
"Maafkan kami tuan. Kami tidak bisa mengambil seluruh berkas-berkas yang berada di sana," jawab pengawal itu.
"Kenapa kamu tidak bisa mengambilnya?" tanya John yang sedikit berteriak.
"Ketika kami sampai rumah sudah dilalap si jago merah. Kami tidak bisa mengambilnya," jawab pengawalnya lagi.
John langsung beringsut ke bawah sambil melihat tanah. Tangannya mengepal giginya gemelutuk dan matanya menatap tajam ke arah tanah itu. Di dalam hatinya berkobar mengibarkan bendera peperangan. Ia akan menyerang markas Black Horizon. Karena dirinya sudah mengira kalau yang melakukannya adalah Black Horizon.
"Awas aja kalian semuanya. Akan aku bakar markas kalian malam ini juga!" geram John.
Setelah itu John berdiri dan meraih ponselnya. Ia mencari nomor Tuti lalu menghubunginya.
Sementara sang istri sedang mengadakan pertemuan bersama teman sosialitanya. Ia langsung mengangkat ponselnya dan menyapa seseorang yang berada di seberang sana, "Halo."
"Kamu berada di mana sekarang!" tegas John.
"Aku berada di restoran mewah bersama teman-teman sosialitaku.Memangnya kenapa kamu menghubungiku secara mendadak seperti ini? Kamu ini orangnya mengganggu kesenanganku saja," kesal Tutik yang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat berkumpul dengan teman-temannya itu.
"Apakah kamu nggak tahu kalau rumahmu itu terbakar?" tanya John dengan nada menekan.
"Kamu itu ya siang-siang kebangetan bercandanya. Padahal rumah yang waktu aku tinggal tidak apa-apa. Dari mana rumah itu bisa terbakar?" Kesal Tutik.
"Aku mau kita bertatap muka secara langsung. Aku ingin memperlihatkan rumah kita terbakar hebat. Di sana masih ada dokumen-dokumen yang bisa menghasilkan uang. Jika dirupiahkan akan membeli sebuah jet pribadi," jawab dong yang sudah tidak sabar untuk melakukan panggilan video.
"Kebanyakan ngaco ini orang," kesal Tutik sambil mematikan ponselnya lalu menaruhnya di tas.
Tuti tidak perduli dengan keadaan rumahnya itu. Ia tahu kalau John suka bercanda. Namun kali ini dirinya menganggap John bercandanya sudah kelewatan. Dengan kesalnya Tutik melanjutkan aktivitas pertemuan antara teman-teman sosialitanya itu.
Lalu bagaimana dengan Patty? Wanita itu tidak tahu kalau rumahnya terbakar. Patty menganggap Aldo hanya menggertak saja. Tiba-tiba saja ponselnya berdering dan melihat sebuah nama di layar ponselnya itu.
"Tumben, tiba-tiba saja papa menghubungiku. Ujung-ujungnya pasti meminta uang. Nggak Mama nggak papa sama aja kerjaannya," kesel peti lalu mengusap lambang hijau itu dan menyapanya. "Halo."
"Kamu di mana?" tanya John.
"Biasalah pa. Di mana lagi kalau nggak di cafe," kesal Patty.
"Pulanglah ke rumah. Rumahmu sudah terbakar hebat. Seluruh dokumen-dokumenmu sudah hangus terbakar," ucapkan yang tidak main-main dengan nada tegasnya.
Patty memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya Ia mendapatkan berita yang tidak bermutu sama sekali. Ia memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya itu.
Kedua orang terdekat John tidak menggubris apa yang dikatakannya. Mereka memilih untuk bersenang-senang ketimbang rumahnya terbakar itu. Mau tidak mau John menjadi cara agar rumahnya berdiri kembali. Akan tetapi hatinya merasa geram di saat ingat dengan dokumen-dokumen yang terbakar itu.
__ADS_1
Apartemen Snowden.
"Sayang," panggil Anita.
"Ada apa?" tanya Agatha.
"Aku rindu pada anak-anakku," jawab Anita sambil menundukkan wajahnya.
"Sabarlah! Tunggu nanti sore saja. Aku harap kamu tidak bersedih lagi. Kamu tahu mereka sangat cantik sekali dan tampan. Aku masih bersalah sama kamu," ucap Agatha dengan sendu.
"Kamu nggak salah. Aku yang salah. Jangan pernah membuat besar masalah ini. Aku tahu masalah ini akan selesai dengan segera," ujar Anita.
Di saat Anita memegang remote TV. Anita sengaja mencari channel yang berisikan berita. Tidak sengaja Anita melihat berita tentang kebakaran hebat. Matanya membulat sempurna dan menunjuk ke arah TV itu.
"Agatha," panggil Anita.
"Ada apa?" tanya Agatha.
"Bukankah itu rumah kita?" Tanya Anita yang melihat bangunan mewah terbakar.
