
"Ya... aku bia memahami sifat wanita. Karena aku memiliki seorang wanita yang ku cintai," jawab Ian.
"Seberapa besarkah kamu mencintai adikku?" tanya Stella yang sangat penasaran sekali.
"Tidak bisa diukur oleh meteran," jawab Ian dengan jujur.
Plaaaaak.
Imron sangat kesal terhadap Ian. Ia tidak menyangka kalau cintanya itu disamakan dengan bahan bangunan. Mana ada ceritanya begitu?
"Panas tahu!" kesal Ian.
"Lagian kamu menyamakan perasaan dengan kisah cinta dengan bahan bangunan?" tanya Imron yang membuat Stella matanya membola sempurna.
"Maafkan calon adik ipar kamu ini. Ian memang seperti ini," ucap Imron yang mengerti hati Stella.
"Lalu kamu bagaimana?" tanya Stella yang menatap wajah Imron.
"Ya aku juga mengerti perasaan wanita. Aku kan memiliki kekasih," jawab Imron yang berkata jujur juga.
"Hmmp... terus seberapa dalam kamu mencintai Dilla?" tanya Stella.
"Ya... aku memang sangat mencintainya. Aku tidak ingin meninggalkannya dalam waktu sedetikpun," jawab Imron dengan jujur.
Stella menghempaskan bokongnya lalu duduk di hadapan mereka berdua. Diam-diam matanya mencari sebuah kebohongan di kedua mata pria itu. Akan tetapi ia tidak menemukannya sama sekali.
"Hmmmp.... sepertinya aku tidaak menemukan sebuah kebohongan apapun itu,' jelas Stella.
"Aku tidak ingin berbohong apapun ketika memiliki pasangan. Jika kau berbohong, kalau ketahuan sama kekasihku itu. Maka kekasihku itu akan memecatku lalu mencari pria lain," ucap Ian yang menjelaskan kalau dirinya memang tidak ingin membuat hubungan semakin runyam.
"Ya... sudah kalau begitu. Apakah kalian memiliki singa yang berjenis kelamin betina?" tanya Stella yang ingin memiliki singa berjenis kelamin betina.
"Sepertinya ada. Singanya itu baru saja dilahirkan beberapa minggu yang lalu. Tapi kata sang perawatnya, singa itu belum memiliki nama," jawab Ian.
"Aku mau satu," sahut Stella yang bersorak kegirangan ingin melihat singa kecil itu.
"Please dech calon kakak iparku yang cantik sekali. Janganlah kamu membuat ulah. Aku takut nanti suami kamu marah. Jika marah maka aku yang terkena semprot," ucap Ian yang bergidik ngeri.
"Tenanglah. Aku tidak akan mengadu ke Kak Asmoro. Aku ingin memegangnya saja," pinta Stella dan memasang wajah imutnya itu.
Ian langsung menelan salivanya dengan usah payah. Ia sangat bingung melihat wajah Stella yang tiba-tiba berubah menjadi wajah imut dengan cepat.
"Bagaimana ini?" tanya Ian ke Imron.
__ADS_1
"Tidak tahu. Aku hanya memilih untuk diam dan tidak ikut-ikutan dala kasus ini," jawab Imron yang sengaja todak ingin ikut campur dalam kasus ini.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Ian yang sebenarnya mu membantu Stella.
"Lebih baik kita lakukan saja. Aku ingin sekali memegang bulunya itu," jelas Stella yang ingin memegang bulu singa.
"Kamu serius melakukannya?" tanya Ian.
"Ya... aku memang ingin memegangnya. Karena aku sedang ngidam memegang bulu kucing besar itu," jawab Stella.
"Apa?" Pekik Ian yang terkejut.
"Kamu kenapa terkejut? Memangnya kenapa? Enggak oleh ya?" tanya Stella secara bertubi-tubi.
"Bukannya enggak boleh. Nanti kamu dalam bahaya," jawab Ian yang tidak ingin Stella dalam bahaya.
"Hmmmp... tapi aku ingin Ian. Please... berikan aku singa kecil itu," pinta Stella yang mulai merengek meminta singa itu.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo ikut," ajak Ian yang berdiri meninggalkan Imron.
Stella tersenyum manis sambil beranjak berdiri lalu mendekati Ian. Mereka akhirnya pergi ke suatu tempat.
