Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Rencana Pemindahan Stella.


__ADS_3

“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Lampard.


“Karena aku sangat sayang sama mereka,” jawab Sean.


“Bukannya Mang Dirman sudah memberikan makanan ke kelinci kamu?" tanya Lampard.


“Memang. Tapi Mang Dirman kan telat untuk ngasih makan. Jadi terpaksa aku mengambil wortel mama," jawab Sean.


“Sebaiknya kamu tidak perlu melakukan lagi. Mang Dirman kan datangnya siang. Karena Mang Dirman mengantarkan anaknya sekolah. Kalau kamu nggak mau dimarahin sama mama seperti itu makanya jangan ambil sayurannya mama. Soalnya mama sudah malas ke pasar. Apakah kamu mengerti?” tanya Lampard.


“Baiklah kek, aku akan menuruti ucapan kakek. Aku laper kek belum makan dari tadi," ucap Sean dengan polos.


“Kalau begitu kita ke taman dulu. Kita bermain dulu sama scarlet!" ajak Lampard.


“Okelah kalau begitu. Kita main bola dulu yuk kek!" ajak Sean balik.


Mereka pergi ke taman belakang terlebih dahulu. Sedangkan Edward ditinggalkan oleh sang kakak. Edward pun memandang wajah Ian sambil tersenyum lucu. Lalu Ian memutuskan mengobrol bersama Edward dengan bahasa anak-anak. Kaki tangan mafia itu ternyata memiliki sisi lembut kepada anak-anak. Hampir setiap hari Ian bertegur sapa dengan anak Alexa. Bahkan di jalanan Ian juga sangat ramah dan sering membagikan hadiah untuk anak-anak. Kejadian ini membuat dirinya bisa menjalani hidup dengan ceria.


Sebelum bermain bola, Lampard mendatangi Ian terlebih dahulu. Lampard memberikan tugas untuk menyelidiki siapa itu Patty Smith.


“Ian, kalau kamu ada waktu senggang tolong carikan informasi tentang Patty Smith. Aku ingin tahu siapa itu Patty Smith. Kok bisa-bisanya dia menghabisi Kakak tirinya itu," kesal Lampard.


“Dulu aku pernah mendapatkan informasinya karena dia memiliki profesi model," jawab Ian.


'Apakah itu benar?" tanya Lampard.


"Iya... itu benar," jawab Ian. "Kalau Patty Smith itu bukan siapa-siapa Stella. Kamu tahu kan yang dibahas malam itu apa? John Smith adalah bukan Papa tirinya. Kalau disebut apa ya! Pokoknya mereka bukan keluarga asli Stella. Karena kedua orang tua Stella itu tidak memiliki hubungan darah sama mereka. Yang pastinya mereka itu sengaja merebut aset Kurumi Company," jelas Ian.


“Kalau mereka bukan keluarga lalu siapa?" tanya Lampard.


“Ya kamu benar. Nanti aku akan mencari informasinya secara mendetail. Aku usahakan besok pagi laporan tersebut berada di meja kantormu," balas Ian secepatnya.

__ADS_1


Sementara itu Raka bertemu dengan Gio ketika berada di kantin rumah sakit. Raka memintanya untuk segera ke kantor. Mau tidak mau Gio mengikuti Raka ke kantornya.


“Kenapa kamu menyuruhku ke sini?" tanya Gio.


“Apakah Kak Lampard pernah bercerita kalau ada penyerangan di rumah sakit?'' tanya Raka.


“Ya... Lampard sudah memberitahukannya,'' jawab Gio. ”Jadi apa masalahnya sekarang?“


“Kalau Stella dibiarkan dirawat di sini akan ada penyerangan lagi. Jika rumah sakit diserang lagi berdampak buruk bagi masyarakat. Aku ingin memindahkan Stella ke markas. Jujur saat ini aku belum cerita ke Kak Lampard. Aku tidak tahu bagaimana jawabannya,“ jawab Raka.


Gio pun teringat pada ucapan Lampard waktu lalu. Ia langsung mengambil keputusan agar masalah ini tidak berlarut-larut Akhirnya Gio mengambil ponsel dan mencari nomor telepon Lampard. Masalah ini sangat serius sekali mengingat kenyamanan para pasien. Jika tidak maka rumah sakit akan berdampak buruk di mata masyarakat.


