
"Stella berada di kamar bersama Kak Asmoro. Mereka sangat gila setelah menikah. Aku akan menghubunginya terlebih dahulu," jawab Ian yang meraih ponselnya di meja.
Ian tidak mengetahui kalau Asmoro berada di kamar mandi. Ian menghubunginya, namun ponsel milik Stella hanya berdering. Ia lalu duduk di hadapan Imron sambil menaruh ponselnya.
"Mode silent," kesal Ian.
"Sabar saja," ledek Imron.
"Gimana enggak kehabisan kesabaranku. Siang kemarin Kak Asmoro memintaku untuk mengajarkan Stella memegang senjata," kesal Ian.
"Memangnya pertemuannya kapan?" tanya Imron.
"Sekarang ini sampai dua jam ke depan. Lalu kami akan pergi ke perusahaan. Sorenya kami akan berkunjung ke paman Al terlebih dahulu," jawab Ian.
"Sepertinya putra-putrinya Paman Al sudah kesini ya?' tanya Imron.
"Sudah," jawab Ian.
"Kalau begitu aku ikut den gan kalian," ucap Imron.
"Tidak apa-apa," ujar Ian.
Asmoro memperlakukan Stella dengan penuh kebahagiaan. Ia memandikan Stella seperti bayi yang baru lahir. Lalu apa tanggapan Stella? Stella sangat menikmati sentuhan demi sentuhan dari Asmoro. Ia tersenyum membiarkan Asmoro memperlakukannya sebagai ratu.
"Tubuhku ini adalah milikku selamanya.Tidak ada yang boleh memegang selain aku," bisik Asmoro.
"Dasar bucin," ledek Stella.
"Kamu juga bucin kok," ledek Asmoro balik.
"Aku memang sengaja menjadikan kamu sebagai budak cinta," ucap Stella. "Apakah aku salah?'
"Tidak. Seharusnya kamu enggak salah," jawab Asmoro sembari membilas tubuh Stella.
"Apa rencana kamu hari ini?" tanya Stella.
Asmoro memandang wajah Stella sambil tersenyum. Ia segera mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Stella.
"Pagi ini kita sarapan. Para pengawal yang jago memasak sedang membuat sandwich dengan susu.Setelah itu aku akan mengajari kamu memegang pistol dan mengajari kamu menembak selama dua jam. Nanti siang aku mengajak kamu ke kantor dan sorenya berkunjung ke rumah Kakek Al," jawab Asmoro.
"Kapan kita akan pulang?" tanya Stella. "Aku sudah sangat merindukan mama dan papa. Kak Hatori sengaja menyuruh aku pulang ke rumah."
"Apakah kamu tidak ingin berjumpa dengan ketiga cucuku?" tanya Asmoro.
"Hemmmp... boleh dech. Aku sangat merindukan mereka. Aku ingin bermain bersama mereka," jawab Stella.
__ADS_1
Asmoro membentangkan handuknya sambil memegang ujung handuk tersebut. Lalu ia melingkarkan handuk ke tubuh Stella. Sambil tersenyum Asmoro mengikatkannya dengan kencang.
"Kok kencang sekali?' tanya Stella.
"Aku sengaja mengencangkan tali ikatannya agar tidak lepas dari tubuh kamu itu," jawab Asmoro.
"Bagaimana bisa aku berjalan? Apakah aku harus berdiam diri seperti ini?" tanya Stella.
"Ya... kamu harus diam. Aku akan menggendong kamu," jawab Asmoro sembari memegang tubuh Stella dan menggendongnya.
Terpaksa Stella terdiam dan menuruti keinginan Asmoro. Asmoro dengan cepat mengangkat tubuh Stella dan membawanya ke dalam kamar. Tangan Stella langsung mengalungkan ke leher Asmoro sambil mencium aroma tubuhnya maskulin.
"Aku sangat menyukainya," ucap Stella.
"Apa yang kamu suka dari aku?" tanya Asmoro.
"Aroma tubuh kamu yang maskulin itu," jawab Stella sambil menghembuskan nafasnya dengan pelan-pelan.
Saat ini Stella menikmati aroma tubuh Asmoro dengan tubuh membuncah. Namun saat Asmoro merasakan nafas Stella yang berhembus, Asmoro malah bergidik ngeri. Tubuh bagian bawah sudah kembali menggeliat. Ia cepat-cepat membaringkan Stella dan melihat wajah sayu.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semuanya ini," ucap Asmoro.
