Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Mempertahankan atau Melepaskan?


__ADS_3

Pria yang kesakitan itu pun memohon agar tidak dibunuh. Namun Lampard sudah terlanjur berubah menjadi iblis yang menyeramkan. Lampard menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Jadi kamu menyesal?”


“Iya tuan,” jawab pria itu.


“Kenapa enggak dari tadi ngomong?” tanya Lampard dengan nada dingin.


“A... a... a.... a,” jawab pria itu dengan terbata-bata.


“A apa? Kamu bisu atau apa?” tanya Lampard lagi dengan wajah datar.


“Aku sangka Anda kakek-kakek tua yang tidak bisa apa-apa,” celetuk pria di sampingnya.


“Jangan pernah meremehkan seseorang jika kamu tidak melihat kemampuannya terlebih dahulu!” geram Lampard yang mulai emosi.


“Lu disuruh siapa buat kekacauan di sana?” tanya Lampard dengan nada membentak.


“Aku tidak bisa mengatakannya kepada tuan,” jawab pria itu.


Lampard mengangkat pisau itu sambil menaruhnya di wajah pria itu, “Kamu tahu kalau hari Sabtu dan Minggu di daerah Senayan  sana itu sangat ramai sekali pengunjung! Ada anak kecil berlarian, Mereka sangat ceria dan tersenyum apalagi tertawa. Ada orang-orang yang tidak berdosa sedang menikmati hari liburnya bersama keluarga. Apakah kamu tahu sekali melepaskan tembakan bisa menimbulkan dampak buruk buat anak-anak. Anak itu akan memiliki trauma yang hebat pada bunyi-bunyi seperti itu! Bagaimana jika seandainya anak-anakmu berada di sana? Coba kamu pikir? Tapi ya percuma ngomong seperti itu sama kamu? Kamu tidak memiliki perasaan? Sekarang aku tanya sekali lagi, suruh siapa kamu?”


Mereka tetap tidak bicara sepatah kata pun. Hingga akhirnya Lampard menjauhi orang itu ke tempat senjata sambil mengeluh, “Capek ngomong sama patung!”


Lampard melihat berbagai beberapa pedang yang berjajar di sana. Dengan senyumnya yang khas, Lampard memilih kemudian mengambil salah satunya. Lampard  berjalan dan melihat tubuh mereka sudah bergetar.


“Masih enggak mau ngomong juga?” tanya Lampard membuka pedang itu dan membuang sarungnya ke Ian.


Ian segera menangkapnya sambil menatap tajam mereka. Tatapan tajam itu seolah memberi isyarat kepada mereka agar berkata jujur. Namun mereka malah menunduk dan tidak paham akan hal itu hingga membuat Ian geram.


“Katakan siapa yang menyuruh kamu!” bentak Lampard dengan suara meninggi.


“Aku tidak akan mengatakannya,” ucap pria itu lagi.


“Oke... aku sudah tanya berkali-kali. Ini sudah final buat aku. Karena kamu sudah membuang waktuku dengan percuma,” ucap Lampard. “Pengawal!”


Pengawal yang sedang berjaga sangat ketakutan sekali melihat Lampard. Ia segera masuk ke dalam dan membungkukkan badannya ambil memberi hormat, “Ada apa tuan?”


“Tolong lepaskan ikatan rantai di tangannya! Aku ingin memotong salah satu tangan mereka. Aku sudah malas bernegosiasi sama orang tersebut!” titah Lampard yang menatap sinis mereka.


“Baik Tuan,” balas pengawal itu.

__ADS_1


Pengawal itu langsung melepaskan salah satu tangan dari kedua pria tersebut. Setelah itu Lampard memberikan perintah agar pengawal itu memegang tangan pria tersebut. Lampard menatap tajam ke arah mereka sambil bertanya, “Apakah kamu tidak mau jujur?”


Mereka menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Tak lama Leon datang bersama Willi. Mereka segera masuk dan memberikan sebuah bukti ke Lampard, “Kak... mereka adalah orang suruhannya Patty Putri Smith. Dia adalah anak kandungnya John Smith yang terkenal dengan kontroversinya di dunia permodelan.”


“Apakah dia seorang model?” tanya Lampard.


“Ya... dia adalah seorang model. Dulu Kak Alexa pernah memintanya menjadi brand ambassador vila yang baru dibangunnya itu. Tapi kak Alexa membatalkannya karena terkena kasus merebut suami orang dan itu dilakukannya secara terang-terangan. Kak Alexa membatalkan secara sepihak tanpa membayar denda penalti,” jelas Leon.


“Kenapa enggak bayar penalti?” tanya Lampard yang mengambil berkas itu dari tangan Leon.


“Karena Kak Alexa sudah menulis poin terpenting di dalam surat perjanjiannya itu. Kak Alexa menuliskan kalau orang yang menjadi model brand ambassadornya tidak boleh tersangkut hukum di negara ini maupun di luar. Jika yang bersangkutan memiliki kasus yang berkaitan dengan hukum maka tidak akan membayar denda penalti sedikitpun,” tambah Leon.


“Ya... baguslah. Ternyata Alexaku tidak mau rugi soal itu,” puji Lampard.


“Sebenarnya mereka berdua tidak menembak Stella. Jadi yang menembak Stella sedang diburu oleh Kak Derek sama Tiffany,” tambah Leon.


“Apakah Gina dan anak-anaknya sudah makan?” tanya Lampard.


“Mereka sudah makan,” jawab Willi.