Seketika Agatha terkejut melihat rumah itu terbakar. Hatinya merasa diremas karena rumah tersebut memiliki banyak kenangan. Namun apa daya, Agatha sudah melepaskan bangunan itu saat terjadi kehancuran rumah tangganya.
"Biarkanlah. Aku sudah melupakan rumah itu," ucap Agatha.
"Kemungkinan besar mereka terkena karma. Ya sudah Jangan dipikirkan soal rumah itu. Aku sudah mempunyai istana yang lebih mewah lagi daripada rumah itu. Suatu Hari Nanti aku dan anak-anak bersama para cucu akan tinggal di sana selamanya," jawab Agatha.
"Ya sudah aku tidak akan memikirkannya lagi. Lalu kita harus ngapain?" tanya Anita yang tersenyum manis.
"Aku punya ide. Bagaimana kalau aku menjual resep kue susuku itu di S&T Company?" tanya Agatha balik.
"Maafkan Aku. Aku diam-diam mencuri resepmu untuk membuat kue susu itu dalam skala kecil," jawab Anita sambil ketakutan.
"Tidak apa-apa. Jika resep itu bisa membuat anak kita sekolah lagi. Aku akan membiarkan kamu mengembangkannya lagi," ucap Agatha.
"Jujur aku takut sekali membuat resep itu dan menjualnya kembali. Aku tahu nanti kamu akan marah kepadaku. Soalnya resep itu sangat enak sekali dimakan di kalangan bawah maupun ke atas."
"Aku tidak marah sama kamu. Lagian juga kamu turut andil dalam pembuatan kue itu. Jadi kenapa tidak? Mulai sekarang kamu nggak usah lagi membuat kue. Aku sudah berada di sampingmu lagi. Aku berencana ingin menjual resep itu ke perusahaan tadi."
"Apakah kamu akan membuat toko kue itu?"
"Sudah enggak. Aku akan fokus mendirikan cabang ekspedisi di sini. Kemungkinan besar di pulau ini akan banyak kantor-kantorku yang berdiri."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana kamu menjadi pegawai S&T Company?"
"Aku akan join dengan mereka. Siapa tahu nanti mereka bisa membantuku untuk mendirikan perusahaan itu. Diam-diam aku akan menyerang mereka tanpa suara."
"Aku ikut kamu saja. Aku tidak menjadi masalah dengan kamu."
"Bagaimana dengan Adelia?"
"Adelia memiliki bakat seperti kamu. Sepertinya Adelia sangat menyukai memasarkan produk. Suatu hari dia pernah diajak sama Nyonya Alexa bekerja di perusahaannya sebagai kepala marketing. Hanya sebulan Adelia melaksanakannya. Tapi Adelia mengundurkan diri dan lebih memilih merawat si kembar. Karena tujuan utamanya bekerja di sana membantu Nyonya Alexa merawat anak-anaknya."
"Jadi selama ini Adelia adalah seorang babysitter?"
"Iya. Dia memang sengaja menjadi babysitter. Karena di saat usianya remaja sudah sangat menyukai anak kecil. Bahkan di kampung anak-anak kecil sering mencarinya untuk diajak bermain bersama."
"Kalau begitu aku akan menyuruh Lampard agar Adelia bekerja di sana."
"Kalau Tuan Lampard memintanya bekerja di sana. Kemungkinan besar Tuan Lampard akan dilahap oleh Nyonya Alexa. Karena nyonya Alexa sudah menganggap Adelia sebagai anak emasnya."
"Apa benar seperti itu?"
"Iya. Jika Adelia bercerita aku menjadi tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa Nyonya Alexa dan Tuan Lampard sering memperebutkannya."
"Setahuku Alexa adalah istri dari Martin Snowden?"
"Iya itu benar. Tapi Nyonya Alexa namanya sudah terkenal di mana-mana dengan bisnis pusat perbelanjaan semenjak usia belia. Di sisi lain Nyonya Alexa sering sekali memenangkan tender pembangunan taman di Asia. Jujur Nyonya Alexa adalah wanita yang sangat kreatif sekali."
"Bersyukurlah jika anak-anak kita dikelilingi oleh orang-orang hebat. Semakin lama orang-orang hebat itu tidak sengaja memberikan ilmunya secara cuma-cuma kepada anak-anak kita."
"Iya kamu benar. Aku harap anak-anak kita bisa menjadi seorang yang berguna bagi keluarga dan bangsa."
"Amin," ucap Agatha sambil mendoakan ketiga anaknya menjadi orang sukses.
"Setelah ini kita mau ngapain?"
"Menunggu sore ternyata lama juga. Aku sungguh-sungguh sangat merindukan kedua gadis kecilku itu."
"Apakah kamu tidak merindukan Hatori?"
"Ah... Anak itu. Ternyata sifat-sifatku turun semua ke Hatori."
"Kenapa bisa begitu?"
__ADS_1
"Entahlah. Terutama sifat jelekku yang mendominasi. Apakah kamu ingat sesuatu?" tanya Agatha sambil menatap wajah sang istri.
"Apa itu?" tanya Anita yang masih bingung dengan pernyataan Agatha.