"Apa maksud kamu?" tanya Stella.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semuanya ini," jawab Asmoro.
Sejam dua jam, Imron dan Ian sudah mengajarkan para wanita memegang senjata. Mereka ingat Stella sambil menatap para wanita tersebut.
"Hmmp.. katanya Kak Stella mau belajar menembak," ucap Adelia.
"Percuma kita menunggunya disini," kesal Ian.
"Ya enggak gitu kali. Aku juga sangat khawatir keadaan Kak Stella," ujar Adelia.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan keadaan Stella?" tanya Jacob.
"Dia kan kakakku," jawab Adelia.
"Benar juga sih dia adalah kakak kamu," celetuk Jacob.
"Lalu aku harus apa?" tanya Imron.
"Aku takut Kak Stella sakit," jawab Adelia dengan polos.
"Ngapain juga kamu takut Stella sakit? Kamu harus tenang. Jangan terlalu khawatir dengan keadaannya," ucap Imron.
__ADS_1
"Stella itu berada di tangan yang tepat. Kak Asmoro tidak akan membuat Stella sakit," jelas Jacob.
"Kalau sakit hatinya pasti bersedih," celetuk Natalie yang selesai membereskan pistolnya itu.
"Masa iya?" pekik Jacob.
"Karena Papa adalah tipe pria yang sangat lembut banget," jawab Natalie yang paham akan Asmoro.
"Benar juga sih," ucap Ian. "Tapi kalau sama musuh tidak akan memiliki belas kasihan sama sekali."
"Hmmp... aku setuju," seru Natalie.
Jakarta Indonesia.
Hatori yang selesai mengerjakan tugas-tugasnya sangat bahagia. Ia baru saja belajar dari Gio bagaimana caranya menyelesaikan masalah dengan baik dan benar. Disisi lain, Hatori mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Ia mendapatkan ilmu secaa cuma-cuma tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun.
"Sebenarnya kamu sanga berbakat untuk menguasai bisnis dan managemen," puji Gio.
"Aku harus belajar demi dalam lagi," ucap Hatori.
"Belajarlah dengan giat. Jangan pernah menjadi pria malas. Karena kalau kamu malas sedikitpun, hidup kamu sangat kacau sekali," pesan Gio.
"Terima kasih paman," balas Hatori.
"Ngomong-ngomong kamu enggak ingin melanjutkan cita-cita papa kamu untuk membangun Kurumi kembali?" tanya Gio.
"Papa tidak pernah mau membangun Kurumi lagi. Papa akan membangun perusahaan yang berbasis ekspedisi. Kata Kakek, kapal yang dimiliki Ayashi groups sangat banyak sekali. Jadi Kakek akan membaginya menjadi dua. Satu untuk Asia dan International," jawab Hatori.
"Apakah papamu enggak dengan perusahaan ini?' tanya Gio.
"Sepertinya sih begitu. Soalnya papa tidak mau menyakiti kalian. Gara-gara kalian, keluarga kami berkumpul,' jawab Hatori yang merasa tidak enak dengan Gio.
"Bukannya begitu. Sebenarnya tidak apa-apa kalau kalian membangun Kurumi lagi. Soalnya penggemar roti Kurumi itu banyak sekali. Mulai dari kecil hingga usia senja. Semenjak Alexa lahir, aku sudah berlangganan dengan Kurumi. Jadinya sampai detik ini roti buatan Kurumi sudah melekat di dalam hati," jelas Gio.
"Papa enggak mau kalau kita menjadi saingan sesama perusahaan makanan. Papa itu memiliki sifat yang sangat lembut. Beliau lebih menjaga sang pemilik perusahaan," ungkap Hatori.
"Kamu coba saja membangun kembali Kurumi. Pelan-pelan tapi pasti. Ata kamu membuat makanan kaleng?" tanya Gio.
"Nanti dech aku pikirkan untuk masa depannya nanti," jawab Hatori.
"Iya memang begitu. Kamu harus memikirkan matang-matang tentang masa depan. Kalau begitu semangat untuk menjalani hari-hari kamu yang penuh dengan rintangan dan juga tantangan besar," pesan Gio.
"Tantangan terbesar aku ini adalah menghadapi Tutik. Aku masih dendam dan ingin menghajarnya," kesal Hatori.
"Sabarlah kalau begitu," ujar Gio. "Aku akan mengajari kamu sebuah trik untuk menjebak mereka."
__ADS_1
"Apakah itu benar?' tanya Hatori.