Sementara itu Asmoro membiarkan Stella pergi kemana. Ia masih meneruskan banyak pekerjaan.
Sesampainya di sebuah ruangan, Ian melihat beberapa pengawal yang sedang duduk menikmati kopi panas.
"Bisakah kalian membukakan pintu itu untukku?" tanya Ian.
Salah satu pengawal tersebut berdiri dan membukakan pintu itu. Ia menyambut kedatangan Ian dan Stella sambil mempersilahkan masuk ke dalam.
Ian mengajak Stella masuk ke dalam. Di sana mereka melihat ada beberapa orang yang sedang memandikan singa-singa. Para singa itu pun sangat senang dan tidak berontak sama sekali.
"Bagaimana kabar para singa disini?" tanya Ian yang melihat pria bertubuh kekar sedang mengajak singa besar tersebut.
"Mereka baik-baik saja. Mereka baru saja suntuk vaksin beberapa hari yaang lalu," jawab pria itu.
"Lane," panggil Ian.
"Ada apa?" tanya Lane nama pria itu.
"Bisakah kamu memperlihatkan singa yang beberapa minggu dilahirkan sama Gina?" tanya Ian balik.
"Ada. Meeka habis makan," jawab Lane yang melepaskan singa itu. "Kalau begitu ikut aku!"
__ADS_1
Lane mengajak mereka ke tempat penangkaran anak singa. Ian dan Stella mengikutinya dari belakang. Sementara Ian tidak tahu kalau Stella sudah jatuh cinta kepada singa yang dibawa sama Lane. Namun niatnya seperti itu diurungkan. Sebab singa itu sangat terlalu besar sekali. Takutnya ketika mengajaknya, singa itu mengaum dan menakutkan banyak orang.
Ketika sampai disana, Lane mempersilakan mereka untuk melihatnya. Dengan mata berbinar, Stella berlari menuju ke tempat itu.
Beberapa singa kecil itu mengaum tanda bahagia. Mereka segera mendekat kepada Stella dan menatapnya.
"Mereka sangat lucu sekali ya?" tanya Stella yang membuat Ian bergidik ngeri.
"Apa?" pekik Ian yang benar-benar ketakutan.
Lane sebagai sahabat Ian langsung menepuk bahu Ian. Ia tersenyum lucu dan menganggukan kepalanya. Ia pun mengajak Ian mendekatinya.
"Mereka baru saja dilahirkan beberapa minggu yang lalu," ucap Lane.
"Apakah aku boleh memintanya yang betina?" tanya Stella.
"Buat apa kamu memintanya? Nanti kamu dimarahi sama Kak Asmoro?" tanya Ian balik.
"Siapakah wanita ini? Dia sangat cantik sekali dan sangat mengagumkan sekali," tanya Lane yang baru mengetahui keberadaan Stella.
"Jangan kamu puji wanita itu. Nanti kalau ada yang punya pasti marah," jawab Ian yang tidak ingin Lane dipecat dari pekerjaannya itu.
"Apakah dia pacarmu? Suaranya sangat lembut seperti kapas," tanya Lane yang sengaja memuji Stella.
"Kamu itu bagaimana? Bisa-bisanya kamu memuji nyonyamu sendiri," tanya Ian sambil memberitahukan kepada Lae kalau Stella adalah nyonyanya.
"Apa?" pekik Lane.
"Iya... dia nyonya kamu," jawab Ian. "Dia istrinya Tuan Lampard."
Lane langsung bergidik ngeri mendengar pernyataan dari Ian. Pasalnya ia baru tahu kalau wanita itu adalah milik Lampard alias Asmoro. Ia hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali sambil bergidik ngeri.
"Aku enggak mau memuji dia. Lebih baik aku tarik kembali pujianku," ucap Lane sambil menunduk ketakutan.
"Sudah enggak apa-apa. Lagian tuan Lampard sedang sibuk dengan pekerjaannya itu," hibur Ian yang tersenyum manis.
"Terima kasih," balas Ian.
"Aku tanya sekali lagi. Bolehkah aku memintanya?" tanya Stella sambil berdiri di hadapannya.
"Boleh dech. Tapi mereka belum diberikan nama yang sangat cocok sekali," jawab Lane.
"Kamu jadi minta yang mana?" tanya Ian yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1