi sang pemilik untuk memberikan banyak benang untuk Stella. Dan sang pemilik itu pun akan memberikan benang itu malam ini," jawab Asmoro.


Akhirnya Ian mengalah karena permintaan Asmoro. Dirinya memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Sebagai kaki tangan yang setia, Ian selalu mendampingi Asmoro ke mana pergi.


"Lagi ngerjain apa kok sibuk banget?" tanya Asmoro yang meninggalkan Ian.


Dengan langkah cepatnya, Ian segera menyusul keberadaan sang bosnya itu. Lalu Ian berjalan cepat dan menyetarakan jalannya dengan sang bos. Sesampainya di lift, Hatori juga menyusulnya.


"Kamu juga ikutan pulang?" tanya Ian.


"Ya Aku ingin pulang. Aku nggak mau lembur di sini sendirian. Di sini banyak makhluk yang tidak kelihatan. Terkadang mereka mengajakku bercanda," jawab Hatori yang kesal karena ditinggal sendirian.


"Memang ada ya makhluk tidak kelihatan?" tanya Ian yang tidak percaya dengan hal gaib.


"Aku tidak akan menceritakannya kepadamu. Jika cerita kamu pasti nggak mau di sini," jawab Hatori secara blak-blakan.


Asmoro menganggukkan kepalanya dan membenarkan perkataan Hatori. Lalu Asmoro tidak menceritakan kepada Ian. Karena Ian sendiri orang yang sangat penakut sekali.


Tepat jam 05.00 sore, mereka meninggalkan kantor S&T. Asmoro dan Ian menancapkan gasnya ke arah pabrik pembuatan kue. Di dalam perjalanan, mereka sangat menikmati yang namanya macet. Di dalam mobil Ian baru sadar dengan beberapa musuh yang tidak menyerangnya.

__ADS_1


"Jujur, aku baru sadar kalau musuh tidak menyerang kita lagi," ucap Ian yang fokus menatap ke depan.


"Iya ya. Ke mana mereka? Apakah mereka telah kehilangan banyak pengawalnya saat aku meluncurkan rudal ke bawah?" tanya Asmoro yang penasaran sekali dengan Exodus.


__ADS_2