
"Sudah cukup baik. Lukaku sudah mengering tuan," jawab Stella.
"Jangan panggil aku tuan," jawab Raka.
"Apakah kalian saling mengenal?" tanya Alexa.
"Aku bertemu dengannya bersama Kak Lampard dan Kak Ian. Apakah Kak Lampard cerita tentang Stella?" tanya Raka.
"Ya... Papa memang sudah cerita tentang Stella. Stella mau dijual ke mafia obat-obatan terlarang," jawab Alexa. "Rasanya aku sudah lama tidak membakar pabrik obat-obatan itu."
Stella yang mendengar Alexa ingin membakar pabrik obat-obatan terlarang hanya bergidik ngeri. Bagaimana bisa seorang Alexa yang bawaannya kalem dan lembut berubah menjadi bar-bar. Kemudian Alexa paham dan menatap wajah Stella dan tersenyum, "Kamu jangan takut seperti itu. Aku tidak akan berbuat onar."
"Apakah kakak yakin ingin membakar pabrik itu?" tanya Stella.
"Ya aku akan membakar pabrik itu jika telah menemukannya," sungut Alexa. "Aku sudah kesal dengan yang namanya pabrik obat-obatan terlarang itu!"
Stella hanya menganggukkan kepalanya dan menurut apa yang dikatakan oleh Alexa. Stella belum mengetahui siapa Alexa yang sebenarnya? Jika tahu Alexa bar-bar, apakah Stella terpengaruh dan ikut-ikutan bar-bar juga? Semoga saja Stella bisa menjadi bar-bar sama seperti Alexa.
"Aku menitipkan Rara di sini hanya untuk beberapa hari. Rinda sedang ada seminar di Melbourne. Aku mau masuk ke dalam lab," jawab Raka.
"Baiklah," balas Alexa.
Lalu Raka meninggalkan mereka yang asyik bersantai. Alexa memegang tangan Stella sambil berkata, "Kamu tidak perlu takut denganku. Aku memang suka membakar pabrik obat-obatan terlarang. Kamu tahu kenapa aku melakukannya?"
"Ya aku tahu itu kak. Banyak sekali dampak negatif yang akan menyerang tubuh," jawab Stella.
"Bahkan sekarang ada produk baru yang di mana bisa membuat gagal jantung hanya beberapa menit," ucap Alexa.
"Apa?" pekik Stella.
"Ya itu benar," jawab Alexa. "Berita itu sudah menyebar hingga ke telingaku."
"Ternyata tidak bualan saja," ujar Stella.
"Apakah kamu sudah mendengarnya?" tanya Alexa.
"Ya... Bahkan aku melihatnya sendiri ketika orang itu memakai obat tersebut," jawab Stella.
__ADS_1
"Apakah kamu mengkonsumsi obat-obatan terlarang?" tanya Alexa.
"Tidak. Mereka hanya teman-temanku pas waktu nongkrong di perkampunganku. Aku sering melihat mereka mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Namun mereka melarangku," jawab Stella dengan jujur.
"Syukurlah. Jika kamu mengkonsumsi obat itu. Aku pastikan masa depan kamu hancur berantakan!" titah Alexa.
"Tidak kak... Aku bersumpah tidak akan melakukannya," balas Stella.
Malampun tiba di dermaga. Lampard melihat ada kapal milik pelayan yang sudah bersandar. Kemudian Lampard melihat Imron yang sedang bernegosiasi dengan sang pemilik. Tak lama Imron memberikan sejumlah uang tunai untuk membeli kapalnya itu. Kemudian Imron mendekatnya sambil berkata, "Semuanya sudah beres bro!"
"Siap!" teriak Gio yang datang bersama Martin.
"Ke mana Jacob?" tanya Lampard.
"Jacob masih mencari keberadaan radar kapal milik musuh," jawab Martin.
Tak lama Jacob keluar dengan membawa tabletnya. Lalu Jacob mendekati mereka sambil berkata, "Kapalnya sudah masuk ke dalam perairan Indonesia."
"Kalau begitu mari kita bermain," ucap Lampard dengan tersenyum smirk.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kapal. Mereka bersiap untuk menjalankan aksinya. Jacob yang masih serius akhirnya menemukan radar kapal pengangkut obat-obatan itu. Jacob akhirnya berteriak, "Aku menemukan kapal itu! Imron arah jam sebelas!"
Imron segera menuju ke arah jam sebelas malam. Benar saja ada kapal yang akan datang memasuki perairan Indonesia. Lampard memandang wajah Jacob untuk mematikan mesin kapal itu. Dengan cepat Jacob menganggukan kepalanya dan mengotak-atik tabnya.
