
"Sudahlah lupakan semuanya. jangan dibahas lagi masalah itu. Jika diingat Aku ingin menangis," jawab Stella.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Terima kasih atas segalanya. Sekarang kembalilah ke Adelia. Aku berjanji tidak akan pernah membuka kenangan lamamu. Sekarang kamu harus bahagia dan tersenyum bersamaku," ucap Asmoro yang membuat Stella tersenyum.
"Oh iya, Aku pengen tanya sesuatu. memangnya aku perlu meminum obat penunda kehamilan?" tanya Stella dengan polos.
"Janganlah kamu meminumnya. Biarkanlah benih superku tumbuh dengan bahagia di dalam perutmu itu. Aku sangat menginginkan memiliki seorang anak. Jangankan seorang... kalau kamu mampu melahirkan banyak anak untukku. Kemungkinan besar aku bahagia," jawab Asmoro.
"Aku tidak akan meminumnya. Lagian juga Aku tidak tahu apa obat itu. Ya sudah kalau begitu. Lanjutkan pekerjaanmu," pinta Stella.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak bertanya tentang pekerjaanku?" tanya Asmoro.
"Memangnya aku perlu bertanya seperti itu?" tanya Stella balik.
"Sepertinya kamu harus tahu deh soal pekerjaanku itu. Bukannya kamu akan menjadi ahli waris dari Kurumi Company?" jawab Asmoro sambil memainkan kedua matanya dengan centil.
"Kalau aku nggak mau?" tanya Stella yang menantang balik Asmoro.
"Ah baiklah... maka kamu perlu membimbingku dengan sebaik mungkin. Bagaimana jika aku mengalahkanmu dalam segala bidang?" tanya Stella yang tidak sengaja menantang Asmoro.
__ADS_1
"Itu lebih bagus. Kamu tahu, Jika seorang murid berhasil dan mendapatkan nilai terbaik. Lalu berguna bagi ke setiap aspek masyarakat. Maka guru itu berhasil mendidiknya hingga menjadi orang hebat. Aku pun akan mengajarimu hingga kamu bisa semuanya. Atau juga kamu harus belajar menguasai dunia bawah tanah," sahut Asmoro.
"Kayaknya itu aku nggak perlu deh. sepertinya aku akan menjadi ibu rumah tangga. Merawat anak-anakmu. merawat kamu. Merawat rumah dan segalanya," ujar Stella.
"Janganlah berkata seperti itu. Setiap manusia memiliki potensi tinggi. Apakah kamu nggak mau jika menjadi orang sukses seperti diriku? Ayolah... bangkitlah dari hidupmu ini. Jika kamu berkata seperti itu di hadapan papamu. Aku yakin papamu akan sedih mendengarnya. Beliau pasti kecewa mendengar kamu seperti itu. Sekarang waktunya kamu bangkit dan ikut aku bersamaku," tutur Asmoro dengan lembut lalu beranjak berdiri sambil mengulurkan kedua tangannya.
Stella memegang tangan Asmoro lalu mencoba menariknya dengan kuat. Sementara itu Asmoro yang tidak seimbang akhirnya jatuh ke dalam pelukan Stella. Ketika jatuh kepala Asmoro menyundul dua gundukan yang berada di dada Stella. Hingga akhirnya Asmoro memegang dua gundukan itu sambil tersenyum.
"Sepertinya kamu mulai menggoda aku ya?" tanya Asmoro sambil berkata lirih di telinga Stella.
__ADS_1
"Sepertinya sih. Tapi ini bukan waktu yang tepat," jawab Stella sambil malu-malu kucing.
"Kenapa kamu mengatakan kalau waktu ini adalah waktu yang tidak tepat?" tanya Asmoro sambil memandang wajah Stella.