Begitupun juga dengan Stella, Gio tidak akan pernah mau melepaskan Stella begitu saja. Jujur saja Gio menentang penjualan manusia hanya demi kepentingan semata. Gio merasakan ada sesuatu di pundak Stella.


“Aku akan bicara dulu pada Lampard," ujar Gio.


"Siap kak," balas Raka.


"Kalau seperti ini terus kita tidak bisa menundanya lagi. Mau tidak mau Lampard harus menyetujuinya. Kalau dia membangkang akan aku lempar ke samudra Hindia," ujar Gio tidak main-main hingga membuat Raka menelan salivanya dengan susah payah.


“Kamu jangan khawatir soal itu. Meskipun dia memegang jabatan sebagai ketua mafia Black Horizon cabang Asia. Maka kedudukan Lampard lebih tinggi dari aku,'' tegas Gio.


Lampard yang sedang bermain bola mendengar ponselnya berdering. Ia segera menghentikan sebentar lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia mengusap lambang hijau sambil menyapa, “Ada apa kak Gio?”


"Apakah kamu sibuk hari ini?“ tanya Gio balik.


“Tidak, aku tidak sibuk hari ini. Aku sedang bermain dengan Sean," jawab Lampard.


Aku akan ke sana sekarang,“ seru Gio hingga memekikkan telinga Lampard.


“Kakak ini kebiasaan sekali ya. Suka berteriak di telinga orang,” kesal Lampard.

__ADS_1


Gio segera mematikan ponselnya dan tertawa terbahak-bahak. Memang Gio adalah ketua mafia bisa dikatakan kocak dan konyol. Entah bagaimana image sebagai mafia hilang begitu saja jika sedang berbicara dengan Lampard. Mungkin saja Gio sedang berkamuflase agar tidak ketahuan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Karena dirinya seorang mafia.


Sambungan terputus.


“Aku akan menyiapkan pengawalan ekstra buat Stella. Kemungkinan besar malam ini atau besok pagi Stella sudah berpindah dari rumah sakit ini,“ kata Gio.


“Kalau begitu aku setuju Kak. Lebih cepat lebih baik. Aku nggak mau rumah sakit ini dicap buruk oleh masyarakat,” ujar Raka.


“Aku juga sama dengan pemikiranmu,“ balas Gio sambil beranjak berdiri lalu meninggalkan ruangannya.


Sebelum menghilang Gio memberikan badannya dan berpamitan sambil memberi kode agar berhati-hati, “Aku pergi dulu.“


“Hati-hati di jalan jangan lupa pengawalan ketat,“ pesan Raka.


Di apartemen mewah Patty sedang duduk di ruangan kerjanya. Ia membuka laci dan menemukan sebuah foto Stella. Setelah itu ia mengambil pisau buah yang berada di depannya. Dengan wajah muramnya Patty menusukkan pisau ke wajah Stella.


Patty sangat kesal karena belum bisa menjadi CEO Kurumi Company. Lalu ia menghentikan kegiatannya terlebih dahulu. Lalu dirinya tidak sengaja mendengar suara berisik di belakang pintu.


Tak lama ada seseorang pria berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria itu membungkukan badannya sambil memberi hormat, “Selamat siang nona.“


“Ada berita apa hari ini? Apakah kamu sudah membunuh Stella?" tanya Stella dengan tegas.


Pria itu memasang wajahnya dengan ketakutan. Entah kenapa dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sambil merasakan tubuhnya bergetar. Lalu gadis itu beranjak dari duduknya sambil mendekati pria tersebut.


“Aku bertanya kepadamu! Kenapa kamu tidak menjawabnya! Apakah kamu mendadak bisu jadi orang?“ tanya Patty dengan nada sarkas.


Pria itu menunduk dan bingung mau menjelaskan apa yang sudah terjadi. Patty langsung memberikan bogem mentah ke pria tersebut.


Bugh.


Pria itu jatuh tersungkur karena tidak memakai keseimbangan tubuh. Ia segera berdiri sambil meringis kesakitan. Dengan terpaksa pria itu menjawabnya, “Maaf Nona. Tiga orang yang kami perintahkan untuk membunuh Stella tertangkap oleh beberapa orang berpakaian hitam. Sampai saat ini informasi yang kami cari tidak ada.“

__ADS_1


"Apa?" pekik Patty.


 


__ADS_2