"I did it," seru Jacob.
Lampard, Leon dan Ian segera menyelam ke laut. Mereka berenang menuju ke bawah kapal itu untuk memasang peledak. Sedangkan sisanya mulai memancing. Mereka melakukannya agar bisa mengecoh musuh.
Lampard memasang beberapa bom di bawah kapal itu. Setelah berhasil mereka mulai berenang untuk mendekati kapal itu. Saat naik ke atas kapal Jacob dan Imron mendapatkan dua ikan besar. Mereka menyimpannya ke dalam ember itu.
"Apakah kalian sudah selesai memancing?" tanya Lampard.
"Sudah," sahut Jacob.
"Kalau begitu kita ke dermaga," ajak Lampard.
Imron menyalakan mesinnya untuk pulang ke dermaga. Sementara beberapa para pengawal Exodus sangat panik ketika kapal mendadak mati. Hampir dua puluh menit kapal mereka tidak bisa menyalakan kapal itu. Namun beberapa saat kemudian kapal nyala kembali. Tanpa disadari oleh mereka kapal yang akan mendarat di dermaga sudah terpasang oleh bom.
__ADS_1
Sesampainya di dermaga mereka berkumpul dan tersenyum manis. Gio memberikan penghormatan kepada Lampard untuk memencet tombol pada tabnya itu. Lampard segera menekan tombol itu dan terdengar...
Dooommmmmmmmm!
Sebuah ledakan besar di kapal itu pun terjadi. Kapal itu akhirnya hancur berkeping-keping. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali dan berisitirahat. Misi kali ini sangat sukses untuk menghabisi kapal musuh.
Meksiko City, Meksiko.
Liam yang mendengar kapalnya meledak sangat geram. Liam mulai menghancurkan barang-barangnya yang berada di sekitarnya itu. Bagai mimpi buruk yang menghantui Liam. Sudah setahun ini barang yang sampai dikirim ke Asia tidak berhasil.
"Tuan," panggil Thomson.
"Apa!" bentak Liam.
"Apakah kita akan kirim barang melalui jalur udara?" tanya Thompson yang memberikan saran.
"Semakin lama kamu semakin bodoh ya, Thompson!" bentak Liam. "Kamu pikir kita bisa apa mengirimkan barang itu lewat udara!" bentak Liam lagi. "Para interpol sedang memburuku! Aku hanya bisa mengirimkan barang itu melalui jalur laut!"
"Maaf tuan. Saya hanya memberikan saran kepada anda," ucap Thompson dengan penuh hati-hati.
"Saran yang bodoh!" bentak Liam.
"Maaf tuan," sahut Thompson dengan wajah ketakutan.
"Kalau begitu kalian pergilah dari sini! Sebelum aku menghabisi kalian!" bentak Liam.
Mereka segera pergi meninggalkan Liam dengan wajah lesu. Lalu Lampard mulai menghancutkan barang-barang yang ada disekitarnya. Tak lama datang Bella dengan memakai baju yang glamor sambil menghisap rokoknya. Lalu Bella mendekatinya sambil berkata, "Berikan aku uangmu Liam!"
Liam yang melihat sang istri datang tersenyum meledek. Bisa-bisanya sang suami dilanda duka malah meminta uang. Liam mendekatinya sambil menampar Bella hingga jatuh tersungkur, "Bisa-bisanya kamu meminta uang ketika suamimu terkena bencana!"
Bella yang melihat Liam dalam mode menyalang langsung bangkit dan menatapnya nyalang. Lalu Bella mulai mengancamnya, "Jika tidak kamu memberikan uangmu tiga juta dolar malam ini. Aku pastikan besok TL Inc akan hancur berkeping-keping!"
Ketika mendapat ancaman seperti itu, Liam menghembuskan nafasnya secara kasar. Liam takut jika Bella menarik semua sahamnya dari sana. Kemungkinan besar TL Inc. bisa hancur berkeping-keping. Akhirnya Liam mengambil ponselnya dan mengirim uang tersebut dengan permintaan Bella.
Batam Indonesia.
Lampard segera membereskan berkas-berkasnya. Tak lama Ian datang dengan membawa sarapan dan menaruhnya di meja, "Mereka sudah berangkat ke Jakarta pagi ini."
__ADS_1
"Baguslah," ucap Lampard yang masih sibuk.
"Kenapa wajahmu enggak semangat?" tanya Ian.