Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Perih.


__ADS_3

Pagi yang cerah di kawasan Kota Jakarta. Hari ini adalah hari Senin di mana semua orang melakukan aktivitasnya. Seluruh umat manusia mulai bersiap-siap untuk berangkat kerja, sekolah, belanja dan lainnya.


Lampard yang sedang tertidur terjatuh dari sofa. Ia segera bangun dan melihat dirinya berada di ruangan khusus. Untung saja Lampard tidak tidur di kamarnya. Pria itu sangat kesal dan mengumpati Stella dalam hati. Dengan kesalnya, Lampard berdiri dan melangkahkan kakinya turun ke bawah.


Saat keluar dari ruangan itu, Lampard melihat Jacob dengan wajah muram. Matanya membelalak dan menutup mulutnya sambil menguap. Lalu ia mendekati Jacob kemudian menyapanya, “Selamat pagi.”


“Ternyata kakak nggak lupa ya sama aku,” sindir Jacob.


“Maksud kamu apa?” tanya Lampard.


“Lain kali kalau memberikan misi jangan seperti itu lagi ya. Kakak tahu, mataku yang suci ini ternyata sudah tercemar oleh acara malam tadi. Jika aku boleh memilih, aku pengen menjadi mata-mata saja,” protes Jacob yang membuat Lampard tertawa.


“Maaf,” ucap Lampard sambil menatap Jacob. “Bukannya setiap pria suka mendapatkan misi seperti itu?”


“Suka apanya? Ketika melihat Patty beraksi dan meliuk-liukkan tubuhnya, aku mual. Untung saja seluruh makananku tidak keluar,” kesal Jacob.


“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti itu. Kamu adalah pria yang istimewa. Semoga Natalie mau terima kamu apa adanya?” doa Lampard untuk Jacob.


“Ada kabar Kak,” ucap Jacob.


“Sebentar, Bagaimana misi kamu semalam? Apakah kamu sudah mengupload di internet?” tanya Lampard.


“Beres kak. Setelah aku upload di sosmednya Patty, banyak fans yang menyerang akun tersebut. Aku langsung menutupnya dan membuangnya,” jawab Jacob.


“Baguslah,” balas Lampard yang memberikan kode nanti malam.


“Maksudnya apa Kakak ngasih kode kayak gitu! Itu kan kode mencari mangsa?” tanya Jacob.


“Berarti kamu tahu ya... kode seperti itu?” banyak Lampard yang sengaja mengetes Jacob.


Jacob hanya memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya Lampard meragukan iq-nya. Sementara Jacob memiliki IQ di atas rata-rata. Di tangan Jacob beberapa perusahaan ternama di dunia mendapat pengamanan khusus darinya.

__ADS_1


“Ada berita apa?” tanya Lampard.


“Patrick menginfokan kalau ada pengiriman barang jam satu atau jam dua ada kapal dari Meksiko bersandar. Kapal itu bukan milik ekspedisi yang sering ke sini,” jawab Jacob.


“Oh baguslah... Jadi kapal itu bukan milik ekspedisi. Aku bisa menganalisis kapal tersebut. Kapal itu milik perorangan,” tebak Lampard.


“Jadi kapal itu akan bersandar di pelabuhan bisa dikatakan ilegal. Di dalam kapal itu memuat obat-obatan terlarang yang akan dijual di sini,” jelas Jacob.


“Aku tebak pasti Exodus,” tebak Lampard lagi.


“Iya kamu benar... Mereka sudah mengibarkan bendera kebebasan untuk mengirim beberapa jenis obat-obatan terlarang dan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Obat-obatan itu bisa membuat orang meninggal dalam sepersekian detik,” imbuh Jacob.


“Apakah itu baru ?” tanya Lampard.


“Aku nggak tahu. Patrick hanya mengatakan itu saja,” jawab Jacob.


“Aku harus mengajak Alexa,” ucap Lampard.


“Aku tidak tahu. Tunggu saja Martin memberikan kode khusus,” jawab Lampard yang segera meninggalkan Jacob.


Setelah mengobrol dengan Jacob, Lampard menuruni tangga sambil melihat daerah sekelilingnya. Di ruangan itu belum ada orang sama sekali. Beberapa pengawal pun sedang dalam melakukan kegiatan rutinitasnya. Beberapa saat kemudian datang Ian membawa seluruh peralatan mandi milik Lampard.