“Kalau begitu simpan kedua manusia ini untuk nanti malam. Biarkan mereka berpesta pita. Aku malas sekali menghabisinya,” ucap Lampard yang memberikan sebuah perintah. “Jangan lupa Cathy dan Hera kamu lepas!”


“Baik kak,” balas Willi.


“Tuan, bagaimana tangannya?” tanya Pengawal itu.


“Terserah kamu? Kamu potong juga enggak apa-apa,” jawab Lampard.


“Baik tuan,” balas pengawal itu.


“Kembali ke rumah sakit!” perintah Lampard.


Lampard segera meninggalkan ruangan bawah tanah. Sore ini Lampard tidak melakukan pembantaian dikarenakan dirinya akan bertemu cucunya. Jika ia melakukannya jiwa iblis yang berada di dalamnya akan sulit keluar dari tubuhnya. Lampad tidak mau hal itu terjadi. Ia tidak ingin melampiaskan ke anak-anak.


Diam-diam Lampard memiliki penyakit jiwa. Yang dimana Lampard mengidap pyscho. Bisa dikatakan Lampard memiliki jiwa psikopat. Sekali menghabisi orang ,dirinya tidak akan puas walau hanya satu. Ia akan mencari korban selanjutnya. Namun Lampard memiliki dokter pribadi. Dokter itu sering mengendalikan jiwanya agar tidak terlalu buruk.


Beberapa tahun terakhir ini, jiwa Lampard seakan tidur nyenyak. Lampard merasa menjadi manusia sempurna. Ditambah lagi dirinya dikelilingi dan dicintai oleh keluarganya. Lampard bisa menjadi orang tenang dan penyabar. Selain itu juga Lampard bisa hidup dengan damai.


“Apakah jiwa kakak muncul kembali?” tanya Ian yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


“Iya. Aku takut jiwa ini mempengaruhi. Kamu tahu kalau jiwa ini bangkit. Aku tidak bisa bertemu dengan keempat cucuku,” jawab Lampard yang menahan air mata.


“Sebaiknya kakak menghubungi Ibra saja. Jika tidak dikendalikan sejak dini maka memberikan dampak yang buruk buat kakak. Aku takut Sean. Edward. Scarlett dan Rara menjauh kakak karena menakutkan,” pinta Ian.


“Di mana Ibra?” tanya Lampard.


“Ibra sudah pulang dari Tiongkok kemarin sore. Dia tadi pagi sama Raka ikut operasi pengambilan peluru di tubuh Stella. Aku juga belum sempat menemuinya,” jawab Ian.


“Balik ke rumah sakit!” titah Lampard.


“Baik tuan,” balas Ian yang mulai mencairkan suasana.


“KAMPRET LU!” sungut Lampard yang membuat Ian tertawa. “Gue kasih tahu sama lu! Jangan pake bahasa formal lagi!”


Seketika Ian terdiam dan berkonsentrasi sambil melihat ke depan. Lampard mulai memegang keningnya sambil bertanya, “Mempertahankan atau melepaskannya?”


“Maksudnya?” tanya Ian yang mengerem mendadak.


“Aku bertanya sama kamu, melepaskan dan mempertahankan Stella di saat seperti ini?” tanya Lampard.


“Kenapa kamu memberikan aku pilihan sulit seperti ini?” tanya Ian balik.


“Aku bingung. Jika aku mempertahankan ada banyak korban dari pihak kita yang akan terjadi. Jika melepaskannya Stella akan menjadi korban human trafficking oleh papa angkatnya,” jawab Lampard.


“Kakak benar. Ini pilihan sulit. Mempertahankan karena kasihan melepaskan tidak tega. Sementara Stella memiliki hati lembut dan baik terhadap anak-anak. Jika kita melepaskan berarti kita mengecewakan anak-anak. Kamu tahu anak-anak Alexa tidak bisa nyaman dengan orang yang baru dikenalnya,” jawab Ian yang juga ikutan bingung.


“Selain itu juga Stella ada hubungannya dengan Exodus. Aku merasa ketuanya sedang mencarinya saat ini,” ujar Lampard.


“Sebelum bertemu dengan Stella, kita sudah berhubungan dengan Exodus setahun terakhir ini,” celetuk Ian yang membuat Lampard terkejut.


“Apa kamu bilang?” tanya Lampard. “Setahun?”


“Ya... setahun. Aku baru dapat informasinya dari Kak Gio. Setahun belakangan ini Exodus bermain api ke Blue Diamond. Tapi Alexa dan Martin masih tenang-tenang saja dan tidak terlalu peduli. Beberapa hari terakhir ini Exodus gencar melakukan aksinya. Mereka mulai mengusik Blue Diamond,” jawab Ian.


“Kenapa kamu enggak cerita?” tanya Lampard.


“Ini juga aku baru tahu tadi pagi ketika baru mendapatkan email dari Kak Gio,” jawab Ian. “Kak Gio enggak ngasih tahu karena kondisi masih aman. Akhir-akhir ini Kak Gio merasakan ada pergerakan tidak wajar. Jadinya tadi pagi Kak Gio memberitahukan hal ini ke aku.”


“Bagaimana dengan Alexa?” tanya Lampard lagi.

__ADS_1


“Alexa mulai waspada dan bersiap-siap menyatakan perang. Alexa enggak mau kalau anak-anaknya terancam. Cepat atau lambat Kak Gio akan menggabungkan Black Horizon dengan Blue Diamond. Kak Gio ingin semuanya berbaur menjadi satu,” jelas Ian.


“Lebih tepatnya kapan?” tanya Lampard.


__ADS_2