Menikahi Kakek Tampan

Menikahi Kakek Tampan
Harus Dilakukan.


__ADS_3

"Ah... Iya maaf," jawab Hatori yang membuat Winda tersenyum tipis.


Setelah menyuruh Hatori menemuinya nanti sore, Lampard bergegas ke kamar Stella. Sebelum ke kamar Ian berlari mendekatinya.


"Tunggu bro," seru Ian.


"Ada apa memangnya?" tanya Lampard.


"Cek email bro," jawab Ian yang mendapatkan acungan jempol dari Lampard. "Aku tunggu di luar ya."


"Jangan pernah tinggalkan aku sendirian!" perintah Lampard yang membuat Ian bertanya-tanya.


"Kenapa aku harus menunggumu?" tanya Ian.


"Panggil Adelia ke sini!" perintah Lampard.


"Baiklah kalau begitu," bales Ian lalu mencari Adelia.


Melihat kepergian Ian, Lampard memikirkan suatu hal. Apakah ini sangat baik buat mereka berdua atau menjadi bumerang? Mau tidak mau dirinya harus mempertemukan mereka.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan Hatori? Sepertinya Lampard merasakan ada sesuatu dengan pria muda itu. Ketika melihatnya ada aura tersembunyi antara Hatori dan Adelia.


Lempar menduga kalau Hatori itu adalah saudara laki-laki mereka. Ia harus bekerja keras untuk menyatukan mereka. Tak lama Adelia datang bersama Ian. Adelia menduk ketakutan dan menyapanya.


"Selamat pagi tuan," sapa Adelia.


"Pagi," sapa Lampard balik. "Apakah kamu tidak menemui saudaramu itu?"


"Tadi aku bertanya pada mbak-mbak yang memakai baju batik, katanya Nona Stella baru bangun. Mereka akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu," jawab Adelia dengan jujur.


"Kalau begitu mari kita temui bersama-sama. Tapi kamu jangan masuk dulu ya. Aku ingin berbicara terlebih dahulu kepada Stella. Dan kamu Ian, jaga dulu kekasihmu itu. Jangan biarkan kabur!" perintah Lampard kemudian meninggalkan mereka.


"Aku baik pa," jawab Stella yang mengulum senyumnya. "Bagaimana kabar papa?"


"Kabar papa baik," jawab Lampard yang tersenyum manis. "Apakah kamu sudah siap bertemu dengan saudara kembarmu itu?"


"Aku sudah siap pa. Aku ingin melihatnya," jawab Stella.


"Bolehkah papa meminta sesuatu kepadamu?" tanya Lampard.

__ADS_1


"Apa itu? Tapi, jangan berat-berat ya Pa. Soalnya aku belum bisa menurutinya," jawab Stella jujur.


"Aku nggak minta kamu melakukan sesuatu. Aku minta setelah pertemuanmu dengan saudaramu itu tolong rahasiakan. Karena mereka sedang mencarimu. Jika kamu berbicara ini ke publik, aku tidak bisa membantumu lagi. Karena masalah ini sangat berat sekali. Tolong... Aku ingin kalian saling menjaga. Dan kami akan berusaha untuk memecahkan teka-teki di keluargamu itu," pinta Lampard yang membuat Stella menyetujuinya.


"Baiklah. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Aku juga tidak ingin kehilangan saudaraku lagi," ucap Stella.


"Kalau begitu, aku akan memanggilnya," balas Lampard segera meninggalkan kamar itu.


Kemudian Lampard melihat Adelia sambil menyuruhnya masuk. Adelia pun menganggukan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.


Melihat Adelia masuk, Lampard dan Ian merasakan jantungnya berdetak kencang. Mereka menahan sesak di dada dan memejamkan matanya. Mereka tidak kuasa melihat adik kakak itu bertemu untuk bertemu.


Benar saja Adelia yang baru saja masuk melihat Stella masih terbaring lemah. Airmatanya mulai mengalir dan merasakan sesak di dada.


Begitu juga dengan Stella. Dirinya juga merasakan hal yang sama. Ia langsung membiarkan airmatanya mulai mengalir deras. Stella tidak menyangka kalau dirinya memiliki saudara kembar.


"Stella," panggil Adelia yang berlari menuju ke arah Stella.


"Adel," panggil Stella sambil merenggangkan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2