“Apakah kakak sudah dapat info dari Jacob?” tanya Ian sambil menyodorkan peralatan mandinya dan baju ganti.


“Sudah,” jawab Lampard yang meraih barang-barang di tangan Ian. “Bagaimana semalam?”


“Acara sukses besar. Para pengawal mengaku senang,” jawab Ian. “Oh iya... Saat perjalanan menuju ke mansion Kak Gio, Adelia menanyakan keberadaan Stella. Katanya dia sangat rindu sekali dan ingin memeluknya. Aku bilang Stella masih istirahat.”


“Stella belum sembuh total. Semalam Stella sudah sadar dari komanya. Tapi, Kenapa kak Gio menaruh setelah di kamarku?” tanya Lampard yang membuat Ian sendiri bingung.


“Aku nggak tahu Kak. Aku juga tidak dapat pemberitahuan dari Kak Gio,” jawab Ian.

__ADS_1


“Bisa nggak Stella dipindah?” tanya Lampard.


“Nggak bisa,” sahut Raka yang baru saja datang dengan memakai baju olahraga.


“Lalu aku tidur di mana?” tanya Lampard.


“Biasanya Kakak tidur di ruangan khusus itu. Atau gini aja Kak. Di atas masih ada beberapa ruangan kosong. Kakak bisa memakainya. Kalau mau nanti suruh pelayan membersihkannya,” jelas Raka.


“Jika Stella masih berada di situ, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen,” protes Lampard terhadap Raka.


“Sepertinya kakak harus sabar menghadapi Stella,” celetuk Raka.


“Gara-gara kalian semua, Aku harus mengalah pada bocah kecil itu,” kesal Lampard.


“Nggak usah kesal gitu. Jika Kakak kesal terus-terusan maka perasaan kakak akan menjadi cinta,” ledek Raka lalu segera pergi meninggalkan Lampard agar tidak mendapat amukan dari sang ketua.


Jujur saja Lampard sangat marah sekali kepada mereka. Mereka sengaja membuat dirinya gusar. Kemudian lambat memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat gadis mungil itu sedang tertidur. Matanya mulai mencari keberadaan Frida dan Sinta. Namun Lampard tidak menemukannya sama sekali. Akhirnya Lampard memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


Di kamar lain, Ian yang berada di ruangan khusus hampir melupakan tugasnya. Ia segera mencari data-data dari Patty. Dengan cepat tangan kekarnya menekan tombol-tombol keyboard tersebut. Tak sampai lama Ian menemukan banyaknya informasi tentang Patty. Matanya membulat sempurna dan melihat berita Patty yang sangat kontroversial. Ian hanya menghembuskan nafasnya sambil berkata, “Begini aslinya Patty? Gue nggak nyangka cantik-cantik tapi sering membuat ulah di dunia permodelan dan dunia nyata.”


 Kemudian Ian mengcopy seluruh data-data itu dan mengirimkan email kepada Lampard. ia memijat keningnya sambil berkata, “Benar apa yang dikatakan oleh Jacob. Ketimbang disuruh mencari informasi dan data-data. Lebih baik istirahat."


Lampard yang selesai membersihkan tubuhnya memutuskan untuk keluar. Ia hanya memakai handuk melingkar di pinggang. Setelah itu Lampard mengambil paper bag yang berisi pakaian.


Sang pemilik wajah cantik dan meneduhkan itu membuka matanya. Iya menghapus air matanya sambil berkata, “Lama-lama aku merasakan sesak di dada. Bolehkah aku memilih untuk menghilang dari dunia ini?”


Meskipun lirih suara gadis itu sangat terlihat jelas di telinga Lampard. Hatinya mulai teriris karena pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Stella. Ia tidak tega dengan penderitaan Stella yang sangat berat itu. Kalau boleh memilih, Lampard akan mengambil seluruh beban gadis itu. Namun dirinya tidak akan mampu menerimanya. Ia segera memakai pakaian itu dengan cepat. Selesai memakai pakaian tersebut, pria berkulit putih itu menghampiri Stella.


“Bangunlah sudah pagi,” sapa Lampard dengan nada kaku.


Mendengar ada yang memanggil, Stella mengangkat wajahnya sambil berlinang air mata. Dirinya seakan-akan meminta pertolongan. Ketika ingin meraih tangan kekar itu, ia mengurungkan niatnya. Lalu Lampard menyapa, “Pagi.”

__ADS_1


__ADS_2